BAGIAN DUA PULUH Silvia baru saja selesai mengeringkan rambutnya, kemudian mengambil ponselnya yang ia simpan sejak tadi. Pusing rasanya melihat layar laptop dan ponsel sejak tadi pagi, bekerja dari rumah benar benar membuat Silvia prustasi. Ia merindukan dunia luar, dan yang lebih membuatnya prustasi adalah Iqbaal pria itu benar benar menyiksa dirinya dengan tidak memberikannya kabar sama sekali. Dan menghilang seolah ditelan bumi saja. Saat data ponselnya dihidupkan, Silvia kaget ada panggilan masuk dari Iqbaal sekitar satu jam yang lalu. Rasa kecewa mulai hinggap dibenak Silvia, pasti Iqbaal susah payah menghubunginya namun tidak ia angkat. Rasa menyesal karena sudah mematikan ponsel begitu besar, seharusnya ponselnya selalu aktif karena ia tidak akan tahu kapan Iqbaal menghubunginya

