“Nama lain dari jatuh cinta adalah bodoh. Dan aku tidak ingin menjadi orang bodoh karena jatuh cinta.”
***
Bunuh aku jika ingin menyelamatkan hidupmu. Mungkin itu yang ada dalam pikiran Arjuna saat ini. Pria itu menuntun Tisna pada perpustakaan yang ada di ruang bawah tanah. Mereka menuruni tangga, dan berjalan ke arah rak buku yang terlihat lebih tinggi dari yang lainnya. Dari lantai sampai menyentuh langit-langit rumah.
“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Tisna takut-takut. Dia memegangi pergelangan tangan yang terlihat memerah, bekas cengkeraman tangan Arjuna.
“Menjadikanmu tokoh dalam novelku seperti yang sudah kukatakan. Apa sekarang kamu takut dan ingin berlari?”
Tisna tidak menjawab. Terlalu rumit jalan pikiran Arjuna, untuk otaknya yang sangat sederhana. Seringai menakutkan yang dia lihat di wajah Arjuna sebelumnya, membuat kepercayaannya sedikit pudar. Cinta? Benarkah itu adalah alasan yang tepat untuk semua yang terjadi, atau hanya kambing hitam untuk segala keganjilan ini?
“Maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu, aku hanya terlalu bahagia karena keputusanmu.”
Arjuna hendak meraih tangan Tisna, tapi gadis itu mengambil langkah mundur. Dia menjauhkan diri dari Arjuna detik itu juga.
“Baiklah,” Arjuna mengembuskan napas frustrasi, “apa pun keputusanmu nanti, aku pasti bisa menerima,” ucapnya dengan nada lemah.
Arjuna menurunkan salah satu batang kayu dari tanaman hias yang ada di ruangan itu. Rak buku di depan mereka bergerak mundur, lalu bergeser menampilkan sebuah pintu lift.
“Ikut aku,” pintanya pada Tisna. Gadis itu hanya mengikuti perintahnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka memasuki lift. Arjuna menekan tombol 3A, tanda panah merah menunjuk ke atas, tapi Tisna merasa seolah mereka sedang meluncur ke bawah.
“Apa yang akan kamu lihat nanti,” Arjuna berhenti sebentar, saat baru melangkahkan kaki keluar, “aku sangat berharap bahwa semua itu tidak akan mengubah perasaanmu padaku. Tetapi apa pun itu, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Aku tidak akan memaksa,” ucap Arjuna.
Dia membalik tubuh dan mengamati ekspresi wajah Tisna. Ada harapan yang begitu besar di dalam hati pria itu, kalau gadisnya akan bisa menerima segala sesuatu tentang dirinya. Dirinya yang lain, yang selama ini dia sembunyikan.
Pertama, Arjuna mengambil koleksi novel miliknya dan juga Clarissa. Dia meletakkannya di meja yang berada di tengah ruangan. Ruangan itu terlihat redup dengan pencahayaan yang minim. Cat dinding yang didominasi warna gelap, membuatnya terasa sedikit mistis bagi Tisna. Lemari kaca yang berderet, menyimpan benda benda aneh mirip organ tubuh manusia, dan tembok di sisi kiri mereka, seperti mengeluarkan asap dari celahnya. Udara di sana lebih lembab, dan ada aroma aneh yang terus berusaha menyerbu indra penciuman Tisna setiap kali dia bernapas.
Tisna mendekat dan mengambil salah satu novel Arjuna. Ingatannya kembali pada semua yang dikatakan Venus dan juga ayah Arjuna padanya. Tangannya gemetar, kakinya mulai kehilangan keseimbangan, ketika otaknya berusaha mengingkari semua kenyataan itu. Tidak mungkin ... Tidak mungkin Arjuna yang dia cintai adalah orang yang mengerikan seperti yang mereka katakan. Rasanya lebih baik diungsikan ke sebuah pulau tak berpenghuni, daripada harus menghadapi kenyataan mengerikan itu. Kenapa kehidupan ini begitu tidak adil padanya? Begitu pikir Tisna.
“Kenapa kamu memberiku ini?” tanya gadis itu pada akhirnya. Hatinya masih berusaha ingkar, semua itu terlalu sulit untuk diterima oleh akal sehat. “Aku sudah pernah membaca semuanya.
Arjuna yang berdiri tidak jauh darinya, hanya tersenyum sekilas. Dia menuju salah satu sudut meja, lalu menekan tonjolan merah sebesar biji rambutan yang seakan menyembul dari dalam. Meja kayu itu tampak bergerak lebih tinggi. Dari dalam sana, keluar sebuah peti yang mengepulkan asap dengan hawa dingin. Sesaat kemudian, peti itu terbuka, menampilkan wajah pucat seorang perempuan yang masih terlihat sangat cantik saat usianya sudah senja. Clarissa.
Tisna mundur selangkah, buku di tangannya jatuh begitu saja ketika melihat jasad wanita yang dikenalnya sebagai penulis tersohor tanah air. Dan juga, ibu dari pria yang kini bertakhta di hatinya. Tidak ada kata-kata yang berhasil dia ucapkan, gadis itu hanya membungkam mulut sambil menggeleng lemah, berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang dilihatnya hanya ilusi. Ini pasti mimpi.
“Bertahun-tahun, wanita ini mengendalikanku. Seorang yang kupanggil mama, yang seharusnya membimbing anaknya agar tidak jatuh pada jurang kegelapan, dia justru selalu mendorongku untuk menggali lebih dalam kuburanku sendiri.” Pandangan nanar Arjuna tak lepas dari wajah pucat wanita di dalam peti.
“Cukup!” Tisna berusaha menutup telinganya sendiri. Rasa sesak yang mengimpit hatinya, menjelma menjadi air mata yang angkuh dan tidak tahu diri. Tangisnya semakin tak tertahan. “Cukup, aku tidak ingin mendengar apa pun lagi.”
“Aku ingin kamu tahu segalanya tentangku, Tisna.”
“Tidak.” Tisna luruh di lantai, gadis itu bersimpuh di hadapan peti yang menyimpan jasad Clarissa. “Aku tidak mau mendengar apa pun lagi. Tolong hentikan. Kenapa kamu melakukan semua ini padaku?” isak Tisna dengan suara yang bergetar.
“Aku hanya tidak ingin kamu menyesal kelak.”
“Apa yang kamu harapkan dari semua ini? Apa kamu sedang berusaha mengusirku? Kamu juga akan menyuruhku berlari seperti ayahmu?”
“Bangunlah.” Arjuna menyentuh pundak Tisna, membantunya untuk kembali berdiri.
Wajah pria itu terlihat menderita karena air mata yang terus mengalir dari sudut mata gadisnya.
“Kenapa kamu menangis? Aku menunjukkan semua ini, bukan untuk membuatmu menangis seperti sekarang,” ucapnya seraya meraih jemari tangan gadis itu, dan tangan yang lain berusaha menghapus air matanya.
"Aku memang monster.” Pandangan Arjuna kembali pada jasad Clarissa. “Tapi ini bukan kehendakku. Dialah orang yang bertanggungjawab atas semua yang kulakukan. Di sini, di tempat ini kemanusiaanku dicabut paksa olehnya. Dan di sini pula aku terpenjara, selalu termenung sendiri menyesali hari-hari yang telah lalu. Hari yang kulewati dengan menipu dunia, membuat orang-orang berpikir bahwa Arjuna adalah pemuda yang hebat, penulis yang luar biasa, tapi kenyataannya aku bahkan mungkin tidak layak disebut manusia.”
Pria itu mengeluarkan air mata, terlihat sangat menyesal. Dia mengangkat tangan kanan, dan memandanginya lama.
“Tangan ini, entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang olehnya. Dan entah apa yang akan dunia katakan jika mengetahui semua ini.”
“Lalu kenapa sekarang kamu malah menunjukkannya padaku? Seharusnya kamu mengubur semua ini agar kita tetap bisa bersama.”
Arjuna tersenyum miring. Senyuman yang membuat Tisna sangat tidak nyaman, senyum yang sangat menyakitkan.
“Awalnya aku juga berpikir seperti itu. Untuk bisa bersamamu, maka aku harus tetap menjadi Arjuna si penulis hebat, tapi aku sudah lelah bersembunyi. Aku lelah menyimpan semua ini sendiri, aku membutuhkan seseorang untuk berbagi, dan itu kamu. Apa aku terlalu egois?”
“Bagaimana kamu begitu yakin bahwa aku akan tetap bersamamu setelah ini?”
“Karena aku tahu seberapa besar kamu mencintaiku. Aku tidak pernah meragukanmu. Dan, jika aku bersikeras untuk bersamamu tanpa memberitahu segalanya, itu hanya akan mempersingkat hubungan kita. Semua yang pernah terjadi akan terulang kembali.”
Tisna kembali menangis sampai bahunya bergetar. Tangisnya semakin menjadi, ketika Arjuna memeluknya. Bayangan tentang Arjuna yang menderita sendirian selama ini, kenyataan bahwa pria yang dicintainya telah mengalami begitu banyak masa sulit, membuat hati Tisna seperti diremas-remas. Bagi dunia, mungkin Arjuna adalah monster, tapi di mata Tisna, pria itu adalah anak kurang beruntung yang harus bertarung dengan akal sehatnya sendiri seumur hidup. Pantas saja Arjuna menjadi pribadi yang sangat dingin menurut orang-orang, hatinya sendiri selalu kedinginan dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan yang membuatnya bahkan malu menganggap diri sebagai manusia.
“Apa yang harus kita lakukan?” Tisna terus menangis dalam pelukan pria yang sangat dicintainya.
“Apa pun yang kamu inginkan, aku bersamamu. Bahkan jika kamu mengatakan agar aku menyerahkan diri, aku akan melakukannya.” Arjuna tidak sedang membual. Baginya, mencintai Tisna adalah anugerah. Gadis itu adalah akhir dari pencariannya, dia sudah terlalu lelah dengan kehidupannya selama ini.
“Atas nama cinta, bolehkah aku menjadi egois?” Tisna melepaskan diri dari pelukan kekasihnya, mengambil jarak agar bisa melihat wajah pria itu. Ada harapan dan cinta yang begitu besar dari keduanya. Mereka saling memandang, dan mencoba menerka pikiran masing-masing.
***
Satria mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Rasanya sangat lega ketika melihat Jayu baik-baik saja. Meski ada memar di wajah pria itu, tapi lukanya tidak terlalu serius. Ada rasa nyeri di bagian perut, ketika Satria menggerakkan tubuh saat membelokkan laju mobil di tikungan yang lumayan tajam.
“Aku tidak tahu ternyata kamu bisa menggunakan senjata semacam itu.” Satria berusaha memecah keheningan.
“Sebaiknya kamu tidak melupakan fakta bahwa diriku seorang aktor,” cibir Jayu sambil melirik ke arah pria di sebelahnya. “Aku pikir aktingku sudah sangat bagus, tapi ternyata ada orang lain yang bahkan berakting setiap saat, sampai orang-orang di sekitarnya tidak menyadari betapa berbahayanya dia.”
Satria hanya tersenyum sekilas menanggapi nyinyiran Jayu. Fokusnya masih pada jalanan kota Jakarta yang cukup ramai, mungkin karena ini jam pulang kerja.
“Kamu bekerja untuk siapa?” tanya Jayu penuh selidik. Dia tidak benar-benar berharap, bahwa ayahnyalah yang sudah mengirim Satria untuk melindunginya seperti yang sempat dia dengar dari Raka dan anak buahnya tadi. Akan tetapi, setidaknya jika itu benar, mungkin Jayu akan percaya bahwa tidak ada satu pun orang tua yang benar-benar menginginkan jarak dengan anaknya.
“Kamu tahu siapa yang memberiku gaji tiap bulan. Untuk apa bertanya?”
Satria menghentikan laju mobil di dekat rel kereta api, ketika terdengar alarm yang menandakan bahwa sebentar lagi kereta akan lewat. Tangan kirinya menyentuh bagian kiri perut yang terluka. Ada darah yang menempel di tangan, bajunya sobek, dan bekas sayatan itu terasa perih.
“Lalu apa hubunganmu dengan ... ayahku?”
Pertanyaan Jayu membuat Satria melupakan rasa sakitnya. Untuk sesaat, dia hanya terdiam sambil mencoba menerka-nerka pikiran Jayu, detik berikutnya dia mendekat dan berbisik tepat di depan telinga.
“Yang pasti aku bukan istri simpanan ayahmu,” candanya dibarengi tawa kecil yang membuat Jayu semakin kesal.
“Dasar, Berandal!” Jayu melempar tisu di dekatnya ke arah Satria, mengenai bagian perut dan membuatnya menyadari kalau asisten ajaibnya itu terluka.
“Kamu terluka. Sebelum pulang, lebih baik kita ke rumah sakit dulu.”
Jayu tidak tahu, luka sekecil itu sama sekali tidak berarti bagi Satria ketimbang keselamatan Jayu sendiri. Bagi Satria, melihat Jayu baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup, ditambah lagi, ketika anak itu ternyata tidak marah mengetahui kenyataan tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Kenyataan tentang tujuan sebenarnya mengapa dia berada si sisi Jayu selama ini.
Satria kembali melajukan mobil ketika palang sudah diangkat. Pengendara motor di kanan dan kirinya berdesak-desakan, berusaha mendapatkan jalan untuk segera menyeberang. Bunyi klakson mereka saling bersahutan, seolah tidak sabaran, dan menganggap bahwa diri mereka satu-satunya yang harus segera sampai tujuan.
“Sebelum mengkhawatirkanku, lebih baik kamu hubungi istrimu. Dia pasti sangat khawatir.”
“Kamu benar, tapi aku sendiri tidak tahu di mana mereka meletakkan ponsel mahalku yang berharga,” jawab Jayu dramatis dengan sok memasang wajah nelangsa.
“Astaga, Boskuuuh, tapi di ponselmu itu tidak ada chat rahasia yang membicarakan hal tidak pantas, kan? Jangan bilang Boskuuuh dan kawan-kawan seprofesimu saling bertukar video m***m. Ini bisa gawat,” canda Satria sambil berlenggok-lenggok seperti Sasa. Dia memperlihatkan wajah melongo, seolah Jayu benar-benar memiliki rahasia menjijikkan semacam itu.
“Sialan! Kamu pikir aku ini apa?”
Satria tertawa, seiring rasa perih di lukanya yang semakin menjadi. Selanjutnya, dia menyodorkan ponsel dengan tangan kiri, tangan kanannya sendiri masih pada kendali mobil.
“Gunakan ini. Jangan buat dia semakin cemas karenamu.”
Jayu mengambil benda tersebut, ada notifikasi panggilan tak terjawab dari Venus di layarnya.
“Apa-apaan, kenapa dia meneleponmu sebanyak ini?”
Perasaan Jayu merasa sangat tidak nyaman ketika melihat istrinya berkali-kali menghubungi Satria. Rasa tidak nyaman itu disimpulkan sebagai cemburu oleh syaraf-syaraf otaknya yang usil. Dia menyapukan ibu jari di layar, selanjutnya dia melihat pesan masuk dari Venus melalui w******p.
“Ke rumah Arjuna? Kenapa dia mau ke sana?”
“Apa?”
“Venus bilang dia mau ke rumah Arjuna.”
“Ya, ampun, istrimu itu, apa dia tidak bisa menunggu sebentar lagi?” Satria mempercepat laju mobil, dan berbalik arah ke rumah Arjuna. “Kenapa wanita selalu bertindak semau sendiri, sih?”
“Ada apa? Aku tidak masalah dia ke sana. Lagi pula, aku tidak mau terlalu mengekangnya. Dia memang penggemar Arjuna, dan sebagai sesama penulis, mungkin mereka mau membicarakan sesuatu tentang tulisan. Aku tidak keberatan untuk yang satu ini.”
“Berdoa saja, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi di sana. Itu lebih baik dari pada pura-pura bijak begitu.”
“Apa maksudmu? Hei! Aku masih bosmu, beraninya ....”
“Arjuna itu psikopat. Dia bukan manusia, tapi monster.”
“Apa?”
***
Berdiri di halaman rumah Arjuna, Venus terlihat ragu untuk melangkah lebih dekat. Ada pendaran energi emosi yang begitu kuat menyeruak dari dalam sana. Angin yang bertiup membuat beberapa helai daun kekuningan menyerah pada kepongahannya. Hari sudah mulai malam, langkah yang diambil Venus semakin terasa berat ketika tiba-tiba dirinya teringat Jayu.
‘Mulai sekarang, kamu harus lebih berhati-hati. Karena tubuhmu bukan hanya milikmu sendiri, tapi juga milikku. Kamu harus menjaganya baik-baik.’
Kalimat Jayu terakhir kali ketika Venus hampir tersiram air panas karena membuat kopi sambil mengantuk. Gadis itu tersenyum ketika ingatannya kembali memutar kejadian beberapa hari lalu.
“Aku pasti akan baik-baik saja,” ucapnya kemudian melangkah lebih mantap.
Gadis itu menaiki beberapa anak tangga yang tersusun rapi menuju pintu. Memikirkan apa yang terjadi pada Tisna di dalam sana, membuat Venus berhasil mengabaikan bayangan-bayangan mengerikan yang sejak tadi berusaha menguasai tubuhnya.
Tepat di depan pintu, Venus memejamkan mata. Tangannya berusaha mengungkit gagang pintu yang ternyata tidak dikunci.
“Assalamu’alaikum, Kak Juna, Tis, kalian di dalam?”
Hening, tidak ada jawaban dari siapa pun, hanya ada kesunyian. Lampu-lampu di rumah itu masih belum dinyalakan, seperti tidak dihuni sama sekali.
“Kak Juna ... Tisna, kalian di mana?”
Venus menyusuri tiap sudut rumah yang seperti surga bagi kutu buku. Pada dinding-dindingnya menempel rak buku yang menjulang tinggi dan buku-buku di sana tertata sangat rapi. Di sepanjang lorong yang melengkung, menghubungkan ruang tamu utama dengan kamar dan ruangan lainnya, juga dipenuhi dengan buku-buku.
Langkahnya terhenti ketika melihat sebuah pintu yang sedikit menganga di ujung lorong. Pintu dengan cat cokelat, yang begitu Venus memasukinya, dia menemukan sebuah tangga menuruh. Ruang bawah tanah.
“Kamu cahaya, pasti akan membebaskanku.”
“Tolong aku.”
“Bebaskan kami dari tempat ini.”
Suara-suara itu terus terdengar, jangan tanya dari mana asalnya, karena Venus sendiri juga tidak tahu. Yang dia tahu, perasaannya mendadak dipenuhi amarah dan keputusasaan. Kakinya lemah, ada keinginan untuk berlari, tapi ada perasaan kuat yang seperti magnet, menyeret paksa langkah Venus.
“Kapten,” lirih gadis itu saat merasa dirinya tidak berdaya.
Andai saja Jayu ada di sana, kapas ajaibnya pasti bisa membuat Venus lebih fokus mencari keberadaan Tisna, bukan seperti sekarang, yang justru sibuk dengan perasaan makhluk-makhluk itu. Mereka seperti sudah begitu lama menunggu untuk ditemukan.
Venus sudah berdiri di depan pintu menuju ruang rahasia Arjuna, ketika tiba-tiba orang yang dicarinya keluar dari sana sambil bergandengan tangan.
“Tisna, apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku?”
Venus menarik paksa tangan Tisna, kemudian mencecar sahabatnya dengan berbagai pertanyaan. Namun, tanpa disangka Tisna justru melepaskan diri darinya dan memilih kembali pada Arjuna.
“Tisna, ada apa denganmu? Kenapa kamu melakukan semua ini?”
“Maafkan aku, tapi aku memilih untuk berdiri di sampingnya. Bersamanya.”
Jawaban Tisna membuat Venus tak percaya. Bagaimana bisa dia lebih memilih untuk percaya pada monster mengerikan itu dari pada dirinya? Pikiran Venus mulai kacau, seiring hawa panas yang terus menyerbu ke arahnya. Perlahan, gadis itu seakan kehilangan kesadaran ketika ada bayangan seseorang yang menempel pada dirinya.
“Juna ....”
Suara itu terdengar tidak asing bagi telinga Arjuna. Suara seseorang yang dulu pernah dia percaya untuk berdiri di sisinya, juga seorang yang menyerahkan dirinya untuk tiada di tempat itu. Meiryn.
“Ryn?”
Arjuna melepaskan genggaman tangannya dari Tisna.
“Kamukah itu?”
Venus tersenyum, matanya memancarkan kerinduan yang teramat pada seorang Arjuna. Air matanya menggenang di pelupuk ketika Arjuna berjalan mendekat. Pria itu bisa merasakan kehadiran Meiryn dari tatapan mata Venus.
“Juna, apa yang sedang berusaha kamu lakukan saat ini? Bukankah kamu sudah berjanji padaku, bahwa tanganmu tidak akan lagi dikotori oleh darah siapa pun setelah kematianku. Apa semua ini? Dan gadis itu, apa kamu juga akan menjadikannya sepertiku?”
Arjuna menangkup wajah mungil Venus. Mata keduanya berada pada satu garis lurus. Saat itu ingatan tentang bagaimana Meiryn merintih kesakitan ketika ujung pisaunya menyayat kulit, dan bagaimana dia meminta Arjuna untuk tidak pernah melakukan kejahatan lain lagi hanya untuk menulis.
“Ryn, maafkan aku. Aku ... aku sungguh ....”
Arjuna menggenggam kedua tangan Venus lalu membawa gadis itu ke dalam pelukan. Dia sangat merindukan Meyrin, sahabat terbaiknya. Di saat yang bersamaan, Tisna ikut menangis menyaksikan mereka.
“Maafkan aku, sungguh, aku tidak akan pernah menyakitinya. Aku mencintainya, Ryn.”
Venus menyeringai di dalam pelukan Arjuna, detik berikutnya dia mendorong pria itu dengan sekuat tenaga. Tatapannya berubah penuh amarah dan dendam.
“Cinta, katamu? Lalu apa yang kamu lakukan padaku selama ini? Apa kebersamaan kita sama sekali tidak berarti bagimu?”
Venus melangkah cepat menuju Arjuna yang tersungkur di lantai. Tatapan gadis itu, dikenali oleh Arjuna sebagai Alana.
“Ya, aku memang tidak pernah mencintaimu, Alana! Kamu yang terus memaksaku untuk berada di sisimu. Aku tidak mencintaimu, asal kamu tahu.”
Mendengar kalimat itu, Venus semakin murka, dia berusaha mencekik Arjuna kalau saja Tisna tidak mendorongnya.
“Hentikan! Siapa pun kamu, aku tidak peduli. Kalian yang sudah mati, untuk apa masih mengganggu kami?”
Venus berdecih. “Jalang ini! Kamu harus diberi pelajaran!”
Venus menjambak rambut Tisna. Mereka terlibat percekcokan sengit yang membuat kepala Arjuna terasa berat.
“Ve, kumohon sadarlah. Jangan biarkan mereka menguasaimu,” ucap Tisna di sela perkelahian mereka.
Mata Venus meredup, dia mendapatkan separuh kesadarannya kembali, tapi selanjutnya, dia malah menampar Tisna.
“Wanita tidak tahu diri! Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari putraku? Apa kamu senang melihatnya hanya menjadi manusia tidak berguna, hah!”
Clarissa. Wanita itu akhirnya merasuki tubuh Venus. Menyadari hal itu, Arjuna segera menarik Tisna agar menjauh, kemudian menancapkan sebuah jarum di leher Venus. Gadis itu luruh di lantai dalam sekejap.
“Venus, maafkan aku.” Kalimat itu samar-samar terdengar oleh Venus, sebelum kesadarannya benar-benar hilang, dan dia tidak bisa melihat dan merasakan apa pun lagi.
“Juna, apa dia akan baik-baik saja?”
“Tenanglah, itu hanya akan membuatnya tak sadarkan diri sebentar. Sekarang, ayo kita pergi sebelum ada yang datang. Aku yakin, suaminya yang menjengkelkan itu pasti akan segera kemari.”
***
“Venus!” Jayu menghambur ke arah Venus yang tergeletak tak berdaya di lantai.
Satria yang berada di belakangnya memeriksa setiap sudut ruangan dengan cepat, mencoba mencari keberadaan Arjuna dan juga Tisna.
“Kapten, aku gagal melindungi sahabatku.” Gadis itu menangis ketika Jayu meraihnya ke dalam pelukan. Air mata dan penyesalan tak ada gunanya, semua terlambat, Tisna sudah mengambil keputusan.
“Tenanglah, ini bukan kesalahanmu,” ucap Jayu seraya menepuk-nepuk punggung istrinya dengan lembut, dan mencoba menenangkan hati wanitanya.
“Luar biasa.” Suara Satria terdengar dari dalam sana. “Jika ini disebut cinta, aku sungguh tidak ingin jatuh cinta. Aku tidak mau menjadi orang bodoh yang tidak peduli pada orang lain.”
“Ada apa?” Jayu menyusul Satria sambil menuntun Venus.
“Bos, aku harap cintamu dan istrimu tidak akan sebodoh mereka.”
Mereka bertiga terpaku melihat apa yang ada di ruangan itu. Cinta? Rupanya kata itu seperti mantra ajaib, yang bisa menyulap otak dan hati manusia jadi tidak berguna. Keputusan yang diambil Tisna benar-benar membuat mereka kecewa, kecuali Venus, dia masih berusaha untuk bisa memahami pilihan sahabatnya.
BestRegards,
MandisParawansa