Bab 5 – Pembalasan Pertama

1560 Kata
Ketika Sabrina kembali ke kolam renang, ia melihat Aksa sedang memegang tangan Lola di dalam kolam. Mereka berdua tertawa bersama dengan Lola yang masih mengenakan pelampung, sementara Aksa menghadap ke arahnya sambil membimbing Lola untuk bergerak maju di atas air. Sikap tersebut dari kejauhan tampak seperti Aksa yang tengah mengajari perempuan itu berenang. Sabrina sendiri juga akan berpikir demikian, andai ia masih Sabrina yang dulu. Tapi sayangnya yang terjadi tidaklah demikian. Ia sudah tahu apa yang Aksa dan Lola perbuat dan Sabrina yang sekarang tidak akan bisa lagi mereka bodohi. Sabrina menatap kekasih dan saudari tirinya dari kejauhan. Mereka berdua benar-benar mengambil kesempatan untuk bermesraan di saat dirinya pergi. Tapi dengan cerdiknya berusaha melakukan hal tersebut agar tampak lebih natural. Cih! Sabrina merasa dirinya memang begitu lugu sebelumnya sehingga tidak bisa membaca gelagat aneh dari dua pengkhianat di hadapannya tersebut. Untungnya sekarang tidak lagi demikian. Seolah tirai yang menutupi matanya telah terbuka, kini Sabrina merasa ia bisa melihat lebih jelas gelagat ganjil dari bahasa tubuh Aksa dan Lola. Biasanya, dalam kondisi normal Sabrina akan berlari menghampiri keduanya sambil menyebut nama mereka. Tapi kali ini, Sabrina akan menggunakan cara lain. Ia mendekati mereka dalam diam, membuat dua sejoli itu tidak menyadari keberadaannya yang kian mendekat. Mereka berdua terlalu asyik satu sama lain sehingga tidak menyadari bahwa Sabrina sudah hampir tiba di dekat mereka. Ketika Sabrina akhirnya mencapai tepi kolam, Aksa adalah yang pertama menyadari keberadaannya. Laki-laki itu buru-buru melepas tangan Lola dan menatap Sabrina. “Sayang, kamu sudah selesai dari kamar mandi?” tanyanya. Aksa segera berenang ke tepi dan mendekati Sabrina. Dulu, Sabrina mungkin akan tersenyum dan menonton Aksa mengajari Lola berenang. Tapi kali ini tidak. Ia tidak akan memberikan mereka berdua kesempatan lagi untuk berdekatan di depan matanya. Maka, Sabrina pun akhirnya langsung melompat ke dalam air. Tepat di hadapan Aksa, membuat laki-laki itu terkejut dan panik. “Sayang, kamu kenapa tiba-tiba lompat?” tanya Aksa sambil menarik Sabrina dari dalam air. Sabrina terbatuk karena tadi sempat tersedak air kolam. Bukan rahasia bagi mereka semua bahwa Sabrina memang tidak bisa berenang. Lebih tepatnya Sabrina dan Lola sama-sama tidak bisa berenang. Masih dalam kondisi terbatuk, Sabrina meraih bahu Aksa dan memeluknya. Di hadapannya, ia bisa melihat mata Lola tampak bergetar melihat dirinya yang kini tengah memeluk Aksa. “K-kamu nggak apa-apa?” tanya Lola. Ia berusaha mendekat dengan pelampungnya. Sabrina merunduk dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aksa. Bisa dirasakannya tubuh laki-laki itu agak menengang. Ini adalah kali pertama mereka bersentuhan seintim ini. Sebelumnya, Sabrina masih merasa malu jika harus memeluk Aksa dengan mesra, apa lagi di hadapan orang lain. Tapi meski begitu, Aksa tetap memegang tubuh Sabrina dengan baik. Tidak melepasnya begitu saja dan membiarkan kekasihnya itu masuk kembali ke dalam air. “Kamu kenapa tadi tiba-tiba aja lompat? Kan belum pakai pelampung,” tanya Aksa lagi. “Maaf, tadi aku mendadak pengin aja lompat,” jawab Sabrina. “Ayo kita pakai pelampung dulu ya,” bujuk Aksa. Tapi Sabrina segera menggeleng. Waktu itu memang tujuannya datang ke sini adalah untuk belajar berenang. Tapi sekarang berbeda. Ia ingin membuat Lola sakit hati karena cemburu. “Begini aja ya,” kata Sabrina. Ia menarik kepalanya dan menatap mata Aksa dengan tatapan memohon. “Boleh kan?” Sabrina memasang wajah memelas terbaiknya, hingga akhirnya karena tidak tahan, Aksa pun mengangguk setuju. “Ya sudah, kamu belajarnya di pinggir kolam aja ya,” ujar laki-laki itu. “Tapi kamu tetap ajarin aku kan? Nggak biarin aku sendirian di sini?” tanya Sabrina. Aksa mengangguk. “Iya, aku akan ajari kamu.” Bibir Sabrina seketika menunjukkan senyum lebar. “Makasih ya, Sayang,” ujarnya lalu langsung kembali memeluk Aksa. Lola yang ada di hadapannya seketika memalingkan muka. Perempuan itu langsung sibuk berpura-pura fokus untuk berenang sendiri. Jelas sekali Lola tidak suka melihat Sabrina yang bermesraan dengan Aksa. Sabrina kembali menyembunyikan wajah di pundak Aksa, dan menyembunyikan senyum kemenangannya. Kali ini, ia akan mulai pembalasan dari Lola dulu. Setelahnya, baru ia akan membuat perhitungan dengan Aksa. *** “Aku pakai kamar mandinya duluan ya,” kata Lola pada Sabrina. Hampir dua jam kemudian mereka semua telah selesai berenang dan kini akan membersihkan diri dan berganti pakaian. “Sabrina, pakai kamar mandi di kamar Tante aja yuk,” ujar Nirmala Taraka, ibu Aksa yang muncul dari arah dapur. Wanita itu melangkah mendekati Sabrina dan Lola yang masih berdiri di dekat kamar mandi tamu, sementara Aksa tadi sudah pergi ke kamarnya lebih dulu untuk membersihkan diri. “Setelah membersihkan diri, kita makan siang sama-sama ya.” Ibu Aksa memang begitu ramah dan tampak menyayangi Sabrina. Hal itu pula yang membuat Lola semakin iri dan menatap ke arah mereka penuh dendam. Tapi, karena saat ini ia tidak bisa berbuat banyak, maka Lola pun akhirnya beranjak dari sana dan masuk ke kamar mandi tamu. “Eh, nggak usah, Tante.” Tolak Sabrina halus. “Masa saya pakai kamar mandinya Tante.” Nirmala tersenyum. “Lho, nggak apa-apa. Biar cepet kamu bersih-bersihnya. Daripada antri kan? Yuk Tante temenin ke kamar. Om kamu nggak ada di rumah kok, jadi nggak usah khawatir merasa segan pakai kamar mandi kamar kami.” Wanita itu kemudian menarik tangan Sabrina dan membawanya menuju ke arah kamar tidur utama. “Kan nggak mungkin juga Tante biarin kamu mandi di kamar mandinya Aksa kan,” goda Nirmala saat mereka tiba di depan pintu kamar perempuan itu. “Jadi pakai kamar mandi Tante adalah pilihan terbaik.” Sabrina memberikan seulas senyum. “Makasih ya, Tante,” ujarnya saat mereka masuk ke dalam kamar. Kamar tersebut cukup luas dan didominasi warna putih. Perabotnya ditata dengan rapi dan sangat cantik. Hanya saja, Sabrina tidak berani menyapukan pandangan dengan lancang ke seluruh ruangan dan langsung mengikuti Nirmala ke arah kamar mandi. “Nah, ini kamar mandinya. Kamu pakai aja ya,” ujar wanita itu. Sabrina mengangguk. “Baik, Tante. Saya izin pinjam kamar mandinya ya.” Nimala mengangguk. “Kalau begitu Tante tinggal dulu ya.” Selama setengah jam berikutnya, Sabrina membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah itu, ia segera keluar dari kamar orangtua Aksa sambil membawa tasnya. Sabrina meletakkan tas tersebut di sofa ruang keluarga saat ia melewati tempat itu, lalu lanjut melangkah menuju dapur. Di sana, ia menemukan Lola sedang sibuk membantu Nirmala menyusun hidangan ke atas meja makan. Diam-diam Sabrina membaca situasi. Tampaknya saat ini Lola sedang berusaha menarik hati ibu Aksa tersebut. Sudut bibir Sabrina terangkat. Tidak akan ia biarkan Lola berhasil melakukan hal tersebut. Lihat saja, dalam kehidupannya kali ini, Sabrina tidak akan membiarkan Lola lebih unggul darinya. “Ada yang bisa saya bantu, Tante?” tanya Sabrina sambil mendekati Nirmala yang sedang memberi instruksi pada seorang asisten rumah tangga yang sibuk di depan kompor. “Eh, Sabrina. Sudah selesai?” tanya wanita itu. Sabrina mengangguk. “Sudah, Tante.” “Eh, ayo coba cicip ini. Kamu suka nggak semur ayamnya?” Nirmala tiba-tiba mengambil piring kecil dan sendok, lalu mengisinya dengan masakan yang kini masih berada di atas kompor. Setelah itu, ia pun segera menyerahkan piring tersebut pada Sabrina. Sabrina menerima piring itu, lalu mencicipi masakannya. Ia diam selama beberapa saat, membuat Nirmala menatapnya penuh harap. “Enak banget, Tante.” Sabrina akhirnya menatap wanita itu dan tersenyum. “Saya suka. Ini beneran enak.” Wajah Nirmala tampak berbinar senang. “Syukurlah. Sebentar lagi siap dihidangkan. Habis itu kita makan bareng-bareng ya.” Sabrina mengangguk. “Iya, Tante. Tapi selain itu, apa ada yang bisa saya bantu?” Nirmala menatap sekitar, lalu menggeleng. “Hidangan lainnya tadi sepertinya sudah diangkut Lola semuanya ke meja makan. Udah, kamu di sini aja bantu Tante cicip-cicip makanan. Eh iya, di kulkas ada puding yang tadi dibikin Bi Yati. Kamu mau cicip juga nggak?” “Eh, nanti aja, Tante. Nanti saya jadi kenyang karena udah makan duluan,” tolak Sabrina. Nirmala terkekeh, lalu merangkul pundak Sabrina dan menepuknya dengan sayang. Dari arah pintu masuk dapur, Lola menatap keakraban mereka berdua dengan hati yang membara. Sikap ibunda Aksa tersebut jelas sekali berbeda jika dibandingkan saat bersamanya. Nirmala memang tidak jahat pada Lola, hanya saja ia tidak sehangat itu saat bersama dengannya. Padahal Lola juga ingin wanita itu bersikap manis dengannya. Apa karena Sabrina adalah kekasih Aksa jadi ia mendapat perlakuan berbeda? Ah, andai saja Nirmala tahu bahwa Lola juga merupakan kekasih putranya. Lihat saja nanti. Pada akhirnya nanti Nirmala juga akan melihatnya, dan posisi Sabrina akan ia gantikan. “Kamu ngapain berdiri aja di sini?” Lola terkejut dan menoleh pada Aksa yang muncul di sampingnya. “Sayang…” bisik Lola sambil tersenyum. Mata Aksa langsung melebar panik. Ia segera menoleh pada Sabrina dan ibunya yang masih asyik bercengkerama di dekat kompor. Aksa kembali menatap ke arah Lola, dan matanya melotot marah. “Apa yang kamu lakukan?” desisnya jengkel. Lola masih tersenyum manis. “Cuma mau nyapa pacarku,” jawabnya masih dalam bisikan. “Kamu hati-hati ya kalau bicara. Aku nggak mau ada yang tahu soal kita,” bisik Aksa. Tapi Lola yang masih merasa kesal, malah menatapnya sambil tersenyum. Sengaja membuat Aksa makin resah. “Lola, aku serius soal ini,” bisik Aksa memperingatkan. Lola tersenyum miring padanya. “Kalau ternyata Sabrina tahu, gimana?” Aksa kembali memelototi Lola. “Jangan macam-macam,” desis Aksa. Lola mendengkus. “Aku nggak mungkin selamanya—” “Kalian berdua kenapa bisik-bisik di situ?” Sebuah suara menginterupsi pembicaraan mereka, membuat Aksa dan Lola seketika menoleh ke sumber suara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN