Bantuan yang ikhlas itu tanpa pamrih..
Ketika kamu berniat menolong lakukanlah dengan tulus dari hati..
Author
***
Sore ini Aaron dan sahabat-sahabatnya sedang berada di salah satu cafe di daerah Lebak Bulus. Mereka berempat memang selalu berkumpul bersama setiap dua atau tiga kali bertemu dalam seminggu.
Komo Jatmoko blasteran Jawa dan Tiongkok ini adalah salah satu sahabat Aaron yang dewasa, Komo yang biasanya dipanggil adalah sahabat dari SMA, ia sangat bisa mengimbangi ketiga sahabat yang lainnya yang terkadang masih kekanakan. Apalagi Komo lebih tua satu tahun diatas Aaron dan lainnya. Mereka bisa seangkatan sebab Komo terlambat masuk sekolah saat masuk SD dulu.
Ibnul Abbasiyah sahabat kedua Aaron, cowok yang keturunan Sunda dan Manado ini adalah cowok yang sangat manis. Punya dua lesung pipi yang sangat dalam dikedua pipinya apalagi kulit hitam dan wajah manis membuatnya banyak digemari para gadis-gadis di kampusnya. Dengan kelebihan yang ia miliki Ibnu yang biasa dipanggil oleh sahabatnya itu memiliki sifat playboy kelas kakap, mulai anak kecil sampai ibu-ibu mengaguminya.
Cut Regita Shahab, satu-satunya gadis dalam persahabatan mereka. Gigi panggilannya itu adalah gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi semampai bak model yang masih diusianya awal 20 tahun. Yah Gigi paling muda di antara cowok-cowok ini maka dari itu Aaron, Komo, dan juga Ibnu sangat melindunginya dari cowok-cowok yang berniat menyakitinya. Gigi memiliki darah Aceh ini mempunyai sifat yang sangat manja apalagi ia adalah putri satu-satunya dari keluarga Shahab membuatnya menjadi gadis yang sangat egois dan sedikit menyebalkan namun yang lainnya sayang pada Gigi seperti adik kandung mereka sendiri.
Gigi dan Ibnu adalah sahabat Aaron dari kecil, sebab orangtua mereka memang tetangga dekat rumah dari dulu. Dari kecil mereka suka bermain di taman kompleks hingga mereka dewasa mereka makin dekat saja. Ya, cuma Komo yang mereka kenal waktu SMA. Dan mereka bersahabat sampai sekarang.
"Aar, jadi gimana lo lanjut ke kantor Ayah lo ya?" tanya Komo membuat Aaron yang sedang mengesap kopi hitam yang ada di tangannya menghentikan gerakannya.
"Iya, dari minggu kemarin gue ikut Ayah ke kantor untuk belajar dengan beberapa proyek-proyek kecil." jawab Aaron santai kembali mengesap kopi hitamnya. Aaron jadi penyuka kopi hitam waktu begadang mengerjakan skripsi setiap malam.
"Wah bakal sibuk banget lo pasti." kali ini Ibnu yang bertanya. Aaron menyeringai sinis.
"Yoi bro, jadwal nongkrong kita mungkin nggak akan sesering mungkin lagi."
"Ya, terus kalau aku kangen kamu gimana dong." suara manja nan lembut ini tentu punya Gigi. Aaron berbalik kearah Gigi yang tepat di sampingnya.
"Kan kita bisa video call kalau lo kangen, Gi." ucap Aaron tersenyum. Ibnu dan Komo geleng-geleng kepala melihat kelakuan manja Gigi, bukan hanya pada Aaron Gigi mengeluarkan sifat manjanya pada Ibnu dan Komo pun juga.
"Ih tapi beda kan, kalau kita ketemu langsung Aar." Aaron tersenyum manis sambil menepuk pucuk kepala Gigi dengan pelan.
"Makanya lo cari kesibukan juga dong Gi, supaya nggak merasa kesepian nanti kalau yang lain pada sibuk."
"Benar banget tuh Gi," Komo membenarkan. "Gue juga kan mau ambil S2 nanti, jadi pastinya akan sibuk banget."
"Yup, gue juga Gi, bantu-bantu di kantor orangtua jadi kacung. Dan itu pasti sibuk banget." jelas Ibnu. Gigi menghela napas panjang kemudian menatap satu per satu sahabatnya.
"Iya juga ya, udah waktunya kita kejar cita-cita masing-masing bukannya main-main lagi." Ketiga pemuda itu tersenyum lebar begitu kalimat yang amat dewasa pertama kali keluar dari bibir manis sahabatnya.
"Gitu dong, kan tambah cantik kalau dewasa kayak gini." gombal Komo dengan mengedipkan sebelah matanya berniat menggoda Gigi. Membuat mendengus sebal. Sontak ketiganya tertawa melihat kelakuan Gigi. Komo memang paling suka menggoda Gigi, bukan karena ada perasaan namun Hanya Komo yang tak punya saudara kandung makanya ketika mengenal Gigi waktu SMA membuat Komo bahagia bukan main seperti mendapat adik manis yang bisa ia goda setiap saat.
Tawa Aaron sontak terhenti begitu melihat sosok familiar yang sangat dikenalnya, lewat didepannya. bukannya itu Rishi, ya? Kenapa dia pakai seragam pelayan cafe ini? Batin Aaron.
Mata tajam Aaron masih mengikuti gerak-gerik Rishi yang sedang membawa pesanan pengunjung, membuatnya tak sadar kalau ketiga mata sahabatnya itu menatapnya dengan penasaran.
"Hoi Aar!! Lihat siapa sih lo?" tegur Ibnu sambil memukul meja yang tepat di depannya dan Aaron. Ya, Ibnu duduk di depan Aaron sedang Gigi yang di samping Aaron berhadapan dengan Komo.
Aaron yang tadinya serius menatap Rishi langsung menengok pada Ibnu sambil cengegesan.
"Hah? Oh nggak papa kok, tadi gue kayak lihat orang yang gue kenal tapi mungkin gue salah lihat kali." Aaron salah tingkah di bawa tatapan curiga ketiga sahabatnya.
Aaron dengan cepat meneguk habis kopi hitamnya dan segera ke pamit ke toilet.
"Guys gue ke toilet dulu ya." tanpa menunggu jawaban dari ketiga sahabatnya Aaron langsung berjalan kearah toilet diiringi tatapan heran dari sahabat-sahabatnya.
"Si Aaron kenapa tuh?" tanya Gigi. Ibnu dan Komo kompak mengangkat bahunya.
Setelah keluar dari dalam toilet, Aaron yang tak memperhatikan jalan menabrak seseorang yang melewati lorong depan toilet pria.
Brukk...
"Aduh!!" pekik suara gadis yang di tabraknya membuat otomatis berjongkok memeriksa korbannya yang tak sengaja ia tabrak. Dengan panik ia bertanya.
"Mbak nggak papa?" Rishi mendongak menatap siapa tersangka yang sudah menabraknya. Ia melotot kaget begitu melihat ternyata yang menabraknya adalah Aaron. Aaron pun tak kalah terkejut ternyata mbak-mbak yang ia tabrak adalah Rishi. Jadi benar yang aku lihat tadi itu dia.
"Kamu nggak papa kan? Apanya yang sakit?" ulang Aaron dengan nada khawatir. Rishi langsung berdiri sendiri dengan cepat mengabaikan rasa sakit pada tangannya. Diikuti oleh Aaron tentu saja. Rishi baru akan melangkah namun segera di tahan oleh Aaron.
Seketika Rishi menjerit kesakitan, bagaimana tidak tangan yang di tahan oleh Aaron adalah tangan sakitnya akibat terjatuh. "Auh.. Auh.. " Aaron yang panik langsung melepas tangannya pada tangan Rishi dengan cepat.
"Kenapa? Ada yang sakit?" walau tahu pertanyaannya tidak akan dijawab namun tak lantas membuat Aaron menyerah. Dan begitu melihat tangan Rishi bengkak mata Aaron langsung melotot tajam. "Tuh kan, tangan kamu sakit. Sini kita ke rumah sakit sekarang." perintah Aaron dengan cepat mengambil tangan Rishi yang satunya untuk ia genggam.
"Nggak perlu, tangan saya nggak papa kok." Rishi segera menarik tangannya yang berada dalam genggaman Aaron. Aaron sungguh gemas dengan keras kepala yang ditunjukkan Rishi, ia tak akan mengalah dari gadis ini lagi. Apalagi sekarang tangan Rishi bengkak akibat tabrakan mereka tadi.
"Jangan keras kepala kamu, lihat." tunjuk Aaron. "Tangan kamu udah bengkak gitu masih bilang nggak papa, ayoo!! Kita ke rumah sakit se-ka-ra-ng." tekan Aaron siap menarik tangan Rishi kembali.
"Tunggu dulu." tahan Rishi.
"Apalagi Rishi?!" bentak Aaron jengkel sebab daritadi Rishi seolah mengulur-ulur waktu. Rishi yang di bentak menjadi ketakutan dan dengan terbata-bata menjawab.
"Ta-pi sa-ya ma-sih ker-ja." Aaron mengerutkan dahinya.
"Bekerja? Bukannya kamu kerjanya di toko bunga, ya?" Aaron sudah melembutkan suaranya kembali sebab sadar tadi telah membuat Rishi ketakutan.
"Iya, tapi saya harus kerja paruh waktu untuk biaya sekolah adik saya." pernyataan Rishi membuat Aaron menghela napas panjang.
"Kamu berhenti saja sekarang, dan masalah biaya sekolah adik kamu. Aku yang akan bantu."
"Tapi..." Rishi yang siap menolak lagi langsung di potong perkataannya oleh Aaron.
"Aku mohon kali ini jangan membantah aku ya, sekarang tangan kamu lebih penting. Emang kamu bisa kerja kalau tangan kamu sakit kayak gini, gimana kamu bisa kerja buat bantu keluarga kamu kalau tangan kamu besok-besok ada apa-apanya, hah?" Rishi membenarkan dalam hati, iya juga, bagaimana ia bisa membantu keluarganya? Yang ada ia akan tambah merepotkan orangtuanya saja.
Dengan berat hati akhirnya Rishi menganggukkan kepalanya, membuat Aaron tersenyum manis. Lalu membawa Rishi ke rumah sakit terdekat bahkan saking fokusnya sama keadaannya Rishi, Aaron melupakan sahabat-sahabatnya.
Bersambung...