(13)

2331 Kata
Setelah mendapatkan izin dari Mas Hagi dengan susah payah, akhirnya gue bisa ngomong cuma berdua sama Mas Rendra, walaupun gue cuma berdua tapi gue mengusakan sebisa mungkin untuk nyari tempat yang rame dan masih bisa di liat sama Mas Hagi dari jarak jauh juga, gue gak mau Mas Hagi khawatir dan berakhir dengan mikir macem-macem, gue gak akan ngelakuin hal gila, gue sangat-sangat sadar dengan keadaan gue sekarang, gue sangat paham dengan kondisi gue sekarang kaya apa juga, gue ngajak Mas Rendra bicara karena memang kita berdua butuh itu, gak ada maksud apapun sama sekali, gue hanya ingin memberikan penjelasan dan menegaskan sesuatu, cuma itu, Mas Hagi gak perlu terlalu khawatir. "Mas kayanya gak harus nanya apa yang mau kamu bicarain karena memang Mas sendiri yang harus ngelakuin itu lebih dulukan Rin? Mas terlalu membuat waktu, bukannya mengungkapkan perasaan Mas ke kamu secara baik tapi Mas malah ngomong di depan Hagi lebih dulu kaya tadi, maaf kalau sikap Mas ngebuat kamu gak nyaman." Ucap Mas Rendra buka obrolan, gue langsung menggeleng pelan untuk ucapan Mas Rendra barusan, gue gak akan menyalahkan Mas Rendra juga, semua orang mempunya waktu tersulitnya masing-masing, sesuatu yang gue liat mudah, belum tentu mudah untuk Mas Rendra juga, gak mudah untuk mengendalikan perasaan kita, perasaan diri kita sendiri aja sulit kita kendalikan apalagi perasaan orang lain, ini yang ingin gue coba mengerti sekarang, apa yang gue anggap gampang dan mungkin hal sepele, belum tentu gampang dan sepele untuk orang lain, untuk Mas Rendra juga. "Mas gak perlu minta maaf apalagi sampai ngerasa bersalah kaya gitu karena Rin juga ada salahnya, kalau boleh jujur, Rin memang gak tahu kalau selama ini Mas punya perasaan kaya gitu jadi selama ini Rin menganggap Mas layaknya saudara jadi selama itu juga, Rin nyaman-nyaman aja Mas, Rin sama sekali gak nyangka kalau malah jadi kaya gini jadi gak ada yang harus minta maaf dan gak ada yang perlu di maafin jugakan?" Baik gue atau Mas Rendra punya andil masing-masing, ini bukan salah siapapun, bukan salah gue dan bukan salah Mas Rendra juga, cuma keadaan yang gak mendukung tapi kalau memang harus ada yang disalahkan, gue rasa gue sama Mas Rendra juga sama salahnya, kesalahan gue yang gak terlalu peka dan kesalahan Mas Rendra adalah menyimpan rasa tanpa pernah berencana untuk mengungkapnya sama gue secara langsung, gue sama Mas Rendra punya andil masing-masing sampai masalahnta jadi kaya gini. "Mas tahu! Mas cuma masih ngerasa kalau pengakuan Mas saatnya gak tepat Rin tapi kalau Mas tetap diam dan gak mengungkapkannya sama kamu sekarang, Mas takut Mas gak akan mendapatkan kesempatan sama sekali lagi kedepannya, kalau Mas Gak ngomong tentang perasaan Mas, Mas takut kalau Mas akan terus hidup dalam penyesalan tanpa pernah benar-benar melepaskan kamu." Jelas Mas Rendra yang gue angguki, gue mengiyakan ucapan Mas Rendra sekarang, Mas Rendra punya hak juga untuk mengungkapkan perasaannya, Mas Rendra boleh ngelakuin itu, mengungkapkan perasaan itu hal yang wajar menurut gue asalkan tidak memaksakan, Mas Rendra cuma mengakui perasaannya bukannya berniat untuk merusak rencana perjodohan gue. "Rin! Mas suka sama kamu, Mas sayang sama kamu bahkan Mas rasa Mas cinta sama kamu, Mas mau kamu tahu itu tapi kamu gak perlu khawatir, Mas mengakui perasaan Mas sekarang bukan karena Mas ingin mengacaukan rencana perjodohan kamu tapi Mas cuma mau kamu tahu jadi suatu saat Mas gak akan menyesali apapun, Mas gak punya maksud buruk sama kamu, kamu jangan salah paham, siapapun laki-laki yang menjadi pendamping kamu nanti, Mas harap kamu akan bahagia selalu nantinya." Lanjut Mas Rendra yang lagi-lagi gue angguki dengan senyuman, gue tahu kalau Mas Rendra memang gak punya niat buruk tanpa harus Mas Rendra jelasin sekalipun, pengakuan Mas Rendra sekarang, walaupun gak bisa gue balas tapi gue bisa menghargai itu, gue menghargai perasaan tulusnya, gak ada yang salah dengan jatuh cinta, Mas Rendra yang selama ini selalu terlihat baik dimata gue gak akan berubah menjadi jahat hanya karena pengakuannya sekarang, gue gak akan sebodoh itu dalam menilai seseorang. "Sebelumnya makasih ya Mas tapi maaf kalau Rin mengecewakan, Mas tahu keadaan Rin gimana sekarangkan? Rin juga tahu kalau Mas gak akan berniat buruk sama Rin, Rin yakin, cuma maksud Rin ngajak Mas bicara sekarang juga ingin membahas masalah ini Mas, walaupun Rin sangat menghargai perasaan tulus Mas tapi maaf kalau rin gak bisa membalas perasaan yang Mas punya sekarang, Mas laki-laki baik jadi Rin yakin, Mas juga akan mendapatkan perempuan yang jauh lebih dari Rin nantinya." Gue ngajak Mas Rendra bicara karena gue ingin menegaskan jawaban gue untuk mengakuannya, gue suka sama Mas Renda sebagai seorang saudara, gue sayang sama Mas Rendra layaknya seorang saudara juga tapi suka, sayang sama cinta udah jelas berbeda, maaf kalau jawaban gue sangat mengecewakan Mas Rendra sekarang. "Mas! Sama seperti Mas mengingikan hal terbaik dan mendoakan hal terbaik untuk kebahagiaan Rin, Rin juga mau hal yang sama untuk Mas, Rin mendoakan semua hal yang baik untuk Mas, Mas laki-laki baik jadi Rin yakin Mas akan mendapatkan pasangan yang baik juga nantinya." Gue sangat tulus mendoakan hal ini, gue sangat-sangat yakin kalau suatu saat, Mas Rendra akan menemukan perempuan yang jauh lebih baik dari gue, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik-baik juga, mungkin gue sama Mas Rendra memang belum berjodoh tapi apapun, gue masih tetap menganggap Mas Rendra sebagai sosok saudara yang baik untuk gue, Mas Rendra itu sahabat Mas Hagi jadi Mas Rendra harusnya juga bisa jadi Mas gue. "Semoga suatu saat Mas bisa nemuin perempuan yang kamu maksud sekarang Rin, semoga." Mas Rendra tersenyum cukup kecil sekarang, gue juga melakukan hal yang sama, menyunggingkan senyuman tertulus gue, menolak perasaan bukan berarti gue harus jaga jarak jugakan? Gea udah memperingati gue hal ini, menjaga jarak bukan solusi yang baik, semakin kita menghindar, semakin sulit untuk kita berdamai dengan keadaan dan kalau kita sulit berdamai dengan keadaan, perasaan akan semakin susah dilupakan dan beban akan terasa semakin berat, gue jelas gak mau itu kejadian. "Rin harap hubungan Mas sama Mas Hagi juga bakalan baik-baik aja, jangan cuma karena Rin, Mas sama Mas Hagi malah berantem gak karuan, kalau Mas Hagi keras kepala, Mas bisa ngejelasinnya pelan-pelan, ucapan Mas Hagi juga jangan terlalu di ambil hati ya Mas, Mas Hagi kaya gitu cuma karena dia khawatir sama Rin, Mas Hagi juga gak mau Mas terluka makanya keberatan kalau Mas punya perasaan kaya gitu sama Rin, maafin ya Mas kalau Mas Hagi malah marah sama Mas." Mas Hagi juga gak berniat buruk sama sekali, Mas Hagi cuma mau menjaga gue dan menjaga perasaan orang lain juga jadi gak banyak orang lain yang terluka perasaannya, cuma itu, niat Mas Hagi harusnya baik cuma setiap orang itu memandang dari sisi yang berbeda jadi pandangannya juga udah beda, gak ada niat buruk sama sekali jadi gue harap Mas Rendra bisa ngerti dan jangan terlalu bawa masuk hati semua ucapan Mas Hagu sekarang, Mas Hagi marah juga cuma sebentar, Mas Hagi gak akan marah lama-lama, apalagi sama sahabatnya sendiri. "Mas tahu, Mas juga tahu gimana sikap Hagi, Mas tahu alasan Hagi bersikap kaya gini apa jadi kamu juga gak perlu mikirin ini, masalah Hagi marah, biar Mas yang selesain sendiri, Hagi marah juga untuk alasan yang bisa Mas terima, kamu tenang aja, masalah kaya gini, gak akan ngancurin hubungan Mas sama Mas kamu, kalau memang Hagi berulah dan tetap keras kepala, Mas punya cara ampuh untuk meredakan semua kemarahannya juga, gak perlu khawatir, semua di tanggung beres." Jawab Mas Rendra yang membuat gue tertawa kecil, kalau memang ini yang ada dalam pemikiran Mas Rendra ya gue akan sangat bersyukur, Mas Rendra yang gue kenal juga sangat perhatian sama Mas Hagi, Mas Rendra tahu sifat dan kelakuan Mas Hagi itu kaya apa jadi kayanya gue memang gak harus terlalu khawatir, bagaimanapun mereka itu udah dewasa dan gue yakin, mereka juga udah bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri, walaupun awal mula masalahnya dari gue, tapi gue harap, hubungan persahabatan mereka bakalan baik-baik aja, kan gak lucu kalau persahabatannya rusak cuma karena sahabat jatuh cinta sama adik sahabatnya. "Ahhh syukur kalau memang Mas b8sa ngerti, pokoknya kalau memang Mas Hagi tetap keras kepala dan marah sama Mas, kasih tahu Rin aja, tar biar Rin yang pukulin, Rin timpuk kepalanya pakai tabung gas supaya Mas Hagi bisa segera sadarkan diri, Mas tenang aja, kalau sama Mas gak mempan, biar Rin yang turun tangan, Rin gebukin Mas Hagi sekalian biar otaknya rada beres sedikit." Lanjut gue ngerasa bener-bener jauh lebih lega, setidaknya gue udah ngomong berdua sama Mas Hagi jadi gak bakalan ada salah paham lagi, gak bakalan ada yang namanya canggung atau risih dan yang terpenting adalah, gue gak harus ngerasa bersalah lagi sama Mas Rendra, gue udah mendengarkan pengakuannya dan gue juga udah memberikan jawaban gue dengan cukup jelas, sekarang harusnya bisa jauh lebih baik. "Rin! Kamu sendiri juga jangan merasa terbebani dengan perasaan Mas, kamu gak ngelakuin kesalahan apapun jadi kamu juga berhak bahagia, kamu bisa nentuin pilihan kamu sendiri, Mas akan terus ngedukung apapun yang menjadi pilihan kamu kedepannya." Gue mengangguk pelan dan menyunggingkan senyuman gue, terkadang soal cinta memang banyak gak adilnya, ada cinta sepihak makanya gak bisa bersama dan adakalanya sama-sama cinta tapi memang takdir yang gak mengizinkan bersama, itu masih mendingan menurut gue, ada yang lebih parah dari sekitar takdir cinta sepihak atau cinta tapi gak bisa memiliki, apa dia? Gak saling cinta tapi di paksa keadaan untuk bersama, di desak oleh situasi untuk tetap saling memiliki dan ini yang sedangngue rasakan sekarang, menurut gue, apa yang gue alami sekarang memang lebih parah, keadaan yang terdengar lucu bahkan sangat lawak untuk gue ceritakan dengan orang lain. "Bisa-bisa setelah ninggalin anak kecil nangis sendirian kaya tadi malah pacaran disini, mau jadi Ibu modelan apa kedepannya nanti." Gumam seseorang yang gak sengaja lewat di dekat gue sama Mas Rendra, mendengarkan ucapannya barusan, gue udah menatap orang tersebut dengan tatapan kaget gue, menatap balik orang tersebut dengan tatapan gak suka gue, begitu gue tatap balik lah ternyata ini Mas-Mas yang tadi di depan toilet, ck, bagus banget sindirannya, kalau mau lewat ya lewat aja, gak usah ngomongin orang lain kalau memang dia gak tahu apapun, apaan ngomong sembarangan kaya gitu? Asal nyeplak banget itu mulut, kaya mulut orang yang gak pernah disekolahin tahu gak? Minta di cabein atau gak minta di dramatisir dulu biar agak beneran sedikit otaknya. "Jadi laki-laki itu jangan cuma berani ngomong di belakangan, gumam gak jelas, nyali cetek banget, Mas kurang kerjaan? Atau memang mau saya kasih kerjaan? Jangan sok tahu jadi orang lagian saya tadi bukannya ninggalin anak kecil nangis sendirian tapi saya gak tahan sama muka Mas yang sok tahu segalanya itu, bersikap seolah tahu apapun padahal nyatanya gak paham apapun, ngurusin hidup orang sangking kurang kerjaannya." Balas gue gak terima, lagian tu orang kalau ngomong kenapa harus kecil banget suaranya? Biar gue gak denger? Tapi sengaja juga ngomong pas didekat gue biar gue denger semuanya, kan gila, keliatan jelas mau nyindir tapi nyalinya gak seberapa, pakai nuduh gue lagi pacaran segala lagi, itu namanya sok tahu padahal gak tahu apapun, b**o itu namanya. 'Ck! Gak usah ngejadiin saya alasan, kalau memang gak bisa nenangin anak kecil ya udah ngomong aja, gak usah banyak alasan, lagian saya bukannya gak punya nyali buat ngomong terang-terangan tapi itu namanya sindiran, ngerti kata sindiran gak? Makanya sekolah dulu yang bener baru pacaran, ini pulang sekolah bukannya pulang ke rumah tapi malah kelayapan, tua nanti mau jadi apa? Kasian banget laki-laki yang jadi suami anda nanti Dek." Ck! Wah ni orang ngajak ribut gue, gak cuma sekedar ngajak ribut tapi pakai acara ngatain gue segala lagi, apa ni orang pikir gue butuh pendapatnya sekarang? Mau gue tua nanti mau jadi apa? Mau nanti yang jadi suami gue siapa? Hubungannya sama ni orang apaan? Maunya apaan coba? Gak jelas banget perasaan, gak cuma punya mulut yang asal ceplak tapi otaknya juga gak dibawa pas sekolah kayanya, sembarangan banget ngasih penilaian untuk orang lain, gak ada bener-benernya, gak ada yang beres beneran. "Mau saya tua nanti jadi apa? Mau nanti yang jadi suami saya siapa? Mas ngerasa punya masalah? Mas ngerasa di rugikan? Mas ngerasa terbebani dari sudut mananya? Lagian mau saya pulang sekolah langsung pacaran atau bahkan nikah sekalipun, hubungannya sama Mas apaan ya? Mas pengangguran makanya punya banyak waktu luang buat ngurusin hidup saya? Hoho, makasih atas perhatiannya tapi saya gak butuh pendapat Mas sekarang, ngeliat mukanya Mas aja udah males jadi ketimbang Mas susah-susah ngabisin waktu untuk ngurusin hidup dan masa depan saya, apa kata Mas pergi sekarang dan ngaca, hidup Mas sendiri udah beres apa belum?" Balas gue tajam, mendengarkan jawaban gue, Mas-Masnya langsung menggepalkan jemarinya kuat sembari melemparkan tatapan kesalnya ke gue sekarang tapi ya bodo amat, gue gak mau tahu soal begituan, gue gak peduli karena gue bukannya suka ngeliatin mukanya ni orang juga, mukanya ngeselin banget jadi jangan sampai gue ketemu lagi sama ni orang. "Maaf Mas, Mas punya masalah apa ya? Ada yang bisa saya bantu? Gak enak soalnya di liatin sama orang lain kalau kita ribut-ribut begini." Tanya Mas Rendra sangat sopan, gue yang mendengarkan pertanyaan Mas Rendra udah natap Mas Rendra gak percaya, bisa-bisanya Mas Rendra ngomong seramah dan sesopan itu sama orang modelan begini? Gak ada mamfaatnya sama sekali, orang kaya gini tu harus di ajarin sopan santun jadi gak sembarangan nyeplak mulutnya, ngomong udah berasa kaya hidupnya yang paling bener aja, padahal mah belum tentu, nah itu tadi omongannya juga aneh, Masnya tahu dari mana gue masih anak sokolahan? Apa Mas nya merhatiin gue dari tadi pas dateng? Mencurigakan sekali hidupnya, udah mencurigakan begitu, sekarang kelakuannya juga sama anehnya, bukan cuma aneh tapi cenderung gak waras, kelakuan sama sikapnya itu kaya orang gila, suka ikut campur sama masalah orang lain juga, dasar parah banget. "Lihat ni Dek? Setidaknya pacarnya masih cukup sopan, gak papa Mas, cuma lain kali coba jelasin sama pacarnya supaya lebih sopan, jangan asal kalau ngomong, takutnya malu-maluin nanti, saya permisi dulu." Jawab ni orang gila menanggapi pertanyaan Mas Rendra barusan, wah kacau. "Dasar orang gila, penasaran gue siapa perempuan yang bakalan tahan punya suami modelan lo entar." Teriak gue cukup keras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN