Nalendra berjalan ke kamar. Duduk dengan menikmati rokok di balkon. Memaksakan telinga agar tetap mendengarkan dengan fokus. Padahal, sebenarnya tubuhnya meminta untuk istirahat. Nalendra tidak tahu harus berbuat apa di posisi saat ini. Ingin menyerah, tapi tidak bisa mengingkari janji yang telah diucapkan. Tidak bisa membohongi diri, Nalendra sudah lelah untuk mengurusi segala hal yang ada pada Pratiwi dan keluarga. “Bagaimana Bu?” tanya Nalendra kepada wanita yang masih setia mendampingi Pratiwi. “Nalendra, kondisi mental Pratiwi benar-benar sudah berat. Halusinasinya semakin menjadi, apalagi ketika rasa trauma itu muncul ... reaksinya sudah parah,” katanya dengan suara yang terdengar berbisik-bisik. “Jangan dimatikan dulu, saya keluar dari kamar,” sambungnya. Nalendra berjalan ke

