Part 6: Delvan

1058 Kata
Delvan Anggara. Dia merupakan anak tunggal. Sejujurnya, diantara mereka berlima, kadang aku lebih nyaman ketika berbicara dengan Delvan. Pembawaannya yang santai juga gayanya yang sering asal bicara, membuatku lebih bisa percaya. Percaya untuk menceritakan apa yang aku rasakan kepadanya. Namun sikap kekanakannya seringkali membuat orang lain, mungkin jenuh. Dia adalah orang yang bermulut kotor. Suka membual, juga berkata dengan kalimat yang begitu menyakitkan. "Namun, nggak jarang, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, menjadi tamparan untuk diriku sendiri. Yang pastinya, tamparan untuk menuju hal yang lebih baik.   “Lo nggak bakal paham karena lo Cuma lihat dari satu sisi Sya,” kalimatnya biasa saja, namun caranya berbicara terdengar marah. “Dasar b**o,” “Lo terlalu baik b**o, makannya sering di sakitin,” “Hidup nggak selalu tentang orang lain Sya, ini hidup lo, lo yang berhak ambil keputusan di setiap pilihan, bukan orang lain,” Serta masih banyak lagi, kalimat kalimat menyakitkan yang dia ucapkan. Kalimat-kalimat yang menyakitkan itu, tanpa sadar membuatku berfikir kembali untuk menjalani kehidupan.   Selain omongannya yang begitu menyakitkan, kebiasaan-kebiasaan anehnya seringkali membuatku pusing. Seperti, tidak bisa telat makan. Aku bahkan lebih takut dia akan mati kelaparan daripada dia harus hidup bersamaku. Selain itu, perempuan seolah menjadi sumber makanannya. Perempuan dari berbagai jurusan di sekolah ini sudah pernah dia dekati. Ini memang sebuah anugrah untuk lelaki tampan, pintar, juga mempesona seperti dia. “Cewek mana lagi yang mau lo jadiin sasaran?” tanyaku tiba-tiba. Kabar menggemparkan datang dari jurusan sebelah. Katanya, ada salah seorang perempuan yang terkena gangguan mental sebab, hatinya telah dipatahkan oleh Delvan.   Meskipun kekurangannya sebanyak itu, namun ada hal yang nggak pernah bisa berubah, serta bisa hilang begitu saja. Kekurangan-kekurangan itu, bahkan nggak bisa di bandingkan dengan satu hal ini. Terlihat tidak bisa di percaya, namun ini nyata. Dan hal itu ialah, dia pernah membuat jantungku berdetak kencang kembali. Dia pernah menumbuhkan benih cinta yang sempat lama tersembunyi dalam hatiku. Meskipun dia sempat membuatku kembali merasakan cinta, namun aku tidak pernah berharap bahwa perasaan ini akan di ketahui olehnya. Aku hanya menyembunyikan perasaan ini dalam diam. Bahkan, aku nggak pernah ingin dia tahu tentang perasaanku padanya. Biarlah doa menjadi bukti atas segala rasa yang pernah ada. Dia adalah aligator akut. Duh, pokoknya perlu hati-hati banget kalau bertemu dengan spesies manusia sejenis Delvan. Dibalik omongannya dia yang kasar dan kotor, dia bisa bertingkah begitu manis dan juga halus ketika bersama perempuan cantik. “Iyaa sayang, aku nggak bakal ninggalin kamu kok,” “Kamu cantik deh, aku sayang banget sama kamu,” “Sayang, aku kangen,” “Mau cuddle,” kalau sudah ngomong begitu, pasti muka dia juga sok manis. Menyebalkan.   Beberapa kali dia mengeluarkan gombalannya untuk menggoda beberapa perempuan. Jangankan perempuan lain, aku yang bisa di kategorikan temannya pun nggak jarang harus menerima gombalan recehnya itu. Pada suatu waktu, kita pernah terlibat dalam sebuah percakapan. “Sya, lo bisa nggak fotoin dunia?” kata Delvan ditengah percakapan kita. “Ya jelas nggak bisa lah Van, jangan ngaco deh,” jawabku. “Tapi gue bisa Sya, mau lihat nggak?” Delvan menatapku, dengan sebuah tatapan meyakinkan. “Coba lihat mana” kataku dengan sedikit ragu. Lalu Delvan mengarahkan kamera posel pintarnya ke arahku, sebelum akhirnya menunjukkan foto yang ada dalam ponselnya. “Hah kok gue?” kataku dengan bingung, lantas Delvan menjawab “Iya lo kan dunia gue Sya,” sial, mengapa jantungku berdetak upnormal?. “elehh gombal teruss, gombalin aja sono cewek lain, lo kan dari kemaren gombalin cewek lain mulu,” kataku dengan nada sebal. “Cemburu bilang bos,” kata delvan di iringi dengan sebuah tawa. “Gue nggak cemburu bos,” jawabku, lalu bergegas pergi meninggalkan Delvan.   Dengan sikap Delvan yang seolah membuat aku istimewa, aku sempat terbawa perasaan terhadap dia, namun perasaan itu segera aku tepis jauh-jauh kala aku sadar bahwa sikap dia terhadap ku hanya biasa aja. Nggak pernah seagresif ketika dia sedang pendekatan dengan seorang gadis. Namun setiap kali seorang cowok mendekatiku, nggak jarang Delvan mengaku sebagai pacarku. Bahkan dengan santainya dia mengatakan “Sya, lo itu deket sama cowok baru sama kita aja, sebelumnya juga lo bilang nggak pernah deket sama cowok kan? Jadi udah deh mending lo iyain aja apa kata kita kalau misal lagi ngadepin cowok yang deketin lo,” kalau sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk pasrah. Yaa karena memang itu nyata. Mereka tau kalau aku tak pernah nyaman berdekatan dengan seorang lelaki selain mereka. Delvan nggak seperti Aldo dan juga Veron yang sering mengirimiku pesan pribadi. Atau mungkin Aksa juga Wavi yang diam-diam sering mengajakku jalan. Aku dan dia hanya sekedar ngobrol di grup. Bercanda pun aku lebih sering bercanda dengan Aldo atau Veron. Namun sikapnya yang kelewat romantis itu, sering membuatku bingung, bingung harus bagaimana, bingung harus menanggapi dengan cara yang seperti apa. Nggak sekali dua kali dia mengacak pucuk kepalaku, padahal hanya pucuk kepala yang di acak, namun mengapa seolah hati yang berantakan?. Dia juga sering memainkan pipiku kala aku sedang sebal. Katanya, pipiku seperti marshmello, menggemaskan. “Lucu nih anjirr,” kata dia sambil mencubit pipiku. Menyebalkan.   Sikapnya yang membuat aku terbawa perasaan itu, membuatku mau tak mau memancing dia, memancing dia untuk mendekati seorang gadis. Seperti “Van, lo nggak ngincer cewek lagi apa?” kataku. Lantas dia dengan tertawa menjawab “kenapa? Lo cemburu kalau gue deket-deket sama cewek lain?” tuh kan, pada akhirnya, aku yang kena imbasnya. Tapi, ada satu orang yang di kabarkan sedang dekat dengannya. Namanya Syilla. Anaknya cantik, manis gitu. Duh, mereka cocok banget kalau disandingin sebagai pasangan. Layaknya sebuah cerita dalam novel romansa yang k*****a. Namun entahlah, setiap kali aku bertanya pada Delvan bagaimana hubungannya dengan Syilla, pasti dia menjawab kalau nggak ada hubungan. Dia yang masih sering mendekati Syila, memberi perhatian-perhatian kecil, juga menggodaku dengan sejuta rayuan manis yang ada dalam fikirannya. Bahkan  dia pernah memposting fotoku dengan gaya candid, lalu memasang sebuah caption ‘anak monyet’. Delvan memang seperti itu, entahlah dia memang sangat pandai menarik ulur perasaan.   Namun, siapa yang menyangka bahwa dibalik sifat dia yang begitu menyebalkan ada banyak luka yang tersembunyi, serta kesepian yang begitu mendalam. Memang benar ya, manusia hanya melihat yang kelihatan, hanya mendengar yang terdengar. Padahal, ada banyak sekali hal yang di sembunyikan. Ada banyak hal baik yang harus buruk. Hingga pada akhirnya, ketika sebuah pertanyaan ‘kenapa?’ mulai bermunculan, ‘gapapa’ menjadi satu-satunya jawaban yang dapat diungkapkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN