Cindra sudah rapi dengan sepatu dan seragam tenisnya. Sore ini jadwalnya adalah menemani Pangeran Kodok bermain tenis. Dan ini adalah kesempatan emas yang akan ia gunakan untuk membalas dendam. Perbuatan Leo tadi pagi telah merenggut waktu berharganya bersama Andra, dan ia yakin seratus persen Leo sengaja melakukannya untuk menghancurkan hubungannya dengan Andra. Dasar sirik! geram Cindra.
Cindra menegakkan tubuhnya dan menghentakkan kakinya. Sekarang waktunya untuk memberi pelajaran. Bukan dengan melawan Leo bermain Tennis, karena jelas ia tidak akan menang. Tapi ia akan membalas dengan cara yang lebih menyakitkan. Cindra mengembuskan napas kencang, memasang wajah siap tempur, lalu melangkah dengan penuh percaya diri. "Huh! Biar tahu rasa!" desisnya. Ia tak sabar mendengar jeritan Leo meminta ampun.
Leo baru saja selesai berlatih bersama Coach, saat Cindra masuk ke lapangan tenis. Ia memang sengaja menunggu latihannya selesai. Kalau tidak, Leo pasti akan mencari seribu alasan untuk berhenti dan meminta Coach melatih dirinya saja, yang katanya hanya bisa menepuk nyamuk dengan raket
"Aku mau lawan kamu!" Cindra berdiri di hadapan Leo, gayanya menantang.
Leo menghentikan latihannya. "Malas! Aku capek!" sahutnya seraya duduk di kursi dan menenggak minuman dingin. "Sebentar lagi aku mau berenang. Temenin aku nanti," perintahnya. Ia membuka kausnya yang basah oleh keringat, lalu dengan sengaja melemparkannya ke kursi yang diduduki Cindra. Cindra langsung beranjak dengan kesal.
"Aku maunya main tenis!" paksa Cindra.
"Sama nyamuk aja sana," sahut Leo lagi, meluruskan kakinya.
"Nanti aku temenin nonton Netflix sampai malam!"
Leo mengernyitkan kedua alisnya, curigs. "Kok, tumben?"
"Mau gaaak? Kalau enggak mau ya, udah!" Cindra berlagak angkuh. Ia tahu Leo tidak akan bisa menolaknya. Leo sering kali membujuknya untuk menemaninya nonton serial bajak laut favoritnya, tapi ia selalu menolak.
Akhirnya, tanpa bertanya lagi, Leo beranjak bangun. Ia kembali ke tengah lapangan dengan bertelanjang d**a.
Sambil tersenyum mengejek, Leo menunggu Cindra yang bersiap memukul bola.
Saat bola pertama melayang ke arahnya, Leo dengan santai memukulnya. Namun kemudian bola-bola lain berdatangan, tanpa henti. Cindra memukul bola-bola itu ke arah Leo hingga mengenai tubuhnya yang bertelanjang d**a. Leo yang terkejut pun tak sempat menghindar. Ia berteriak-teriak meminta Cindra untuk berhenti, tapi Cindra tidak menggubris. Ia terus melempari bola-bola itu dengan penuh dendam. Hingga...
"CINDRAAA!!!"
Sebuah teriakan kencang terdengar tepat di belakangnya, memaksa ia berhenti dan menoleh.
"Apa-apaan kamu, Cindra?!"
Mama berdiri di hadapannya dengan wajah penuh amarah. Dari kejauhan, Cindra melihat Mami Renata dan dua orang tamunya ikut memandanginya dengan terkejut.
"Apa maksud kamu?!"
Cindra langsung tertunduk takut. Ia tak menyangka teriakan Leo terdengar sampai ke dalam rumah. Dilihatnya Leo kini meringis kesakitan sambil mengusap-usap bagian tubuhnya yang memerah terkena bola. "Maaf, Ma..." ucapnya, tercekat.
"Sejak kapan kamu memakai kekerasan pada Leo?"
Cindra semakin tertunduk dalam. Sudut matanya menangkap Mami Renata dan tamu-tamunya sudah kembali masuk ke dalam rumah. Ia menarik napas lega-Mami Renata tak ikut memarahinya.
"Leo sudah berteriak kesakitan dari tadi tapi kamu terus saja melemparinya dengan bola!" Teriakan Mama tak surut. Ia benar-benar emosi.
"Kamu minta maaf sama Leo, dan obatin dia!" perintah Mama.
Cindra mengangkat wajahnya. Ia tidak masalah mengobati Leo, tapi meminta maaf padanya adalah hal tersulit di dunia. Leo pasti akan 'mengerjainya' habis-habisan.
"Tapi, Ma..."
"Enggak pakai tapi, Cindra. Kamu lihat kan, Leo sekarang kesakitan?" Mama menunjuk ke arah Leo.
Cindra menoleh. Dilihatnya Leo tengah duduk sambil meringis kesakitan. Tapi... tiba-tiba saja Leo mengerling, menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa. Wajah Cindra sontak berubah. Matanya membulat, bibirnya mengatup rapat, menahan geram. Dasar Raja Drama! Ternyata dia cuma pura-pura kesakitan! Uuuh! Kenapa dia selalu saja berhasil 'mengerjainya'?! Rutuknya.
Mama menghampiri Leo, menatapnya dengan raut wajah penuh penyesalan. "Maafin, Cindra ya, Leo. Dia mungkin lagi mau datang bulan. Emosinya lagi enggak stabil," ucapnya seraya mengusap-usap bagian tubuh Leo yang memerah. "Kamu ke kamar diantar Cindra, ya? Nanti Tante akan bawakan obatnya."
"Enggak apa, Tan, Leo ngerti." Leo memulai dramanya. "Beberapa hari ini Cindra memang sering marah-marah sama Leo, enggak tahu apa salah Leo," ucapnya sambil pura-pura meringis menahan sakit.
Mama kembali menatap Cindra dengan tajam, membuat Cindra kembali tertunduk. "Sekarang kamu temani Leo ke kamarnya. Tunggu di sana sampai Mama bawakan obat!" perintahnya, lalu bergegas pergi.
Dengan bersusah payah Leo mencoba menahan tawa melihat wajah kesal Cindra.
"Dasar, drama!" Cindra menatap Leo sambil melotot. "Jalan sendiri!" Ditepisnya tangan Leo saat ingin melingkarkan tangan di bahunya.
"Awww!! Sakit!!"
Tiba-tiba Leo kembali berteriak kesakitan. Cindra langsung menutup mulutnya. "Dasar, lebay!" sungutnya. Akhirnya ia membiarkan tangan Leo melingkar di bahunya.
Namun drama Leo belum selesai. Saat melewati Mami Renata di ruang tamu tiba-tiba saja ia menyeret kakinya sambil meringis kesakitan. Cindra kembali melotot. Kenapa sekarang kakinya ikutan sakit? Uuuh! Kekesalan Cindra naik ke ubun-ubun. Untung saja Mami sibuk dengan tamu-tamunya.
Saat akhirnya mereka sampai di kamar Leo, Cindra pun meledak. Didorongnya Leo sekuat tenaga ke atas tempat tidur hingga terhempas.
"PUAS SEKARANG?!"
Leo tertawa terbahak-bahak. "Aaah! Harusnya aku videoin tadi," ucapnya sambil bergulingan di atas kasur.
"Lebaay!!" teriak Cindra lagi. Ia melempari Leo dengan bantal-bantal sofa.
Setelah puas tertawa, Leo beranjak dari kasurnya, menatap Cindra, tajam."Makanya jangan main-main sama aku! Kamu mau balas dendam, kan? Karena sekarang si cupu itu udah gak punya kesempatan buat ngajak kamu pacaran di kampus."
Cindra tak menjawab. Ia mengatupkan bibirnya menahan geram. Dipalingkannya wajah dari mata Leo. Ia benci sekali padanya.
"Dia itu enggak pantas buat kamu!" tambah Leo.
"Sok tahu! Dia lebih baik dari kamu!" sergah Cindra.
Leo tersenyum sinis. "Aku akan buktikan," ujar Leo lagi sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Cindra terpaku. "Maksud kamu? Kamu mau apakan, Leo?" Cindra menggedor-gedor pintu kamar mandi yang sudah tertutup, tapi Leo sengaja menyalakan musik dengan keras.
Hati Cindra semakin gelisah. Apa yang sudah dilakukan Leo pada Andra? Apa Leo sudah mengancamnya?
"Cindra?!"
Suara Mama membuat Cindra tersadar. Mama sudah berada di dalam kamar. Ia mengulurkan sebuah kotak P3K. "Ini obatnya."
"Leo sedang mandi?" tanya Mama, mendengar suara musik keras.
Cindra mengangguk.
Mama kini menatapnya kembali, kali ini dengan pandangan yang lembut. "Mama tahu, Leo sering membuatmu marah. Tapi, biar bagaimana pun Leo itu tetap majikanmu. Biarpun orang tuanya sudah mengangapmu sebagai keluarga, dan Leo menganggapmu sebagai adik, kamu harus tetap menghormatinya. Jangan sampai kamu melampaui batasan itu."
Cindra tertunduk dalam.
"Kamu memukulinya di depan Mami Renata. Kedua orang tuanya bahkan tidak pernah memukulinya senakal apa pun dia."
"Maaf, Ma," sahut Cindra lagi. Ia kini benar-benar menyesal karena telah membuat Mama marah dan malu.
"Tolong, Cindra. Jaga sikapmu. Kita menumpang di rumah ini. Kalau kamu ada masalah dengan Leo, kamu sampaikan ke Mama atau ke Mami Renata. Mama tidak mau melihat kamu menyakiti Leo lagi. Apa pun alasannya."
Cindra kembali mengangguk, matanya menghangat. "Maafin, Cindra, Ma," sesalnya.
Mama mengusap-usap punggung Cindra, lalu beranjak keluar kamar. Cindra menarik nafasnya, mengusap air matanya.
"Kenapa nangis?" Tiba-tiba saja Leo sudah berdiri di hadapannya, mengenakan celana pendek baru, bertelanjang d**a. Bekas kemerahan masih terlihat di tubuhnya.
"Enggak! Siapa yang nangis?" elak Cindra, buru-buru mengusap sisa air mata.
"Nangisin aku, ya?" ledek Leo sambil mengacak-acak rambut basahnya dengan handuk.
"Ge-er!" sahut Cindra. Diambilnya obat berbentuk tube dari kotak P3K lalu mulai mengoleskannya di punggung Leo yang memerah.
Namun, saat Cindra mengoleskan obat itu di d**a Leo, Leo terdiam, memandangi mata Cindra yang basah. "Udah, gak usah!" Tiba-tiba ia menepis tangan Cindra.
Cindra menatap dengan terkejut. "Sedikit lagi!" paksanya, mencoba mengoleskan obat itu. Tapi tangan Leo kembali menepisnya.
"Aku bilang enggak usah. Bawel!" Ucap Leo, lalu pergi mengambil kaus di lemari. "Mau ngapain lagi sini?" tanyanya melihat Cindra malah duduk di sofa.
"Mau temenin kamu nonton Netflix?" Cindra menatap Leo dengan bingung.
"Enggak usah. Aku mau main game sampai malam. Udah sana keluar!" usir Leo. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa lalu mulai memainkan game di ponselnya.
Cindra ragu, namun buru-buru keluar dari dalam kamar. Ia bahkan tak jadi menanyakan perihal Andra lagi. Entah apa yang membuat Leo tiba-tiba jadi baik. Jangan-jangan lemparan bola-bolanya tadi membentur kepalanya? Cindra tersenyum lega. Ia sudah membayangkan betapa membosankannya menemani Leo dalam kamarnya.
Sepeninggal Cindra, Leo mengembuskan napas. Ia melempar ponselnya ke sofa, lalu menyalakan televisi di hadapannya. Menonton serial pavoritnya.