Pria tua bernama Sol yang memiliki rambut dan janggut putih panjang dengan wajah cekung penuh kerutan itu kini berdiri tepat di hadapan Xynth. Ia menatap Xynth dengan bola mata yang sama putihnya dengan sang putra mahkota tersebut. Lalu dengan kecepaan tinggi, pria itu kemudian menepuk bagian d**a Xynth dengan keras dan membuat Xynth mendadak memuntahkan sesuatu yang seperti gas berwarna hitam dari mulutnya.
Pak Tua Sol sendiri langsung terpental dan sempat ikut terseret mundur sampai beberapa meter setelah menepuk d**a Xynth tadi. Namun dengan kekuatannya, ia langsung menjejakkan kakinya ke lantai dan mencoba bertahan di posisinya dengan terhuyung-huyung.
Bersamaan dengan itu, gempa hebat langsung terjadi di beberapa belahan bumi sekaligus. Rigel dan Antares yang ada di sana, ikut merasakan goncangan gempa dan langsung saling menatap dengan pandangan tegang dan bertanya-tanya.
Sang tabib, Vega, hadir menyusul di sana dengan mata yang seketika terbelalak lebar. Wanita anggun yang memiliki rambut hitam legam bernuansa keunguan itu langsung mendekati Pak Tua Sol dan memegang tangan pria tua itu sampai bola mata putihnya kembali berubah menjadi berwarna coklat terang.
Ia kemudian berjalan cepat mendatangi Xynth dan melihat anak itu terbatuk-batuk dengan lemas. Rupanya ia diselamatkan lebih cepat oleh Pak Tua Sol dan berhasil menggalang kesadarannya kembali. Begitu bola matanya kembali menjadi perak, ia langsung memandang ke arah Pak Tua Sol dengan wajah tegang.
"Ada yang datang," ujar Xynth dengan suara tertelan. "Ada sesuatu yang sangat besar memasuki bumi."
"Ya," ujar Pak Tua Sol padanya, "dan tamu yang tak diundang itu bukan dari keluarga bintang mana pun."
"Betelgeuse!" seru Xynth mendadak sambil memaksakan diri beranjak dari kursinya. "Kita harus mencari Betelgeuse, dia dalam bahaya!"
---
Satu jam sebelumnya di Segitiga Bermuda, Samudra Atlantik
Betelgeuse mendaratkan kakinya di atas gelombang Samudra Atlantik bagian utara siang itu dan langsung menarik napas panjang. Baru sedetik lalu ia berada di Indonesia yang langitnya sudah gelap. Namun di Atlantik, kondisinya masih siang hari.
Ia memejamkan matanya dan menengadah ke langit, lalu pikirannya berusaha mencari visual sumber kegelapan yang belakangan sering dicarinya. Gadis itu sedang menyelidiki banyak hal belakangan dan salah satunya adalah sumber visual aneh yang sangat ia khawatirkan akan berdampak sangat serius ke depannya.
Dulu saat mereka semua tiba di bumi, Pak Tua Sol sudah pernah mengatakan kepada mereka bahwa Kerajaan Mata Hitam sebenarnya sudah pernah terlebih dahulu menetap di bumi ratusan juta tahun lalu. Mereka semua mengeklaim bumi sebagai milik mereka dan bukan milik Sol. Namun Sol berhasil mengusir mereka semua.
Puluhan juta tahun lalu, Kerajaan Mata Hitam kembali datang ke bumi. Mereka melakukan serangan ke bumi dan mengakibatkan berbagai kehancuran di sana. Dalam sejarah para manusia, mereka menganggapnya sebagai bagian dari era punahnya dinosaurus.
Saat itu Pak Tua Sol dibantu oleh ayah Xynth, Zegerux, dan mereka berhasil kembali mengusir pasukan Mata Hitam. Sekitar 1940-an tahun manusia, saat Xynth sudah cukup lama menetap di bumi, sebagian dari Kerajaan Mata Hitam kembali datang.
Kali ini, Alhine membunuh hampir semua pasukan mereka, kecuali penyihir Mata Hitam bernama Bermuda yang melarikan diri dan bersembunyi. Bermuda meninggalkan sesuatu di bagian utara Samudra Atlantik setelah kalah dari Alhine kala itu. Karena benda itu tidak bisa dimusnahkan, Pak Tua Sol pun kemudian membiarkan benda tersebut begitu saja di bumi.
Masalah kemudian muncul belakangan ini. Sosok Bermuda dari Kerajaan Mata Hitam beberapa kali sekelebat muncul di kepala Betelgeuse dan membuat peramal Kiklios itu gelisah. Visual di kepala Betelgeuse menunjukkan bahwa Bermuda sudah kembali memasuki bumi -- entah sejak kapan. Namun anehnya, ia hanya bisa melihat Bermuda muncul melalui visual samar dan selalu merasakan kehadirannya.
Anehnya lagi, ia tidak sedikit pun bisa membaca lokasi Bermuda di bumi dan itu membuatnya semakin resah dan curiga. Seharusnya, sesama keluarga bintang entah dari kerajaan mana pun akan mampu membaca kehadiran satu sama lain melalui aura sinar. Akan sangat aneh jika Betelgeuse dan yang lainnya tidak mampu membaca aura sesama bintang dan hanya mampu mendeteksinya sesekali melalui visual.
Karena itulah Betelgeuse khawatir. Ia sebenarnya berniat menyampaikan kecurigaannya kepada Pak Tua Sol, tetapi ia butuh waktu untuk menyelidikinya terlebih dahulu.
Betelgeuse memiliki dua kecurigaan besar berdasarkan visualnya. Pertama, ada suatu jalan yang dibangun oleh Kerajaan Mata Hitam selama ini di bumi yang membuat mereka mampu keluar masuk bumi tanpa sepengetahuan Sol. Kedua, mereka yang berasal dari Kerajaan Mata Hitam kemungkinan besar sudah menemukan cara untuk menyembunyikan aura sinar mereka selama ini.
Jika itu benar, maka nyawa putra mahkota juga dalam bahaya karena kapan pun, gerombolan Mata Hitam bisa saja menyadari keberadaan Xynth di sana. Itu makanya Betelgeuse saat itu mendatangi Segitiga Bermuda, tempat Bermuda dulu meninggalkan senjatanya untuk mencari tahu arti dari visualnya.
Kali ini, setelah lama memejamkan matanya dan berusaha mencari visual, Betelgeuse melihat sesuatu dari dasar lautan yang gelap di bawahnya. Ada pergerakan yang terasa dari dasar dan membuat Betelgeuse terkejut.
Ketika ia menyadari sesuatu dan membuka matanya lagi, sebuah sinar hitam mendadak sudah menghantam dirinya dan menyeretnya ke dasar laut. Betelgeuse berusaha melawan, lalu melakukan serangan balik dengan sinar merahnya dan mengenai sebuah sinar hitam di sana.
Kini, ia berhasil melihat sosok samar perempuan bernama Bermuda yang selama ini dicarinya. Namun sosok itu kembali berubah menjadi kelebat kilat berwarna hitam dan berusaha menghilang dari pandangan Betelgeuse.
Betelgeuse tidak menyerah. Ia melesat mengejar Bermuda dan berusaha menangkapnya dengan segera. Namun Bermuda mendadak mengeluarkan sebuah pedang dan menghunuskannya ke arah tubuh Betelgeuse.
Gadis itu dengan susah payah berusaha menghindar dan menghujani Bermuda dengan berbagai serangan. Sebuah pukulan telak mengenai tubuh Bermuda dan membuat bayangan hitamnya terlihat terhuyung ke dalam lautan.
Dengan cepat, Betelgeuse segera menarik paksa bayangan hitam tersebut ke atas permukaan lautan lagi dan membantingnya di sana. Ia melihat bayangan tersebut tertatih-tatih dan kembali berusaha melarikan diri. Namun kali ini Betelgeuse langsung mengikatnya dengan sinar merah miliknya.
"Betelgeuse," suara Bermuda terdengar seperti terkekeh sambil kesakitan ke arahnya.
"Bagaimana kau bisa tahu siapa aku?!" tanya Betelgeuse dengan tajam ke arah Bermuda yang masih terkekeh. Ia tidak merasa pernah bertemu dengan Bermuda sebelumnya. Ia sendiri hanya tahu soal Bermuda dari visualnya dan pernah mendengar namanya sesekali dari Sol.
"Katakan kepadaku, bagaimana kau mengenalku dan bagaimana kau bisa memasuki bumi tanpa sepengetahuan kami?!"
"Aku? Memasuki bumi?" tanyanya heran. "Aku tidak pernah meninggalkan bumi sejak terakhir aku datang."
"H-hah?! Apa maksudmu?!"
"Kau hanya anak kecil. Sebaiknya kau jangan ikut campur dan menggangguku," desis Bermuda padanya kali ini dengan suara mengancam.
Betelgeuse mempererat ikatannya pada tubuh bayangan hitam di depannya tersebut dan membuat Bermuda seketika meringis kesakitan. "Aku akan menyerahkanmu pada kaisar kami!"
"Alhine?" tanya Bermuda padanya. Ia kembali terkekeh dari tempatnya. "Ah, aku tahu! Kau akan menyerahkanku kepada Alhine agar ia bisa segera membunuhku. Ia jelas tidak ingin banyak pihak yang tahu bahwa anaknya sedang berada di sini, kan?"
Bola mata Betelgeuse membesar karena kaget mendengar ucapan Bermuda kepadanya barusan. Ia tidak menyangka bahwa Bermuda sudah tahu kalau Xynth disembunyikan ibunya di bumi; dan ini jelas berarti bahwa petaka akan segera datang.
"Kau tahu, aku melihatnya di sini," gumam Bermuda lagi. "Aku melihat putra mahkota kalian, Xynth. Aku melihatnya dari sejak ia kecil sampai tumbuh cukup besar seperti sekarang. Kami turut senang melihatnya. Bukankah kita semua harus menggelar pesta untuk merayakannya?"
"Kaisar akan segera membunuhmu," ujar Betelgeuse dengan nada suara bergetar.
Gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa kaget dan khawatirnya. Di titik ini, ia tahu bahwa hal yang tercepat yang harus dilakukannya adalah menemui kaisar dan melaporkannya agar sang kaisar bisa segera melindungi Xynth di bumi.
"Segalanya sudah terlambat, Betelgeuse, ia sudah akan datang," ujar Bermuda, samar-samar terlihat menyeringai kepadanya. "Tuan kami akan segera datang."
"Tuan kalian?" tanya Betelgeuse tidak paham dengan maksud Bermuda. Namun kemudian, ia langsung teringat sesuatu yang penting. "Apa sebenarnya benda milikmu yang dulu terjatuh di sini? Apa yang kalian simpan dari dulu di sini?"
Bayangan itu mendadak terdiam dan kini menunduk ke dasar lautan seolah mendengar sesuatu yang bergemuruh dari sana secara tiba-tiba. Setelah beberapa saat mematung, ia kemudian mendongak kembali ke arah Betelgeuse.
"Kau tidak mau melihatnya sendiri, Betelgeuse?" ujar Bermuda dengan suara yang dalam dan kelam. "Kalau kau ingin tahu, sebaiknya kau melihatnya sendiri dari dalam kepalaku."
Betelgeuse terdiam sejenak dan menimbang. Ia tahu bahwa dengan menyentuh kepala Bermuda, ia akan segera tahu semua rahasia dalam diri Bermuda dan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tetapi menyentuh kepala sesama bintang adalah hal yang sangat tabu untuk dilakukan, mengingat hal tersebut tidak saja dianggap melanggar peraturan tetapi juga mampu merobek gerbang memori para bintang.
Jika Bermuda menawarkan kepada Betelgeuse yang adalah peramal Kiklios untuk melihat ke dalam kepalanya, itu sudah jelas merupakan jebakan. Betelgeuse tahu bahwa itu akan berbahaya. Namun gadis itu tidak bisa menghentikan rasa ingin tahunya yang sangat besar. Karena itulah, ia secara perlahan bergerak mendekat ke arah Bermuda dan menatap bayangan hitam itu baik-baik.
"Sentuh kepalaku," rayu Bermuda lagi. Betelgeuse menghentikan langkahnya sejenak dengan wajah ragu. Namun kemudian, gadis itu dengan nekad meletakkan satu jarinya di bagian kepala bayangan hitam itu.
Dalam hitungan detik setelah menyentuh Bermuda, Betelgeuse mendadak merasa tenggelam ke dasar lautan yang paling dalam dan dingin. Ia melihat suasana gelap di sana dan pandangan matanya segera terhenti di satu titik.
Di depannya, ia melihat sebuah lingkaran seperti hula hoop yang besar dan berwarna hitam. Ia lalu mendekat ke arah lingkaran yang ia perkirakan sebagai senjata Bermuda, yang mungkin ditinggalkan penyihir tersebut di lautan itu selama ini.
Ia pun menunduk ke arah lingkaran itu untuk melihat dengan lebih jelas. Entah bagaimana, sebuah suara dari dalam kepalanya sendiri mendadak muncul dan mengatakan kepadanya untuk tidak menyentuh lingkaran itu. Semakin suara itu melarang Betelgeuse untuk menyentuhnya, naluri Betelgeuse justru memaksa gadis itu untuk semakin mendekat.
Ia pun kemudian mengabaikan suara-suara di kepalanya tersebut dan mulai menyentuh lingkaran hitam milik Bermuda yang berada di dasar lautan. Ketika ia mulai melakukannya, seketika gadis itu terbawa ke dalam pusaran gas spiral hitam yang menyesakkan dadanya.
Betelgeuse berputar-putar dalam lingkaran itu sampai terbanting ke bagian terdalam dari lingkaran tersebut. Saat membuka matanya lagi dan bangkit dengan susah payah, gadis itu kini melihat ruangan gelap kosong yang seperti tidak memiliki ujung dan dipenuhi dengan kabut.
Ia berusaha berjalan menempuh kabut itu dengan perasaan takut yang tiba-tiba menyeruak. Dan setelah berjalan lebih lama lagi, ia mendadak menemukan sebuah jembatan besar di balik uap kabut di sana dan langsung terhenyak.
Jembatan ini.... Gadis itu menggumam kepada dirinya sendiri.
"Aku membangun jembatan ini sejak dulu," ucap Bermuda dengan suara yang tiba-tiba menggema dari dalam kepala Betelgeuse.
"Jembatan ini merupakan pintu masuk dan keluar menuju bumi yang tersembunyi."
"Kau membangun pintu masuk-keluar bagi Kerajaan Mata Hitam di sini?" tanya Betelgeuse tidak percaya.
"Mata Hitam?" ulang Bermuda sambil terkekeh geli. "Tidak, aku membangunnya untuk Tuanku dan kau datang di saat yang tepat. Aku baru saja selesai membangunnya. Kau akan segera bertemu dengannya, Tuanku"
"Tuanmu? Siapa maksudmu?" tanya Betelgeuse mulai tegang.
Mendadak ia melihat lebih banyak kabut gas di depannya dan suasana di sekitarnya tiba-tiba berubah seperti sebuah ruangan suram besar tanpa jendela. Begitu tahu ia sudah terperangkap di sana, Betelgeuse langsung berusaha melarikan diri. Namun tiba-tiba tubuhnya tidak bisa melakukan teleportasi lagi sama sekali.
Gadis itu melihat ke sekelilingnya dan segera berlari ke setiap sudut untuk mencari jalan keluar tercepat. Namun tak satu pun cara yang dapat ditemukannya untuk keluar dari sana. Hanya beberapa saat setelah itu, ia dapat mendengar suara senandung yang menggema dengan intonasi melengking di sekeliling ruangan tersebut dan langsung terbelalak ngeri.
Twinkle, Twinkle, little star
how I wonder what you are
up above the world so high
like a diamond in the sky
Twinkle,Twinkle little star
how I wonder what you are.
Bersamaan dengan akhir dari senandung itu, sebuah cahaya hitam luar biasa besar dan kuat muncul di depan Betelgeuse. Ia tidak pernah melihat bayangan sebesar itu dan merasakan sumber kekuatan yang sedemikian besar. Tidak bahkan dari Alhine yang saat ini merupakan sosok bintang terkuat di seluruh langit.
Sekujur tubuh Betelgeuse langsung terasa kaku dan melemah. Gadis itu secara seketika tersungkur jatuh di tempatnya dan terpaku menatap sumber kegelapan terbesar di hadapannya dengan rasa takut yang teramat sangat.
Bayangan itu tak berwujud dan hanya berupa gas hitam penuh dengan kilat petir. Semakin dalam mata Betelgeuse melihatnya, darah mulai mengalir dari kedua bola matanya.
Suara dari bayangan itu menyerupai gelombang radio yang nyaring dan berbunyi sangat menyakitkan di telinga Betelgeuse. Hanya dengan mendengarnya, kedua telinga Betelgeuse mulai mengeluarkan darah.
Betelgeuse megap-megap di tempatnya. Ia tidak bisa memikirkan apa pun selain bahwa ia harus segera menyampaikan kabar ini kepada Sol dan Xynth dengan segera.
Dengan tenaga terakhir yang dimilikinya, Betelgeuse pun segera mengirim visual kepada Pak Tua Sol dan Xynth dalam waktu yang bersamaan. Setelah berusaha maksimal mengirimkan visualnya, batang leher Betelgeuse seperti mendadak patah dan langsung mendongak ke atas ketika merasakan bayangan hitam raksasa itu menyentuhnya.
Bola matanya memutih saat sosok sangat mengerikan itu mulai berusaha menyedot kekuatannya. Gadis itu dapat merasakan gelombang besar sedang menghantam dirinya dan juga bumi sekaligus saat itu, dan ia yakin bahwa ia akan mati.
Di saat wanita itu berpikir bahwa ia akan segera menemui ajalnya, mendadak sesuatu terjadi pada bayangan hitam itu dan kepada Bermuda secara serempak. Betelgeuse dapat merasakan ada sesuatu yang tiba-tiba mengganggu keduanya dan entah bagaimana bayangan itu hilang mendadak dari sana.
Gadis itu kini terjatuh di tempatnya sambil muntah darah. Belum sempat ia berusaha untuk bergerak, sebuah gelombang gas mendadak membawa Betelgeuse lagi ke dalam pusaran spiral dan kali ini melemparnya ke luar dari sana.
Entah bagaimana, ia tiba-tiba sudah kembali berada di permukaan lautan seorang diri tanpa kehadiran Bermuda lagi. Dalam kondisi begitu sekarat, ia pun terbatuk dan memuntahkan banyak darah lagi.
Betelgeuse tidak lagi sanggup bergerak, tidak sanggup lagi untuk berbicara, apalagi memakai kekuatannya yang mendadak seperti sudah musnah. Tidak beberapa lama setelah tubuhnya dihantam ombak dan berbalik menghadap ke arah langit, gadis itu merasakan semua sinar dalam tubuhnya perlahan terbang meninggalkannya.
Kekuatannya pergi. Tubuh Betelgeuse yang kini tak sadarkan diri pun terombang-ambing dan tersapu gelombang besar lautan.