Mentari pagi Makassar menyengat kulit , tapi Risa merasa segar saat melangkahkan kaki ke gerbang kampus . udara di sini terasa berbeda , lebih ringan , lebih bebas . Di antara hiruk pikuk mahasiswa yang berlalu lalang , Ia menemukan secercah harapan, sebuah dunia di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri , tanpa bayang - bayang Bapak yang selalu mengekang .
Di kantin , Ia bertemu dengan kedua sahabatnya , Maya dan Dini . Maya adalah aktivis kampus yang vokal , selalu lantang menyuarakan ketidakadilan. Dini , sebaliknya , lebih pendiam , tapi otaknya encer dan selalu punya solusi untuk setiap masalah . mereka adalah tempat Risa berlindung, tempat ia bisa mencurahkan segala keluh kesa tanpa takut di hakimi .
" semangat amat , Ris . abis dapat wangsit dari mana ? " sapa Maya , sambil menyeruput es tehnya .
Risa tersenyum tipis . " Nggak ada . cuman seneng aja bisa ketemu kalian."
Dini menatap Risa dengan tatapan menyelidik." Ada apa ? cerita dong ."
Risa menghela napas ." semalam , Bapak bahas lagi soal jurusan. Dia tetap nggak setuju aku ambil filsafat ."
Maya mendengus ." Klasik . Bapakmu itu emang keras kepala ."
" Aku tahu , sahut Risa lesu." Tapi aku nggak tahu harus gimana lagi . Aku capek berdebat ."
" kamu nggak harus berdebat ," kata Dini, dengan nada bijak seperti biasanya . " kamu cuman perlu membuktikan bahwa pilihanmu itu benar . Tunjukkan ke Bapakmu , bahwa filsafat itu bukan cuman omong kosong . tunjukkan bahwa kamu bisa sukses dengan jalan yang kamu pilih ."
" caranya ? " tanya Risa , merasa putus asa , Ia merasa seperti berada di persimpangan jalan , tidak tahu arah mana yang harus ia pilih .
Maya menyeringai." Ikut aku demo aja ! kita bakar semua buku patriarki di depan rumah Bapakmu ! "
Risa tertawa kecil ." Nggak segitu nya juga kali , May . Ntar aku malah di usir dari rumah."
" ya udah , gini aja ," usul Dini ." kamu fokus aja sama kuliahmu . Raih prestasi yang bagus . terus , cari kegiatan yang bisa nunjukin bahwa filsafat itu berguna misalnya , Ikut organisasi yang bergerak di bidang sosial, atau jadi relawan di komunitas. Atau kamu bisa nulis artikel. tentang isu - isu perempuan , terus kirim ke media massa."
Risa mengangguk - angguk . Ide Dini masuk akal . ia tidak bisa mengubah pikiran Bapak secara instan , tapi ia menunjukkan bahwa ia bisa sukses dengan pilihannya sendiri . Ia bisa membuktikan bahwa ia bisa memberikan kontribusi positif kepada masyarakat, meskipun ia seorang perempuan.
" Aku juga lagi mikir ikut lomba esai ," kata Risa , tiba - tiba merasa semangat ." Temanya tentang peran perempuan dalam pembangunan ." Ia sudah lama ingin menulis tentang Isu ini , tapi ia selalu merasa tidak percaya diri.takut tulisannya tidak akan bagus , atau tidak akan di terima oleh masyarakat.
" Nah , itu dia ! " seru Maya ." Tunjukkin sama dunia , bahwa perempuan itu bukan cuma urusan dapur dan kasur ! kita bisa jadi pemimpin, kita bisa jadi Ilmuwan , kita bisa jadi apa aja yang kita mau ! "
Mereka bertiga tertawa , Risa merasa bebannya sedikit terangkat bersama kedua sahabatnya, Ia merasa lebih kuat , lebih berani , Ia tahu , Ia tidak sendiri dalam perjuangan ini . Ada banyak perempuan di luar sana yang juga mengalami hal yang sama , yang berjuang untuk meraih kesetaraan dan kebebasan .
***
Di kelas dosen filsafat sosial , Pak Anwar , memulai kuliah dengan sebuah pertanyaan." Apa artinya menjadi manusia yang merdeka ?" pertanyaan di tulis dengan huruf kapital di papan tulis , seolah - olah ingin menekankan pentingnya pertanyaan tersebut .
Risa tertegun . pertanyaan itu seperti tamparan halus yang menyadarkannya . selama ini , Ia terlalu fokus pada batasan - batasan yang di berikan Bapak , hingga lupa bahwa ia punya hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri . Ia merasa seperti burung dalam sangkar, yang terlalu lama terkurung hingga lupa bagaimana caranya terbang .
" Kemerdekaan itu bukan hanya soal bebas dari penjajahan fisik , " lanjut Pak Anwar, dengan suara yang tenang namun berwibawa ." Tapi juga bebas dari penjajahan pikiran , dari dogma - dogma yang mengekang , dari ekspektasi - ekspektasi yang membebani . Kemerdekaan itu adalah kemampuan untuk berpikir kritis , untuk membuat pilihan yang rasional , untuk bertanggung jawab atas diri sendiri ."
Risa mencatat setiap kata yang di ucapkan Pak Anwar. Ia merasa seperti menemukan kompas yang selama ini hilang . Kemerdekaan. kat itu kini memiliki makna yang lebih dalam baginya , bukan hanya sekedar kebebasan untuk memilih jurusan kuliah , tapi juga kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri , untuk mengejar mimpinya , untuk melawan segala bentuk penindasan . Ia ingin menjadi seperti Pak Anwar, seorang Intelektual, yang mampu menginspirasi orang lain untuk berpikir kritis .
setelah kuliah selesai , Risa menghampiri Pak Anwar." Pak , saya tertarik dengan topik yang Bapak bahas tadi . saya ingin belajar lebih banyak filsafat eksistensialisme."
Pak Anwar tersenyum ." Bagus sekali , Risa filsafat eksistensialisme mengajarkan kita untuk bertanggung jawab atas pilihan - pilihan kita , untuk menciptakan makna hidup sendiri . Jean Paul sarte pernah berkata , ' Manusia di kutuk untuk bebas .' Artinya , kita tidak bisa lari dari kebebasan kita , kita harus berani mengambil risiko , berani menghadapi konsekuensi dari pilihan kita ."
Pak Anwar merekomendasikan beberapa buku dan artikel yang bisa Risa baca . Ia juga menawarkan untuk menjadi mentor nya dalam lomba esai . Risa merasa sangat bersemangat . Ia tahu, jalan yang ia pilih tidak akan mudah, tapi ia tidak akan menyerah . ia akan membuktikan kepada Bapak , kepada dirinya sendiri , bahwa ia bisa menjadi manusia yang merdeka, manusia yang berani menentukan takdirnya sendiri .
***
Di perjalanan pulang, Risa melihat seorang anak perempuan kecil menjajakan kue di pinggir jalan. Anak itu terlihat lelah dan lusuh, bajunya kotor dan rambutnya berantakan, tapi matanya tetap berbinar. Risa teringat pada dirinya sendiri, pada mimpi - mimpinya yang masih membara di dalam hatinya .Ia membeli beberapa kue dari anak itu, dan memberikan sedikit uang tambahan .
" semangat ya, Dik," kata Risa, dengan senyum tulus. Ia berharap anak perempuan itu bisa meraih mimpi - mimpinya , tanpa harus terhalang oleh kemiskinan atau ketidakadilan.
Anak itu tersenyum lebar ." Makasih, kak!"
Risa melanjutkan perjalanan nya , hatinya terasa lebih ringan. Ia tahu, perjuangannya masih panjang, tapi ia tidak sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang juga berjuang untuk meraih kemerdekaan, untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Dan ia , Risa , akan menjadi bagian dari perjuangan itu. Ia akan menulis esai yang akan mengubah kesadaran orang lain , ia akan berpartisipasi dalam aksi - aksi sosial, ia akan menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki suara . Ia akan membuktikan kepada Bapak, bahwa perempuan itu bukan hanya sekedar bayangan , tapi juga kekuatan yang mampu mengubah dunia .