BAB 13

1784 Kata

Mentari mulai menampakkan diri. Namun, tak secerah dua bola mata yang sedang diselimuti awan hitam. Sudah dua hari, aku tak dapat tidur dengan nyenyak. Menyebabkan, julukan mata panda harus kudapati teruntuk kali kedua. “Kamu nggak tidur lagi ya, Nak?” Ibu menyapa. Menujukan pertanyaan. Aku menggerakkan leher ke kiri dan kanan. Menyahut, “Tidur kok, Bu,” Lalu, kuhampiri sisi lemari dingin; mengambil sebotol air mineral. Meneguk botol itu seraya sedang kehausan. Ibu menggeleng tak heran. Kembali bertanya, “Terus, mengapa sekarang masih pakai piyama? Memang, tak bersiap berangkat kuliah.” “Nadine bolos, Bu,” Dengan santai, aku menyahut. Meremas botol plastik dan membuangnya ke dalam tong sampah. “Membolos? Kamu yang benar saja, Nak,” Nada bicara ibu melengking. Aku terkikik, “Tidak, B

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN