Sihoon memandang gadis itu pekat-pekat. Tak tampak kepanikan atau emosi apapun dalam nada suara gadis itu. Matanya yang bulat dan cokelat terlihat jujur dan polos, seperti tak ada sesuatu hal pun yang disembunyikan olehnya. Suaranya lembut dan enak didengar. Di wajahnya pun tak tampak ekspresi yang jelas. Ia hanya duduk disana tanpa emosi, dengan wajah datar. Seakan ia telah memagari dirinya dengan sebuah dinding pengendalian diri yang tak kasat mata namun tak tertembus. Seolah gadis itu telah lama menyembunyikannya dan tak ingin orang lain melihat dirinya yang sebenarnya, atau mengetahui apa yang ia pikirkan. “Saat aku membawanya kesini, dokter tanpa bertanya langsung membawanya ke ICCU…” ia terhenti. Kali ini matanya membalas tatapan Sihoon, namun lagi-lagi wajahnya datar dan tak terda

