Setelah masuk ke dalam kastil dan berpisah dari sebagai besar pelayan, Azure dengan sangat halus melepas rangkulan kedua selirnya dan bergerak sedikit menjauh dari mereka.
Bella yang melihat adanya peluang langsung maju ke hadapan Azure.
"Yang Mulia. Aku sudah menyuruh pelayan untuk mempersiapkan sarapan untukmu." Dia tersenyum dengan lembut hingga kedua matanya sedikit melengkung. "Semuanya adalah makanan kesukaanmu Yang Mulia."
Jika Bella tersenyum seperti itu di hadapan pria lain, mereka pasti akan luluh. Namun berhadapan dengan Azure yang saat ini entah kapan telah berdiri di hadapan Ruby, semua upaya Bella sangat sia-sia.
"Apa kau lapar?" Tanya Azure kepada Ruby.
Ruby kembali merasakan tatapan tajam di tujukan padanya.
"Tidak, sebelum berangkat aku telah sarapan dengan Yang Mulia Ratu." jawab Ruby enteng, tanpa tahu kata-katanya telah mengejutkan semua orang yang ada di sana kecuali Azure.
Siapa Ratu Sophia? Dia adalah wanita nomor satu di kerajaan mereka, reputasinya tidak lebih rendah dari Raja Alfred. Bahkan Zera yang Putri seorang bangsawan dan telah menjadi selir Azure selama hampir sepuluh tahu belum pernah duduk di satu meja yang sama dengan Ratu Sophia.
Di mata orang lain, tindakannya yang secara terang-terangan mengatakan keakrabannya dengan Ratu Sophia sedikit arrogant, namun Azure tahu bahwa Ruby benar-benar hanya mengatakan kebenaran.
Lagi pula tidak banyak yang tahu bahwa berpeti-peti pakaian dan perhiasan yang mereka bawa pulang adalah hadiah dari Ratu Sophia untuk Ruby.
Azure menoleh ke arah Bella. "Aku juga sudah sarapan bersama Baginda Raja, jadi kalian makanlah bersama tanpaku." katanya.
Lalu di bawah tatapan tercengang mereka, dia menarik Ruby untuk naik tangga.
Yoga dan Susan bahkan hampir lupa menutup mulut mereka karena terkejut dan sebelum mereka bisa menanyakan tentang jadwal Ruby, keduanya telah di giring oleh pelayan ke ruangan yang lain.
Kali ini, karena absennya Boo dan Demien. Ruby dan Azure adalah satu-satunya yang tinggal di sayap kanan istana sedangkan para pelayan hanya melakukan tugas mereka lalu pergi setelah selesai.
Setelah masuk ke dalam kamar Azure, Ruby memerintahkan beberapa pelayan untuk mempersiapkan air hangat untuk Azure mandi sedangkan dirinya sendiri mulai meracik ramuan di ruangan lain.
Ketika Ruby kembali ke dalam kamar Azure, pria itu telah duduk di samping jendela sambil membaca buku dengan rambut yang masih setengah basah sedangkan para pelayan tidak lagi terlihat di dalam ruangan
Di meja yang terletak di hadapan Azure, terdapat berbagai macam camilan dan teh yang belum di sentuh sama sekali.
"Oh, Kau sudah datang."Azure memanggil Ruby untuk duduk bersamanya. "Lihatlah makanan ini, apakah ada sesuatu yang tidak boleh aku makan?"
Ruby meletakkan buku tebal yang dia bawa ke meja lalu duduk di hadapan Azure, kemudian memeriksa semua kue yang ada di atas meja. Setelah memastikan tidak ada yang salah, dia mengangguk lalu mengeluarkan botol berisi cairan kecil dan menuangkannya ke dalam teh milik Azure.
Wajah Azure berubah. "Ini...
"Ramuan, agar kau tidak bosan. Mencampurnya dengan minuman lain akan lebih enak," kata Ruby.
Azure menatap tehnya berubah warna dengan hidung sedikit berkerut. "Aku lebih suka minum ramuanku secara terpisah."
Ruby yang tahu ke engganan Azure menambahkan. "Tenang saja, warnanya memang berubah tapi rasanya tetap sama."
"Benarkah?"
Ruby mengangguk.
Azure dengan ragu-ragu mengangkat cangkirnya dan mencoba tehnya tanpa menyadari bahwa bibir Ruby sedikit menampakkan seringai tipis.
Benar saja, tak lama kemudian seluruh wajah Azure berkerut. "Ahh! Pahit!"
Ruby tertawa pelan.
Azure berdecak. "Kau berbohong padaku!"
Ruby menuangkan teh di cangkir yang lain kemudian mendorongnya ke hadapan Azure. "Rasanya akan lebih pahit jika kau tidak mencampurnya dengan apa pun."
Azure memakan salah satu kue paling manis untuk menetralkan rasa pahit di mulutnya dan lanjut untuk mengeluh kepada Ruby."Jika kau mengatakannya lebih awal, aku bisa mempersiapkan diri sebelumnya."
"Habiskan saja." Ruby menahan senyum. "Kau harus terbiasa."
Azure menghela napas lalu kembali meminum ramuannya dengan sekali tegukan kemudian memakan lebih banyak kue manis.
"Buku apa itu?"
"Ini? Buku sihir." Ruby berdiri dan menutup tirai yang terbuka di belakang kursinya. "Aku menemukannya di salah satu pojokan paling terpencil di perpustakaan istana."
Azure yang penasaran menarik kursinya mendekati buku itu dan membukanya. "Ini hanya buku dongeng bergambar," katanya.
Ruby menutup semua jendela hingga ruangan itu menjadi jauh lebih gelap kemudian menyalahkan lilin di tengah meja.
Dia kemudian membuka penutup matanya, mengambil buku bersampul gelap itu dari tangan Azure dan meletakkan tangan kanannya di atas tanaman merambat di sampul buku itu. "Coba katakan itu lagi setelah kau melihat ini," katanya kemudian menutup matanya.
Begitu Ruby menutup matanya, angin yang entah berhembus dari mana meniup rambut Ruby hingga mengambang sedangkan cahaya di dalam ruangan itu semakin redup, hanya menyisakan cahaya lilin di atas meja.
Buku yang berada di bawah telapak tangan Ruby perlahan berubah warna dari gelap menjadi merah, lalu gambar tanaman merambat yang di atas sampulnya mulai bergerak, menarik diri lalu menghilang di bawah telapak tangan Ruby.
Ini adalah kali ketiga Ruby membuka buku sihir itu, yang pertama terjadi secara kebetulan dan membuatnya terkejut. Pada kali kedua, dia melakukan karena penasaran dan kali ini perasaan-perasaan itu berubah menjadi antusias.
Azure menatap buku yang berubah warna di depan matanya itu dengan terkejut. "Ruby... Ini...
"Sudah aku katakan ini buku sihir." Ruby mengangkat telap tangannya dari buku itu dan memperlihatkan tanaman merambat yang tadinya menyusut kini membentuk lingkaran di tengah-tengah sampul buku, melingkari sebuah batu permata berwarna merah yang tadinya tidak ada.
"Menakjubkan bukan? " Ruby menoleh ke arah Azure dengan mata sewarna rubynya yang seolah bercahaya di bawah cahaya lilin.
Azure mengangguk, lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh buku itu.
Cahaya berwarna merah melintas di retina Ruby.
"Yang Mulia!"
Sebelum dia bisa bereaksi, Azure telah terpental beberapa langkah ke belakang.
Ruby dengan cepat menghampiri Azure dan memeriksa tubuhnya dengan khawatir.
Azure mengerang pelan, merasakan tubuhnya kaku seolah terserang oleh listrik.
"Yang Mulia! Bagian mana yang sakit, biarkan aku memeriksanya."
"Semuanya." Azura meringis. "Tubuhku rasanya mati rasa."
Azure bahkan tidak bisa mengangkat jemarinya sendiri. Jika Ruby tidak menahannya, dia akan berbaring di lantai seperti orang lumpuh.
"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau buku itu akan menolakmu." Dahi Ruby berkerut, raut antusias yang tadi terpancar di wajah telah menghilang sepenuhnya.
"Tidak apa-apa, lagi pula kau tidak tahu... Tunggu beberapa saat dan aku pasti bisa bergerak lagi." Azure ingin memberikan senyum menenangkan, namun bahkan sudut bibirnya tidak bisa terangkat jadi dia hanya mencoba menenangkan dengan kata-kata.
Ruby menahan Azure selama beberapa menit di lantai hingga Azure bisa menggerakkan kakinya lalu membantunya untuk naik ke atas tempat tidur.
"Kau sungguh tidak merasakan sakit di mana pun?" Ruby bertanya lagi.
"Ya. Selain rasa kaku, aku tidak merasakan sakit apa-apa."
Ruby masih belum yakin. "Lalu bagaimana dengan lukamu? Kau terpental cukup keras tadi." Dia kemudian mulai membuka pakaian Azure.
"Ruby. Aku benar-benar...
"Diamlah, aku harus memastikan jahitannya tidak terbuka." Ruby melepas semua kancing baju Azure dan memeriksa semua bekas lukanya dengan seksama.
Barulah ketika dia melihat luka-luka Azure baik-baik saja, Ruby akhirnya mengehela nafas lega.
"Katakan jika kau merasa sakit di suatu tempat, jangan merahasiakannya."
Azure tertawa pelan. "Aku tahu, sekarang biarkan aku istirahat dan lanjutkan untuk mempelajari buku sihir itu."
Mendengar Azure menyebut buku sihir itu, Ruby kehilangan rasa antusiasnya yang tadi dan hanya mengerutkan bibir.
Dia sedang sangat tidak senang.
Namun tidak mengatakan apa pun lagi, hanya membantu Azure memasang kembali kancing bajunya lalu menyalahkan lilin aromaterapi di sisi ranjang.
"Pastikan untuk memanggilku ketika kau merasa tidak enak di suatu tempat, paham?"
Ruby menggunakan nada seperti mendisiplinkan seorang anak kecil.
Tapi Azure tidak keberatan dan menjawab. "Paham." seperti anak patuh.
Ruby akhirnya kembali ke meja di mana buku itu tergeletak, menatap ke bawah dengan mata menyipit sedangkan kepalan tangannya mengerat.
Cahaya yang terpantul di kristal merah itu sedikit meredup sedangkan sulur yang melingkar bergerak pelan.
Brak...Brak... Brak..
Azure yang hampir tertidur membuka matanya ketika mendengar suara itu. "Ruby. Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
Terdengar beberapa kali suara gebrakan lagi. "Balas dendam untukmu," jawab Ruby pelan.
Azure "???"
Buku sihir di atas meja berdesis dan bergetar di bawah tatapan tajam dan kepalan keras tangan Ruby.
Bersambung...