Sejak kejadian tadi, Cia sama sekali tidak memperdulikan Mila. Mila hanya menghela napas kasar. Tidak menyangka, ternyata Cia sangat baperan. Lihat saja, Cia sekarang duduk di belakang, bukan di sampingnya. Entah ada kata apa yang membuat gadis itu marah. Sekali lagi Mila tegaskan, itu semua ia riset melalui fakta.
Saat Pak Damar selaku guru Matematika sibuk dengan papan tulis yang berisikan rumus-rumus yang tidak Mila pahami, Mila menoleh ke belakang.
"Ci," panggil Mila berbisik. Cia tidak meresponnya. Gadis itu tetap fokus ke papam tulis serta bukunya untuk mencatat.
"Ci," panggil Milasekali lagi dengan nada sedikit dinaikan.
Tetap tidak ada respon dari Cia.
"Ci!"
"MILA!"
Bersamaan Mila memanggil Cia, Pak Damar juga memanggil Mila dengan suara besarnya. Mila memutar badannya ke depan dengan tampang meringis serta senyum dipaksakan.
"Ngapain nengok-nengok ke belakang?" ucap Pak Damar dengan nada khas Jawa-nya.
Mila meringis, "Anu, Pak--" ucapan Mila terpotong.
"Anu anu. Anu opo?" sela Pak Damar membuat seisi kelas tertawa terbahak.
Pak Damar menatap semua murid, "Opo toh? Ketawa-ketawa tanpa sebab. Diam!"
Mereka tertawa bukan karena Mila tercyduk ngomong saat pelajaran, melainkan logat Pak Damar yang memang sangat kental Jawa-nya membuat kesan lucu saat beliau berbicara. Apalagi sedang marah.
Lelaki tua itu kembali menatap Mila, dan saat Pak Damar ingin membuka suara berniatan mengomeli Mila, Cia tiba-tiba mengangkat tangannya membuat perhatian tidak hanya Pak Damar, namun semua murid di kelas itu menatap Cia.
"Bisa lanjut aja pelajarannya, Pak? Nggak ada faedah-nya juga ngomelin dia, Pak," ucap Cia. Pak Damar tersenyum sumringah.
"Ini ni, ini. Calon anak yang sukses," ucap Pak Damar sambil menunjuk-nunjuk Cia.
"Woke, kita lanjut ke pelajaran," sambung Pak Damar. Mila menghembuskan napas lega dan menoleh ke belakang.
"Gue tau lo nggak marah sama gue," ucap Mila dengan nada pede-nya.
"Hadap depan. Tercyduk dua kali nggak Cia tolong lagi," balas Cia namun masih fokus mencatat pelajaran yang ditulis Pak Damar di papan tulis. Mila mencubit gemas pipi Cia.
"Uluuuuu Mila cayang Cia, muah muahh," pekik Mila dengan nada yang dibuat-buat.
"Ekhem, Mila!" spontan Mila menghadap ke depan. Terlihat Pak Damar berkacak pinggang sambil menatap tajam ke arah dirinya.
Mila meringis melihat itu.
"Maaf, Pak. Silahkan lanjutkan Pak," ringis Mila. Sedangkan Cia, ia mengulum senyumnya melihat tingkah Mila sekarang ini.
---
Akhirnya, bel yang ditunggu-tunggu berbunyi juga. Pak Damar langsung menyudahi pelajaran dan keluar. Begitu pun semua siswa/i yang langsung riuh. Bahkan, sebelum Pak Damar keluar pun, ada-ada saja yang sudah lebih dulu keluar.
"Yes, istirahat!" riang Cia sambil membereskan bukunya yang ada di meja.
Mila menoleh, "Lo ke ruang lab?"
Cia mengangguk, "Iya, Mila."
Setelah itu, Mila tidak menanggapi dan juga sibuk memasukkan peralatan belajar di laci meja. Lalu, Cia ke melangkah ke depan dengan satu buku serta pulpen di pelukannya.
"Cia ke lab dulu. Mila ke kantinnya sama temen yang lain aja, ya? Lagian, Cia udah kenyang," ucap Cia.
Mila mengangguk, "Iya tahu. Yang mau ketemuan sama calon gebetan."
Mulai sekarang ini, ia akan mendukung saja apa yang akan dilakukan Cia. Walau, sebenarnya itu agak mustahil. Tapi siapa sangka, takdir baik berpihak kepada temannya itu.
Cia tersenyum lebar, "Bye!"
Cia melangkah keluar kelas dan berlari kecil menyusuri koridor. Dengan senyuman yang belum sama sekali luntur. Ia sangat ber-semangat kali ini. Jujur, tidak pernah ia merasakan hal seperti ini.
Ia sudah sampai di depan ruang lab Biologi. Ia menarik napasnya lalu membuangnya. Padahal, ini ibartkan acara bersama, kenapa ia menjadi sangat gugup seakan-akan nanti berduaan saja dengan Revan?
Cia melihat banyak siswa/i mulai memasuki ruang lab. Ternyata, banyak juga. Sebagian besar adalah cewek. Mungkin, tujuan mereka sama seperti tujuan dirinya. Mengingat Ketos serta Waketos-nya ganteng naudzubillah.
Sebelum Cia melangkah masuk, ia melihat seorang gadis juga melangkah ingin memasuki ruang lab. Ia mengernyit, ia seperti mengenali gadis itu dan berusaha mengingat, dan membulatkan matanya saat otaknya menemukan berkas tentang siapa gadis itu.
"Della!"
Gadis ber-kacamata bernama Della itu langsung menatap ke arah-nya. Cia melambaikan tangan dengan senyuman riang di wajahnya. Terlihat, gadis itu menampilkan ekspresi seperti sebelum Cia mengingat siapa itu. Lalu, gadis itu juga ber-ekspresikan sama seperti Cia sudah mengingat siapa itu.
"Cia!"
Della langsung berlari dan memeluk Cia. Seakan ber-nostalgia lama tidak berjumpa, mereka berpelukan dengan erat tidak memperdulikan sekitar tengah menatap mereka. Mengingat, Cia berada di bagian tengah pintu masuk. Untung saja, pintu itu sangat lebar.
"Della sekolah di sini?" ucap Cia tidak bisa lagi me-ngontrok ke-bahagiannya.
Della mengangguk, "Kakak aku senior di sini. Jadi, ayah sama ibu aku nyuruh aku sekolah di sini."
Cia dan Della tidak terlalu dekat saat SMP. Namun, satu kejadian membuat mereka akrab setelah lulus. Seperti ini jadinya, mereka ber-perilaku seakan sudah berteman lima tahun dan terpisah selama satu tahun.
"Siapa, Della?" tanya Cia.
"Kak Rangga," jawab Della. Cia menganggukan kepalanya serta ber-oh ria.
"Masuk, yuk!" ajak Della yang langsung diangguki oleh Cia.
Mereka duduk di kursi bagian nomer dua dari depan. Cia membenarkan posisi duduknya agar melihat ke depan dengan nyaman. Karena, ia harus fokus. Fokus ke Revan.
"Ketosnya ganteng juga, ya!" bisik Della saat Adi lewat di depan menyiapkan speaker.
Cia mengangguk, "Wakilnya juga."
Della dan Cia kembali melihat depan. Sosialisasi ini belum di mulai. Namun, Cia menikmati saja karena Revan begitu banyak memakai peran untuk menyiapkan sosialisasi ini. Ia tersenyum dan menatap Revan. Seakan dirinya ter-hipnotis dengan aura cowok itu.
"Lama juga, ya, mulainya," bisik Della lagi. Cia mengangguk setuju.
"Oke, adik-adik semua. Harap tenang, ya. Kita akan memulai sosialisasi tentang OSIS ini lima menit lagi," ucap seorang gadis cantik yang juga bagian berpengaruh dari inti OSIS.
Semua perlahan diam mengikuti instruksi kakak senior mereka. Lalu, Adi maju ke depan dengan mic di tangannya.
"Selamat pagi, semuanya!" sapa Adi riang seperti biasanya.
"Pagi juga, Kak!" balas semuanya kompak.
"Hari ini, adalah hari kita akan membuka pen-daftaran untuk bergabung ke inti OSIS. Kami tidak menerima semuanya, ya. Melihat yang daftar lumayan banyak juga. Jadi, siapa yang menurut kami layak, akan kami terima," ucap Adi yang langsung diberi balasan 'iya' oleh semuanya.
"Yang nanti nggak keterima, jangan kecewa, ya. Bagi yang kelas sepuluh, bisa daftar lagi pas kelas sebelas. Yang kelas sebelas, kasian deh lo!"
Semua langsung tertawa mendengar lawakan receh dari Adi. Cowok itu pun juga tertawa. Lalu, ia menoleh ke belakang mengarah teman-temannya yang duduk di belakangnya. Mencari sang wakil untuk menjelaskan bagaimana OSIS.
Bukan Adi tidak bisa. Adi berpikir, jika dirinya menjelaskan, mungkin semua akan kabur karena mendengar betapa sibuknya menjadi anggota OSIS. Mungkin jika Revan yang menjelaskan, semua menerima saja dan tetap men-daftar.
Seperti pada saat ia membagikan nomer cowok itu secara cuma-cuma. Membuahkan hasil, bukan?
"Revan mana?" tanya Adi yang sedikit terdengar karena mic yang berada di tangannya.
Cia yang mendengar itu pun langsung mengedarkan pandangannya. Mencari sosok yang membuat dirinya rela duduk manis di sini. Padahal ia sangat membenci sosialisasi.
"Tunggu sebentar, ya, semua." Adi melangkah menuju teman-temannya. Terlihat, Adi dan teman-temannya itu celingak-celinguk juga. Apa yang sudah terjadi dengan Revan?
Tidak ingin ber-asumsi, Cia langsung keluar dari ruangan lab untuk mencari di mana Revan berada.
Cia menoleh kanan-kiri, tidak ada siapa pun. Sepi, karena ini sudah memasuki jam pelajaran ke dua. Tapi, akan lebih mudah mencarinya jika sepi begini.
"Di mana, ya?" gumamnya. Cia melangkah menuju toilet laki-laki. Ia celingak-celinguk melihat ke dalam. Siapa tahu, Revan keluar dari sana. Namun, tidak ada siapa pun yang akan keluar dari toilet itu.
Ia kembali melangkah, bahkan berlari. Hingga, larinya terhenti saat orang yang ia cari ada di depan sana. Ia tersenyum lega, dan berniat ingin kembali berlari sebelum ia melihat tengah bersama siapa Revan berdiri di sana.
Gadis itu, gadis yang pernah ia lihat di kantin tempo lalu. Ia merasa mengenali gadis itu. Ia menyipitkan matanya, dan terkejut bukan main saat tahu siapa gadis itu sebenarnya.