Saat tangan saya mulai membuka kancing bajunya, tangannya mencoba menahan gerakan tanganku. “Jangan Mas, takut nanti dilihat orang”, pintanya, tapi tidak saya pedulikan ucapannya. Saya lanjutkan membuka satu persatu pakaiannya. nenennya yang putih mulus mulai terlihat sedikit demi sedikit, buah nenennya yang tertutup bra warna putih. Seakan dia sudah tidak peduli lagi dengan keadaannya sekarang, dia hanya ingin menikmati apa yang dirasakannya, dia pasrah saat saya gendong dan membaringkannya di atas tempat tidurku yang bersprei merah. Di tempat tidur ini saya merasa lebih nyaman, semakin bisa menikmati setiap kehangatan tubuhnya, dibiarkannya nenennya yang putih mulus itu semakin terbuka. “Ah”, bibir saya mulai bergeser pelan menyapu dan mencium hangat di lehernya yang jenjang dan mulus

