Sore itu Cindra bersiap-siap untuk menemani Leo ke acara ulang tahun temannya bernama Sherry. Mama membantunya merias wajah dan rambutnya.
Mama memandang Cindra dengan senyum penuh bangga. "Anak Mama cantik sekali," ucapnya, membuat Cindra tersipu malu. "Sebentar lagi kamu akan menjadi wanita dewasa," lanjut Mama, seraya kembali merapikan riasan di wajah Cindra.
"Cindra kan, memang sudah dewasa, Ma. Sudah sembilan belas tahun," sahut Cindra sambil memutar tubuhnya di depan cermin. Gaun panjang yang dikenakannya berkibar anggun.
Mama tertawa kecil. "Sudah selesai. Sekarang pakai sepatumu dan temui Leo. Dia pasti sudah menunggu."
Cindra mengeluarkan sepasang sepatu berhak tinggi yang masih baru dari dalam kotaknya. Sepatu berwarna pink keemasan itu adalah hadiah ulang tahun dari Mami Renata tahun lalu yang belum pernah ia pakai. Sambil tersenyum, Cindra mengenakan sepatu itu, lalu mencoba berdiri tegak. Tapi tiba-tiba saja ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung lalu jatuh, untung saja Mama sigap menahan separuh tubuhnya sambil menahan tawa.
"Huuuh!" Cindra melempar sepatu itu dengan kesal.
"Cindra?!" Mama menatap Cindra dengan mata melotot.
"Lain kali aja deh, Ma pakainya. Sekarang pakai sepatu yang lain aja," pinta Cindra memelas.
Mama menggeleng. "Sudah satu tahun kamu menyimpan sepatu itu tanpa kamu pakai. Hargai orang yang memberinya, Cindra. Sepatu itu mahal sekali. Harganya separuh gaji Mama."
"Tapi sepatunya terlalu tinggi, Cindra enggak bisa, Ma..."
Mama menghela napas. "Cindra, kamu harus percaya diri. Kamu harus berdiri dengan proporsional, kalau tidak tubuhmu tidak akan seimbang," ucapnya seraya mengulurkan kembali sepatu itu. "Dan lagi pula gaun kamu itu memang harus dikenakan dengan sepatu berhak tinggi, karena terlalu panjang. Bisa keserimpet kalau kamu pakai sepatu datar," sambung Mama lagi.
Akhirnya, setelah dua puluh menit berlatih, Cindra pun bisa berdiri dengan tegak di atas sepatunya. Lalu dengan bersusah payah, ia melangkah ke Istana Atmaja, menunggu pangeran kodok keluar dari kamarnya.
Di tengah ruangan Cindra berdiri, menunggu dengan gelisah. Ia merasa lelah sekali harus menahan tubuhnya agar seimbang. Lama banget sih, Pangeran Kodok keluarnya? Gerutunya dalam hati.
Tanpa Cindra sadari, Leo sudah berdiri di tangga, memandangi Cindra diam-diam. Ia terpesona oleh penampilan Cindra yang cantik, yang tak pernah dilihatnya selama ini. Gadis itu benar-benar seperti Putri Cinderella yang tengah menunggu pangerannya. Diam-diam, Leo mengambil gambar Cindra dengan kamera ponselnya.
"Cindra?!"
Suara Mami Renata memecah momen indah Leo. Mami baru saja pulang bepergian. "Kamu cantik sekali! Mami sampai pangling!" Serunya. Ia menyentuh wajah, gaun, dan rambut Cindra dengan binar kekaguman di matanya.
Pujian itu membuat Cindra mendadak canggung. "Makasih, Mi... Cindra pakai sepatu dari Mami..." ucapnya malu-malu, ia mengangkat sedikit ujung gaunnya, memperlihatkan sepatu pink keemasan itu.
Wajah Mami semakin terkejut sekaligus kagum. "Mami sudah menduga sepatu itu akan indah di kakimu. Karena setiap sepatu akan menemukan sendiri pemiliknya. Dan akan menjadi sempurna saat ia sudah menemukan pemilik yang tepat."
"Hmm..." Cindra mengerutkan kedua alisnya, mencoba memahami kalimat itu. Ia memang sering gagal paham dengan ucapan Mami yang selalu menganggap baju, sepatu, dan tas mahal itu punya jiwa. Ia hanya mengerti 'sesuatu itu akan sempurna jika kita mampu membelinya.' Begitu kata Mama.
"Leo, kamu ke sini. Mami mau foto kalian berdua." Mami melambaikan tangan, meminta Leo turun. "Mami enggak nyangka kalian sudah sebesar ini. Kalian sangat serasi," ucapnya, lalu mengambil gambar keduanya.
...
Sambil menggandeng erat tangan Leo, Cindra masuk ke dalam hotel mewah itu, mengikuti langkah Leo yang berhati-hati. Ia memang sudah mewanti-wanti Leo untuk selalu menggandengnya, ia takut jatuh.
Di Ballroom besar itu, nuansa kemewahan sangat kental terasa. Seluruh ruangan dipenuhi hiasan dan ornamen berwarna pink dan emas. Sebuah tulisan besar "Happy Birthday Sherry" tampak mencolok di panggung. Acara sudah dimulai sejak 30 menit yang lalu. Cindra sedikit menyesal karena gara-gara sepatunya mereka jadi terlambat. Meski buat Leo itu sama sekali tak masalah—Leo memang tidak menyukai pesta.
Setelah memberi ucapan selamat pada Sherry, Leo menarik Cindra duduk di sebuah meja kosong, sedikit menjauh dari kerumunan. Leo menolak ajakan teman-temannya untuk gabung di meja mereka. Ia juga bahkan menolak ajakan teman-teman wanitanya yang berpenampilan bak selebriti. Cindra yakin Leo memakai dirinya sebagai alasan.
Teman-teman Leo memang sudah tahu semua mengenai dirinya. Biarpun Leo selalu mengenalkannya sebagai adik, mereka tetap menganggapnya sebagai 'Cinderella' yang menumpang hidup dan harus pulang sebelum tengah malam. Untung mereka tak menyebutnya 'upik abu'. Tapi Cindra tak pernah marah. Andai saja mereka tahu betapa inginnya ia pergi meninggalkan pangeran kodok yang mereka kagumi itu.
Suara musik lembut dari piano menemani santapan makan malam. Ah, tiba-tiba saja ia teringat Andra. Cindra merasa bersalah. Harusnya mereka juga tengah menikmati makan malam bersama. Tapi Andra memang laki-laki baik. Dia sangat pengertian. Cindra tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum? Suka ya, aku ajak ke sini?" Ucap Leo, usil. Ternyata ia memperhatikannya.
"Ge-er!" Cindra mencebikkan kedua bibirnya.
"Habis ini kita pulang." Leo tiba-tiba berbisik Leo.
"Memangnya acaranya udah selesai?" bisik Cindra juga. Leo menggeleng.
Saat jamuan makan malam selesai, suara piano berganti dengan suara merdu seorang wanita yang bernyanyi. Sherry keluar dari balik panggung. Ah, sempurna sekali wanita itu. Cantik, kaya raya dan pintar bernyanyi, gumam Cindra. Tapi kenapa Leo mengajaknya pulang?
Saat Leo akan menggandeng tangan Cindra untuk meninggalkan tempat itu, tiba-tiba terdengar suara Sherry dari mikrofon yang memanggil nama Leonardo Marlon Atmaja, dan memintanya untuk naik ke atas panggung. Seketika keriuhan pun pecah.
Wajah Leo memerah, menahan kesal. Cindra berusaha menahan tawa untuk menunjukkan empatinya. Sekarang ia mengerti alasan Leo buru-buru mengajaknya pulang.
Dengan senyum yang dipaksakan, Leo akhirnya naik ke atas panggung.
Cindra tak bisa lagi menahan tawa saat Sherry meminta Leo untuk bernyanyi bersamanya. Ia tahu Leo pasti benci sekali dengan teman-teman yang 'mengerjai' nya itu, karena Leo tidak bisa bernyanyi.
Namun, tawa Cindra terhenti saat suara Leo terdengar. Suasana berubah hening. Seluruh orang dalam ruangan itu menatap keduanya dengan kagum. Lagu melankolis yang dibawakan Leo dan Sherry terdengar begitu indah.
Cindra tertegun, tak percaya apa yang dilihat dan didengarnya—Leo bisa bernyanyi. Dan suaranya begitu merdu. Sejak kapan? Kenapa ia tak pernah mengetahuinya? Rasa terkejut bercampur takjub memenuhi hati Cindra. Ia terus menatapnya hingga lagu selesai dan Leo turun dari atas panggung dengan terburu-buru, dan menariknya pulang.
"Kenapa? Enggak percaya?" Tanya Leo melihat Cindra masih memandanginya saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Cindra menggeleng. "Sejak kapan kamu bisa nyanyi? Kok, aku enggak tahu?" tanyanya sungguh-sungguh.
"Waktu kecil kan, kita sering nyanyi bareng?" Sahut Leo.
"Ya, tapi waktu itu kan suara kamu enggak bagus, kayak suara aku?!" Sahut Cindra, membuat Leo tertawa.
"Ya, karena dulu aku sengaja ngimbangin suara jelek kamu," jawab Leo dengan cueknya.
"Jadi dari kecil kamu sebenarnya bisa nyanyi bagus? Kok, bisa?"
Leo mengangkat kedua bahunya. "Mungkin bakat," sahutnya.
"Bakat dari mana?" Cindra mengerutkan keningnya. Setahunya tak ada satu pun keluarga dekat Leo yang bisa bernyanyi.
"Bakat dari tetangga rumah kita yang penyanyi itu." Leo tergelak, membuat Cindra mencubitnya dengan gemas. "Kamu benar-benar suka ya, lihat aku nyanyi?" Tanyanya, melihat Cindra masih tak percaya.
Cindra mengangguk. "Nyanyi lagi dong, Leo buat aku," pintanya dengan wajah memohon yang meluluhkan hati Leo.
Leo menuruti permintaan Cindra. Suaranya mengalun merdu, menyanyikan sebuah lagu mellow kesukaan Cindra. Dan saat lagu selesai Leo tertegun, mendapati tatapan mata Cindra yang berbinar. Dibiarkannya mata indah itu menatapnya. Baru kali ini ia melihat sesuatu dalam mata itu yang membuat hatinya sejuk bagai disiram air es.
"Oh, maaf!" Cindra tersadar saat bibir itu tak lagi mengeluarkan suara, hanya sebuah senyuman yang membuatnya langsung tertunduk malu.
"Gak pa-pa. Aku tahu kamu kagum sama aku," ucap Leo, kembali dalam mode usilnya.
Cindra tertawa kecil. "Kali ini aku gak bohong. Suara kamu memang bagus. Kalau Mami Renata tahu..."
"Ssssttt...." Tiba-tiba Leo menutup mulut Cindra. "Kalau Mami sampai tahu, aku enggak akan mau nyanyi lagi," ancamnya sambil melotot.
Cindra tersenyum dalam hati, membayangkan seandainya Mami tahu Leo bisa bernyanyi, Mami pasti sangat senang dan bangga. Dilihatnya kini Leo sibuk dengan ponselnya. Cindra menyandarkan kepalanya, lalu memejamkan mata.
Leo terkejut saat dirasakan bahunya mendadak berat. Ternyata kepala Cindra jatuh tepat di bahunya, terlelap. Ia lalu merebahkan kursi hingga Cindra dapat berbaring nyaman.
Leo menatap wajah Cindra. Ia tersenyum melihat sepatu pink keemasan berhak tinggi di kakinya. Ia tahu betapa sulitnya Cindra berjalan di atas sepatu itu. Perlahan, tangan Leo bergerak, melepas sepatu itu dari kaki Cindra. Namun, tiba-tiba ia tertegun—sepatu itu ternyata meninggalkan jejak kemerahan dan luka di jemari dan tumit Cindra. Perlahan, ia mengusap kaki yang terluka itu. Matanya berair, membayangkan gadis itu harus menahan perihnya sejak tadi, demi dirinya.
Dari kaca spion di atasnya, Pak Toto, sang supir tersenyum melihat Leo mengusap air matanya.