Rumah baru Gara terasa lebih hidup semenjak Nala tinggal di sini. Gara memang sesekali menginap, tapi tidak sering karena aku mengusirnya sebelum dia berniat menginap. Dengan adanya Nala di rumah ini, aku dan Gara harus menjaga sikap, nggak boleh sembarangan mengumbar kemesraan. Gara yang lebih sering lupa tempat dan kadang baru tersadar saat Nala tiba-tiba muncul. "Mas pulang sana," usirku saat jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Gara menoleh ke arahku sekilas dan tampak terganggu dengan permintaanku. "Nanti dulu, masih nemanin Nala belajar," sahutnya nggak peduli. Aku menarik napas panjang, lelaki ini selalu memiliki banyak alasan. Dari nemanin tidur, sampai dia sendiri kebablasan tidur sampai nemanin belajar seperti yang sedang dilakukannya saat ini. "Jangan kelamaan. Sudah m

