4. MENGHANTUI

1130 Kata
"Jangan kamu bawa uang haram itu ke rumah!" Ayah-Mia berteriak keras. Mia pulang ke rumah orang tuanya karena ia sangat merindukan ibunya. Ibu-Mia, Rumana, menangis mendengar perkataan suaminya. "Aku hanya membantu keluarga ini, Ayah. Aku hanya membantu keluarga.'' "Tidak perlu! Kami tak butuh uang harammu, kehadiranmu hanya membawa keburukan di rumah ini." Nada bicara Ayah-Mia sangat tinggi dan nyaring. Emosi menguasainya. Hati Mia begitu sakit mendengarnya. Ayahnya tidak berubah. Ia masih sering melontarkan kata-kata yang kasar pada anaknya. "Baiklah jika Ayah berkata begitu, aku pergi." Mia menyusut air mata di pipinya.  Mia pergi dari rumah orang tuanya kembali ke kota Batu. Mia sesegukan menangis di dalam bus. Kesedihannya begitu memuncak di dalam hati. Mia sangat merindukan Ibunya, selama beberapa tahun belakangan dia hidup seorang diri. Ia melewati begitu banyak penderitaan seorang diri di usianya yang masih belia. Ayah Mia sangat keras mendidik anak-anaknya. Dia akan mudah memukul dan memaki apabila Mia dan keempat saudaranya melakukan kesalahan. Karena itu Mia tidak sanggup menanggungnya. Dia memilih kabur dari rumah dan hidup dijalanan. Menggelandang. Kelaparan. Di perkosa bergilir. Hingga hampir dijual seseorang sebagai b***k s*x di sebuah lokalisasi. Orang itu menipu Mia, dia berkata akan memberikan pekerjaan. Ternyata dia berniat menjual Mia. Ia hampir saja menjadi korban perdagangan manusia. Untung saja Mia berhasil melarikan diri saat orang yang hendak menjual Mia itu sedang bertransaksi tawar-menawar harga untuknya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seseorang yang memperkenalkan dirinya dengan Mami Olla. Perempuan cantik paruh baya yang bekerja di klub malam, dia mempunyai banyak perempuan yang dipekerjakan di Industri hiburan malam sebagai wanita penghibur. Mia menyandarkan tubuhnya pada kursi bus, ingatannya kembali pada masa masa kanak-kanaknya. Saat dia dilecehkan oleh kakak laki laki dari teman sepermainannya. Dia hanya gadis kecil berusia 9 tahun dikala itu "Kenapa ini terjadi kepadaku? Apakah aku tidak pantas bahagia? Kenapa kemalangan ini bertubi tubi menimpaku?" Mia menangis menutupi wajahnya tak kuasa menahan rasa kecewa yang begitu dalam. **** Jantung Mia berdebar sangat kencang seolah hampir lepas. Napasnya seakan habis. Dia berlari sangat kencang ke arah dalam pasar yang gelap. Saat ini telah lewat tengah malam, tentu saja pasar sangat gelap. Licin dan becek. Mia beberapa kali terpeleset. Mia mencium aroma bahaya yang akan segera menimpa dirinya. Beberapa orang laki-laki sedang mengejarnya. "Cari Dia!!" Seorang berwajah bengis berambut panjang memerintahkan beberapa orang anak buahnya mencari Mia. Empat orang barlalu-lalang mencarinya. Mereka bahkan mencari hingga ke bawah meja para pelapak yang berjualan di pasar itu. Mia beringsut lebih dalam menyembunyikan tubuhnya, bahkan ia menahan napas cukup lama saking takutnya. Debaran jantungnya berpacu cepat.  Tiba-tiba! Cahaya menyilaukan mengenai wajahnya.  "Hai gadis kecil! Di sini rupanya." Sumringah kejam lelaki itu menggetarkan nyali Mia. Cahaya senter itu masih terarah ke wajahnya. "Tidak ... tidak... tolong jangan sakiti saya, saya mohon." Mia menangis gemetar ketakutan. "Bos! Anak ini di sini. Hahhaha." Lelaki itu menjambak rambut Mia dengan kasar dan kuat. Ia menyeret dan menarik Mia keluar dari persembunyiannya. Tercium aroma aneh dari mulut lelaki itu yang Mia belum pernah cium sebelumnya "Tidak! Mereka mabuk?!" Pikiran itu semakin mematahkan keberaniannya "Tolong, Pak, tolong lepaskan saya." Mia menyatukan kedua telapak tangan memohon dan menangis. Suara gadis belia itu bergetar. Ia menggigil ketakutan. "Hahahaha." Tawa itu sangat mengerikan pada tengah malam di dalam pasar yang gelap.  Lelaki itu tak peduli, dia terus menyeret Mia, langkah gadis kecil itu terseok bagai layangan tertiup angin. Dia menyerahkan Mia pada lelaki yang dipanggilnya "bos". Si Bos tersenyum mengerikan dengan air liur yang hampir menetes. Ia Sangat mirip serigala lapar yang mendapatkan binatang buruannya. Dia menyeret Mia tanpa sedikitpun perasaan kasihan. Ia semakin masuk ke dalam pasar, diikuti tiga orang lelaki lainnya Sampai di sudut tembok pembatas pasar. Dia membuka baju Mia dengan paksa hingga robek. Dia menarik sebuah meja pedagang untuk dijadikannya alas melakukan keinginannya. Menikmati tubuh Mia yang berusia hanya 16 tahun. "Kalian berjaga jaga! Kalau-kalau ada yang datang. Tunggu saja giliran kalian." Dia bicara dengan nyaring dan tegas, seraya tangannya melepas seluruh pakaian Mia dengan paksa. Para anak buahnya pergi sedikit menjauh, berjaga sambil menanti "jatah" kenikmatan yang mereka nantikan dengan tidak sabar. Mia terus berontak ingin melarikan diri, namun apalah daya seorang gadis kecil dibanding lelaki yang sudah dikuasai napsu. "Tidak! Tidak! Saya mohon tolong lepaskan saya." Mia menangis sambil menutup d**a dan menjepitkan kedua pahanya. Mia berusaha menutup area pribadinya. Lelaki itu tak peduli, segera di dorong-nya dengan kuat hingga Mia terjengkang ke atas meja yang telah di persiapkannya. Segera dia merebahkan badannya di atas tubuh Mia yang dingin karena ketakutan. Mia tak dapat lagi bergerak. Lelaki itu merentangkan kaki Mia dengan beringas. "Jangan tolong jangan!" Mia berteriak bagai lolongan anjing di tengah malam. Tapi lelaki itu tak peduli. Mia menggigit bahu lelaki itu sangat kuat. Mia merasakan asin dan aroma darah di indra pengecap juga penciumannya. Darah itu mengalir dari pundak lelaki yang kini berada di atas tubuhnya. Lelaki itu tak peduli rasa sakit di bahunya. Dia hanya merasakan kesenangannya. Mia berteriak hingga habis suara nya. Ia sudah lemah menahan sakit disekujur tubuhnya. Lelaki itu pun mengejang beberapa saat. Cairan kental tumpah menetes dari s**********n Mia. Perlawanan Mia sungguh sia-sia belaka. Setelah Ia puas. Lelaki itu bersuara nyaring "Aku sudah selesai." Dia  menutup retsleting celananya Pria lain mendekat. "Tidak, tidak." Mia berkata dengan suara yang lemah. Ia telah terkulai tak berdaya. Penderitaan nya belum usai. Masih ada tiga orang menantinya "Matikan saja aku, Tuhan." Mia berteriak sambil menangis saat pria yang lain melepaskan celana sendiri lalu memelorotkan-nya hingga ke pergelangan kakinya. "MATIKAN SAJA AKU!!!" Teriakan Mia kembali memecah keheningan malam saat lelaki kedua sekuat tenaga menghujamkan dirinya secara biadab kepada seorang gadis kecil. Mia segera terduduk, peluh membanjiri kening dan seluruh tubuhnya. Mia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Air mata menetes dari kedua pipi. Tubuhnya terasa sangat lemah bagai tak bertulang. Tenggorokannya pun terasa sangat kering. Perlahan dia coba bangkit dan menuangkan air ke dalam gelas. Selesai minum Mia terdiam membeku. "Kejadian itu masih sering hadir di mimpiku" Mia menangis sedih bercampur sedikit kelegaan. Hal itu sudah terjadi. Itu hanyalah bayangan masa silam dua tahun lalu. Kejadian itu masih sering hadir mengganggu tidurnya. Hal mengerikan yang masih meninggalkan trauma yang sangat mendalam pada Mia. Ponsel Mia berdering. "Halo…. Rayhan." Mia berusaha berbicara semanis mungkin menyembunyikan perasaannya. "Hai Mia. Kamu sudah tidur? Cepat sekali." Suara Rayhan menyayangkan diujung sana.  Mia memandang ke arah jam dinding di kamarnya. Sudah pukul 10.15 malam. Rupanya dia tertidur selama dua jam sejak dia tiba dari perjalanan pulang dari rumah orang tuanya.  "Iya aku sangat kelelahan. Tadi aku mengunjungi orang tuaku di kota Rantau. kenapa Rayhan?" "Bagaimana kalau kita makan di luar. Aku tahu tempat makan kepiting yang enak." Rayhan mengajak penuh harap. "Baiklah, aku akan bersiap. Tunggu aku di depan gang rumahku. Hubungi aku begitu kamu sampai."  "Ok." Rayhan setuju.    Mia tersenyum bahagia. Ada perasaan aneh yang dirasakannya di dalam dadanya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN