Driving Me Crazy

4238 Kata
      “Adalah cinta, ketika aku menemukan namamu  dan namaku tersimpul  sempurna pada sebuah  takdir.”                     ***     Ruangan yang didominasi warna putih, terlihat sa ngat berantakan dengan bantal yang isinya berhamburan di lantai. Gorden putih yang menutupi jendela setinggi langit-langit kamar dibiarkan tertutup, membuat kesan redup walau matahari di luar sana bersinar megah.     Di samping tempat tidur king size yang dilapis seprei putih, seorang gadis sedang duduk sambil menangis. Rambutnya dibiarkan tergerai, terlihat begitu kusut seolah sudah sangat lama tidak terjamah sisir. Gadis itu duduk bersimpuh, di depannya berserakan foto-foto Jayu yang diambil dari berbagai sisi. Tangan kanannya memegang cutter, matanya tak teralihkan dari wajah Jayu yang tersenyum di sebuah foto.     “Kamu jahat. Kenapa kamu menikah dengan wanita asing itu?” gumam Kinara lirih.     Ada nada putus asa yang turut serta pada setiap kata yang dia ucapkan.     “Aku hanya ingin, semua anak-anakmu lahir dari rahimku, kenapa kamu memilih wanita itu? Aku benci kamu. Benci!”     Kinara menusukkan cutternya pada salah satu foto Jayu. Gadis itu berteriak, tangisnya semakin menjadi, setiap kali mengingat pengumuman pernikahan Jayu dengan Venus.     “Aku mencintaimu, Jayu. Aku sangat mencintaimu, bukan cinta seorang fans pada idola. Aku mencintaimu sebagai seorang perempuan, yang menginginkan lelaki.” Kinara kembali berteriak histeris. Dia melemparkan cutter di tangan, lalu merangkak untuk meraihnya kembali. Penampilannya benar-benar kacau, dengan mata sembab dan pakaian yang sudah kusut.     “Kalau aku tidak bisa memilikimu, lebih baik aku mati.”     “Kinar!” Seorang pemuda memasuki kamar itu, tepat sebelum Kinara menyayat nadi. “Apa yang kamu lakukan?” Danzel merebut cutter di tangan adiknya, lalu membuangnya ke sembarang arah.     “Jangan hentikan Kinar, Kak! Hidup Kinar sudah tidak berarti lagi. Lebih baik Kinar mati saja!”     Kinara berontak ketika   Danzel memeluknya,   berusaha menenangkan gadis itu agar pikirannya kembali jernih.     “Kinar, di luar sana masih ada banyak laki-laki yang mendambakanmu. Kamu jangan berbuat bodoh hanya karena aktor seperti dia.”     “Jayu bukan sekadar aktor, Kak. Dia hidup Kinar. Kinar tidak bisa melihatnya bersama orang lain. Lebih baik Kinar tiada dari pada harus melihat dia bahagia bersama wanita lain. Kinar tidak akan sanggup, Kak.”     Gadis yang usainya belum genap delapan belas tahun itu kembali berontak, tangannya berusaha meraih cutter, tapi Danzel menghentikannya.     “Jangan hentikan Kinar, Kak! Kakak lebih baik pergi!”     Kinara semakin histeris, membuat tangan Danzel terpaksa melayang, dan mendarat di pipi gadis itu. Ada rasa panas yang tertinggal di kulit mulusnya, ketika Danzel menampar Kinara. Pelan-pelan, gadis itu kehilangan kesadaran, dia pingsan.     “Jayu, aku pasti akan membuat perhitungan denganmu,” ucap Danzel penuh amarah. Matanya berkilat dendam, dan kebencian, tangannya meremas foto Jayu yang sedang tersenyum sambil mencium tangan Venus.     Setelah membaringkan Kinara di atas ranjang, pria itu meraih gadget milik adiknya. Mengecek sosial media, dan menemukan sebuah grup komunitas penggemar Jayu Samudra. Dari salah satu postingan di sana, dia mendapat informasi tentang kegiatan Jayu hari ini.     “Iya, hari ini dia ada pemotretan untuk iklan.”     “Di studio foto milik William, temannya.”     “Benar. Jayu kita memang malaikat banget ya teman-teman. Dia suka membantu usaha teman-temannya dan membiarkan mereka menggunakan ketampanannya sebagai iklan.”     Sekelompok gadis yang mengaku penggemar Jayu, sedang bercengkerama lewat kolom komentar f*******:.     Aliran darah Danzel dipenuhi kebencian pada seorang Jayu. Pria dengan gaya rambut army look itu bergegas menuju tempat di mana Jayu sedang beraktivitas sebagai seorang bintang. Studio foto. Dia ingin membuat perhitungan dengan orang yang sudah mengacaukan hidup adiknya.     Tidak jauh dari tempat Danzel memarkir motor dengan mata yang terus mengawasi pintu studio, Jayu keluar sambil menelepon. Tangan kirinya memegang ponsel, sementara yang satunya lagi memainkan kunci mobil. Pria itu sedang sibuk berbicara, terlihat dari raut wajahnya yang tak henti menebar senyuman, Danzel bisa menebak, saat ini Jayu pasti sedang berbicara dengan istrinya.     Danzel menutup kaca helm yang dia kenakan. Menyetarter motor, memainkan gasnya seolah hal itu bisa mewakili amarahnya, lalu melaju dengan kecepatan tinggi ketika Jayu hendak memasuki mobil. Danzel menyerempet tubuh Jayu, membuatnya terjatuh, dan kepalanya menghantam aspal dengan cukup keras. Handphone Jayu terlempar ke udara, dan jatuh agak jauh darinya.     Bisa dipastikan benda itu mengalami rusak berat. Namun, dari pada memikirkan hal itu, Jayu merasa sangat takut, kalau setelah ini, dia tidak akan pernah lagi melihat Venus.     Kepalanya terasa berat, dadanya sesak, dan pandangannya mulai kabur. Jayu tak sadarkan diri, ingatan terakhirnya ada pada pelat motor yang menubruknya barusan.    ***      “Kapten!” Venus berlari kecil ketika melihat sosok yang sejak beberapa saat lalu memenuhi otaknya dengan pikiran-pikiran buruk.     Rasa mual yang mengoyak perutnya sama sekali tidak menjadi soal. Seorang dokter baru selesai melakukan pemeriksaan, sementara suster di sebelahnya terlihat mencatat sesuatu.     “Bagaimana keadaan suami saya, Dok?”     Dokter itu tersenyum. “Suami Anda tidak apa-apa. Hanya luka ringan di bagian tangan dan kepala, dia mengalami sedikit syok, tapi sebentar lagi pasti akan siuman.”     Dua orang itu segera berpamitan, setelah menjelaskan keadaan Jayu pada Venus.     Venus menghampiri Jayu. Entah perasaan macam apa yang menyerbu hatinya, ketika mengetahui bahwa Jayu mengalami kecelakaan. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana jika hal buruk terjadi pada kapas ajaibnya.     Sebagian hatinya berteriak pilu, belum siap jika terjadi hal buruk pada satu-satunya orang yang bisa membawanya melihat dunia. Sebagian yang lain, dengan lihai memutar kebersamaannya dengan Jayu selama ini. Dia sudah terbiasa dengan keberadaan pria itu, akan sangat menyakitkan kalau tiba-tiba Jayu tidak ada lagi di sekitarnya.     “Kapten.”     Venus meraih tangan Jayu, air matanya menetes di lengan suaminya. Butiran hangat itu menyeret paksa kesadaran Jayu. Matanya terbuka secara perlahan, tangannya bergerak lemah, berusaha menghapus kesedihan dari wajah Venus.     “Jangan menangis, aku baik-baik saja,” bisik Jayu lemah.     “Kapten, aku benar-benar takut kamu akan mati. Jangan mati sekarang, aku belum sempat berterima kasih padamu, ak-aku ....”     Jari telunjuk Jayu menempel di bibir Venus, lalu ibu jarinya bergerak, kembali menghapus air matanya.     “Aku tidak akan mati semudah itu, karena hidup seseorang akan ikut berakhir jika aku mati,” canda Jayu di sela rasa nyeri pada bagian kepala.     “Dasar bodoh!” umpat Venus seraya tersenyum. Senyuman yang tulus, dan syarat akan rasa syukur. Dia bersyukur memiliki seseorang seperti Jayu di dalam hidupnya.     “Bodoh tapi ganteng,” kilah Jayu sambil berusaha duduk, tapi Venus menghentikan.     “Ganteng tapi bodoh,” Venus mencibir karena Jayu meringis kesakitan saat hendak duduk.     “Bodoh tapi kamu cinta.”     “Aku tidak pernah mengatakannya.”     “Mengatakan apa?”      “Aku mencintaimu.”     Venus segera menutup mulut ketika Jayu tersenyum penuh kemenangan. Pria itu merasa di atas awan karena berhasil membuat Venus mengucapkan kata cinta padanya.     “Satu-kosong. Kamu baru saja mengatakan cinta padaku.”     “Kamu curang. Aku dijebak.”     Mereka terus berdebat hal tidak penting, sementara di luar ruang rawat Jayu, Satria mengerang frustrasi.     “Sudahlah, ini bukan kesalahanmu.”     Willy menenangkan, pria itu menepuk punggung Satria, berusaha membesarkan hatinya agar tidak merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Jayu.     “Kalau aku bersamanya, hal ini pasti tidak akan terjadi.”     Satria meninju tembok. Dia bersumpah akan segera menangkap pelaku yang berusaha mencelakai Jayu.     “Bersikaplah wajar kalau kamu tidak mau penyamaranmu terbongkar.”     Willy memperingatkan dengan suara rendah, ketika dilihatnya Venus hendak keluar dari ruang rawat Jayu.     “Kak Ve, gimana keadaan Boskuuuh? Apa dia baik-baik saja?” Satria segera bertransformasi menjadi Sasa ketika Venus keluar.     “Dia baik-baik saja, Sat. Kamu tidak perlu khawatir.” Venus hendak menepuk punggung Satria tapi urung. Banyaknya orang di rumah sakit sudah membuat perasaannya tidak terkendali, dia tidak mau memperburuk keadaan karena bersentuhan dengan seseorang. “Aku mau sholat sebentar, tolong jaga dia.” Venus segera berpamitan, dia menuju mushola kecil di ujung lorong rumah sakit.     Ketika Venus sedang berjalan, kakinya terasa panas, kepalanya berat, rasa pusing yang luar biasa. Gadis itu memejamkan mata, tangannya berusaha berpegangan pada sisi tembok, tiba-tiba tubuhnya terasa sangat lemah.     “Ya Allah, ada apa ini?”     Kepalanya terasa semakin berat, dunia seolah berputar dengan sangat cepat.     “Tolong aku.”     Wajah seorang perempuan yang terlihat pucat, berada tepat di hadapannya ketika Venus membuka mata. Gadis itu membuang wajah, lalu kembali memejamkan mata, menghindari tatapannya berada satu garis lurus dengan makhluk itu. Hantu perempuan yang sedang mengusiknya, memiliki aura gelap yang mengerikan. Venus sampai menggigil ketika melihatnya.     “Pergilah, aku mohon,” pinta Venus pada hantu perempuan itu.     Rambutnya berkibar, matanya melotot dan sebagian wajahnya menghitam. Samar-samar, Venus melihat potongan-potongan kejadian yang berputar sangat cepat.     Seorang perempuan yang sedang berjalan di lorong rumah sakit, kursi roda, dan beberapa orang yang terlihat panik. Selanjutnya, beberapa langkah kaki yang bernada kecemasan, terdengar seperti sedang berlari, juga suara roda dari ranjang rumah sakit yang didorong cepat.     “Aku tidak bisa membantumu, pergilah,” gumam Venus lemah seiring hawa panas yang terus menyerbu bagian punggungnya.     “Berhenti mengganggunya.”     Seorang wanita tua menghampiri Venus. Dalam sekejap, hantu itu menghilang, kemudian muncul kembali di hadapan wanita tua itu.     “Kenapa kamu menggangguku? Aku hanya ingin dia membantuku.”     “Aku tidak akan membiarkanmu menguasai tubuhnya.”     Wanita tua itu mengibaskan tangan, membuat hantu wanita yang mengganggu Venus kembali menghilang.     “Nenek, tolong aku.”     Venus hampir ambruk, kalau saja wanita tua yang rambutnya hampir rata memutih itu tidak menahan tubuhnya.     “Berhati-hatilah, Nak. Jangan biarkan pikiranmu kosong, dan membuatmu lemah begini.”     Venus mengembuskan napas lega, sekarang kepalanya tidak lagi terasa berat, walau masih agak pusing.     “Nenek juga ....”     Venus tidak melanjutkan kalimatnya, nenek itu sudah menjawab dengan senyuman penuh arti.     “Kamu mau ke mana?”     “Ke mushola, Nek.”     “Kita ke sana sama-sama.”     Wanita itu berjalan sambil terus memegang tangan Venus. Mereka berjalan beriringan sambil berbincang.     “Kenapa nenek terlihat baik-baik saja di tempat seperti ini, bahkan hantu itu terlihat takut padamu?”     Wanita itu tersenyum. Mereka berbelok ke arah tempat wudu.     “Dulu aku juga sepertimu. Namun, semuanya berakhir, setelah aku bertemu dengan seorang lelaki yang memiliki tekad kuat untuk melindungiku. Energinya berhasil memblokir seluruh energi negatif dari luar, yang sering kali membuatku kewalahan ketika berada di tengah orang-orang.”     Venus berhenti, cerita nenek tua itu mengingatkannya pada sosok Jayu. Apa mungkin, keajaiban yang selama ini dialaminya saat berada di dekat Jayu, itu juga karena energi yang begitu besar, dari keinginan Jayu untuk melindunginya? Sering kali pria itu mengatakan bahwa dia ingin melindunginya, tapi Venus hanya menganggap kata-kata Jayu sebagai angin lalu.     “Maksud nenek?”     “Apa yang kamu alami, semua berasal dari pikiranmu sendiri. Dulu aku pernah sangat putus asa sampai tidak ingin melanjutkan hidup. Saat itu aku mulai merasa mual ketika bertemu dengan banyak orang. Makhluk-makhluk seperti tadi sering menerorku, berusaha mencuri tubuhku dengan alasan minta tolong. Aku juga kesulitan menghadapi emosi orang lain, ketika tersedot ke dalam ingatan mereka. Namun, semenjak bertemu dengan kakek, aku tidak merasakannya lagi. Setelah menikah dengannya, aku tahu, bahwa semua itu berasal dari diri kita sendiri. Ketika aku mulai memikirkan tentang dirinya, ingin hidup seperti orang normal yang memiliki anak-anak dan bahagia selamanya bersama orang yang akan melindungiku dengan hidupnya, energi dari dalam diriku semakin besar, mengalahkan emosi mereka, dan juga energi negatif dari sekitar. Aku mulai merasakan emosiku sendiri, bisa mengontrol kapan aku harus merasakan emosi orang lain, dan kapan harus masuk dalam ingatan mereka. Jadi, jika kamu bertemu dengan orang seperti itu, jangan pernah melepaskannya. Kamu akan bisa merasakan semuanya sebagai anugerah, bukan lagi kutukan seperti yang sebelumnya kita pikirkan.”     Allah, inikah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Venus selama ini? Jika benar begitu, maka satu-satunya hal yang ingin dilakukan Venus sekarang adalah menemui Jayu. Dia perlu berterima kasih padanya untuk sebuah kehidupan yang sangat berharga.     Selesai sholat, Venus segera kembali ke ruangan Jayu. Dia bahkan berlari untuk segera sampai di sana. Pria itu sudah turun dari ranjang dan berdiri hendak mengenakan jaket. Rumah sakit adalah tempat yang sangat menyebalkan, jadi Jayu memutuskan untuk pulang dan istirahat di rumah begitu mendapat persetujuan dari dokter.     “Kapten.”     Venus tersenyum lebar dengan mata yang berkaca-kaca. Bukan karena kesedihan, tapi dia bahagia dengan kenyataan tentang Jayu. Gadis itu berjalan dengan langkah yang sangat cepat, menghampiri Jayu, meraih tangan pria itu, lalu menciumnya dengan penuh rasa takdim.     “Terima kasih. Terima kasih untuk semua yang sudah kamu lakukan selama ini. Maaf karena kuterlalu lambat menyadarinya.” Air mata Venus membasahi punggung tangan Jayu.    “Ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa semua baik-baik saja?”     Venus menegakkan kepala, dia tersenyum dengan sangat tulus, lalu memeluk suaminya.     “Aku baik-baik saja, dan semakin baik karena ada dirimu.”     Gadis itu memeluk Jayu dengan sangat erat, membuat Jayu keheranan dengan sikapnya. Pria itu menduga, ada hantu alay yang sedang bersemayam dalam tubuh istrinya saat ini.     “Kapten, aku bukan hantu. Aku istrimu.”     Venus merenggangkan jarak demi melihat ekspresi Jayu yang sekarang sedang melongo, tapi anehnya tetap ganteng. Dia kaget karena Venus bisa menebak apa yang dia pikirkan.     “Tidak usah kaget begitu, saat dalam keadaan yang sangat baik, atau sangat buruk, aku sering kali memang bisa mendengar pikiran orang lain.”     “Tapi, bukannya itu tidak bekerja saat berada di dekatku, kenapa sekarang ....” Venus mengendikkan bahu, dia juga heran kenapa bisa mengetahui apa yang Jayu pikirkan.     “Kapten, boleh aku mengatakan sesuatu?” Venus kembali memeluk Jayu, dia menyandarkan kepalanya di d**a pria itu. Benar-benar sangat nyaman.     “Ada apa?”     Jayu berusaha melepaskan tangan Venus yang melingkar di pinggangnya, agar dia bisa melihat wajah Venus. Dia khawatir telah terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu.     “Biarkan tetap seperti ini. Lima menit.”     “Tapi ....”     “Tiga menit.”     Venus memotong kalimat Jayu dan hanya memejamkan mata, dia menghirup napas dalam-dalam, saat kelopak mata itu terbuka, dia melihat Jayu dengan tatapan penuh cinta.     “Kapten, maaf karena aku baru menyadarinya sekarang.”     Walau Venus tidak mengatakan bahwa dirinya mencintai Jayu, tapi pria itu bisa memahami seluruh ucapannya. Tatapan mata itu lebih dari cukup untuk menjelaskan segalanya, dan sekarang, rasanya Jayu ingin melompat tinggi-tinggi kalau saja kepalanya tidak pusing.     Jayu menangkup wajah mungil istrinya dengan kedua tangan, memandangnya tepat pada bola mata gadis itu. Dua bola bening yang membuat Jayu ingin menenggelamkan diri di sana, dan tersesat pada pesona langit subuh yang terpancar sempurna dari mata gadis itu. Tenang dan sejuk, entah dari mana dua hal itu berasal.     Begitu lama Jayu dan Venus saling memandang, mereka larut dalam perasaan masing-masing, saling mengagumi, dan saling berusaha untuk mengungkapkan perasaannya lewat sebuah tatapan. Jayu menunduk, dia mendekatkan wajahnya pada wajah Venus. Embusan napas gadis itu terasa menggelitik seluruh syaraf, ketika menyentuh kulit wajahnya.     Venus memejamkan mata, tiba-tiba sederet kalimat menari-nari di dalam otaknya. Ini harus dieksekusi sekarang juga. Sebagian otaknya meneriakkan sebuah ide.     “Benar!”     Venus membuka mata dan segera melepaskan diri, ketika jaraknya dengan Jayu sudah sangat dekat, membuat pria itu tidak percaya. Apa Venus itu manusia atau alien? Kenapa kelakuannya begitu absurd dan sulit ditebak?     “Apanya yang benar?”     “Kapten, aku sudah tahu.”     Venus tersenyum lebar, dia bergegas mengambil ponselnya dari dalam tas kecil yang dia letakkan di kursi.     “Sudah tahu? Tahu apa?”     Jayu sedikit kecewa karena Venus merusak suasana romantis, yang untuk pertama kalinya tercipta di antara mereka.     “Aku tahu caranya membangun suasana yang romantis untuk tokoh dalam ceritaku. Mereka tidak harus berciuman seperti yang selama ini kulihat dalam drama korea, ada begitu banyak kesederhanaan yang jauh lebih romantis dari sekedar adegan bibir,” cerocos Venus penuh semangat.     Jari-jarinya sudah lincah menari di atas layar ponsel. Setiap kali menemukan ide, di mana pun berada, jika itu memungkinkan, maka Venus akan segera menulis. Alasannya, agar ide-ide itu tidak bisa melarikan diri, atau tergulung oleh pikiran-pikiran lain yang sering kali mengganggu.     Jayu mengembuskan napas frustrasi. Bagaimana bisa gadis itu merusak momen paling mendebarkan, dan lebih mementingkan sebuah tulisan? Manusia aneh, sinting, dan menyebalkan! Kenapa dia harus menjadi bagian dari takdir yang harus dijalani oleh Jayu? Kenapa wanita seperti itu yang justru membuatnya jatuh cinta mati-matian? Jayu memakai jaket dengan serabutan, lalu segera meninggalkan Venus.     “Kapten, kamu mau ke mana? Kenapa terburu-buru?” Venus mengekori langkah Jayu sambil terus mengetik.     “Pikirkan saja tulisanmu,” jawab pria itu dengan nada kesal.     “Boskuuh, ada apa, kenapa menekuk wajah begitu? Apa ada masalah?” Satria muncul di hadapan mereka dengan plastik berisi obat-obatan.     Jayu masih diam, dia melihat ke belakang, dan Venus masih sibuk mengetik sambil berjalan.     “Kamu tanyakan saja sendiri pada penulis sinting favoritmu itu!” Satria hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Jayu dan Venus. Jayu pergi dengan langkahnya yang lebar, sementara Venus terus mengikuti sambil mengetik dengan langkah cepat walau pendekpendek.     Ponsel Satria bergetar, ada panggilan masuk dari Prasetya. “Ya, Pak ... Baik, saya akan ke sana secepatnya.”    ***     Prasetya sudah duduk sambil memancing seperti biasa saat Satria sampai di pemancingan. Satria menggunakan jaket hitam dan kaos hitam, juga topi dan kaca mata yang membingkai wajah.     “Maafkan saya atas apa yang terjadi hari ini, saya pasti akan segera menemukan pelakunya.”     “Aku tidak memanggilmu untuk membicarakan hal itu.” Prasetya berbicara santai sambil menggulung senar pancingnya. “Aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku.”     “Apa yang harus saya lakukan?”     Satria terlihat begitu menghormati Prasetya, sebagai orang yang telah menyelamatkan hidupnya. Dia selalu menunduk setiap kali berbicara dengan laki-laki itu, meski sering kali Prasetya memintanya untuk tidak bersikap kaku seperti anak buahnya yang lain.     “Duduklah.”     Prasetya mengisyaratkan agar anak itu duduk di sampingnya, dan Satria segera mengikuti perintah laki-laki itu.     “Kamu tahu kenapa aku selalu duduk di sini, memancing tanpa memberikan umpan?”     Prasetya menoleh, melihat Satria yang sudah duduk, lalu kembali pada pancingnya.     “Seperti itulah kehidupan Jayu selama ini,” lanjutnya kemudian. “Hidup tanpa keinginan untuk hidup. Seperti bertarung tanpa keinginan untuk membunuh, tapi bagaimanapun, seseorang akan tetap terluka karena pedang yang dia hunuskan. Entah kalah atau menang, seseorang yang turun di medan perang pasti akan terkena darah.”     “Maksud Anda?”     “Jayu memilih terjun ke dunia entertainment, karena dia ingin menunjukkan padaku bahwa dia mampu melakukan sesuatu, walau dia sendiri tidak menginginkannya. Di saat yang bersamaan, maka dia tidak bisa menolak konsekuensi sebagai seorang bintang. Hidupnya akan menjadi milik banyak orang, tapi jika dia benar-benar mencintai istrinya, dia harus meninggalkan dunia itu. Untuk sesaat, dia bisa membuat banyak orang tersenyum dengan apa yang dia lakukan, tapi di saat yang lain, dia juga bisa mematahkan banyak hati. Tidak semua orang paham tentang arti mencintai. Katakan padanya untuk tidak perlu khawatir tentang masa depan, karena aku sudah memindahkan seluruh aset yang kumiliki atas nama dia.”     “Sepertinya Anda telah salah paham.” Satria berdiri. “Seperti yang Anda katakan, bahwa dia masuk ke dunia entertain adalah karena Anda, bukan untuk uang. Jadi dia juga sama sekali tidak pernah risau tentang masa depan, dia hanya ingin membuktikan dirinya pada Anda.”     “Kalau begitu katakan padanya, bahwa aku telah mengakui kemampuannya.”     Prasetya masih bersikeras, dia sangat yakin, dunia lakon itu tidak baik bagi masa depan putranya.     “Tidak akan semudah itu. Selain sakit hatinya karena apa yang Anda lakukan di masa lalu, Jayu juga terus menyalahkan Anda atas kematian ibunya. Jadi ....”     “Sepertinya kamu sudah sangat memahaminya sekarang.” Prasetya ikut berdiri. Satria jadi merasa bersalah karena apa yang barusan dia katakan. “Kalau begitu teruslah berada di sisinya sampai akhir. Aku benar-benar mengandalkanmu untuk hal ini.” Prasetya menepuk pundak Satria. Sesuatu yang selalu dia lakukan setiap kali menunjukkan kepercayaan, dan kebanggaannya pada anak itu.     “Maafkan saya.” Satria masih menyesali ucapannya tadi.     “Pulanglah. Ini sudah malam. Aku akan terus percaya padamu, bahwa kamu akan menjadi saudara yang baik bagi putraku.”     Prasetya kembali pada pancingnya. Sesaat setelah Satria pergi, seseorang duduk di dekatnya. Laki-laki yang seusia dengannya, dia memiliki hobi yang sama dengan Prasetya. Memancing tanpa menggunakan umpan.     “Apa dia itu putramu?” ujar laki-laki itu sambil memandangi Satria yang berjalan menjauh.     “Putra yang tidak memiliki darahku di dalam tubuhnya,” jawab Prasetya tanpa menoleh.     Dia sudah tahu siapa yang melontarkan pertanyaan itu tanpa harus melihat orangnya. Satu-satunya orang yang akan datang ke pemancingan saat tengah malam seperti dirinya hanyalah Agung. Laki-laki yang hidupnya tak kalah menyedihkan, karena kehilangan hak asuh anak ketika bercerai. Yang lebih menyedihkan, anak itu juga sangat membencinya.     “Nasibku tidak lebih baik darimu dalam urusan keluarga,” lanjut Prasetya. “Saat anakku masih kecil, aku berpikir untuk meninggalkannya sebentar. Hanya sebentar untuk menyiapkan kehidupannya di masa depan. Aku ingin melihatnya bermain sambil duduk tanpa harus merisaukan masa depannya, tapi saat aku kembali, semuanya sudah berubah. Anakku seolah tumbuh dengan begitu cepat. Aku bahkan kehilangan kesempatan untuk melihatnya belajar mengeja tiga huruf pertama yang diajarkan seorang guru di sekolah.”     Prasetya membayang, ingatannya kembali pada masa-masa ketika dia hidup sulit bersama Jayu, dan memutuskan untuk pergi karena tidak tahan dengan kemiskinan yang seolah terus berusaha mencekik.     “Kamu benar, anak-anak tumbuh dengan sangat cepat. Ketika kita telah membuat kesalahan di masa lalu, rasanya kita tidak memiliki hak sama sekali untuk menghakimi mereka, atas apa yang mereka lakukan sekarang.”     Agung ikut menerawang, air matanya hampir jatuh. Apa yang terjadi pada dirinya dan keluarganya begitu menyedihkan. Apa yang memisahkannya dengan putra kecilnya di masa lalu, menyisakan penyesalan yang sangat mendalam ketika melihat bagaimana putranya hidup saat ini.     “Bukankah putramu seorang penulis terkenal, kenapa kamu perlu menghakiminya?”     Pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyuman yang membuat hati Agung sendiri terasa perih. Dunia hanya mengenal Arjuna sebagai seorang penulis muda dengan bakat luar biasa dalam meramu kata-kata menjadi sebuah cerita. Mereka tidak pernah tahu, ada berapa banyak darah yang tumpah dan menjadi tinta untuk tarian pena pemuda itu.    ***      “Apa maksudmu mengundurkan diri?”     Abimanyu terlihat murka dengan keputusan Arjuna. Pria itu menyerahkan surat pengunduran diri dari BSP.    “Saya memutuskan untuk berhenti dari project MSN, dan dari perusahaan Anda.” Arjuna terlihat dingin ketika berbicara. Dia seperti manusia salju yang tidak punya perasaan.     “Tapi ....”     “Saya harap Anda tidak lupa dengan janji yang pernah Anda katakan. Bahwa saya bisa berhenti kapan pun saya mau, dan Anda tidak akan menghalangi keputusan saya.”     Abimanyu mengacak rambutnya sendiri. Laki-laki dengan tubuh gempal itu terlihat frustrasi, tapi dia juga tidak bisa memaksa Arjuna. Benar kata pemuda itu, dia sendiri yang mengatakan bahwa Arjuna tidak terikat kontrak secara resmi dengan BSP, sehingga dia bisa pergi kapan pun dia mau. Itu adalah syarat yang sudah disetujui Abimanyu ketika meminta Arjuna untuk bergabung dengan perusahaannya beberapa tahun lalu.     “Lalu bagaimana dengan novel Venus yang akhirnya berhasil kita adopsi? Tidak ada orang lain yang bisa mengadaptasi sebuah novel sebaik dirimu, tolong pertimbangkan lagi.” Abimanyu masih belum menyerah. Project MSN adalah salah satu impiannya, perpaduan antara Jayu, Venus, dan Arjuna, dunia tidak akan bisa menolak keindahan seni yang sudah digariskan oleh alam.     “Ada begitu banyak penulis skenario berbakat di luar sana. Anda hanya perlu memberikan kesempatan pada mereka untuk menujukkan kemampuannya. Jika Anda terus melihat ke atas, Anda tidak akan pernah menyadari, bahwa di bawah lumpur yang Anda pijak, bahkan tersembunyi sebuah mutiara yang menunggu untuk ditemukan.”     Arjuna permisi setelah mengucapkan semua kalimatnya. Terkadang, dia merasa sedih atas apa yang terus terjadi di dunianya. Sebagai penulis yang karyanya sering kali dikejar-kejar oleh penerbit karena namanya yang sudah melambung tinggi sejak meluncurkan novel pertama, Arjuna turut prihatin pada banyaknya penulis pemula yang memiliki bakat luar biasa, tapi tidak mendapatkan kesempatan untuk membuktikan diri. Rasanya tidak heran, kalau penulis seperti Tisna memilih untuk menerbitkan bukunya secara self publishing.     Omong-omong soal Tisna, Arjuna sedang memikirkan gadis itu ketika ponselnya berdering. Panggilan masuk dari orang yang sudah membuatnya mengubah cara pandang tentang kehidupan. Dan seorang yang membuatnya memutuskan untuk berhenti menulis thriller. Tisna.   “Assalamu’alaikum.”     Suara dari ujung telepon. Kalimat yang biasanya tak pernah dia tanggapi, tapi kali ini Arjuna menjawab salam gadis itu sambil tersenyum. Arjuna jadi ingat tentang refleksnya saat pertama kali bertemu Tisna, dia mendoakan gadis itu ketika bersin. Sesuatu yang sudah hampir dilupakannya karena tidak pernah dilakukan sejak dia sudah tidak tinggal lagi dengan ayahnya, tapi begitu mudah terucap ketika mendengar Tisna mengucap hamdalah setelah bersin.     “Kamu di mana? Aku sudah menunggu di depan rumahmu. Apa kamu masih di kantor?”     “Tunggu sebentar, aku akan segera pulang. Tetap di sana.”     Arjuna menghentikan sebuah taksi, dia mematikan telepon lalu memberitahukan tujuannya pada sopir taksi tersebut.     Di depan rumah Arjuna, Tisna terus memandangi buku di tangan. Novel pertamanya sudah selesai cetak, dan hari ini sudah ada di tangan, dia ingin sekali menunjukkan hasil karyanya itu pada Arjuna.     Tisna terus menunggu dengan hati yang gelisah, dia berkali-kali melihat ke kanan-kiri jalan, berharap Arjuna segera datang. Gadis itu tersenyum semringah ketika sebuah taksi berhenti di depannya, dan Arjuna keluar dari sana.     Pria itu tersenyum ketika mendapati Tisna masih menunggu. Mereka saling memandang beberapa saat, sebelum Arjuna maju beberapa langkah dan meraih tubuh mungil Tisna, membawanya ke dalam pelukan.     “Terima kasih kamu masih menungguku, dan terima kasih karena kamu ada untukku.”     Arjuna memeluk Tisna begitu erat, seolah gadis itu akan menghilang jika dia melepaskannya. Pria itu mengusap rambut Tisna, lalu mendaratkan ciuman sayang di puncak kepala.     Cinta, sepertinya benar yang dirasakan Arjuna kali ini. Dia sudah jatuh cinta pada gadis itu. Dia sudah bertekad untuk mengubur dalam-dalam masa lalunya, dan memulai lembaran baru bersama Tisna. Bukan lagi merahnya darah yang akan menjadi inspirasi, tapi degup jantung, dan perasaan melayang setiap kali bersama Tisna. Dia pasti mampu mengubah dunia yang kelam, dan memenuhinya dengan cinta. Yang perlu dia lakukan saat ini hanyalah, menyembunyikan semuanya dengan baik. Tisna tidak boleh dan tidak akan pernah tahu tentang sisi kelamnya.     BestRegards, MandisParawansa      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN