Part 05

1467 Kata
"Nasi goreng dua, yang satu pedes yang satunya biasa." Kinan menyebutkan pesanannya saat mereka berdua tiba di warung nasi goreng Abah yang akan menjadi tempat makan malam mereka kali ini. "Minumnya apa, Mbak?" "Es teh manis sama teh anget." sahut Tiara sambil memilih makanan pendamping yang juga dijajakan di warung tersebut. "Oke Mbak cantik, ditunggu ya." "Abah kemana, Dek?" tanya Kinan yang tidak melihat pria tua pemilik warung itu disana. Yang ada hanya anak perempuannya dan si ibu. Gadis berjilbab soft pink itu mendongak sambil tetap mengaduk minuman yang ia buat. "Abah pulang sebentar ambil telor, Mbak. Tadi ketinggalan." ucapnya sambil tersenyum manis. Kinan mengangguk-angguk. "Emm, nanti nasi goreng aku nunggu Abah dateng, ya. Pengen yang dibuatin sama Abah." ujar Kinan sambil menggigit bibirnya, takut menyinggung perasaan Ibu Asnah, istri Abah yang sedang memindahkan nasi goreng ke atas piring. "Maksud Kinan bukan gimana-gimana lho, Buk." Ibu Asnah menoleh dan tersenyum. "Iya Ibu tahu kok, Nak. Ibu kan dulu juga pernah hamil." jawabnya lalu memberikan dua piring nasi goreng kepada Mira, anak perempuannya yang membuat minuman tadi untuk diberikan kepada pembeli yang sudah menunggu. Ibu Asnah lalu berjalan mendekati Kinan yang masih betah berdiri di samping gerobak. "Duh, perut kamu udah makin gede ya, Nak." Ibu Asnah mengusap-usap perut Kinan yang mulai terlihat. Beliau sedikit menunduk agar lebih dekat dengan perut Kinan. "Dedeknya lagi pengen nasi goreng buatan kakeknya ya. Tunggu sebentar ya, Sayang." "Iya, Nenek." sahut Kinan yang menirukan gaya ucapan anak kecil. Keduanya lalu tertawa kecil sebelum Kinan tiba-tiba memeluk Ibu Asnah. "Kinan boleh peluk Ibu sebentar, ya. Kinan kangen sama Ibu di kampung." ucapnya dengan suara bergetar. Ibu Asnah ganti mengusap-usap punggung Kinan. "Iya, Nak. Kamu bisa dateng kapan aja ke Ibu. Abah, Ibu sama Mira akan selalu ada buat kamu. Kamu yang sabar demi anak kamu." Di dalam pelukan ibu Asnah, Kinan mengangguk-angguk. "Makasih ya, Buk." "Ehm, ke sini tadi kayaknya mau makan deh. Bukan mau nangis lagi." Tiara agak berucap sadis. Dia hanya tidak mau jika Kinan menangis lagi. Kinan melepaskan dekapan Ibu Asnah seraya mengusap pipinya. "Iya maaf, lagian cuma bentar doang." tukasnya dengan bibir yang mengerucut. "Sebentar tetep nggak boleh!" "Tiara bener, Nak. Kamu nggak boleh nangis, kasihan anak kamu nanti juga ikutan sedih." tutur ibu Asnah menambahi. "Emang bisa gitu ya, Buk?" tanya Kinan tak mengerti. "Ya bisa dong, ikatan batin antara ibu dan anak itu kuat. Jadi apa yang kamu rasain, anak kamu juga ikut ngerasain." "Tuh dengerin apa kata Ibuk." sahut Tiara sambil memakan sate telur puyuh, masih sambil berdiri. "Iya Ibu Tiara Herlinda yang bawel." balas Kinan lalu merebut piring dari tangan sahabatnya itu. "Ehh, duduk dulu kalau mau makan." Ibu Asnah menahan tangan Kinan yang baru akan memakan sate telur puyuh seperti Tiara. "Mau duduk di mana, Mbak? Nih minumannya udah jadi." tanya Mira yang sudah selesai membuat minuman pesanan Kinan dan Tiara. Tiara langsung melepas sendalnya dan melangkah menginjak tikar yang digelar di trotoar jalan. "Di sini aja ya, Nan." "Iya terserah kamu, yang penting bisa makan kan." Tiara hanya nyengir mendengar penuturan dari Kinan. "Itu Abah dateng." ucap Mira saat ayahnya sedang memarkirkan sepeda motornya. Pria tua itu tersenyum saat melihat Kinan ada di warungnya. "Kamu udah lama, Nan? Sama siapa ke sini?" tanya beliau sambil memberikan tangannya yang akan disalami oleh Kinan. "Baru aja, Bah. Sama Tiara, tuh." jawab Kinan setelah mencium punggung telapak tangan pria tua itu. Ia lalu menunjuk Tiara yang sedang memainkan ponselnya sambil tetap makan sate telur puyuh. "Ya udah, duduk dulu biar Abah bikinin kamu nasi goreng. Kamu udah laper kan?" "Hehe, Abah tahu aja." "Tahu dong, buat kamu Abah akan buatin yang spesial." "Makasih ya, Bah. Kinan nunggu banget." "Teh kamu udah dingin lho, Nan." teriak Tiara tanpa menoleh. "Iya-iya bawel." Tiara berdecak kesal. "Kamu udah dua kali ngatain aku bawel." "Emang kamu bawel kok." tukas Kinan sambil duduk di samping Tiara. "Tuh kan tiga kali." Kinan menjulurkan lidahnya sebelum memakan sate usus yang tadi juga diambil Tiara. "Tante kamu bawel lho, Dek. Nanti kalau kamu udah gede, yang sabar ya." Tindakan Kinan yang mengusap-usap perutnya dan seolah sedang berbicara dengan anaknya itu membuat Tiara tersenyum senang. Akhirnya. "Iya Tantemu emang bawel, tapi Mamamu itu suka baperan." balas Tiara tak mau kalah. Baru Kinan ingin membalas, keduanya sontak mengangkat lengan untuk menutupi mata mereka masing-masing dari sinar lampu mobil yang akan parkir tepat di samping mereka duduk. "Tuh orang nggak sopan banget sih. Mentang-mentang punya mobil." gerutu Tiara. "Siapa tahu dia juga mau beli nasi goreng di sini." "Ya kan parkirnya bisa lurus di pinggir jalan, nggak usah miring gitu." kekeuh Tiara. "Keluarnya ntar susah, Ra. Sebentar lagi ini nanti pasti penuh. Kayak nggak tahu larisnya nasi gorengnya Abah gimana aja kamu ini." "Iya juga sih." "Mbak, boleh duduk di sini, ya." ucap seorang lelaki yang tadi keluar dari mobil yang baru parkir itu. Modelnya orang kantoran yang baru pulang kerja. Kemeja kusut, dasi sudah hilang, tapi muka masih kece. "Duduk, duduk aja, Mas. Meja sama tikernya bukan punya saya kok." sahut Tiara judes. "Ra jangan gitu dong." bisik Kinan sambil sedikit memelototi sahabatnya itu. "Silakan, itu masih kosong." balas Kinan ramah. "Makasih, Mbak. Ngomong-ngomong temennya abis makan cacing, ya." Tiara langsung melotot mendengar ucapan pria itu. "Eh." "Ya siapa tau masih nyangkut di tenggorokan." "Mas, ngomongnya ...." "Bang Dean!" pekik Mira saat ia mengantarkan pesanan Tiara. "Silakan, Mbak." "Abang pesen minum dulu ya, Mir. Masih nunggu yang lain nih." ujar pria yang duduk di depan Tiara itu. Mira mengangguk paham. "Kayak biasa kan bang?" "Iya dong, kamu makin gede makin pinter deh." Dean lalu mengambil sate usus dari piring Tiara dengan asal. Mira terbahak. "Nggak nyambung, Bang. Udah ah, tunggu sebentar ya." Setelah menyepol rambut panjangnya, Tiara berucap lantang. "Mas, itu punya saya deh kayaknya." Dean berhenti mengunyah setelah telinganya mendengar suara protes dari Tiara. Ibu jari kanannya juga berhenti mengetik di layar ponselnya. "Belum dibayar kan, Mbak." jawabnya santai lalu kembali mengunyah dengan nikmat. Tiara mengepalkan tangannya tanda bahwa gadis itu tengah dirundung emosi yang tinggi. "Udah Ra, nanti aku ambilin lagi." tutur Kinan menengahi. "Nih Bang minumannya." Mira sudah kembali dan menyerahkan segelas es jeruk kepada Dean. Ia lalu beralih pada Kinan yang kedua matanya sudah berbinar melihat sepiring nasi goreng yang masih mengepul. "Kamu mau ngerjain Mbak ya, Dek." kata Kinan karena Mira tak kunjung memberikan nasi gorengnya. "Hehehe, maaf Mbak. Nih, nasi goreng spesial buat dedek biar cepet gede terus cepet lahir, terus ntar main sama Kak Mira deh." "Tante aja gaya pake kakak-kakak segala." Kinan menyambut nasi gorengnya dengan air liur yang hampir menetes, tak ia perdulikan perdebatan kecil antara Mira dan Tiara. "Mira kan masih bocah Mbak, nggak kayak Mbak Rara yang sangat pantas dipanggil Tante." Juluran lidah menjadi akhir dari kalimat Mira. Tiara merengut. "Duh yang mau masuk SMA, tapi masih bocah." "Hahaha, udah ah Mbak. Mira mau bikin minum lagi." ucapnya saat beberapa pelanggan datang lagi ke warung. "Mbak Kinan, selamat makan." Kinan mengacungkan jempolnya tanpa bersuara karena mulutnya masih penuh dengan nasi. x Dean menelengkan kepalanya saat dua buah mobil ikut terparkir di samping mobilnya. Lalu ia kembali mengambil sate dari piring Tiara seperti sebelumnya, setelah mengetahui bahwa dua mobil itu milik sahabatnya. "Hah, butuh perjuangan banget gue bisa nyampe disini." Seorang pria yang penampilannya seperti Dean mendaratkan bokongnya disamping Dean. Tak lama, tangan kanannya juga meraih satu tusuk sate dari piring Tiara. Plak. Sate usus yang baru akan masuk ke mulut Raka terlempar sampai di permukaan meja karena tangannya dipukul oleh Tiara. "Mbak, apa-apaan sih?" "Itu punya saya. Heran ya, dua-duanya sama aja. Kalau mau makan itu ambil sendiri sono." repet Tiara yang kali ini tidak ditengahi oleh Kinan karena ibu hamil itu sedang menikmati nasi gorengnya. "Ya mana gue tahu kalau ini punya situ. Makanya kekepin dong biar nggak gue ambil." balas Raka lalu mengambil sate yang baru dan membiarkan sate yang jatuh tadi tetap di atas meja. "Lo berdua emang minta gue bacok." Dean bicara lagi saat satu sahabatnya sudah datang dan duduk di sebelah Raka. Seorang pria yang memakai kaos dan celana pendek selutut, tak seperti dirinya dan Raka. "Macet sialan." sahut Raka tak terima, bukankah saat ia datang tadi ia sudah mengikrarkan perjuangannya hingga bisa sampai di sini. Kinan yang mendengar ucapan dua pria itu hanya bisa mengelus perutnya sambil membatin. Na'udzubillahi min dzalik. "Mir." panggil Raka saat Mira lewat di samping mereka duduk. "Iya, Bang." "Bikinin es teh ya, yang manis kayak kamu." Mira terbahak lagi. "Sip deh, kalo Bang Arya mau minum apa?" Kunyahan gigi Kinan terhenti. Nama Arya di dunia ini banyak Nan, batinnya membentengi diri. "Teh anget aja, Dek. Lagi nggak enak badan nih." Sendok ditangannya jatuh seketika, Kinan lalu mendongakkan kepalanya. Nama Arya memang banyak, tapi suara itu... tidak mungkin milik orang lain. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN