16. New Friend

2002 Kata
"Tidak seru." George menggeleng cepat dan kembali berkata, "Ceritanya tak cukup menakutkan, malah terkesan dibuat-buat." Sean hampir saja memarahi George, jika saja dia tak ingat tempat, juga fakta di mana George merupakan anak seorang pengusaha yang cukup berpengaruh di kompleks tersebut. "Baiklah, sampai di sini saja aku bercerita." Sean mencoba tersenyum manis, meski dalam hati dia merasa sedikit kesal. Padahal dia sudah bersusah payah mengingat-ingat cerita bagus yang bisa ia ceritakan kepada anak kecil di depannya. Namun ternyata semua usahanya itu berakhir sia-sia. "Sebaiknya aku pergi." George memiringkan kepala, ekspresi penuh tanya pun terlihat. "Kemana?" tanyanya penasaran. Sean tersenyum dan memperlihatkan tas pinggangnya. "Aku harus pergi mengantar s**u lagi," jawabnya. Sean lantas berdiri, menepuk-nepuk pakaiannya sebentar, lalu beranjak menghampiri sepeda tua miliknya. Hanya itu satu-satunya alat transportasi yang ia miliki. "Dah, George. Aku pergi kerja dulu." Sean sengaja melambaikan tangan ke arah George, berharap anak itu berkenan membalas lambaian tangannya. Namun, George tak berniat melakukannya. Ia justru kembali fokus dengan rubiknya yang sempat ia abaikan. Sean menghela napas panjang dan segera mengenakan helm keselamatan. Tentu dia tak ingin terbentur saat jatuh dari sepeda, bukan? George melirik ke arah Sean yang sudah naik ke atas sepeda dan menaruh bokongnya di kursi empuk kuda besi tua itu. Dia bukan tipe orang yang mudah akrab dengan seseorang. Oleh karena itu, dia pun sengaja tak membalas lambaian tangan pemuda bernama Sean tadi kepadanya. Sean mulai beranjak, pergi dari halaman rumah George sembari membunyikan bel kecil yang terletak di kemudi sepeda. Punggungnya basah karena rembesan keringat yang keluar dari pori-pori kulit, dan hal itu sedikit menyita perhatian George. Namun sama seperti sebelumnya, George akan tetap bersikap asing seperti ini kepada semua orang, bahkan kepada Sean sekalipun. Meskipun dia tahu jika Sean adalah seorang pemuda tanggung yang ramah juga berhati baik. Well, apa yang mungkin terlintas di benak seorang anak berusia 5 tahun? Jelas hanya dikelilingi oleh mainan baguslah jawabannya. *** Keesokan harinya, Sean datang kembali. Kali ini, bukan sekadar singgah, tetapi dia datang untuk mengantar pesanan ke rumah keluarga Owens. George sengaja meminta kepada sang ibu—Joly, untuk membelikannya s**u di setiap pagi. Dan yang harus mengantar s**u itu adalah seorang pemuda berkulit hitam dengan rambut yang sedikit ikal. Matanya berwarna cokelat tua. Itu Sean. "George, kau suka minum s**u?" Sean bertanya ketika memberikan keranjang berisi beberapa buah botol s**u kepada George. "Ini, susumu. Rajin-rajinlah meminumnya setiap pagi, atau kapan saja kau mau." "Kalsium bagus untuk pertumbuhanmu." George mengambil keranjang susunya dengan hati-hati, dan untuk pertanyaan Sean, ia hanya menjawab dengan gelengan kepala. "Kau tak suka?" tanya Sean. George mengangguk sedikit. "Kenapa tak suka?" Sean bingung. Lalu, untuk apa keluarga anak itu membelikannya s**u? "Aku hanya tak biasa saja meminumnya." George menaruh keranjang s**u di samping pintu dan memberikan uang yang sudah dititipkan oleh ibunya kepada Sean. "Biasanya aku minum cokelat pilihan yang dibeli di Swiss." Sean tertawa kecil. Orang punya uang memang beda, pikirnya. "Kuharap kau suka meminum s**u setelah ini," ucapnya ramah. George mengangguk kecil. Lalu kemudian senyap. George tak ada lagi membalas setelah Sean berkata seperti itu dan Sean juga bingung harus berkata apa lagi kepada George. Keheningan pun terjadi di antara mereka. Sean sebenarnya sudah selesai bekerja, sebab rumah George adalah perhentian terakhirnya pagi itu. Dan dia bisa berlama-lama di sana, tanpa takut menganggu jadwal kerjanya hari itu. "Kau masuk saja dulu ke dalam, sarapan pagi yang enak pasti sudah menunggumu." Sean tersenyum kecil, ia tahu pasti makan bersama keluarga adalah suatu hal yang teramat menyenangkan bagi siapa saja. Karena dulu, dia hanya sempat beberapa kali makan pagi bersama kedua orang tuanya, sesaat sebelum mereka berdua meninggal dalam insiden kecelakaan pesawat. Tragis memang. Padahal mereka sudah punya waktu luang untuk menyenangkan Sean kecil, setelah banyak hari mereka lalui dengan bekerja, bekerja, dan bekerja. Namun, takdir ternyata berkehendak lain. Mereka berdua pergi, dan yang kembali hanyalah kabar jika keduanya telah kembali ke sisi tuhan. Orang tua Sean pergi untuk selama-lamanya dan tak akan pernah bisa kembali lagi. George menatap Sean yang mendadak diam seribu bahasa, di matanya terdapat pantulan kesedihan yang dalam. Jika itu adalah dirinya yang membisu, maka George dapat memakluminya. Sebab dia adalah anak kecil yang tak suka berbasa-basi. Namun, kali ini, Sean benar-benar lain. Padahal sebelumnya, pemuda itu masih tampak baik-baik saja. Apa dia lapar? "Hm? Kenapa, George?" Sean menunduk, menatap George yang sedang memandanginya. Anak itu menarik-narik ujung kemejanya, membuat Sean mau tak mau menatap siapa gerangan penyebabnya. "Kak Sean mau ikut masuk ke dalam?" Untuk pertama kalinya, George memanggil Sean dengan panggilan 'kak'. Anak itu ingin Sean juga masuk ke rumahnya dan makan pagi bersama-sama. Sean tergelak pelan. Merasa lucu karena ditawari makan oleh orang asing. Apalagi, anak itu hanyalah anak-anak berusia lima tahun. "Terima kasih, George. Mungkin lain kali." Sean tersenyum lalu berbalik badan. Bersiap meninggalkan halaman rumah George, jika saja tak ada suara yang menginterupsi. "Loh? Kamu teman George, bukan? Mau pergi kemana?" Sean dan George menoleh bersamaan. "Mama...." Gumam George pelan. Pemuda berkulit agak gelap tertawa pelan dan tersenyum manis setelahnya. "Ah, iya, saya teman George," jawabnya sedikit canggung. "Saya mau pulang ke rumah." Joly menggeleng perlahan. "Kenapa pergi sangat cepat? Ayo, masuk dulu. Kita sarapan sama-sama." "Ah, tidak!" Sean mengangkat tangan di depan d**a, memperlihatkan telapak tangannya kepada keluarga Owens—gestur menolak. "Saya tak bisa ikut sarapan...." "Jangan malu-malu. Ayo, masuklah ke dalam." George melangkah lambat dan meraih tangan Sean, sedikit menariknya agar pemuda itu dapat mengikuti. Joly masuk lebih dulu ke dalam, disusul oleh George dan Sean yang tampak kebingungan. Sebab, untuk pertama kalinya, ada orang kulit putih yang memperlakukan warga kulit hitam sepertinya dengan begitu baik. Sean tersenyum kecil. Perasaan haru membuncah di dalam dadanya. Dia merasa beruntung, karena bisa mengenal George. Anak kecil berusia lima tahun dengan kepribadian yang tak terduga. *** "Terima kasih makanannya." Sean tersenyum lebar, sebuah senyuman tulus yang ia berikan kepada keluarga baik hati yang telah menawarkannya sarapan pagi yang mengenyangkan. Saat itu, Sean berada di satu meja yang sama dengan keluarga Owens. Mereka semua sudah menyelesaikan makan pagi yang lezat buatan sang nyonya besar keluarga George dan sedang berbincang seru di meja makan. Erick mengelap mulutnya dengan serbet dan tertawa jumawa. "Sungguh, tak perlu berterima kasih! Teman George adalah bagian dari keluarga ini juga!" ucapnya dengan suara berat, tapi terdengar bijaksana. Kesannya begitu ramah, membuat Sean merasa dadanya penuh dengan kehangatan. "Apa kau tahu? George memesan s**u dan sengaja meminta kepada ibunya untuk mengatakan kepada bos di tempatmu bekerja, agar yang mengantarkan s**u ke sini adalah seseorang yang kemarin mengantarkan s**u ke rumah sebelah." Sean termenung, pantas saja atasannya mengubah jadwal kerjanya hari itu, dan memintanya bertukar tempat dengan Neta, yang seharusnya mengantar s**u pada hari ini. "Benarkah?" Sean bertanya. Kepala keluarga Owens itu mengangguk membenarkan. "Ya, padahal George kurang suka minum s**u, tapi berkat kakak pengantar s**u yang kemarin ia temui, dia jadi bersemangat saat menunggumu di depan pintu pagi tadi." Sean melirik George. Anak laki-laki itu sedang meminum s**u yang dibawakan olehnya. s**u sapi perah yang enak dan segar, dan George langsung menghabiskannya tanpa sisa. Sepertinya, anak itu akan jadi langganan tetap dari peternakan mereka mulai dari sekarang. George menatap Sean, dan pemuda itu membalas tatapannya. "Terima kasih, George." Dan Sean pun tersenyum lembut padanya. *** Siang harinya, George dan kedua orang tuanya pergi ke rumah sakit. Mereka akan memeriksa kondisi mental George. Mereka ingin tahu, apa yang terjadi kepada anak mereka pada hari itu. "Tidak ada yang salah dengan George. Dia anak yang sangat sehat, aktif, serta tumbuh kembangnya pun berjalan dengan sangat baik," ucap dokter yang memeriksa keadaan putra pasangan Owens. Setelah mendengar keluhan orang tua dari anak laki-laki yang sedang berdiri diam di pinggir ranjang pasien, ia pun melakukan pekerjaannya dengan cepat. "Dia tidak memiliki riwayat sakit keras sebelumnya, kan?" tanya sang dokter di sela-sela anamnesisnya. Orang tua George mengangguk. Mereka hanya khawatir jika anak laki-laki mereka menderita suatu penyakit mental yang serius. Dokter yang menangani setiap konsultasi dari orang-orang tua yang ingin mengetahui keadaan psikologis sang anak itu pun tersenyum, ia memiliki rambut pirang yang terlihat aneh di antara rambut-rambut putih dikarenakan usia, yang tampak mencolok di sisi kepala sebelah kiri. "Tapi, bagaimana dengan cerita saya sebelumnya, Dok? Tentang anak kami yang mem..." Joly terdiam sesaat seraya melirik George, "bunuh binatang dan menjadikan bagian tubuh binatang itu seperti halnya mainan baginya." Dengan rasa ingin tahu, George pun mendatangi sang dokter dan berdiri diam memperhatikannya dengan senyum polos. Dokter berusia 60 tahunan itu tersenyum, lalu mengelus puncak kepala anak kecil yang berdiri di sampingnya dengan penuh kelembutan. "Cita-citamu apa, George?" Pandangan mata anak itu seketika berbinar cerah. "Dokter! Aku ingin menjadi seorang dokter!" Dokter Albert tertawa, merasa senang dengan jawaban lugu dari anak laki-laki itu, ia pun langsung membawa George ke dalam pelukannya. "Kau sudah pintar menyebut huruf r rupanya! Dan kau ingin menjadi dokter sama sepertiku? Anak pintar! Aku akan mendukungmu, Nak." Dokter Albert melepas pelukannya dari George. "Anak kalian ini baik-baik saja, baik fisik maupun mentalnya. Dia melakukan hal itu, mungkin karena kalian berdua tidak pernah memberitahukannya cara menghargai nyawa makhluk hidup yang ada di sekitarnya." "Jadi dia baik-baik saja?" Joly menatap putranya dengan mata yang basah. Tentu saja ia khawatir, ia takut anak kesayangannya menderita penyakit mental yang serius. Belum lagi laba-laba yang ia jadikan mainan dengan mudahnya. Dokter itu pun mengangguk mengiyakan. "Ya, dia baik-baik saja." Spontan saja, orang tua George pun langsung memeluknya begitu anak berusia lima tahun itu mendekat. Joly terlihat menitikkan air mata haru. "Syukurlah kau baik-baik saja, anakku." Tak berselang lama setelah itu, keluarga kecil Owens lalu berpamitan dengan sang dokter yang telah membantu mereka, sebelum ketiganya benar-benar pergi meninggalkan ruangan, Dokter Albert tiba-tiba saja memanggil, membuat langkah mereka terhenti. "George," panggil dokter itu dengan ekspresi wajah yang teduh. "Jadilah seseorang yang hebat. Apa pun yang kau inginkan, kau harus bisa mendapatkannya. Lakukan apa yang kau kehendaki dan yang bisa membuat kau bahagia, semuanya lakukan saja. Karena itu pilihan dari hatimu sendiri." * Pojok Creepypasta * MURDER Penulis: ForWritingStories Sumber: Reddit Short Scary Story Blog : Mengaku Backpacker “Apa yang terjadi semalam, sekitar 10.30 malam?” “Saya sedang berada di atas mengerjakan PR ketika saya mendengar teriakan dari jalanan yang berada di luar jendela. Saya segera keluar kamar untuk memberitahu orang tua saya, namun jeritan itu makin menjadi-jadi, jadi saya pikir seseorang berada dalam ma-masalah serius, jadi aku ber-berlari keluar dan me-melihat ...” “Jangan tergagap!” “Ya, Pak.” “Lalu?” “S-saya tahu ini terdengar bodoh, seharusnya saya memanggil kalian dulu, namun saat saya berlari ke luar, saya melihat seorang laki-laki tengah menikam seorang perempuan. Saya mencoba menggertak lelaki itu dengan mengatakan saya telah memanggil polisi ... saya berharap dia termakan bualan saya, dan memang benar. ia ... ia berlari dan meninggalkan wanita itu tergeletak. Saya segera meraih telepon genggam dari saku saya dan memanggil polisi. Setelah itu saya berlari menghampiri wanita itu untuk melihat apakah dia masih hidup ... saya mencoba menolong, namun Tuhan .... ada darah dimana-mana ... di-dia ditusuk berkali-kali, ususnya berhamburan ke semua ...” “Anda tadi mengatakan ada seorang lelaki menikam seorang perempuan. Namun hanya ada sedikit penerangan di luar rumah Anda saat itu. Apa Anda yakin laki-laki itu yang melakukannya?” “Wa-wanita itu berteriak, ’ TOLONG! TOLONG DIA MENYERANGKU!’ terus-menerus dan gerakan tangannya terlihat naik turun seakan sedang menikam ... dan ketika mendekat saya melihat ... Ma, maaf ... kumohon berikan saya sedikit waktu ...” “Santailah saja.” “Maaf, silakan lanjutkan ...” “Anda tadi mengatakan anda telah menelepon polisi. Apa ada saksi mata yang bisa mengkonfirmasi hal itu?” “Y-ya ... tetangga kami, Miss Greur. Ia keluar kira-kira hampir bersamaan dengan saat saya menemukan mayat wanita itu. Mungkin ia mendengarnya.” “Anda mengenal korban, apa itu benar?” “Ya ... dia teman saya.” “Anda menyukainya?” “Ya, saya menyukainya. Semua orang menyukainya.” “Anda tak punya masalah dengannya?” “Apa yang ingin anda katakan?” “Mungkin anda ...” “Saya tidak membunuhnya, jika itu yang anda tanyakan!” “ ... Kurang meyakinkan.” “La-lalu bagaimana?” “Cobalah untuk bersikap lebih yakin lagi, namun jangan berlebihan. Polisi akan mencium gelagat mencurigakan jika perilakumu berlebihan. Coba ceritakan kenangan indah yang kau memiliki bersamanya.” “Aku tak punya kenangan indah dengan wanita ja ...” “Lalu karanglah sesuatu – SIAL, itu polisi datang! Oke, ingat segala yang kuajarkan kepadamu. Jangan tergagap; aktinglah dengan natural. Aku sudah menyingkirkan baju berdarah dan pisau itu dan kau benar-benar yakin kan Miss Gruer melihatmu keluar dari pintu dan bukan dari ujung jalan?” “Ya, aku yakin.” “Maka kau akan baik-baik saja.” “Yah ...” “Ya, Nak?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN