Perasaan Yang Tidak Seharusnya

1172 Kata
Boom Boom Suara ledakan membuyarkan ketenangan di pagi itu, Ruby yang sedang membantu Azure merapikan beberapa berkas mengerutkan kening dan menoleh ke arah ledakan. "Apa yang terjadi?" Azure bertanya dengan keras dan Oslo yang sedang berjaga di depan pintu bersama Fern masuk untuk melapor. Pria berkulit kecoklatan itu membungkukkan dengan hormat sebelum berkata. "Ledakannya terdengar di arah laboratorium Nona Ruby, Yang Mulia." Laboratorium Ruby sebelumnya terletak hanya di sebelah kamar Ruby dan berjarak tak begitu jauh dari kamar Azure. Namun karena sekarang Ruby harus meneliti bersama Tabib Yoga yang tidak begitu nyaman untuk keluar masuk di sayap kanan kastil, maka Ruby memindahkanya ke ruang bawah tanah. Sebenarnya ledakan di ruang penelitian telah terjadi beberapa kali dan tidak lagi begitu mengejutkan, namun ledakan kali ini cukup besar hingga bahkan terdengar hingga ke lantai dua dari lantai dasar. "Aku akan memeriksanya." Ruby meletakkan buku di tangannya dan keluar dari ruangan begitu mendapatkan persetujuan dari Azure. Saat Ruby tiba di ruang bawah tanah, Tabib Yoga telah di bopong keluar oleh Hawk dengan penampilan berantakan. Rambut dan jenggotnya yang mulai berwarna abu-abu kini berubah menjadi gelap sepenuhnya sedangkan wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan warna kulit pria tua itu. Meski seperti itu, cahaya di mata Tabib Yoga justru sangat cerah begitu dia melihat Ruby. "Nona Ruby, penelitiannya membuahkan hasil." Teriak dengan antusias, seolah rasa lemas dan lelah d seluruh tubuhnya menghilang seketika, dia tidak lagi membutuhkan bantuan Hawk untuk berjalan ke arah Ruby dengan langkah lebar. "Lalu mengapa kau membuat ledakan lagi?" "Jumlah ramuan yang aku masukkan ke dalam kuali mungkin salah sehingga menyebabkan ramuan di dalamnya menyebabkan kualinya meledak." Hawk dan Skye yang bertugas hari itu untuk menjaga di depan ruang penelitian saling melirik, mereka benar-benar tidak mengerti tabib Yoga sedang membuat ramuan atau senjata, bagaimana bisa selama beberapa hari dia terus meledakkan kuali. Sepertinya Ruby juga memiliki pemikiran yang sama, namun tidak mengutarakannya untuk menjaga perasaan tabib tua itu. "Baiklah, biarkan aku melihatnya," katanya lalu berjalan menuju ke dalam ruangan yang masih mengeluarkan uap gelap. Tabib Yoga mengangguk dengan antusias dan mengekori Ruby masuk ke dalam ruangan. Tapi sebelum dia melangkah melewati pintu, Ruby berhenti dan berbalik ke arah pria tua itu. "Tabib Yoga, kurasa kau harus beristirahat." Tabib Yoga termenung lalu dengan cepat menggeleng. "Tidak... Tidak, penelitiannya hampir membuahkan hasil, aku harus menjelaskannya padamu dengan lebih detail." "Tidak perlu, aku bisa memeriksa sendiri." Ruby menolak. "Non... "Tabib Yoga, kau terluka dan perlu beristirahat." "Hah? Terluka? Tidak, aku tidak... Ssshh... " kata-kata Tabib Yoga terputus karena rasa sakit di lengannya oleh remasan pelan Ruby. "Kau terluka," ujar Ruby datar. Tabin Yoga diam, melihat kedua lengannya yang tidak tertutup kain kini memperlihatkan luka melepuh yang mengerikan, sedangkan seluruh tubuhnya kini menguapkan asap tipis. "Efek ramuan yang meledak membuatmu sedikit mati rasa untuk sementara waktu, tapi beberapa saat lagi kau pasti akan merasa sakit." Ruby masuk ke dalam ruangan, dan keluar lagi dengan beberapa botol obat di tangannya. "Kembali dan obati lukamu dan beristirahat untuk beberapa hari." Tabib Yoga benar-benar ingin menolak, namun luka melepuh di tubuhnya benar-benar terlihat begitu mengerikan, dan entah karena dia kini menyadari luka-lukanya, dia mulai merasakan perih di kulitnya. "Baiklah." Pada akhirnya Tabib Yoga hanya bisa pasrah dan menuruti kata-kata Ruby dan pergi dari sana dengan lemas. Lagi pula. jika dia memaksa tinggal, kondisi tubuhnya hanya akan merepotkan untuk Ruby. "Nona, apa kau butuh bantuan?" Hawk menawarkan diri begitu melihat di dalam ruangan sangat berantakan dengan beberapa pecahan kuali dan kaca, beruntunglah karena beberapa ramuan yang terletak di rak tidak banyak yang rusak. Untungnya, Tabib Yoga hanya menderita luka kecil di dalam ledakan besar seperti itu. Ruby mengangguk, dan memerintah dua penjaga itu merapikan ruangan sedangkan dia sendiri bergerak ke meja dan mengumpulkan beberapa laporan yang telah Tabib Yoga tulis di atas meja untuk dia baca nanti. Namun, tiba-tiba gerakannya terhenti dengan dahi berkerut. "Ada apa?" Oslo yang menyadarinya pertama kali bertanya. Ruby menggeleng sebagai jawaban dan mengumpulkan semua kertas ke lengannya. "Setelah kalian selesai, kunci pintunya," ujarnya lalu meninggalkan ruangan dengan langkah cepat. Oslo dan Hawk penasaran, namun tidak berani bertanya. *** Ruby menggenggam kertas di tangannya dengan erat dan berjalan dengan cepat menaiki tangga, jika dia tidak takut terlalu banyak menarik perhatian, dia pasti telah melompati tangga ini dan langsung mendarat di lantai dua. Alasan Ruby kembali dengan sangat cepat adalah karena dia merasakan formasi sihir yang dia letakkan di kamar Azure bereaksi, yang artinya ada orang lain yang masuk ke dalam kamar Azure selain delapan penjaga yang telah dia beri akses masuk ke dalam kamar. Ruby tahu siapa yang datang, dia adalah salah satu dari empat selir Azure. Ruby tahu bahwa empat gadis lemah itu tidak akan bisa menyakiti Azure, tapi Ruby hanya merasa tidak senang. Ruby jarang memperlihatkan rasa tidak sukanya kepada orang yang menurutnya tidak sepadan untuk menarik perhatiannya bahkan jika para selir itu beberapa kali memprovokasinya, Ruby tidak begitu peduli. Namun Ruby tidak tahu mengapa kali ini dia merasa tidak senang. Gadis-gadis itu adalah istri Azure, maka sesuai dengan ajaran Susan, para selir itu wajar untuk tingga di dalam kamar yang sama dengan Azure dan bahkan seharusnya Azure harus tidur bersama mereka. Tapi sejak dia datang ke kastil, Azure tidak pernah terlihat dekat dengan selirnya apalagi tidur bersama, jadi Ruby selama ini tidak terlalu memperhatikannya dan bahkan berpikir jika memang Azure harus tidur bersama para selir, dia tidak akan terlalu memikirkannya. Namun kenyataannya, hanya mengetahui bahwa Azure tinggal berdua dengan salah satu dari mereka, menyebabkan Ruby cemas. Ruby tidak mengerti mengapa, dia hanya memiliki dorongan untuk cepat-cepat bertemu dengan Azure. Begitu Fern dan Oslo melihat Ruby kembali dengan tergesa-gesa, keduanya saling melirik dengan canggung. Tidak ada yang paling mengerti kedekatan Azure dengan Ruby selain mereka yang setiap hari berinteraksi dengan keduanya. Di bandingkan para selir di sayap kiri, Azure memperlakukan Ruby jauh lebih seperti pasangan. Meski seperti itu, juga tidak menutup kenyataan bahwa Azure hanya memberi Ruby posisi sebagai tabib pribadinya. Jadi saat Ruby mendekat dan hendak mengetuk pintu, keduanya dengan berat hati menghentikan Ruby. "Nona, Selir kedua sedang bersama Yang Mulia." kata Fern dengan suara pelan. Keduanya tahu bahwa posisi mereka sekarang adalah hasil dari kemurahan hati Ruby, namun mereka juga tidak bisa lalai dalam tugas mereka. Sudah peraturan umum jika Yang Mulia sedang berdua di dalam kamar bersama selirnya, mereka tidak bisa begitu saja masuk dan mengganggu, begitu pun Ruby. Ruby juga mengerti itu jadi dia menurunkan tangannya yang hendak mengetuk pintu dan berdiri diam di sana, menunduk seolah melihat ke lantai. Ruby perlahan mengangkat tangannya yang bebas untuk menyentuh jantungnya yang berdebar menyakitkan. Ruby tidak mengerti tapi dia benar-benar tidak suka dengan suasana hati asing yang dia rasakan saat ini. Seperti senjata yang paling dia sukai sebentar lagi akan di curi seseorang di depan matanya. Tapi Azure bukan senjata atau pun benda dan Azure bukan sesuatu yang dia miliki. Ruby tahu perasaannya bergerak ke arah yang salah, meski tidak tahu di mana letak kesalahannya dan perasaan seperti apa itu, dia tahu bahwa dia tidak seharusnya memilikinya. Perasaan seperti itu terlalu berbahaya untuknya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN