10 menit

500 Kata
Sinar cahaya masuk melalui celah-celah jendela, mengantarkan mentari sebagai raja hari ini. Sinar yang masuk memberikan kehidupan bagi penunggu bumi ini. Mereka terlelap hingga lupa akan waktu. Tersentak Feli terbangun dari mimpinya dan melihat Angga masih berada di sampingnya. Kemarin dan hingga saat ini Feli termenung membayangi dan merasakan apa yang terjadi kemarin. Sungguh teganya Angga melakukan seperti itu kepada Feli. Angga melakukan hal itu sampai membuat Feli terkulai lemah, membuat matanya sangat lelah, dan Feli pun akhirnya tertidur lelap. Saat inipun Feli masih merasakan pergerakan kecil dari balik selimutnya. “Apa itu!” tanya Feli sambil menyingkap selimutnya. Dan apa yang di lihatnya, tersentak sambil bingun Feli melihat ada yang bergerak seakan melambai kepadanya. “OH... TIDAK... JANGAN LAGI.” jujur saja Feli mengikuti keinginan Angga saat ini hanya ingin menyelamatkan dirinya dan bayi tersebut. Hanya untuk mengulur waktu. “Angga!! bangunlah! ini sudah siang, coba lihat mentari telah memanggilmu!” ucap Feli. Tak ada jawaban dari Angga, hanya gelengan kepala yang sampaikan Angga hingga Felil merasa kesal. “Apa kamu tidak ke kantor?” Tanya Feli sekali lagi sambil mencubit kecil Angga yang sedang tidur. “Oh iya, Sebentar lagi, 10 menit! Beri aku 10 menit saja.” Angga merasakan sakitnya cubitan kecil Feli. Mentari yang mulai terik menandakan aktivitas sudah berjalan, semua orang telah berada di kantornya masing - masing untuk menyelesaikan pekerjaannya. Berbeda dengan Angga saat ini yang masih terselimuti dengan lelahnya penyatuan kemarin. Wajah Angga yang buram dan kusam telah kembali cerah sewaktu pertemuannya dengan Feli, suasana hati dapat terobati dengan telah di keluarkannya yang telah menyanggah dan terpendam di dalam. “Ini terakhir kalinya!” ucap Feli yang telah kesal dengan Angga yang tidak bisa di bangunkan dari tidurnya. “Ya sayang, ini mau bangun!” jawab Angga dengan suara yang serak. “Cepat bangun, matahari sudah tinggi, nanti rezeki di patok ayam, rugikan kalah sama ayam!” ucap Feli dengan nada sedikit tinggi. “Oke,oke!! Jangan paksa aku melakukannya lagi!” ucap Angga. “Enak saja, cukup ya!” jawab Feli dengan wajah cemberut. “Sana mandi!” ucap Feli sambil berdiri untuk mengambil handuk untuk Angga. “Jangan tinggalkan aku lagi!” jawab Angga dengan wajah manjanya. Kali ini dia berjanji dalam hati tidak akan mempermainkan hati wanita. Feli tidak merespon ucapan Angga. “Cepat!” tegas Feli menghilangkan pembicaraan Angga yang di anggap Feli serius walaupun Angga hanya bergurau. Angga sudah bergerak menuju kamar mandi tapi tangannya masih saja menyentuh tubuh Feli hingga Feli terkejut dan langsung menepuk tangan jahil Angga. Pukulan itu langsung di tangkap oleh Angga dan memeluk Feli. Bahkan Angga berencana ingin membawanya ke kamar mandi. “Temani aku mandi!” pinta Angga membisikkan di telinga Feli. “Cukup, jangan goda aku!” pinta Feli sambil cemberut. ‘Cup’  Angga mencium bibir Feli. Wanita tersebut mendorong tubuh Angga agar menjauh dari rayuan maut Angga. Feli tidak dapat menolaknya bila sudah terhanyut dalam pelukan erat Angga. Memang hebat kamu Angga, wanita mana yang dapat menolak kamu bila kamu inginkan. Seluruh tubuhmu telah di tanam ke indahan yang tak dapat di hilangkan dari setiap pandangan wanita yang melihatnya. Angga sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang dia rasakan di dalam hati, entah cinta atau nafsu pria tersebut tidak bisa membedakannya. Pria itu tidak terlalu pintar dalam urusan cinta, dia hanya terlihat pintar dari luarnya saja. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN