"Komandan udah datang?" tanya Anin yang matanya bergerak liar mencari keberadaan Cahaya. Gaun hitam yang dia kenakan di balik pahanya terdapat dua senjata. Yang satu beramunisi timah, yang satunya lagi obat bius. Langkah Anin bergerak cepat menyusuri semua orang yang berkerumun. "Hai cewek jutek, cantik banget malam ini—" sapa seorang pria yang familiar di mata Anin saat dia menoleh. Pria menyebalkan baginya ini menggunakan setelan jas abu-abu muda dan kemeja putih di dalamnya. Anin mengabaikannya, tetapi tangan si pria menghadang jalannya mengajak berkenalan. "Aku belum tahu nama kamu, boleh dong kalau kita jadi teman. Kalau pertemuan kedua itu artinya akan ada pertemuan yang selanjutnya," kata si pria, melemparkan senyum manis yang menggoda. Wajah kecilnya yang imut dan manis selalu m

