Hendrik menikmati semua cerita Ayumi, tentang bayi mereka yang sekarang sudah dewasa.
Bayi kecil itu kini jadi wanita cantik dan baru saja akan lulus SMA.
Waktu berjalan begitu cepat, siapa yang menyangka Hendrik punya seorang anak. Ayumi menunjukkan foto anak mereka, Bunga Ayu namanya.
"Tolong pertemukan aku dengannya, aku mohon." Hendrik bicara sambil menatap Ayumi dari tempatnya dan masih tetap dalam mobilnya.
"Jangan dulu."
"Kenapa ?"
"Dia pasti belum siap."
"Aku mohon." Karena terlalu semangat Hendrik sampai menggenggam jemari Ayumi.
Ayumi tertegun, ia memandang jemari Hendrik yang menggenggam jemarinya.
"Kenapa aku jadi bergetar digenggam seperti ini." Bisik batin Ayumi.
"Saat kamu pergi dari rumah, kamu kemana ?" Tanya Hendrik tanpa melepas genggaman tangannya.
"Tidur di terminal."
"Serius ?"
"Iya."
"Terus ?"
"Ya nggak terus-terus."
"Selanjutnya bagaimana ?"
"Selanjutnya aku bekerja."
"Bekerja dimana ?"
"Di warung di terminal, kadang aku lemah, merasa mual, aku berhenti sebentar, bersandar di dinding."
Ayumi bercerita sambil bersemangat.
Hendrik merasa bersalah pada wanita di sampingnya, ini bukan hanya tentang nafsu dan cinta, ini tentang sebuah rasa bersalah yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Dan pernyataan maaf atas rasa bersalah itu adalah memberikan kebahagiaan pada orang yang pernah diberi luka.
"Maafkan aku Ayumi." Ayumi mengangguk, lengan kokoh Hendrik mengarahkan jemarinya untuk membelai rambut Ayumi yang tergerai. Hendrik luar biasa romantis.
"Proses kelahiran Bunga yang akhirnya membuat aku bersatu kembali dengan keluarga ku. Terlebih kak Bil, dia sudah pulang dari studinya di Yogjakarta, dia yang terus menyemangati ku, dia yang memberikan wacana pada keluarga agar menerima ku. Sampai hari ini pun Bunga begitu dekat pada kak Bil."
Ayumi bicara sambil angannya mengembara, mencari ruang tempat dirinya bisa bertahan.
Hendrik terantuk pada rasa yang teramat dalam, penyesalan yang ia simpan bertahun-tahun kini menemukan muaranya.
Bil, adalah kakak tertua Ayumi, seorang Doktor dari sebuah Universitas ternama yang kini memiliki bisnis di mana-mana.
"Sudah malam, apakah kamu tidak ingin pulang ?" Tanya Ayumi, pada Hendrik.
Hendrik diam, memejamkan matanya sesaat, ia ingat Arum yang pasti menunggunya di rumah. Tetapi jiwa petualangnya ingin tetap berada di samping Ayumi. Hendrik merasa ingin tetap di sini menemani wanita ini.
"Besok aku akan pulang, aku akan minta maaf pada Arum dan dia pasti memaafkannya." Hati Hendrik bicara sendiri, sedangkan Ayumi, wanita ini telah menanggung derita berpuluh-puluh tahun lamanya, membesarkan dosa yang ia tanamkan pada rahimnya seorang diri.
Saat itu, betapa malam-malamnya pasti dingin, sunyi dan menyedihkan. Salahkah bila Hendrik ingin menemani wanita ini malam ini ?.
"Sayang, malam ini kita nikmati berdua ya,"
"Maksud mas Hendrik apa ?"
"Kamu hubungi mas Bil, kamu minta ijin bahwa kita berdua di dalam mobil, kita tidak akan melakukan dosa. Aku hanya ingin membersamai mu, semalam saja."
"Lalu istri mu bagaimana ?"
"Aku yang akan mengatasinya, aku akan menghubunginya tenang saja, dia pasti akan memaafkan aku." Ucap Hendrik yakin.
Ayumi melihat Hendrik dengan tatapan sayu nan menggoda.
"Kamu setuju, kan ?" Hendrik menggerak-gerakkan bahu Ayumi mengharap persetujuan.
Ayumi mengangguk. Ayumi percaya Hendrik tidak akan berbuat buruk, Hendrik lelaki yang sangat bertanggung jawab. Persetubuhan hari itu pun atas kehendak Ayumi, Hendrik berkali-kali menolak tetapi Ayumi terus merengek.
Malam ini Ayumi yakin Hendrik sedang merindukannya itu sebabnya kekasih hatinya itu ingin bersamanya, Ayumi sangat memaklumi isi hati Hendrik.
Ayumi pun menghubungi Bil, kakaknya yang baik hati itu, awalnya Bil melarang tetapi karena Ayumi terus memohon akhirnya Bil pun mengabulkan. Ayumi bersorak.
"Jaga diri baik-baik, " pesan Bil.
"Pasti dongggg"
"Selamat bersama dengan cinta mu."
"Ih, apaan."Ayumi malu pada candaan Bil atas dirinya.
Hendrik turun dari mobil, membeli beberapa makanan ringan, tidak lupa ia membeli minuman rasa kelapa kesukaan Ayumi. Hendrik masih ingat makanan dan minuman kesukaan Ayumi, Ayumi cinta pertama bagi Hendrik, bagaimana ia bisa melupakannya ?
Sebelum kembali ke mobil Hendrik menghubungi Arum via w******p.
"Assalamualaikum, Um. Malam ini aku tidur di rumah Pak Bil karena ternyata banyak teman-teman yang bermalam di sini. Ummi tidur saja, besok kita ketemu lagi ya sayang. Salam sayang."
Arum memandang tulisan yang masuk ke ponselnya.
"Mas Hendrik bermalam di rumah kawannya ?, ini untuk pertama kalinya, ada apa ya ?" Arum melayang dengan bayangan dan persepsinya sendiri. Dadanya berdegup kencang. Nadinya bergerak lebih cepat. Ia mencoba menghubungi Hendrik tapi tiga kali ditolak.
"Tidak usah telepon, Um. Aku baik-baik saja. Aku malu, banyak teman-teman" Balas Hendrik hanya lewat chat w******p.
Arum meradang, ia mendekap ketakutan yang tiba-tiba bersemayam di hatinya.
Ia bentangkan sajadah usai membasahi wajahnya dengan air wudhu, Arum sholat dua raka'at lalu menangis dalam doa panjang kemudian terlelap di atas sajadah tersebut dengan kekhawatiran yang belum hilang.