05. Five Handsome

719 Kata
"CIAA! LO KE MANA AJA TADI JADI NGGAK MASUK JAM PELAJARAN PERTAMA? LO BOLOS, YA?!" tuding Mila tak santai dengan kecepatan seratus delapan puluh per-jam saat berbicara. Cia menutup kedua telinganya. Merasa gendang telingnya berdengung karena Mila berteriak begitu dekat dengannya. "Ya ampun, Mila. Pelan-pelan aja ngomongnya. Cia nggak budeg," ucap Cia sambil meringis. Mila mendengus, "Lo hutang cerita sama gue." Cia mengerutkan keningnya tak paham dengan apa yang dikatakan Mila. Bukannya menjelaskan, Mila justru langsung menarik pergelangan tangan Cia menuju keluar kelas. "Aduh, Mila. Mila mau bawa Cia ke mana?" ucap Cia dengan nada sedikit meninggi. Karena, di luar kelas begitu ramai. "Kantin lah," jawab Mila santai dan tetap menyeret dirinya. "Cia dah kenyang," balas Cia. Mila menggelengkan kepalanya, "Bodo. Yang penting lo temenin gue makan," ucap Mila acuh. Cia menghela napasnya. Ia hanya pasrah mengikuti saat tangannya seperti diseret oleh teman barunya itu. Saat sudah berada di kantin, Mila langsung men-dudukan Cia. Seraya berkata, "Tunggu di sini. Gue mau mesan makanan dulu," ucap Mila yang langsung diangguki patuh oleh Cia. Cia duduk sendirian. Pandangannya tertuju ke mana-mana. Batinnya, kantin ini sangat luas. Begitu banyak kedai-kedai kecil dan meja serta kursi. Tak lupa kerumunan siswa/i SMA Harapan yang menyerbu setiap kedai-kedai itu. Lalu, pandangannya jatuh ke arah seorang gadis yang berdiri lumayan jauh darinya. Ia mengernyit dan menajamkan indera penglihatannya. Ia mengenali gadis itu. Namun, itu tidak mungkin, pikirnya. "Kak Amanda, bukan?" gumamnya sendiri. "Cia!" Cia menoleh dan beralih menatap Mila yang membawa seporsi nasi goreng beserta dua jus jeruk. Minuman itu terlihat sangat menggiurkan. Hingga ia tidak lagi sadar, dengan apa yang telah ia lihat tadi. Mengingat, cuaca hari ini begitu panas. "Ini punya lo, ini punya gue," ucap Mila sambil meletakkan gelas berisi jus jeruk ke hadapannya. Cia tersenyum begitu lebar dan langsung menyesap minuman berwarna itu. "Tadi lo sama siapa, Ci?" tanya Mila sambil mengaduk-aduk nasi gorengnya. "Waktu Cia nggak masuk, ya?" tanyanya balik. Mila mengangguk sebagai jawaban. "Sama Kak Daffa." Mila langsung tersedak dan langsung menyesap minumannya hingga tersisa separo. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang barusan Cia katakan. Daffa? Salah satu personil five handsome? "Siapa? Daffa?" ulang Mila memastikan. Cia menatap bingung Mila seraya mengangguk sebagai jawaban. Mila seakan menatap tak percaya sekaligus kagum kepada Cia. Lalu, ia menepuk-nepuk pundaknya membuat gadis itu terlihat begitu bingung dengan sikap aneh Mila. "Lo keren," ucap Mila dan kembali memakan nasi gorengnya. Cia mengernyit, dan kembali meminum saja minumannya. Hingga pandangannya jatuh ke arah samping kanan, terlihat segerombolan cogan datang membuat keributan di kantin saat ini. Ia lagi-lagi mengernyit, menajamkan indera penglihatannya. Itu, para kakak seniornya tadi. Namun, ada satu cowok yang berhasil menarik perhatiannya. "Itu five handsome, Ci." Cia langsung menoleh ke arah Mila, "Five handsome?" Mila mengangguk, "Personilnya terdiri dari Revan, Daffa, Alfa, Rangga dan Bima. Dan menurut gue yang paling ganteng, Revan." "Revan yang mana, Mila?" tanya Cia. Lalu, Mila menunjuk salah satu cowok yang berada di bagian depan. Ganteng, memang benar. Bahkan sebelum Mila menunjuk, Cia sudah yakin, kalo cowok itu adalah cowok yang bernama Revan. Karena, saat ia bersama kakak-kakak senioranya itu, hanya nama Revan yang tidak ada. Cia mengangguk-anggukan kepalanya. Tak lupa senyum yang ia terbitkan membuat Mila heran melihatnya. "Kenapa lo?" aneh Mila. Cia semakin tersenyum penuh arti, "Cia punya rencana!" Mila mengangkat sebelah alisnya, "Rencana?" Cia menganggukan kepalanya dengan tatapan yang masih terkunci kepada satu orang. Baru pertama kali melihatnya, Cia sudah jatuh cinta. Harus kah dirinya sia-siakan perasaan ini? Ahh, tidak, Cia bukan tipikal gadis yang suka mumbazir-kan perasaan. "Kak Revan udah punya pacar belum, Mila?" tanya Cia dengan nada kepo tingkat akut. Mila mengangkat kedua bahunya, "Nggak tahu. Kayaknya, belum deh." Cia semakin tersenyum sumringah. Lalu, ia kembali menatap ke arah cowok itu. Hatinya terasa sangat senang. Memikirkannya saja, sudah mampu membuat kupu-kupu diperut Cia bergejolak gembira. Namun, apakah ia bisa? Ia tidak pandai dalam memulai hubungan. Bahkan, pacaran saja bisa dihitung memakai jari. Tapi, banyak orang mengira, Cia tidak pernah pacaran. Di lihat dari wajahnya yang kelewat polos, seakan otaknya sama sekali tidak ter-noda. Entah kenapa, kali ini ia merasa yakin. Menaklukan hati cowok itu, seakan menjadi tantangan untuknya. Mungkin mulai hari ini, ia akan selalu mencari tahu hal-hal yang berkaitan dengan kakak seniornya itu. Tidak peduli itu hal ter-kecil, hingga hal ter-besar. Karena menurutnya, semua yang berkaitan dengan Revan, sangat penting untuk kehidupannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN