"Mas, nanti Nala bangun," bisikku saat Gara menidihku di meja dapur kami. Dia terlihat nggak sabar dan melucuti pakaianku dengan cepat. Terbiasa dengan hal ini membuatku nggak heran lagi dengan apa yang dilakukannya. "Jangan dibuang sembarangan bajuku, Mas suka gitu. Nanti pas sudah selesai, aku yang repot nyarinya," ujarku sambil menahan tangannya yang sudah akan bergerak membuang pakaianku. Gara kemudian terkekeh dan meletakkan pakaianku di sebelahku. Dia pikir dengan membuang pakaianku secara sembarangan akan membuatnya terlihat keren. "Di kamar aja, nanti Nala bangun loh," ulangku lagi memperingatkannya. "Kamar Nala sudah aku kunci dari luar," sahutnya sambil berbisik. Aku berdecak mendengar pengakuannya. Ayah macam apa seperti itu. Gara sepertinya nggak butuh tanggapan dariku lagi
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


