Bab 9

1376 Kata
-AYU- “Aku gak tahu kalau kamu juga mendaftar di Universitas yang sama, Ti! Kenapa kamu gak bilang sih?” tanyaku, saat berjalan menyusuri kampus, selepas menyerahkan form daftar ulang di gedung pusat administerasi. “Kan biar kejutan, aku juga gak nyangka sih bakal masuk ujian saringan, padahal aku gak ada persiapan sama sekali,” jawab Tias. “Jadi intinya, kamu sekarang udah gak galau lagi, kan?” tanyaku. Jika teringat keluhannya belakangan ini, aku sedikit lega karena Tias akhirnya bisa menentukan pilihan, apakah akan melanjutkan ke perguruan tinggi atau melamar pekerjaan. “Ya, untuk sekarang sih pilihan ini kayaknya yang paling kepikir, tapi gak tahu nanti,” jawabnya. “Eh, ngomong-ngomong, waktu itu kamu sempet ketemu Erfan ya?” tiba-tiba Tias bertanya. “Erfan?” tanyaku heran, aku kembali mengingat-ingat kapan terakhir kali aku bertemu Erfan. “Kalau maksud kamu bulan lalu, memang iya, tapi setelah itu aku gak ketemu-ketemu dia lagi, emang kenapa?” jawabku. Sambil mengingat-ingat pertemuanku dengan Erfan saat selesai melaksanaakan tes ujian saringan masuk perguruan tinggi. “Ya nggak apa-apa, soalnya beberapa hari lalu aku gak sengaja ketemu Erfan, eh sepanjang obrolan yang doimongim kamu semua. Intinya, dia bilang pernah ketemu kamu setelah lulus dari sekolah,” jawabnya. Aku menghela nafas panjang. Aku gak mau terlalu percaya diri, bahwa jangan-jangan mantan ketua kelas itu suka padaku, tapi tiba-tiba aku merasa terusik. Sudahlah, aku tidak mau memikirkan hal-hal semacam itu sekarang ini, perasaanku saja masih porakporanda semenjak Satya menghilang. Tapi, tiba-tiba aku jad penasaran, apa Erfan berhasil masuk ke universitas negeri ternama di Depok itu. Saat pulang bersama selepas tes itu, ia pernah mengatakan, jika ia memilih jurusan ilmu komunikasi dan hukum di universitas tersebut, padahal kedua jurusan itu kan sama-sama tinggi peminatnya. Orang bilang pilihan tersebut adalah pilihan “nekat”, tapi bisa jadi Erfan memang sudah menyadari kemampuannya. “Eh, Ti, Si Erfan bilang gak, dia kuliah di mana?” akhirnya aku tanyakan juga karena penasaran. “Ya di mana lagi kalau bukan di kampus bergengsi yang jas almamaternya kuning itu,” jawabnya santai. “Wah? Serius?” “Apa sih yang gak bisa buat dia? Emangnya kita, udah syukur bisa diterima di universitas negeri nomor ke sekian, daripada nggak sama sekali,” sambungnya. “Kamu kebiasaan ah, mau banggain kampus orang lain juga, buat apa? Gak ada gunanya, tetep aja kita cari ilmunya di sini. Kamu gak tahu, lulusan kampus kita ini, bisa kasih kita banyak pahala lho, bahkan sampai kita ke liang lahat, ” enatah mengapa komentarku berasa sangat berat kali ini. "Hah? kamu mau ngomong apa sih?" respon Tias dengan mimik wajah tak mengerti. "Kita kan bakal jadi guru, guru itu tugasnya mengajar, dan salah satu amalan yang akan terus mengalir sampai kita gak ada itu salah satunya adalah 'ilmu yang bermanfaat'. Nah, dengan kata lain, pekerjaan guru sama dengan pahala," jawabku mencoba mencocok-cocokan. Tapi memang itu yang sering diucapkan orangtuaku setiap kali padaku. "Ah, terserah..." jawabnya malas. Ternyata dugaanku salah soal Tias, sepertinya dia masuk universitas ini bukan benar-benar karena dia memang menginginkannya dan bangga dengannya. Jangan-jangan dia begitu hanya demi namanya muncul di sederet daftar nama anak yang diterima di perguruan tinggi negeri. “Iya, iya, Bu Guru!” Tias meledek, mungkin melihat ekspresi wajahku yang seperti tak puas. Sebetulnya aku sudah menduga Erfan pasti lolos ujian saringan masuk perguruan tinggi negeri ini, karena logikanya jika aku dan Tias saja bisa lolos, mana mungkin dia yang bintang pelajar, yang nilai ujian akhir sekolahnya paling tinggi itu tidak bisa menaklukan ribuan pesaing untuk memperebutkan bangku kelas jurusan yang ia pilih. Ya, terkecuali bangku di pinggir jendela, ke dua dari depan, sejajar meja guru, tentu saja itu lain soal. Aku tersenyum mengingat itu. Angin berhembus menerbangkan daun-daun kering yang jatuh di bawah kaki kami. Aku dan Tias, masih berjalan menyusuri trotoar di dalam area kampus kami yang besar. Aku berharap suatu hari nanti, Satya bisa melihat ini semua dengan bangga, bahwa aku pun berhasil meraih cita-citaku. Tak sia-sia kami “putus” demi berkonsenterasi meraih semua yang kami mimpikan, meski sedikit pedih rasanya, semoga aku masih bisa menahannya. -SATYA- “Satya gak pulang, Mak!!!” seruku mengabarkan lewat telefon, dengan tangis haru yang rasanya sulit ditahan. Tampak peserta-peserta lain pun sedang sibuk bertelefon dengan keluarga masing-masing, beberapa orang yang keluarganya tinggal di sekitar Magelang, bahkan datang untuk mengucapkan selamat. Kami sudah dapat hasil pengumuman Pantukhir. Dari lima ribu pelamar calon taruna Akmil dan Akpol tahun ini, hanya sekitar 700 orang yang lolos, dan 125 orang diantaranya adalah calon taruna ALL. Namaku ada dalam daftar orang-orang tersebut. Sulit dipercaya, tapi ini nyata. Aku sudah bersiap menagih janji Kak Kirana. Sepanci ayam bakar buatannya pasti sudah menanti, sepeti yang dikatakannya kemarin di telefon. Sayangnya setelah ini kupikir aku akan sangat sibuk. Karena statusku yang sudah resmi menjadi taruna AAL. Jadi ada beberapa hal yang harus aku urus, salah satunya menyiapkan kepindahanku ke asrama. Tapi aku akan menyempatkan diri untuk pulang sebentar ke Jakarta menjenguk keluargaku. Tahun ini aku masih di Magelang, barulah tahun depan dan beberapa tahun selanjutnya aku akan menetap di Surabaya, hingga di lantik mejadi perwira. Saat membayangkan itu, pipiku tiba-tiba memerah, karena geli. Tidak terbayangkan betapa bangganya mamak, bapak, dan Kak Kirana nanti saat menyaksikan aku di “wisuda” langsung oleh Presiden RI di Istana Negara. -MAMAK- “Alhamdulillah, Satya lolos seleksi, Pak!” teriakku. Kemudian buru-buru menghampiri bapak yang baru saja tiba di rumah selepas bekerja lembur di dinas pertanahan dan tata kota. “Serius, Mak? Jangan bercanda!” jawabnya, tak sadar ia sampai melepas tas tenteng yang dipegangnya ke lantai, karena terlalu terkejut. “Iya, Pak, masa bercanda?” “Alhamdulillah!!!” Aku bisa mendengar dengan jelas teriakan syukur suamiku lagi, setelah sekian lama tidak pernah mendengar yang serupa itu, terakhir kali saat aku mengabarinya bahwa aku hamil anak pertama kami, belasan tahun silam. Seketika tubuhnya langsung tersungkur ke lantai dan bersujud beberapa menit, untuk mengekspresikan rasa bahagianya yang tak terkira kepada Yang Maha Kurasa. Setelah memberitahukan kabar itu pada suamiku, tak lama anak sulungku pulang dari kampus, keningnya terlihat sedikit berkerut melihat tingkah laku kami, meski tak lama akhirnya ia sadar apa yang sedang terjadi. “Si Samson lolos Taruna AAL, Mak?” tanyanya girang, lalu memelukku dengan erat dan tanpa sadar menggoyang-goyangkan tubuhku. “Iya, Neng!” jawabku kembali merasakan kebahagian itu. Setelah momen haru itu, kami kembali melakukan aktivitas kami seperti biasa. Aku bergegas ke dapur untuk menghangatkan masakan. Sementara suamiku dan Kirana pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri sisa kesibukan seharian. Dari dapur aku dapat mendengar sayup-sayup suara Kirana sedang berbicara lewat telepon. Kurasa, ia pasti langsung menghubungi adiknya setelah mengetahui kabar itu. Aku termenung sejenak, sambil terus membolak-balik pepes ikan mas bakar di atas pemanggangan, yang cicilannya masih 6 bulan lagi. Sungguh sebuah kabar gembira, dan tak henti-hentinya aku mengucapkan rasa syukur di dalam hati. Mimpi anakku sejak dulu itu, akhirnya sungguh menjadi kenyataan. Selain mengabdi pada keluarga, kini tugasnya bertambah, yakni mengabdi pada Nusa Bangsa. Sungguh sebuah kebanggaan yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata. “Mak,” ucap Kirana mengagetkanku. Tiba-tiba anak itu sudah berdiri di ambang pintu. “Iya, Nak. Sudah lapar? Ini pepes bakarnya sebentar lagi matang,” ucapku. Sambil menyusut sedikit air mata yang tiba-tiba keluar di kedua ujung mata. “Satya bilang besok dia pulang, mau merapikan barang-barang, sekalian kasih unjuk seragam tarunanya!” ucap Kirana. “Anak itu, Mamak betulan gak menyangka,” komentarku, sambil memindahkan beberapa buah pedes bakar yang sudah aku panaskan ke dalam piring saja. “Iya, Mak, dia yang lolos seleksi, kok aku yang ngerasa seneng banget, berasa aku sendiri yang ikut,” Kirana berkata dengan wajah yang berbinar. “Apa boleh kita anter ke Magelang nanti?” tanyaku pelan. Permintaanku masih sama seperti dulu saat Satya harus ke Malang melanjutkan proses seleksi. “Boleh, Mak!” jawab Kirana tersenyum. “Apa barusan, Neng? Kita boleh antar? Gak salah dengar kan?” aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar. “Iya, Mak!” jawab Kirana menegaskan. Setelah mendapatkan kabar jika keluarga boleh mengantar, aku segera mendiskusikan ini dengan suamiku. Ia memutuskan menghubungi salah satu kerabat kami di daerah Pancoran untuk meminjam mobilnya. Tanpa diduga kerabat kami itu langsung setuju, apa lagi ketika tahu bahwa mobil itu akan digunakan untuk mengantar keponakannya yang seorang taruna Akmil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN