2. Istri Miliarder

1289 Kata
"Serra!" Serra baru saja sampai di tempat kerja. Teman satu departemennya yang bernama Lilya telah menunggu di kubikelnya. Wanita berkuncir kuda itu segera menarik tangan Serra setelah meletakkan tasnya. "Pak Denny sudah menunggu di ruangannya sejak dua puluh menit yang lalu. Dia terus marah-marah karena dokumen yang menjadi bahan rapat ada bersamamu." Serra menepuk pelan keningnya dengan menyesal. "Benar! Aku hampir lupa dengan dokumennya." Seketika dia menjadi panik. "Kau ini ceroboh sekali. Apa kau tidur sangat malam kemarin hingga telat bangun?" tanya Lilya bersungut-sungut. Serra hanya menundukkan wajahnya mengingat yang terjadi kemarin malam. Dia tak menjawab. Dan karena Lilya adalah orang yang paling dekat dengan Serra, Pak Denny--Bos Starlight--mencarinya sebagai pelampiasan ketika Serra terlambat datang. Dia harus mendengar amukannya lebih dari lima belas menit dan menanggung suatu yang tidak dilakukannya. Serra yang mendengar keluh kesah Lilya segera meminta maaf padanya. "Maafkan aku, ok? Nanti jam makan siang aku akan mentraktirmu sebagai permintaan maaf." "Hanya mentraktir?" Dua alisnya naik seperti ingin mendapat suatu yang lebih. Serra tak berdaya dan menambah penawarannya. "Kau dapat memesan apapun. Aku yang akan membayarnya." Senyum Lilya mengembang sempurna. "Sepakat!" Dia menjawab cepat lalu mendorong punggung Serra ketika sampai di depan pintu ruangan bos. "Sekarang cepat masuk dan temui Pak Denny. Semoga dia dalam suasana hati yang baik agar tidak memarahimu berjam-jam." Lilya seperti mendoakan, tapi senyumannya seperti mengharapkan Serra dimarahi habis-habisan. Serra mendengus pelan, lalu secara pasti tangannya menarik handle pintu. "Tenang saja. Pak Denny tidak akan memarahiku," ucapnya percaya diri. Lilya hanya mencibir sambil melengoskan wajahnya. "Semoga saja begitu." Tidak ada kata dari Serra untuk melanjutkan percakapan ini. Dia membuka pintu lalu perlahan mengayunkan kakinya masuk ke ruangan. "Selamat pagi, Pak!" Pria setengah baya duduk di kursi kebesarannya terlihat sibuk dengan tumpukan berkas di meja. Sejurus kemudian pria bernama Denny itu menarik kursinya agak ke belakang lalu menatap Serra dengan tidak senang. Akan tetapi sesaat ekspresinya seketika berubah melihat Serra yang mengenakan pakaian tebal dan juga syal. "Kamu sakit?" tanyanya. Serra menyipitkan mata lalu menjawab dengan ragu. "Tidak ... Saya sehat." "Kamu mengenakan pakaian yang tebal dan juga syal. Saya pikir kamu sakit." Sekarang Serra tahu kenapa Bos Denny berpikir dirinya sakit. Itu karena pakaian tebalnya dan syal yang membalut lehernya. Namun ini tidak ada hubungannya dengan suatu penyakit. Semua ini karena Max. Suaminya itu sama sekali tidak mau mendengar permohonan agar tidak meninggalkan bercak di area terbuka. Juga karena Max lah Serra tidur sangat larut dan tidak bisa bangun tepat waktu. "Saya minta maaf karena telah terlambat dan membuat rapat ditunda." Serra menyerahkan dokumen rapat lalu kembali mundur sambil menundukkan kepala dengan menyesal. Bos Denny termenung beberapa saat, lalu menghela nafas. "Sudahlah. Kamu adalah salah satu karyawan ku yang dapat diandalkan. Selain itu ini adalah pertama kalinya kamu terlambat, jadi aku akan memaafkannya." Mendengar hal ini Serra merasa dirinya sangat beruntung. Dia langsung berterima kasih sambil membungkukkan tubuhnya. "Terima kasih atas kesempatannya Pak." Setelah itu Serra kembali ke departemennya untuk melakukan tugasnya. Melihat Serra yang kembali dengan perasaan senang, Lilya tak bisa untuk mengerutkan keningnya. "Sepertinya kamu lolos dari amukan Pak Denny." "Bukankah sudah aku bilang? Pak Denny tidak mungkin marah." Serra menunjukkan ekspresi wajah sombong. Lilya tak lagi berdebat. Dia tahu Serra adalah satu dari beberapa karyawan yang cukup diperhatikan karena memiliki kemampuan. Ini juga pertama kali Serra terlambat, jadi tidak heran jika masih mendapat kemudahan. Mereka berdua kembali ke kubikel masing-masing. Mengerjakan tugas sesuai kapasitas mereka sebagai seorang akuntan. Starlight sendiri adalah firma jasa profesional. Melayani asuransi, perpajakan, konsultasi, keuangan dan lain-lain. Memang dibandingkan dengan beberapa perusahaan dalam bidang yang sama di Kota A, Starlight termasuk perusahaan kecil. Tapi di sinilah Serra bekerja lebih dari satu tahun. Lebih tepatnya dalam divisi assurance. Serra telah menyelesaikan berbagai tugas dan kerja sama dengan banyak client. Dalam divisinya dia menjadi panutan sekaligus senior untuk sembilan orang lainnya termasuk Lilya. Dia sangat dihormati karena berada di divisi itu paling lama. "Kak Serra, aku dengar kau akan mentraktir kita makan siang. Apa itu benar?" Cindy, dia tiga tahun lebih muda dari Serra. Jadi dia selalu memanggik Serra dengan sebutan "Kak". Dia juga termasuk baru di divisi ini, tapi karena kepribadiannya yang terbuka membuatnya mudah akrab dengan siapapun. Kening Serra terlihat berkedut mendengar perkataan Cindy. "Kau dengar berita itu dari mana?" tanyanya. Cindy langsung menujuk Lilya yang berdiri di pantry sedang menyeduh kopi. Gadis itu terlihat juga memperhatikan ke arahnya, tapi ketika tatapan mereka bertemu Lilya langsung mengalihkan pandangan ke samping berpura-pura tidak melihat. Aih... "..." "Kak Serra, di mana kau akan mentraktir kami makan siang?" tanya Cindy lagi. Serra menghela nafas. Dia lalu mematikan komputernya setelah melihat jam sudah masuk waktu istirahat. "Baiklah, aku akan mentraktir kalian semua." Mendengar hal ini Cindy langsung memberi tanda pada Lilya dengan jempol tangannya. Lilya segera berseru pada semua orang. Mengatakan makan siang akan ditraktir oleh Serra. Satu persatu rekan kerja dalam divisi assurance berterima kasih sambil memuji untuk mendapatkan hatinya. "Terima kasih, Kak Serra." "Kak Serra sangat royal!" Namun tatapan Serra hanya tertuju pada Lilya yang kini tersenyum tak berdosa setelah mencari keuntungan darinya. Jika tidak ingat teman, mungkin sudah ia lempar dengan sepatu hak tinggi karena kesal. ... Satu divisi yang terdiri dari sepuluh orang itu akhirnya makan siang bersama di sebuah restoran barat bintang lima. Meski awalnya ini adalah ide usil Lilya, tapi Serra tak berpikir makan siang bersama adalah ide yang buruk. Selama satu bulan ini mereka tidak pernah makan siang satu divisi, ini dapat menjadi cara untuk menciptakan suasana kerja yang baik dan kondusif. "Pesan saja, kalian dapat memesan apapun karena Kak Serra yang akan membayarnya." Lilya sengaja bicara seperti rekan satu divisi memanggil Serra dan menunjukkan senyum di bibir menornya. Serra ingin menjitak kepala Lilya jika sanggup menggapainya. Sayang sekali jarak tempat duduk mereka terlalu jauh. Dia hanya bisa menyetujuinya, "Kalian pesan saja yang banyak. Aku yang akan membayarnya." Mereka berseru dengan senang. Cindy yang duduk di sebelah Serra menjadi orang pertama yang mengambil daftar menu. Tangannya menunjukkan beberapa hidangan barat dengan semabgat, lalu setelah selesai dia tak lupa untuk berterima kasih. "Terima kasih Kak Serra atas traktirannya. Mungkin besok ganti Kak Lilya yang mentraktir kami. Benar tidak, Kak Lilya?" Lilya yang baru mengambil daftar menu langsung melebarkan mata. Dia terbatuk dua kali dan mengelus dagunya mencari alasan. "Tidak tidak, aku harus membayar cicilan mobil, lalu cicilan rumah, lalu asuransi dan beberapa kebutuhan lain. Aku tak sanggup jika harus mentraktir kalian di tempat seperti ini." Serra dan Cindy tertawa melihat sikap panik Lilya. Beberapa teman di samping juga tertawa. Di tengah hiruk-pikuk restoran, televisi besar yang ada di tengah ruangan tiba-tiba menyala dan menampilkan sebuah acara wawancara bisnis. Pengunjung restoran yang semula tenang menjadi heboh dan ramai ketika melihat sosok yang tampil menjadi narasumber. Cindy adalah penggemar fanatik dunia bisnis. Ketika melihat sosok tampan di televisi, dia menjerit histeris. "Bukankah itu Max Ricard!" Tangannya gemetar menunjuk layar televisi. Bukan hanya Cindy. Bahkan orang awam sekali pun akan heboh ketika melihat Max Ricard. Bukan hanya memiliki penampilan sempurna, tapi juga kekayaan dan popularitas. Lilya pada saat ini bicara. "Jika aku menjadi istrinya, bukan tidak mungkin untuk mentraktir kalian semua setiap hari di sini. Jangankan satu devisi, satu gadung Starlight pun tidak akan terlewat." Cindy dan beberapa teman kerja tertawa dengan kalimat Lilya. "Kak Lilya, kau jangan banyak berkhayal. Pria sempurna seperti Presdir Max bagaimana mungkin suka dengan wanita seperti kita." Namun Lilya masih bersikeras. "Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Lagi pula wajahku tidak terlalu buruk. Jika ada kesempatan mungkin aku harus mencari tahu tempat tinggalnya dan datang menggodanya. Lalu setelah itu karena merasa bersalah Presdir Max akan bertanggung jawab ...." Uhuk! Uhuk! Cerita Lilya harus berakhir lebih cepat kerana Serra tiba-tiba terbatuk. "Kak Serra, kau kenapa?" tanya Cindy khawatir. Namun Serra hanya menggoyangkan tangan sambil menundukkan kepala. "Tidak apa, aku baik-baik saja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN