Ketika matahari kembali ke peraduannya dan di gantikan oleh bulan, suara-suara binatang malam mulai bersahutan, bercampur dengan gemercik air sungai ketika ikan melompat.
Azure yang berbaring sepanjang hari itu akhirnya terbangun, namun langit-langit gua tidak lagi terlihat karena kegelapan. Satu-satunya sumber cahaya yang memungkinkannya untuk melihat adalah api yang menyala di atas sebuah tungku, berderak-derak dan memercikkan api kecil.
Ruby yang tengah menggambar sesuatu di atas kulit binatang menoleh, dan melihat Azure sedang menyentuh seluruh tubuhnya seolah untuk memastikan apakah dia telah kehilangan sesuatu.
"Aku bukan pencuri."
Suara Ruby yang terdengar tiba-tiba membuat Azure yang memang dalam keadaan siaga, langsung menghunus pedangnya dan melompat turun dari ranjang batu.
Menakjubkannya adalah lompatan Azure sangat jauh hingga hampir mencapai tempat Ruby duduk, yang notabene berjarak sekitar lima meter.
Azure tercengang tak percaya, menatap pada kakinya, ranjang batu lalu Ruby secara bergantian. "Apa yang baru saja terjadi?"
"Apa?" Ruby mengangkat alis.
"Apa aku baru saja melompat sejauh itu?" Azure mengarahkan telunjuknya ke ranjang batu yang tertinggal jauh di belakang.
Ruby berkedip, menatap Azura tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaan pria itu.
"Maksudku ... " Azure tidak bisa lagi membentuk kata-katanya dengan benar dan hanya menunduk menatap kedua tangannya, tangan yang dulunya hanya dengan mengangkat pedang selama beberapa menit akan pegal, kini terasa penuh energi. "Ramuan apa yang kau berikan padaku?"
Ruby menyilangkan tangan di depan d**a lalu melangkah melewati Azure, meraih sebuah piring berisi buah-buahan dan meletakkannya di ranjang batu lalu duduk di sana. "Menurutmu ramuan apa?"
"Bukan racun?" Azure berbalik dan menghadap ke arah Ruby, menatap langsung pada mata merah gadis itu tanpa gentar.
"Jika itu racun, lalu kau sekarang apa? Mayat hidup?"
Azure mengernyit dan menyentuh lehernya, lalu jantungnya. Semua rasa sakit yang dia rasakan sebelumnya masih bisa dia ingat, membuat bulu kuduknya berdiri ngeri hanya dengan memikirkannya. Jika ramuan itu adalah obat, lalu kenapa dia harus melewati penderitaan seolah akan kehilangan nyawa saat itu.
"Itu kesalahanmu sendiri, meminum ramuan dengan takaran yang tidak tepat juga memiliki efek samping." Seolah mengerti akan apa yang Azure pikirkan, Ruby mengarahkan telunjuknya pada cawan pecah yang kini tergeletak rapi di antara tumpukan kayu bakar. "Apa aku menyuruhmu meneguknya sekaligus?"
Azire mengerutkan kening "Jika memang tidak boleh meminum terlalu banyak, mengapa tidak memberiku secukupnya saja?"
"Apa aku mengatakan kau tidak boleh minum semuanya?" Ruby mengupas kulit jeruk "Yang aku maksudkan adalah, kau boleh minum semuanya, namun dalam tiga tegukan, tidak meminumnya sekali teguk seperti air mineral. Tapi kau bahkan tidak menungguku menyelesaikan kata-kataku dan meminum semuanya," omelnya.
Azure tidak bisa berkata-kata lagi, hanya menggigit lidahnya yang gatal ingin menentang namun juga mengakui bahwa tindakannya yang meneguk ramuan asing tanpa ragu memang sangat berisiko.
Azure berdehem pelan dan menghampiri Ruby, duduk di sebuah batu yang menghadap langsung ke arah gadis itu "lalu ramuan apa yang kau berikan?" tanyanya dengan sangat penasaran.
"Obat herbal."
"Bahannya?"
Azure berhenti mengunyah dan menatap ke arah Azure, menelan jeruk di dalam mulutnya "Tahukah kau bahwa kau sedang menggali resep rahasia seseorang?"
"Aku akan membayarmu sebanyak apa pun yang kamu mau?" Azure menatap sungguh-sungguh sedangkan telapak tangannya kini telah di basahi keringat karena rasa senang dan juga gugup. Jika dia bisa memiliki resep ramuan itu, bukankah dia akan jauh lebih kuat?.
"Aku tidak butuh harta seperti itu." Ruby menghela nafas bosan lalu kembali memasukkan dua potongan jeruk ke dalam mulutnya sembari menatap Azure dengan seksama. "Kau benar-benar tidak merasakan apa pun ketika melihat mataku?"
Azure menggeleng dan juga menatap langsung ke mata merah gadis itu. Azure cukup bingung dengan pertanyaan gadis itu tentang matanya, namun dia juga sadar, bukan saatnya untuk bertanya banyak hal.
"Warna apa yang kau lihat?"
"Merah." Azure menjawab tanpa ragu "Indah seperti permata yang berharga. Seperti Ruby."
Deg ...
Ruby merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, rasa senang yang tidak pernah lagi dia rasakan semenjak berumur sembilan tahun kembali hadir perlahan, mengalir di pembuluh darahnya dan berakhir ke wajahnya lalu menghadirkan senyuman manis yang memamerkan deretan gigi putihnya.
Luna tidak pernah melihat warna matanya, dan hanya mendengarnya dari orang-orang tidak beruntung yang kini tulang-tulangnya telah menyatu dengan tanah.
Cerita menyeramkan tentang Anak iblis bermata terkutuk meneror seluruh kerajaan waktu itu namun, Luna masih datang ke istana dinginnya, membawa makanan dan minuman padanya yang lusuh dan tak terurus itu.
"Aku mendengar bahwa matamu berwarna merah? Tahukah kau bahwa di dunia ini ada sebuah batu berharga berwarna merah yang sangat indah, namanya adalah Ruby. Saat melihatmu, aku merasa seperti melihat batu permata itu. kau punya paras yang indah dengan mata berwarna merah, bagaimana jika mulai sekarang aku memanggilmu Ruby?"
Saat itu Ruby hanya berumur 4 tahun, tidak tahu tentang apa pun, tidak tahu siapa namanya dan tidak tahu bagaimana dia datang ke dunia, yang dia tahu hanyalah tembok dingin yang mengurungnya di tempat gelap serta seorang gadis muda yang selalu datang memberinya makanan. Lalu kemudian ketika umurnya bertambah dan mulai mengerti kematian, dia berpikir bahwa tembok ini akan menjadi rumah sekaligus kuburannya namun Luna membawanya keluar dari sana, melarikan diri dari sangkar dingin itu dan memberinya kehangatan seorang ibu.
Hingga kini, Ruby berpikir bahwa Luna adalah satu-satunya orang yang bisa menerimanya tanpa takut, karena itu sejak kematian Luna, harapan Ruby pada manusia juga padam. Baginya, manusia bukan lagi makhluk yang sama dengannya, dia hanyalah Ruby. Eksistensi yang akan selalu sendirian hingga akhir.
Dan sekarang dia di hadapkan dengan satu orang lagi, yang menghadapinya tanpa rasa takut, menatapnya langsung tanpa kehilangan nyawanya, yang merupakan suatu hal yang tidak pernah bisa Luna lakukan. namun pria ini juga sama sekali tidak tahu bagaimana mengerikannya kutukan yang tersimpan di matanya itu.
"Indah? Akankah kau masih mengatakan itu setelah tahu bagaimana kondisi orang-orang yang pernah melihat mata ini?" Ruby menyentuh matanya seolah ingin menggali netra itu dari soketnya.
Azure tiba-tiba menyadari sesuatu."Apakah kutukan yang kau katakan berasal dari matamu?"
Ruby tidak membenarkan tidak pula menyanggah, lalu berdiri dan menghampiri sebuah sangkar dari kayu yang di dalamnya terdapat seekor tikus berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa. Ruby meletakkannya di atas meja kayu, melirik Azure sejenak lalu berjongkok di hadapan sangkar dan menatap tikus itu tanpa berkedip.
Azure yang menatap semua pergerakan gadis itu dalam diam, tidak bertanya maupun menyela. Awalnya dia masih bersikap santai dan duduk tenang di tempatnya namun tidak lama kemudian tumbuhnya menegang dan matanya membelalak.
Di dalam sangkar itu, tikus yang awalnya sangat gelisah dan bergerak gerak untuk mencari jalan keluar menjadi tenang begitu moncongnya berhadapan langsung dengan Ruby, seolah dia telah berubah menjadi batu dalam sekejap, namun sekejap kemudian mata tikus itu mulai memerah dan mengucurkan darah. Saat itulah tikus itu mulai menjerit sangat keras, berguling-guling di dalam sangkar sembari meratap.
Perlahan bulu-bulunya yang awalnya lebat, satu persatu berjatuhan layaknya tanaman layu, terjatuh dan berguguran hingga hanya menyisakan kulit kemerahan dengan pembuluh yang menonjol. Tidak sampai di sana saja, tubuh tikus itu perlahan terkelupas lalu mulai terkikis sedikit demi sedikit, seolah ada yang binatang kecil yang tak terlihat menggerogoti dagingnya secara perlahan dan menyiksa.
Darah yang berjatuhan ke kayu mengeluarkan bau amis yang memuakkan sedangkan suara menyayat hati binatang pengerat itu terdengar sangat mengganggu hingga Azure harus menutup kedua telinganya dengan tangan agar tak ikut berteriak karena rasa tak nyaman.
Tikus itu tidak mati, bahkan ketika setengah tubuhnya telah habis terkikis.
"Rasa sakit yang membunuh namun tidak bisa membunuh." Ruby berucap pelan dan...
Crash
Ruby mengakhiri penderitaan tikus tersebut dengan kayu runcing yang telah dia persiapkan di sisi sangkar. Namun tubuh binatang pengerat itu tidak berhenti terkorosi hingga tersisa hanya genangan darah, bahkan tulang belulangnya pun tak tersisa.
Ruby menoleh. "Ini hanya seekor tikus, penderitaan yang dia alami hanya penderitaan saat dia mengunyah dan memakan sesuatu. Namun bisakah kau bayangkan jika yang terkena kutukan adalah kau?" Dia bangkit dan menghampiri Azure, berdiri tepat di hadapan pria itu yang saat ini masih mematung menatap darah kental di atas meja kayu. Ruby melanjutkan kata-katanya. "Jika kau cukup baik dan tidak pernah membunuh manusia maka yang kau alami hanyalah penderitaan yang sama dengan tikus itu namun jika kau pernah membunuh seseorang. Kau akan mengalami kematian yang sama persis dengan orang yang kau bunuh, ratusan kali untuk satu nyawa hingga seluruh tubuhmu hanya tersisa genangan darah." Ruby menunduk dan menyejajarkan pandangannya dengan Azure. "Masih bisakah kau mengatakan mataku indah?"
Bersambung...