Bab 6

1663 Kata
Langit gelap masih menyelimuti malam yang dingin, dengan sepasang pengantin baru yang tidur terpisah. Samiera mengerjapkan matanya ketika mendengar lantunan merdu adzan subuh. Ia menggerakkan sedikit tubuhnya yang terasa sakit karena semalaman ini tidur di sofa, tapi ada yang berbeda saat ia membuka mata. Kemana handuk yang semalam ia gunakan sebagai pengganti selimut? Tangannya meraih ujung selimut tebal yang rupanya sudah menggantikan peran handuk itu. Pantas saja semalam ia tidak merasakan kedinginan, batinnya. Samiera bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah tempat tidur, membawa selimut yang semalam menutupi tubuhnya. Dilihatnya Huda tertidur dalam keadaan meringkuk seperti bayi dalam perut. Wajahnya begitu tenang dan damai, membuat Samiera ingin mendekat untuk memandangnya lebih dalam. Rambut kecoklatannya menutupi sebagian kening dan wajah tampan itu. Jika dilihat seperti ini, wajah Huda memang tidak jauh berbeda dengan Rishyad. Segera ia menggelengkan kepalanya dengan cepat ketika menyadari ada yang salah dalam hati dan pikirannya. Nama yang terlarang untuk ia sebut dan pikirkan, karena ia tahu Huda akan menggila jika mengetahuinya. Perlahan diangkatnya selimut itu ke tempat tidur, menutupi tubuh Huda yang masih meringkuk karena menahan suhu dingin kamar dan juga embun pagi yang menempel di kaca jendela hotel. Ia melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Huda yang tenang dalam tidurnya. Samiera memutuskan untuk membersihkan diri dan memulai hari dengan ibadah paginya. Rasanya ingin sekali ia membangunkan Huda, tapi perasaan takut itu begitu menyiksa batinnya. Tidak sekalipun Huda pernah berkata manis padanya, bahkan di depan orang lain sekalipun. Tubuh Samiera telah menghilang di balik pintu kamar mandi, menyisakan Huda yang kini meringkuk di dalam selimut tebal. “Kamu terlalu baik dan juga bodoh, Samiera. Dan aku adalah salah satu orang bodoh yang terpaku padamu,” gumam Huda setelah memastikan Samiera berada di dalam kamar mandi. Sejujurnya Huda tadi malam bangun untuk pergi ke kamar mandi, menuntaskan panggilan alamnya. Namun matanya terpaku pada sosok mungil yang sedang meringkuk kedinginan di balik handuk yang digunakan sebagai pengganti selimut. Ia kembali ke tempat tidur dan mengambil selimut bersamanya. Berjalan ke arah Samiera yang telah tertidur lelap, tangannya menggantikan handuk itu dengan selimut tebal yang pasti lebih hangat. Matanya menatap sendu pada wajah teduh Samiera yang tenang dalam tidurnya.  “Seandainya saja kamu lebih dulu bertemu denganku, aku pastikan hidupmu akan bahagia, Samiera,”  lirihnya merapikan selimut dan anak rambut yang menutupi wajah Samiera. Sesekali ditepuknya punggung Samiera dengan lembut ketika menyadari wanita itu tidak tenang dalam tidurnya. Bahkan sesekali ia bisa mendengar wanita itu menggumam yang tidak jelas. Sungguh ia sudah terpenjara pada pesona seorang Amara Permata Adhiguna yang kini telah menjadi Samiera Permata Adhiguna, istrinya. “Aku mencintaimu, Samiera. Tapi kau mencintai Om Rishyad,” lirihnya lagi sembari mengurai rambut kecoklatannya dengan kasar. Lamunan Huda buyar ketika mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka, menampilkan wajah lembut wanita yang telah segar. Tubuhnya dibalut gaun berwarna gading yang pas ditubuh mungilnya, rambutnya yang dulu berpotongan long bob kini telah panjang. Huda memandang wanita yang kini berjalan ke arahnya dengan tatapan terpesona, karena semalam ia tidak terlalu memperhatikan penampilan Samiera. Ia sudah cukup kesal melihat tatapan terluka sepasang pria dan wanita yang pernah menjalin cinta itu. “Mas sudah bangun?” tanya Samiera berjalan semakin dekat ke arah Huda. “Sudah,” jawabnya acuh. “Sebaiknya Mas mandi, lalu kita solat subuh berjamaah,” ajak Samiera duduk di tepi ranjang. “Kali ini saja,” ucap Huda menyambar handuk di tangan Samiera, membuat wanita itu tertegun dengan tingkahnya. “Kenapa? Kau tidak mau aku menggunakan handukmu? Bukankah aku suamimu, Samiera?” tanya Huda kembali dengan nada dingin menusuk. “Bukan begitu, Mas. Hanya saja aku---“ “Jangan dilanjutkan kalau kamu hanya akan membuat mood ku buruk seharian ini,” Huda melangkah cepat kearah kamar mandi, meninggalkan Samiera dalam keadaan bingung. Setelah membersihkan diri, Huda segera berpakaian untuk menyusul Samiera yang menunggunya melakukan solat subuh berjamaah. Jujur saja perasaannya menghangat saat mendengar istrinya mengajak untuk melakukan solat berjamaah. Tunggu dulu? Istri? Sejak kapan Huda benar-benar menganggap Samiera sebagai istrinya? Cukup semalam saja ia hilang kendali untuk memberikan selimut pada Samiera. Pagi ini keluarga Adnan, Kelly dan Adhiguna sedang berkumpul di restoran hotel untuk sarapan pagi. Kalau ada yang bertanya di mana keluarga Amiera, ibu dari Samiera jawabannya adalah tidak ada. Karena Amiera adalah anak yang dibesarkan di panti asuhan, namun karena berprestasi ia mendapatkan beasiswa di Australia. Sehingga ia bisa bertemu dengan Hermawan Adhiguna yang merubah cerita hidupnya. “Good morning, Kak Samiera,” sapa Aldebaran dan Alastair bersamaan ketika melihat Samiera dan Huda berjalan mendekati meja makan. “Good morning, handsome,” balas Samiera ramah pada kedua anak kembar Rishyad yang sudah beberapa kali ditemuinya. “Bagus, kalian tidak menyapa Kak Huda ya?” protes Huda dengan nada bercanda sembari menguyar rambut kedua adik sepupunya yang sudah kelas VII SMP. “Kak Huda galak kan, Asta?” tanya Aldebaran pada kembarannya yang mengangguk. “Kalian berdua ini,” Huda mendengus pelan sembari duduk di samping Samiera dan tepat berhadapan dengan Rishyad yang nampak fokus memperhatikan Samiera. “Kak Samiera,” panggil Alastair yang telah habis memakan roti dalam mulutnya. “Yaa...” jawab Samiera dengan tatapan hangat pada putra bungsu Rishyad, yang membuat hati Huda kembali panas. Sekali lagi ia berpikir bahwa Samiera sangat dekat dengan sepupunya karena kelakuan b***t kedua orang dewasa itu. “Kenapa Kakak mau menikah dengan Kak Huda? Kenapa tidak mau menunggu sampai Asta besar saja?” pertanyaan Alastair sukses membuat Huda dan Rishyad terbatuk bersamaan. Namun tidak dengan orang-orang dewasa lainnnya yang hanya tersenyum, termasuk Samiera yang sudah beberapa kali mendengar niat Alastair untuk menikahinya kalau sudah dewasa nanti. “Hadeh... Lo sekolah aja yang bener bocah!” sentak Assyifa yang gemas dengan tingkah sok dewasa adik sepupunya itu. “Kak Assyifa protes aja,” keluhnya. “Fakta! Gantengan Kak Huda lah daripada kamu, Asta,” ejek Haura menimpali Assyifa yang sibuk mengejek kedua adik kembarnya. “Daddy... Pokoknya kita maunya punya istri seperti Kak Samiera,” ucap Aldebaran dan Alastair bersamaan. Sekali lagi Huda dan Rishyad terbatuk bersamaan, bahkan Huda telah menggenggam keras tangan Samiera di bawah meja. Ia benarbenar tidak suka mendengar miliknya diinginkan oleh orang lain. Samiera hanyalah miliknya, istri sahnya dan sampai kapanpun ia tidak akan melepaskannya. Walaupun ia selalu mengucapkan kata-kata pedas pada wanita itu. “Sudah. Hentikan, kita makan saja,” suara bariton Christian menginterupsi keributan kecil yang dibuat oleh kedua cucu kembarnya. Sekarang ia mengerti apa yang membuat putra bungsunya tergila-gila dengan sosok Samiera. Wanita itu selain cerdas, ia juga sangat pandai bergaul dan mengambil hati orang lain. Tapi sekali lagi keputusan Rishyad untuk menjalin hubungan terlarang dengan wanita yang kini jadi cucu menantunya itu salah. Tidak boleh ada perselingkuhan ataupun perceraian dalam keluarga Kelly. Itu yang selalu ia junjung tinggi, walau pada akhirnya Rishyad memutuskan untuk bercerai dengan Nania. Makan pagi telah selesai dan menyisakan suasana canggung bagi Samiera yang tangannya telah diremas keras oleh Huda di bawah meja. Sedari tadi ia menyadari tatapan terluka Rishyad padanya. Tapi ia telah memilih untuk melanjutkan hidupnya yang baru dengan Huda, suami yang belum dicintainya. Suami yang selalu mengatakan kata-kata tajam dan pedas padanya, walau ia tahu sebenarnya Huda memiliki hati yang baik. Mungkin memang benar jika semua ini salahnya, sehingga Huda sangat sulit untuk menerima bahkan memaafkan kesalahannya. Cerita masa lalunya bukanlah sesuatu yang pantas untuk dikenang atau diceritakan. Sudah cukup ia tinggalkan saat pertama kali melangkah maju bersama Huda. “Kami pamit ke kamar dulu, ada yang harus kami lanjutkan,” pamit Huda menggenggam tangan Samiera dengan kuat. Ia bisa melihat dengan jelas tatapan terluka dari mata Rishyad mengiringi langkah Huda dan Samiera menjauh dari meja makan. Bahkan ketiga keluarga itu pun menyadari dengan jelas wajah Rishyad memutih seperti habis dicabut nyawanya. “Kondisikan dirimu,” ucap Christian pada Rishyad yang segera menundukkan kepala. Di dalam kamar Huda sudah menyentak tangan Samiera, menghempaskan tubuh mungil itu ke ranjang. Matanya menatap Samiera nyalang, hatinya panas melihat pemandangan di restoran tadi. Adik-adik sepupunya begitu dekat dengan Samiera dan lagi omnya terus memandang terluka ke arahnya juga Samiera. Sebegitu cintanya kah Rishyad pada istrinya?  “Mas mau apa?” tanya Samiera beringsut mundur saat melihat Huda melepas satu per satu kancing kemejanya. “Kau takut?” Huda melemparkan kemejanya ke sembarang arah. “Bukan begitu, Mas. Hanya saja rasanya ini salah,” lirih Samiera karena Huda telah  mengungkung tubuh mungilnya di antara d**a telanjang suaminya. “Salah? Aku suamimu,” desis Huda menatap manik coklat Samiera. “Tapi, Mas---“ lirih Samiera menyadari bahwa Huda akan menyakitinya dengan memaksakan diri seperti ini, terlebih lagi suaminya itu terlihat marah sejak di restoran tadi. “Kamu menyerahkan hakku atau aku paksa mengambil hakku. Pilih Samiera!” Huda melepaskan jilbab yang sedari tadi menutupi kepala istrinya. Huda mengecup puncak kepala itu dengan lembut, menyalurkan perasaan tulusnya di sana. Sungguh ia tidak ingin merelakan Samiera untuk lelaki manapun itu, karena Samiera adalah istrinya dan hanya miliknya seorang. Tidak akan pernah ada peluang untuk Rishyad kembali masuk dalam kehidupan mereka. “Ku serahkan dan ambilah dengan cara apapun yang Mas sukai,” ucap Samiera pasrah disela isaknya. Ya! Ia menangis, tidak pernah dibayangkan olehnya jika Huda akan meminta haknya dengan cara seperti ini. Hal ini terlalu kasar untuknya, karena ia yakin bisa menyerahkan hak Huda jika lelak itu memintanya dengan lembut. Tapi Huda tetaplah Huda. Huda mengambil haknya dengan cara yang menyakitkan bagi Samiera, mengabaikan isakan terluka dari istrinya. Sungguh ia merasa bahwa dirinya tidak berharga untuk lelaki yang telah menikahinya kemarin. Huda benar-benar tidak bisa berdamai dengan masa lalunya, bahkan ia memperlakukan Samiera tidak lebih dari pemuas nafsu semata. Sulit baginya untuk menikmati semua perlakuan Huda padanya. Walau nafsu pun telah mengaliri darahnya, tapi rasa sakit dan terluka itu lebih mendominasi. “Maafkan aku,” ucap Huda mengecup bibir Samiera yang masih bergetar karena tangis dan pelepasan yang mereka raih. “Lupakan. Jika itu yang membuat Mas bahagia,” lirih Samiera dalam pelukan Huda yang sekali lagi terasa menyakitkan untuknya. Kau harus mengandung anakku, Samiera... Bagaimanapun caranya. Gumam Huda dalam hati sebelum memejamkan matanya karena langit sudah semakin gelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN