BAGIAN SEPULUH RAHASIA AGIL

1061 Kata
BAGIAN SEPULUH Seteleh menempuh hampir dua jam perjalanan Agil berserta dua teman pria dan dua teman wanitanya sampai di Lembang tujuan wisata mereka adalah Dusun Bambu Family Leisure Park. Beralamat di Jalan Kolonel Masturi KM 11, Situ Lembang. Berada dikaki Gunung Burangrang Dusun Bambu Family Leisure Park menjadi objek wisata terbaik di Lembang. Agil dan teman temannya datang ke sana hanya untuk melepas penat setelah ujian sekolah dan tentunya mengambil foto yang istagramable. Namun terlepas dari itu ia juga akan merayakan ulang tahun Nadira sang kekasih, meski dalam hati Agil berontak karena harus berbohong pada sang ibu dan juga kakaknya Silvia. Pasalnya Nadira adalah adik dari Rendy. Pria yang menjadi mimpi buruk untuk kakaknya, namun hatinya berontak karena rasa cinta pada Nadira terlanjur tumbuh begitu saja. Apalagi Agil dengan Nadira adalah teman satu kelas dan otomatis setiap harinya ia bertemu dan berkomunikasi dengan Nadira. Sama halnya dengan Agil, Nadira juga dilanda cemas yang mendalam karena jika hubungannya dengan Agil diketahui sang ibua. Berbanding terbalik dengan Rendy yang sudah mengetahui hubungan keduanya sejak lama. Rendy tidak ingin mengusik kebahagiaan sang adik, dan berusaha pula untuk menutupi hubungan Agil dan Nadira. Agil telah menyiapkan semuanya kejutan untuk Nadira, dipinggiran situ balon serta dekorasi ulang tahun tertata indah dengan nuansa putih berpadu pemandangan hijau yang asri. Nadira bukan main senangnya saat Agil menggengam tangannya membawanya pada sebuah meja yang diatasnya terdapat kue ulang tahun untuknya. Nathan, Nino, dan Aluna teman Agil serta Nadira mengikuti dari belakang dengan Nathan yang bertugas sebagai juru kamera. “mentang mentang di hutan ya, banyak nyamuk. “ celetuk Nino sambil berpura pura memukul nyamuk padahal yang ia pukul hanya angin lalu. “Hem mendadak gue pengen punya pacar No. “ balas Aluna, sedangkan Agil dan Nadira sama sekali tidak merasa terusik keduanya asyik berjalan santai. “Mending lo berdua, gue udah ngiri dapet tugas pula. “ Nathan juga tidak ingin kalah menyuarakan isi hatinya. Yang merasa iri melihat Agil dan Nadira sedangkan dirinya hanya bertugas sebagai juru foto saja. Langkah kaki Agil dan Nadira terhenti tepat di depan kue ulang tahun Nadira. Aluna yang menjadi sahabat dekat Nadira sejak kelas satu SMA lebih dahulu mengucapkan selamat ulang tahun untuk sahabatnya. Disusul dengan Nino dan Nathan yang juga ikut mengucapkan selamat ulang tahun untuk pacar sahabatnya Agil. Mereka bertiga adalah saksi perjalanan cinta Agil dan Nadira, mereka menjadi pemeran penting dalam berjalannya hubungan Agil dan Nadira. Disusul oleh Agil yang juga mengucapkan selamat ulang tahun pada Nadira, lebih tepatnya mengucapkan lagi karena Agil sudah mengucapkannya tepat jam dua belas malam tadi. “Ah, makasih ya semuanya. “ ucap Nadira terharu dengan perhatian mereka yang tidak pernah berubah padanya sedikitpun sejak dahulu. Mereka sudah Nadira anggap saudara sendiri yang melewati susah senang bersama sama. “Ayo tiup lilinnya Nad. “ perintah Aluna, ia tidak sabar untuk melakukan sesi foto foto dengan pemandangan yang sebagus ini. Pikirnya kecantikan Aluna akan bertambah beberapa persen karena view pemandangan ini. “Oh iya, ayo tiup lilinnya Nad. “ timbal Agil “Tapi make wish dulu ya, “ tambahnya lagi. Nadira mengangguk kemudian menundukkan kepala seperti sedang mengheningkan cipta, ia membuat beberapa permintaan. ^^ Pukul satu siang Silvia baru mendapat kabar dari Iqbaal bahwa pria itu sudah sampai di bandara dan akan bersiap melakukan perjalanan darat untuk sampai di lokasi tujuan. Pria itu juga memberi kabar bahwa sinyal ponselnya mulai tidak stabil dan kemungkinan untuk menghubungi Silvia lagi sangat tipis namun semoga saja ia bisa menghubungi Silvia terus guna memberikan kabar pada wanita itu. Silvia yang mulai merasa cemas hanya mampu memberikan doa yang terbaik, Iqbaal pria itu akan berjuang menjaga keutuhan NKRI, mempertaruhkan nyawanya. Namun, pria hebat itu harus pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun karena sekarang ada seseorang yang menunggu kepastian darinya. Silvia harus tangguh melewati tiga bulan ini dan membuktikan pada Iqbaal bahwa ia mampu menunggu Iqbaal. Besok Silvia akan memulai rutinitas bekerjanya, kembali mengajar anak anak disekolah semoga saja dengan begitu ia tidak akan terlalu fokus pada Iqbaal dan lebih mendapatkan energi yang positif. Silvia tidak lupa menyalakan alarm dan menghitung mundur kepulangan Iqbaal di ponselnya. Ia tidak sabar bertemu lagi dengan pemilik tubuh gagah itu. “Ka ada Leni nih, “ teriakan ibunya membuat Silvia tersentak dari diamnya. Mengganggu saja aktivitas mengkhayalnya. Dengan santai Silvia turun ke bawah untuk menemui Leni sahabatnya yang pastinya datang untuk menjenguk dirinya. Padahal Silvia sudah sembuh dan merasa lebih baik dari hari hari kemarin. “iya aku turun nih, “ sampai di tangga terakhir Silvia langsung disambut oleh Leni. Wanita itu langsung berhambur memeluk Silvia seolah keduanya sudah tidak bertemu beberapa lama. “aku kangen tau gak. Sepi kantor tanpa kamu,” ucap Leni ketika mereka sudah duduk disofa ruang tamu. “Halah, sepi emang dikuburan. Kantor macam di pasar aja dibilang sepi. “ Sanggah Silvia pada ucapan Leni memang benar adanya kantor itu ramai sekali ketika semua guru berkumpul dan berada diruangan itu. Malah Silvia sering merasa malas berada dikantor karena saking berisiknya, jam istirahat ia lebih sering pergi jajan ke kantin menikmati seblak di sana. Walau pun kantin lebih berisik daripada kantor setidaknya perutnya terisi. “Seriusan, Ih Vi. Bosen pula aku gak ada kamu.” Balas Leni sambil mengambil air minum di atas meja karena merasa haus. Leni memang sudah tidak canggung lagi ketika berkunjung ke rumah Silvia ia sudah menganggapnya seperti rumah sendiri. “Ada kue nih, “ ibunya Silvia datang dengan nampan berisi beberapa toples kue kering. “Wah, makasih tante.” “Iyah sama sama, mau makan gak Len? “ tanya ibunya Silvia “gak usah tante lagi diet, hehe. “ jawab Leni. “diet sih mah tapi nanti kuenya abis satu toples.” Celetuk Silvia setengah meledek ucapan Leni. “apa sih iri aja mentang mentang cuman akh yang ditawarin, “ balas Leni tidak mau kalah. Ibunya Silvia hanya geleng geleng kepala melihat kedunya seperti itu karena baginya pemandangan seperti itu tidak asing lagi. Bersyukur sekali dalam hatinya Silvia anaknya diberi sahabat seperti Leni yang selalu menemani Silvia saat senang dan susah. Dan semoga saja persahabatan mereka abadi selamanya. Dalam kehidupan kita memang perlu banyak belajar, belajar dari pengalaman dan dari setiap perjalanan. Jangan mudah menyerah pada apa yang sedang dihadapi, jalani saja sembari berpikir untuk mencari solusi. Tuhan tidak pernah memberikan masalah tanpa solusi. Dan sebagaimana kita lakon hanya mampu berusaha yang terbaik Tuhan juga memberikan nilai lebih karena kita mau berusaha. Bersambung.... salam sayang
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN