Seorang Teman Bagian 2

1372 Kata
Matahari masih bersinar lembut namun pertarungan di depan gua kian sengit, hingga binatang yang berada di sana pun menyembunyikan diri karena ketakutan. Ruby bergerak mundur beberapa langkah untuk membuka jarak dengan empat pria yang saat ini memamerkan gigi-gigi runcing mereka ke arahnya. Ditangannya, Ruby memegang pedang berdarah yang perlahan menetes dan menodai rumput kecil yang layu terinjak. sedangkan di bawah kakinya, salah satu teman empat dari pria itu berbaring dengan kepala yang telah menggelinding ke semak belukar. "Gadis yang sangat menarik." Pria dengan tubuh paling  besar dari yang lain menjilat bibirnya yang kering dan pecah-pecah. "Bagaimana jika kau menjadi pengantinku? aku akan menjamin hidupmu tidak akan kekurangan apapun." Tiga yang lainnya tertawa terbahak-bahak, memamerkan gigi runcingnya yang berwarna kekuningan. Ruby tersenyum tipis dan mengibaskan pedangnya sehingga  beberapa tetes darah terlempar dan berhasil mengenai wajah pria besar yang Ruby tebak sebagai pemimpin tim mereka,” Jika kau bisa memanjat keluar dari neraka setelah mati di tanganku, maka aku akan memikirkannya." ujarnya lalu maju dan menyerang lebih dulu sedang tangan kirinya yang bebas telah melambai pelan untuk memanggil delapan senjatanya yang lain. Azure masih di dalam gua, mengamati satu persatu gambar yang bertumpuk di atas meja kayu, semua gambar yang ada di sama hanya gambar berupa dedaunan, akar, bunga dari berbagai macam tanaman bahkan ada beberapa kulit atau anggota tubuh hewan. Drrtt Getaran dan dentingan pisau bertabrakan membuatnya menoleh, dia menyipitkan mata begitu melihat delapan pisau Ruby yang tergeletak di atas karpet melesat keluar dengan cepat. Azure menyusul dengan cepat. Di sana, di tanah lapang yang tidak begitu luas, Ruby telah membuat lingkaran pembunuh untuk tiga orang pria dengan busana aneh menggunakan delapan pisaunya sedangkan Ruby sendiri bertarung satu lawan satu dengan pria yang ukuran tubuhnya dua kali lebih besar darinya. Jangan lupakan mayat tanpa kepala di tanah yang saat ini sedang di seret oleh dua ekor serigala yang mengendap-endap di antara pertarungan. Namun bukan itu intinya. Azure tidak tahu dari mana para pria bergigi runcing ini muncul, tapi mereka datang di waktu yang tepat. Di saat Azure memang sangat ingin bertarung. Azure menggenggam pedangnya dengan erat sedangkan jantungnya berdetak kencang karena terlalu bersemangat. "Ruby, sisakan satu untukku," teriaknya. Di antara pertarungannya, Ruby menampakkan senyum tipis sebelum menambah tekanan pada pedangnya dan mendorong pedang musuh menjauh dari tubuhnya. Ruby secara aktif menyerang, kemudian berputar dan  mengibaskan pedangnya secara melintang dan membuat luka menganga di lengan lawannya. Dengan kesempatan itu, Ruby melambaikan tangan kirinya lalu menangkap empat pisau terbang yang dia panggil. Di sisi lain, Azure yang sangat bersemangat, menemukan lawannya. Memang, setelah meminum ramuan yang Ruby berikan, dia telah begitu penasaran bagaimana kemampuannya dalam bertarung akan meningkat. Terjadilah tiga pertarungan di mana dua pria melawan empat pisau yang melayang, satu pria melawan pria lainnya dan terakhir seorang gadis yang lebih mungil melawan pria berbadan besar. Melompat ke kiri lalu menghindar ke kanan dan maju menyerang. Azure tidak benar-benar mengerahkan seluruh keterampilan bertarungnya, namun hanya menikmati bagaimana kekuatan mengalir di setiap otot-otot tubuhnya tanpa adanya tanda-tanda melemah maupun kelelahan Azure menjadi sangat bersemangat dan menekan lawannya hingga berkeringat dingin dan terluka di sana sini. Ruby yang memang tidak suka bertele-tele dalam bertarung, mengakhiri pertarungannya dengan kemenangan mutlak dan menancapkan empat pisaunya ke jantung lawan. Seolah tidak percaya akan kekalahannya, pria itu masih membelalakkan mata ketika nafas terakhirnya berhembus. Ruby menarik pisaunya keluar dari daging dan melempar tubuh pria itu ke semak belukar di mana dua serigala telah menunggu mangsanya, lalu berbalik untuk menangani dua pria yang tersisa. Tanpa melihat pun, Ruby tahu bahwa Azure sedang bersenang-senang dan tidak akan mengakhiri pertarungannya dengan cepat. Ruby melempar mayat terakhir ke arah serigala lagi lalu beranjak dan duduk di atas bebatuan di samping sungai untuk membersihkan darah dari pedang dan pisaunya, memunggungi Azure yang masih bertarung dengan senyuman yang semakin lebar. Sedangkan lawan yang awalnya begitu percaya diri, kini telah gentar dan beberapa kali memohon ampun, namun tidak di beri kematian maupun di lepaskan. Setelah Ruby selesai membersihkan pedangnya, dia kemudian beranjak untuk mengeringkan rambutnya dan mengganti pakaian. Saat Ruby keluar dari gua, orang terakhir itu akhirnya tidak tahan dan menggorok lehernya sendiri di hadapan Azure lalu ambruk dengan darah yang masih mengucur deras. Bisa di lihat seberapa keras dia menekan pedang di lehernya sendiri agar bisa langsung mati. Azure juga jatuh terlentang menghadap ke langit dengan senyum lebar d bibirnya. "Sepuluh ribu," bisiknya. "Aku bertahan hingga hitungan ke sepuluh ribu." Azure mengulurkan tangannya untuk  menghalau teriknya matahari di wajahnya "Seperti mimpi, aku bisa bertahan dalam pertarungan tanpa kehilangan kesadaran," gumamnya di antara tarikan nafasnya yang pendek. "Efek ramuannya habis." Ruby tiba-tiba datang dan berdiri menjulang di samping Azure dan entah sengaja atau tidak sengaja menghalangi sinar matahari untuk pria itu. "Aku tahu." Azure juga menyadari bahwa nafasnya mulai sedikit lebih lemah dan tubuhnya tidak lagi penuh energi seperti sebelumnya. "Tapi tetap saja, pengalaman bertarung ini, sangat menakjubkan." Meski ada sedikit penyesalan di dalam nadanya, Azure masih mempertahankan senyumnya ketika bangun dan langsung memeluk Ruby. Memeluk gadis itu dengan erat hingga sosoknya tenggelam di dalam dekapannya "Terima kasih, Ruby." Azure berbisik dan menghela nafas lemah "Kau benar-benar berlian berharga yang aku temukan." Dia bersandar sedikit lebih dekat dan berbisik "Jika saja kau mau pulang denganku?" Setelah itu, Azure kehilangan kesadarannya dan jatuh ke alam pelukan Ruby, menjadikan gadis yang lebih mungil darinya itu sanggahan semua beban tubuhnya. Ruby mengerutkan kening. Meski memiliki kekuatan dalam pertarungan, itu tidak lantas membuatnya memiliki kekuatan untuk menahan beban berat. Dia masihlah gadis berumur 19 tahun yang tidak bisa menopang tubuh pria dewasa dalam keadaan berdiri. Karena itu, perlahan-lahan dia tertimpa berat tubuh Azure lalu tak lama kemudian jatuh  ke tanah. Ruby menghela nafas pelan dan menyeret tubuhnya mundur dan menempatkan kepala Azure di pangkuannya. Di dalam sepi, Ruby seolah lagi-lagi mendengar apa yang baru saja pria itu katakan. 'jika saja kau mau pulang denganku' 'Pulang denganku' "Pulang? ke mana?" Ruby berbisik dan membelai rambut hitam Azure, membiarkan setiap helai harusnya membelai jemarinya "Apakah aku masih memiliki tempat untuk pulang?" *** Sekali lagi untuk kesekian kalinya, Azure terbangun dengan rasa lelah dan pegal. Seolah kekuatan yang dia miliki pagi ini hanyalah mimpi. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan otot-ototnya tegang, hanya sedikit menggerakkan tubuhnya dia telah mengernyit tidak nyaman. Azure mengedarkan pandangannya dan menemukan dirinya masih berbaring di bawah pohon persik, tempat di mana terakhir kali dia kehilangan kesadaran. Darah di tanah telah mengering sedangkan mayat yang seharusnya masih berada di sana telah menghilang, hanya menyisakan bekas seretan lebar yang mengarah ke semak belukar. "Grey dan kawanannya membawa mereka pulang sebagai santapan makan siang." seolah tahu apa yang sedang Azure pikirkan, Ruby yang sedang bersandar sambil mengunyah buah persik memberinya jawaban. Azure tiba-tiba mengingat dua ekor serigala yang menyeret mayat "Serigala?" "Iya." Azure mengangguk pelan lalu menelan ludah "Aku sangat haus,  bisakah kau memberiku sedikit air?" Ruby memberinya setangkai buah anggur yang langsung dia letakkan di atas bibir Azure. Azure berdehem pelan dan bergerak untuk bangun namun mengerang kesakitan begitu dia bergerak. "Kau sedang kelelahan, sebaiknya jangan bergerak terlalu banyak." Ruby mendorong Azure untuk berbaring kembali di pahanya. "Kau tidak keram?" "Tidak." Azure akhirnya diam dan mengunyah buah anggur di tangannya dengan mata yang sesekali melirik ke wajah gadis yang sedang bersandar di pohon persik itu. "Ruby, apakah kau... "Jangan menanyakan tentang ramuan itu, melihat dari reaksi saat kau meminum degan takaran tidak tepat dan efek yang terjadi setelah kau bertarung, tubuhmu dan ramuan itu tidak cocok." "Tapi ramuannya berhasil meningkatkan kekuatanku." "Hanya dalam waktu singkat, setelah efeknya habis, kau hanya akan merasa semakin lemah." "Tapi aku... "Jangan memikirkannya, aku sudah merobek semua resep ramuan itu." Azure menatap tidak percaya, "Bagaimana bisa kau membuang ramuan berharga begitu saja!?" Azure berseru, hampir melompat bangun jika tubuhnya tidak menjerit kesakitan. Ruby masih bersandar dan menikmati angin "Sama sekali tidak berharga,  hanya produk yang gagal." "Aku membutuhkannya, setidaknya jika tidak bisa di konsumsi berkepanjangan, aku hanya akan meminumnya jika ada pertarungan yang sengit." "Tidak perlu." Azure menggeram, antara kesal dan gemas namun hanya bisa menghela nafas "Aku membutuhkannya." Dia mendesah lemah. "Aku akan mencoba membuatkanmu ramuan yang lebih cocok, mengapa begitu frustrasi hanya kehilangan satu ramuan di saat pembuatnya akan ikut denganmu?" Ruby menunduk dan menatap Azure dari balik kain penutup matanya. "Hah?" Azure berhenti mengunyah dan menatap bingung. Ruby berbisik ke arah Azure. "Apakah tawaran untuk ikut pulang denganmu masih berlaku?." Angin berhembus pelan, menerbangkan dedaunan kering. Dari atas pohon persik,  seekor kupu-kupu biru terbang, mengepakkan sayap indahnya dan hinggap di kepala Ruby.    Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN