Jade, ini Rob. Aku sedang berada di Paris sekarang. Bisa kita bertemu? Aku merindukanmu.
Jade membaca alamat hotel yang Rob tuliskan di akhir emailnya. Entah dari mana pria itu tahu jika Jade ada di sini, ia tidak bisa menduganya. Semenjak pulang kemari satu minggu lalu, Jade tidak berhubungan dengan satupun kenalannya di London.
Ia telah mengganti nomor ponselnya agar tidak bisa dihubungi oleh siapapun. Ia juga berhati-hati tidak mengatakan akan pulang ke Paris ketika memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Hanya Alex yang tahu jika ia pulang kemari. Apa mungkin Alex yang memberitahu Rob?
Seharusnya tidak. Rob, sang sutradara yang sering bekerja dengannya, memang tahu jika ia menjalin hubungan dengan Alex Stewart, sang pengacara terkenal di London itu. Namun, pria itu tidak pernah bicara atau bertemu dengan Alex.
Selama menjalin hubungan dengannya, tidak pernah sekalipun Alex datang ke tempatnya syuting. Saat itu, Alex beralasan jika ia tidak ingin mengganggu Jade bekerja. Belakangan, ketika mereka bertengkar, Jade baru tahu jika Alex malu dengan profesinya sebagai seorang pemeran pengganti.
Mungkin, hal itu juga yang membuat Alex jarang mengajaknya ke jamuan makan malam bisnis. Karena Alex malu dengannya. Dulu, saat Alex masih menjadi pengacara pemula, pria itu beralasan jika hubungan mereka lebih baik disembunyikan demi karir masing-masing.
Namun, ketika karir Alex sudah semakin terkenal, pria itu juga sangat jarang membawanya tampil di depan umum. Hanya dua kali, Jade ingat. Dan Alex memang mengakui hubungan mereka di hadapan media. Itu yang membuat orang-orang tahu jika ia adalah kekasih Alex Stewart.
Selama bertahun-tahun menjalin hubungan, Alex selalu terlihat sebagai seorang pria yang setia padanya. Ternyata, itu karena ia sangat pandai menutupi kejelekannya sendiri. Dan Jade adalah perempuan yang dibutakan oleh cinta dan kepercayaan hingga tidak menaruh curiga pada Alex sedikit pun.
Jade mendesah dan mematikan laptopnya setelah membalas pesan Rob. Mungkin, bertemu dengan Rob bisa membuatnya sedikit rileks dan bersantai. Selama satu minggu, ia belum pergi ke manapun. Ia hanya keluar untuk berbelanja menggantikan neneknya. Selain itu, Jade tidak pernah pergi ke mana-mana.
Tidak seperti bayangannya selama ini, ternyata kafe milik neneknya selalu ramai. Tidak hanya untuk sarapan, para pengunjung juga memakan muffin untuk kudapan sore hari mereka. Jadi, Jade bisa dikatakan hampir tidak pernah keluar dari dapur.
Kecuali hari ini. Ia meminta libur khusus satu hari pada neneknya. Tadinya, Jade berencana untuk pergi mencari mobil. Namun, email dari Rob merubah rencananya. Ia akan bertemu pria itu sebentar dan kemudian melihat mobil yang mungkin cocok untuknya. Ia sudah sangat ingin menyetir ke Giverny dan melihat rumah neneknya.
“Jade, kami butuh bantuanmu di bawah.”
Jade menoleh pada Rossi yang berdiri di depan pintu kamarnya dan cemberut. “Aku sedang libur, Ros.”
Rossi menampakkan wajah penuh penyesalan. “Aku tahu. Aku minta maaf telah mengganggumu. Tetapi di bawah benar-benar ramai dan kami kewalahan.”
Tidak ada pilihan lain yang bisa Jade ambil selain turun dan membantu di bawah. Lagipula, ia memang baru akan bertemu Rob saat jam makan siang nanti. Jadi, ia mengikuti Rossi ke bawah dan segera terkesiap melihat keributan di lantai bawah.
Seperti biasa, jam sarapan selalu menjadi saat-saat yang paling sibuk. Semua orang terburu-buru ingin mendapatkan pesanan mereka. Entah untuk dimakan di tempat, atau dibawa ke kantor. Jade menyambar apronnya, sebelum benda itu kembali lenyap dari genggamannya.
“Kau melayani pembeli saja. Dapur sudah terkondisi dengan baik,” kata neneknya sambil menggantung kembali apron yang direbutnya dari Jade.
Jade mengangkat bahu dan menyambar nota di meja, kemudian keluar dari pintu dapur sebelum langkahnya terhenti karena seseorang yang menyerbu masuk ke dapur. Seseorang yang sangat harum.
“Dua coklat panas dan empat muffin lemon untuk meja sebelas!” teriak pria itu dengan lantang.
Dia lagi, batin Jade dengan kesal. Hampir setiap pagi, pria itu, Dylan, selalu datang kemari. Dan bukannya duduk di meja menunggu pesanannya diantar, ia selalu ke dapur untuk membantu melayani para pembeli. Oh, dan satu lagi, selalu mencari gara-gara dengannya.
Jade tidak suka beradu mulut dengan seorang pria. Namun, Dylan selalu membangkitkan sisi itu dalam dirinya. Entah apapun yang pria itu lakukan, selalu membuatnya kesal. Seharusnya Jade tahu jika ia tidak boleh seperti itu.
Dylan telah berbaik hati sedikit melewatkan jam sarapannya demi membantu di sini. Dan sebenarnya, itu juga menjadi nilai plus bagi mereka. Apa yang membuat kafe itu selalu ramai di pagi hari, sesungguhnya adalah karena Dylan. Para wanita mengantre untuk ‘dilayani’ oleh pria itu.
“Sampai kapan kau akan berdiri di situ, Blondie? Apa kau tidak tahu jika kita sangat sibuk?”
Jade cemberut karena dua hal. Pertama, karena Dylan memanggilnya Blondie yang sangat tidak disukainya. Dan kedua, karena pria itu menggunakan kata ‘kita’. Cih! Seakan mereka sudah menjadi satu saja.
“Kau itu bukan bagian dari kami. Seharusnya duduk saja di mejamu dan menunggu dengan tenang seperti yang lainnya,” kata Jade dengan ketus.
“Jade…”
Dylan mengangkat tangannya untuk menghentikan omelan yang akan keluar dari bibir Sofia. Pria itu hanya tersenyum sambil mengangkat bahu dan mendorong bahu Jade untuk keluar dari dapur. Dan sentuhan itu, menimbulkan gelenyar tidak nyaman di sekujur tubuh Jade.
Sialan! Ini pasti karena sudah sangat lama ia tidak berhubungan seks hingga sentuhan kecil saja membuatnya gemetar. Bahkan, dari balik kaus yang dipakainya, Jade bisa merasakan panas yang dipancarkan oleh tangan Dylan, dan betapa kuatnya tangan itu di bahunya. Kuat sekaligus lembut.
Jade menyingkirkan tangan Dylan dengan menggerakkan bahunya dan melotot pada pria itu. “Jangan sentuh aku!”
Dylan tersenyum dan mengangkat kedua tangannya. Ia baru akan bicara ketika seorang wanita memanggil namanya. Mereka berdua menoleh pada wanita mungil berambut gelap yang duduk melonjak-lonjak di meja.
Jade mencibir. Wanita itu sudah berbeda lagi dengan yang datang dan bersamanya minggu lalu. Benar kan apa yang Jade pikirkan? Pria itu pasti telah meniduri hampir semua wanita di kota ini dan mereka semua tidak keberatan berbagi pria itu.
Dylan melambai dan balas tersenyum sebelum meninggalkan Jade tanpa bicara apa-apa. Pria itu bahkan tidak menoleh lagi padanya selama sisa pagi itu ketika Jade sibuk melayani para pembeli dan Dylan menikmati sarapannya di dapur.
Yah, itu bagus karena Jade hampir tidak bisa menahan dirinya. ‘Rasa’ dari tangan Dylan seakan masih tertinggal di kedua bahunya dan itu membuat gairahnya tidak juga mereda. Bahkan, hanya mendengar pria itu bicara saja sudah membuat bulu-bulu halus di kulitnya berdiri. Jade membayangkan pria itu berbisik di telinganya, mengecup lehernya, me…
Praaanggg!
Jade terlonjak mundur saat cangkir yang ia pegang jatuh ke lantai dan pecah berantakan. Cairan kopi yang panas dan hitam itu mengenai kakinya, hingga membuat Jade meringis. Kulitnya pasti terbakar sekarang.
Namun, bukan itu yang membuatnya merasa panas. Ada yang menarik tubuhnya mundur menjauhi pecahan itu dan membuatnya jauh lebih panas daripada yang dirasakan kakinya. Dylan duduk jauh darinya, bagaimana pria itu bisa menggapainya secepat ini?
“Kau baik-baik saja?” suara pria itu terdengar tepat di telinganya.
Bulu halus di bawah telinganya kembali berdiri. Jade menggangguk dengan kaku. “Maafkan aku. Aku…” Jade tidak tahu kenapa ia meminta maaf atau kepada siapa ia meminta maaf.
“Kau pasti kelelahan.” Suara neneknya menembus kabut kesakitan dan gairah yang Jade rasakan. “Ini salahku, seharusnya aku tidak meminta Rossi memanggilmu.”
Ia memang tidur hingga larut tadi malam. Kemarin sore ada pesta ulang tahun di kafe yang berlangsung hingga malam hari. Ketika semua orang sudah beristirahat, Jade masih membereskan meja dan lantai yang kotor hingga menjelang tengah malam.
Dylan masih berada di belakang Jade. Praktis memeluknya ketika pria itu menuntunnya ke kamar mandi di sebelah dapur dan menyiram kakinya dengan air dingin. Jade menahan diri untuk tidak meringis.
“Aku baik-baik saja.” Jade mencoba menarik kakinya, tetapi Dylan menahannya tetap di tempatnya.
Tanpa bicara, Dylan membimbingnya duduk di dudukan toilet dan membuka kotak obat di dinding. Ia mengeluarkan salep dan tisu dari sana kemudian berlutut lagi di hadapan Jade.
“Aku bisa melakukannya sendiri.”
Dylan mendongak, menatapnya dengan tajam hingga membuat darah Jade berdesir dan mengalir dengan sangat cepat. Mata gelap itu seakan membiusnya. Membuat Jade melupakan nyeri di kakinya.
“Bisa kau diam saja selama sesaat dan biarkan aku merawatmu?”
Nada suara pria itu membuat Jade mengangguk tanpa bantahan seperti biasanya. Ia tidak berdaya. Sentuhan Dylan ada di mana-mana di seluruh tubuhnya. Bahkan, dari jarak ini, Jade bisa mencium aroma kulit Dylan yang maskulin. Aroma khas lelaki dan seks. Seks yang kuat dan memabukkan.
“Kau melamun?” tanya Dylan sambil mengoleskan salep di kaki Jade yang memerah.
“Aku hanya sedikit mengantuk,” dustanya pelan. Jade tidak mungkin mengaku sedang memikirkan pria itu.
Dylan kembali mendongak menatapnya. Sorot mata itu sekarang jauh lebih lembut daripada tadi dan entah mengapa, Jade merasakan wajahnya memerah. Ia tidak pernah ditatap dengan cara seperti itu oleh seorang pria. Bahkan oleh Alex.
Tatapan Dylan seakan berkata jika pria itu tahu bahwa Jade berbohong. Namun, di saat yang sama, tatapan itu juga seolah berkata jika Dylan akan merawatnya dengan baik.
Konyol! Memangnya siapa pria itu hingga bersedia merawatnya? Mereka hanya orang asing yang tidak sengaja bersinggungan karena neneknya. Jika bukan karena Sofia, Jade tidak akan mau mengenal pria yang masih berlutut di bawahnya ini.
“Seharusnya kau berkata jika butuh tidur dan bukannya memaksa bekerja.”
Jade mengangkat bahu. “Kau tahu sendiri, kami kekurangan pegawai. Bahkan kau harus membantu.”
Dylan bangkit dan mengembalikan salep ke kotak obat. Jade memejamkan mata dan diam-diam menghirup aroma tubuh pria itu ketika ia bergerak. Dylan memang sangat harum dan menggiurkan. Bagaimana seorang pria bisa begitu lezat seperti ini?
“Ayo, aku akan membantumu ke kamar.”
Jade menepis tangan Dylan yang terulur dan berdiri. “Aku bisa kembali ke kamarku sendiri!”
Dylan terkekeh hingga membuat tubuh Jade kembali bergelenyar.
“Seharusnya kau membiarkan aku berlaku seperti seorang gentleman hingga akhir.”
Jade menoleh. Sisa-sisa tawa masih tampak di wajah dan mata pria itu. Tampan. Dylan luar biasa tampan dengan garis-garis wajahnya yang maskulin itu. Tubuhnya juga sangat seksi, tegap, dan besar. Sangat besar.
“Berhenti menatapku seperti itu atau aku terpaksa harus menciummu di sini sekarang juga.”
Tangan Jade terangkat menutupi bibirnya sementara ia mundur satu langkah menjauh dari Dylan. Pria itu kembali terkekeh pelan dan menepiskan tangannya di udara sebelum melangkah mendekati Jade. Ia mundur kembali ketika pria itu mendekat.
“Mundur sekarang juga atau aku akan berteriak!”
Dylan tetap tidak mundur dan hampir menutup jarak di antara mereka sebelum terdengar bunyi ponsel dari kantong celana pria itu.
“Mom?” ucapnya ketika mengangkat ponsel itu.
Mata Dylan masih tidak meninggalkan Jade dan Jade bisa melihat kilat kekagetan saat mendengar apa yang dibicarakan di ponsel.
“Aku akan ke sana sekarang.”
Hanya itu yang Dylan katakan dan pria itu memasukkan lagi ponselnya ke kantong.
“Kau yakin bisa naik sendiri ke kamarmu?”
Jade mengangguk. “Aku baik-baik saja.”
Dylan ikut mengangguk dan keluar dari kamar mandi tanpa bicara apa-apa. Bahkan, tanpa menunggu ucapan terima kasih dari mulut Jade. Meskipun terlihat tenang, mata Dylan tampak kalut. Ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang buruk.
Jade tahu persis karena ia sendiri juga pernah mengalaminya ketika kru mengabarkan ayahnya tewas di lokasi syuting. Saat itu, ia harus tetap terlihat tenang demi Mom walaupun ia sangat ketakutan saat harus mengabarkan berita duka itu.
Entah kabar apa yang tadi Dylan terima, Jade tahu jika itu pasti berhubungan dengan hal buruk atau duka cita. Dan entah mengapa, Jade ingin tahu apa yang terjadi. Ia tidak ingin melihat Dylan kalut dan ketakutan seperti itu.
Sial! Ini buruk. Ia tidak boleh peduli pada Dylan. Pria itu hanya mengoleskan salep di kakinya yang terbakar dan bukannya menyelamatkan nyawa Jade. Ia tidak boleh merasakan kepedulian itu. Atau, ia akan terluka lagi. Dylan adalah setan berwujud malaikat dalam balutan Armani. Ia tidak boleh tergoda untuk mencicipinya. Sedikit pun tidak boleh.