Drama Sepatu Hilang

1390 Kata
Sudah sepuluh menit Cindra mengetuk pintu kamar Leo dan memanggil namanya. Tak ada sahutan. Dasar pemalas! rutuknya. Ia sudah bangun super pagi demi menemaninya sarapan, tapi sang pangeran malah masih molor. ​Diketuknya pintu itu sekali lagi. Akhirnya, pintu terbuka. Leo berdiri di ambang pintu, matanya baru setengah terbuka. Cindra langsung menerobos masuk. Tapi Leo malah kembali ke kasurnya, membungkus dirinya dengan selimut tebal. Cindra terpaksa naik ke atas tempat tidurnya yang luas dan menarik paksa selimutnya. "Leo! Banguuun! Dua jam lagi kamu ada kelas. Cepetan ba..." Tiba-tiba saja Leo membuka selimutnya, beranjak bangun- secepat kilat menarik tubuh Cindra dan membungkusnya dengan selimut rapat-rapat. Ia tertawa kencang saat melihat Cindra berteriak dan meronta-ronta seperti ulat yang ingin keluar dari kepompong. Ia lalu ngeloyor masuk ke kamar mandi dengan tawa yang tak henti. Dengan nafas terengah-engah, Cindra meloloskan diri, melempar selimut tebal itu dengan kesal. Uuuh! Sial! Leo berhasil menjebaknya lagi. Ah! Kenapa ia bisa lupa dengan trik kepompong Leo yang norak itu? Dirapikannya kembali rambut dan pakaiannya yang berantakan di depan cermin. Cindra menghembuskan nafas dengan kesal. Berusaha menahan kesabarannya yang hampir habis. Didengarnya suara senandung dari dalam kamar mandi. Dasar pangeran kodok! Dia tidak akan pernah berubah sampai kapan pun. Mana ada putri yang mau mencium kodok menyebalkan kayak dia? rutuk Cindra, lalu bergegas keluar kamar. Di halaman belakang, Cindra meletakkan sebuah nampan besar di atas meja-dua buah Croissant Sandwich daging asap, seteko kecil teh lemon hangat dan secangkir kopi s**u buatan Mas Pram untuknya, tersaji rapi. Sambil meracik teh untuk pangeran kodok pikirannya melayang pada Mas Pram. Di balik senyumnya ia bisa merasakan sedikit kekecewaan saat ia memberitahu jika mereka tak bisa lagi sarapan bersama. Setelah dua tahun lebih, pasti aneh rasanya sekarang Mas Pram harus sarapan sendirian. "Ngelamun, aja!" Suara berat disertai tepukan di bahunya mengagetkan Cindra. Pangeran Kodok sudah rapi dengan kaus putih dan kemeja lengan pendek yang kancingnya dibiarkan terbuka. Dan... Cindra membulatkan kedua matanya. Kenapa dia masih memakai celana itu lagi? Astaga! Dasar jorok! Jeans belel itu sudah dipakainya empat hari berturut-turut. Cindra menarik nafasnya, lelah. Ia pikir Leo sudah cukup dewasa untuk sekedar menyiapkan pakaian sendiri tanpa bantuannya. Tapi ternyata Pangeran Kodok memang sulit sekali berubah. Sore nanti ia akan menyingkirkan celana itu diam-diam. Tak ada seorang pelayan pun yang berani melakukan itu kecuali dirinya. "Kamu bukannya kuliah pagi juga?" Tanya Leo melihat penampilan Cindra yang masih mengenakan pakaian rumah. Cindra menggeleng. "Jam sepuluh," jawabnya berbohong. Padahal jadwal kuliahnya sama dengan Leo. Tapi ia tak mau lagi barengan. Lebih baik ia ngojek daripada terjebak kemacetan bersama pangeran kodok menyebalkan. Diperhatikannya Leo yang tengah menuang saus tomat dan saus sambal ke dalam isian Sandwich-nya. Lalu dibukanya ponsel dan dibacanya jadwal harian sang pangeran kodok. "Jangan lupa siang nanti kamu ditunggu Papi di kantor untuk makan siang. Enggak boleh dibatalin lagi. Dan jam tujuh malam kamu udah harus bersiap nemenin Mami jamuan makan di hotel, terus..." "Aku udah tahu, bawel" Leo memotong dengan kesal. Cindra kembali menarik nafasnya. Dasar cowok aneh! Ia selalu saja tak suka dengan jadwalnya. Padahal semua yang harus dilakukannya itu sangat menyenangkan. "Terus kamu pulang kuliah jam berapa?" Tanya Leo sambil bersiap memasukan Sandwich ke dalam mulutnya. "Mungkin sore," sahut Cindra. "Aku datang, kamu udah pulang, kan?" "Iyaaa Pangeran Leo! Aku usahakan." ​Leo tersenyum tipis, lalu menggigit sandwich itu. Lalu terdiam. Keningnya berkerut saat melihat Cindra berusaha meniru dirinya, memasukkan sandwich besar ke mulut kecilnya. Dan... Gagal total. Isian sandwich jatuh berhamburan, saus belepotan di mulut dan kaus Cindra. "Hahahaha." ​Leo tertawa terbahak-bahak, hingga hampir tersedak. ​Cindra menyeka mulutnya kesal. "Enggak lucu!" bibirnya mencebik. ​"Makanya jangan sok-sok-an ngikutin aku. Gak akan muat di mulut kamu," ledek Leo. Ia lalu mengambil tisu dan dengan lembut menyeka sisa saus di bibir Cindra. ​Cindra tersipu. Nyebelin tapi... manis. ... Cindra meletakkan sebuah kantong kertas di hadapan Andra. ​"Apa, nih?" tanya Andra seraya mengeluarkan isinya. "Sandwich?" Matanya berbinar. "Thank you, sayang!" ucapnya sumringah. ​Cindra mengangguk senang. "Kamu udah sarapan?" ​"Baru ngopi sama makan gorengan." Andra menggigit Sandwich itu. "Mmm. Enak banget! Kamu yang bikin?" ​Cindra menggeleng. "Mas Pram." ​"Sejak pacaran sama kamu, aku jadi perbaikan gizi terus," ucap Andra, membuat Cindra tertawa kecil. Andra memang anak kos yang lebih sering membeli makanan tidak sehat demi berhemat. Namun, Andra sangat mandiri dan pekerja keras, dan itu yang membuatnya jatuh cinta. Sangat bertolak belakang dengan Leo yang untuk urusan bangun pagi saja repotnya minta ampun. ​"Kenapa?" tanya Andra menyadari Cindra memperhatikannya sejak tadi. ​"Pulang kuliah ajak kita makan bakso dekat kos kamu itu, yuk?" Ajak Cindra. ​"Ah! Masa habis makan Sandwich buatan Chef terus makan bakso pinggir jalan? Nanti Sandwich di dalam lambungku berontak tak terima?" rajuk Andra, berpura-pura cemberut. ​Cindra tertawa geli. "Itu namanya keseimbangan." ... ​Andra menghentikan motornya tepat di depan pintu 'pintu karyawan'. Cindra langsung melompat turun. ​"Beneran nih, aku enggak boleh masuk?" tanya Andra sambil membantu melepas helm Cindra. ​"Sabar, ya sayang... aku harus menunggu restu dari pangeran kodok dulu," sahut Cindra cekikikan. ​Andra ikut tertawa. "Ok. Sampai besok pagi ya, sayang!" ucapnya, lalu tancap gas. ​Cindra melangkah dengan hati berbunga-bunga. Mulai besok Andra akan mengantar-jemput ia ke kampus. Ah, akhirnya hubungan percintaannya kali ini berjalan baik-baik saja. Namun, tanpa Cindra tahu, dari layar CCTV di kamarnya, Leo melihat semuanya. Wajahnya memerah oleh rasa cemburu yang selalu disangkalnya. Keningnya berkerut memikirkan sesuatu. Ia lalu berjalan menuju walking closet-nya- mengambil sepasang sepatu pantofel berwarna hitam dari rak, lalu menyembunyikannya ke dalam sebuah koper kosong. Ia tersenyum tipis. Rencana ongoing. ​Cindra baru saja membaringkan tubuhnya di atas kasur saat terdengar dering interkom berbunyi nyaring. Ia sudah menebak orangnya. Semenit kemudian, ia keluar memenuhi panggilan Pangeran Kodok. ​Leo membuka pintu kamar dengan wajah masam. "Kenapa baru pulang?" ​Cindra mengabaikannya, terlalu lelah untuk menanggapi. Ia langsung masuk ke dalam walking closet, menuju rak sepatu-benar ada yang hilang. ​"Kamu pakai yang lain dulu aja, nanti aku akan minta tolong pelayan untuk mencarinya," ujar Cindra. ​"Enggak bisa! Aku mau pakai nanti malam ke acara Mami," sahut Leo, menyebalkan. ​Cindra menarik napasnya, menahan geram. "Leo... sepatu hitam kamu ada dua belas pasang! Kamu pakai yang lain dulu. Aku harus tanyakan dulu sama karyawan lain. Sekarang mereka lagi sibuk semua," sahutnya. ​"Kenapa enggak kamu aja yang cari?" tukas Leo lagi. ​Kini Cindra tak bisa lagi menahan kegeramannya. "Astaga, Leo! Aku baru pulang kuliah! Belum mandi dan ganti baju! Dan aku mau istirahat dulu sebentar. Nanti malam aku cari." Ditatapnya Leo dengan mata melotot. ​"Makanya jangan pacaran terus!" potong Leo tajam. ​Cindra terkejut mendengar ucapan Leo. Apa tadi dia melihat Andra mengantarnya pulang? Gumamnya. ​"Aku mau kamu cari sekarang juga!" Lanjut Leo, tak ingin dibantah. ​Cindra akhirnya mengalah. Dasar anak manja! Apa susahnya memakai sepatu yang lain? gerutunya. ​Cindra membongkar seluruh rak sepatu. Diam-diam, Leo memandanginya sambil menahan senyum. Ia melanjutkan bermain game online, hingga reminder di ponselnya berbunyi nyaring. Sudah pukul setengah tujuh, waktunya bersiap. Tapi kenapa suasana hening? ​Leo melangkah ke walking closet. Ia tertegun mendapati Cindra yang tertidur pulas di lantai. Wajahnya tampak lelah di antara sepatu-sepatu yang berserakan. Rasa sesal muncul di hatinya. ​Perlahan, ia mengeluarkan sepasang sepatu yang disembunyikan itu, lalu meletakkannya di samping Cindra. Ia memandangi wajah Cindra, ragu untuk mebangunkannya. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk memindahkannya saja ke sofa. ​Dengan hati-hati, Leo mencoba mengangkat tubuh Cindra. Namun sebelum tubuh itu terangkat sepenuhnya, tiba-tiba saja Cindra terbangun dan berteriak kencang, membuat Leo spontan menjatuhkan tubuhnya kembali ke lantai. ​"Kamu mau ngapain aku?!" teriak Cindra sambil melotot. ​"Ge-er banget, sih! Kamu tadi ketiduran di situ. Aku mau pindahin ke sofa. Aku takut sepatuku hancur ketimpa badan kamu," sungut Leo kesal, menutupi rasa canggungnya. ​"Enak aja, hancur! Memangnya aku gajah?" sahut Cindra, mencebik. Ia beranjak bangun dengan sedikit kesakitan. Namun tiba-tiba matanya terhenti. "Leo, sepatunya ketemu! Yang ini, kan?" Serunya mengambil sepatu itu, kegirangan. ​Leo pura-pura terkejut, lalu mengangguk. ​"Kok, tadi enggak kelihatan, ya? Perasaan udah aku bongkar semua," gumam Cindra, menggaruk kepala, kebingungan. ​"Makanya jangan kebanyakan pacaran. Jadi enggak fokus!" sahut Leo, sambil membuka bajunya. Saat ia akan membuka celana, Cindra kembali berteriak. ​"Eeeeh... Leo! Tunggu aku keluar dulu!" jeritnya, berlari keluar kamar. ​Leo tertawa terbahak-bahak. ​
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN