Ilmu Ikhlas

1099 Kata
Setelah Vano dan yang lain meninggalkan rumah sakit, tinggallah Rara dan Chika di ruangan itu. Rara sedang disuapi adiknya untuk makan malam. “Sampai kayak gini, Mbak.” Chika terlihat mencemaskan kakaknya. “Gak tahu lah dek, mbak kan juga manusia biasa,” ucap Rara setelah menghabiskan suapan terakhirnya. “Gakpapa, itu ponselnya Mbak bunyi terus,” kta Chika kepada Rara, ia mengambil ponsel kakaknya yang diletakkan di nakas lalu menyerahkan kepada kakaknya. “Paling juga grup kantor, apalagi memangnya,” kata Rara terkekeh. Ia membuka aplikasi pesan singkatnya. Sederet pesan singkat yang ia terima dari rekan-rekan di kantornya yang mendoakan kesembuhannya. Ia membalas pesan-pesan tersebut bergantian. “Mbak, istirahat. Jangan kerjaan terus.” Chika mengingatkan kakaknya. “Iya, ini udah kok. Kamu udah makan?” Rara membetulkan letak selimutnya. “Ini mau makan, Mbak tidur aja. Dokter minta Mbak disini buat istirahat,” kata Chika sambil membuka bungkus makanan yang dibelikan Egi sebelum ia berpamitan pulang. “Iya,” jawab Rara berusaha memejamkan matanya. Sedangkan di kediaman Gunawan terdapat perbincangan antara Tara dan ayahnya, keduanya sedang menikmati kopi hitam di ruang tengah. “Papa tahu pacarnya yang mana, kan Papa cukup dekat sama boncel?” tanya Tara penasaran. “Setahu papa anak pejabat di Jogja, kenapa?” tanya Gunawan menatap curiga anaknya. “Bukan, nangisnya sampai kayak gitu, Pa. Kayak berat gitu,” ucap Tara memberitahu Gunawan keadaan Rara saat ia bertemu dengan gadis itu di sebuah taman di Bandung. “Masa? Kamu gak salah orang?” tanya Gunawan terkejut. “Ya memang sih, itu urusan udah personal, Pa. Ya, semoga saja gak terlalu lama dia seperti itu,” ucap Tara kepada Gunawan. “Betul, lalu Sarah bagaimana?” Gunawan mempertanyakan menantunya itu, karena sudah hampir tiga bulan ia tidak bertemu dengan Sarah. “Gak ada harapan, Pa. Gugatan tetap lanjut,” ucap Tara kecewa. “Ya sudah, apa mau dikata. Jalani dan lakukan dengan cepat,” kata Gunawan yang sama kecewanya dengan Tara. “Iya, Pa. Kerjaan juga lagi banyak. Sepertinya fokus ini dulu,“ ucap Tara. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang menginginkan rumah tangganya hancur berantakan. Berulang kali Tara mengajak istrinya untuk memperbaiki, namun sayang, niat baik tidak selamanya disambut baik. Sarah tetap pada pendiriannya untuk berpisah. “Ya udah, besok pagi kamu antar Papa jenguk Rara dulu sebelum ke kantor. Papa pengen liat keadaan dia,“ kata Gunawan kepada anaknya. “Iya, Pa. Sepi juga kantor kalau gak ada dia,“ ucap Tara terkekeh. Dan disinilah mereka berada, di ruangan rawat inap Rara sedang diperiksa dokter. Gunawan yang berada di sofa ruangan tersebut, menunggu dokter selesai melakukan tugasnya. Chika sendiri, ia menyambut kedatangan Gunawan dan Tara dengan senang hati. Untuk pertama kalinya, ia bertemu dengan atasan kakaknya secara langsung. “Gimana, Ra?“ tanya Gunawan kepada karyawan kesayangannya itu. “Ya begini, Pak. Mungkin diminta rehat sebentar,“ jawab Rara malu-malu. “Masih muda, kamu kalau ada apa-apa jangan sungkan. Ada Vano dan Tara di kantor. Kalau mereka gak mau bantu kami bisa telepon saya,“ kata Gunawan kepada Rara. Gunawan tahu, posisi Rara dan adiknya sudah yatim piatu, membuatnya tidak tega. Terlebih, mendengar apa yang sudah terjadi kepada Rara, Gunawan tergerak hatinya untuk melindungi gadis itu. Bukan diam saja, Gunawan memang mencari tahu tentang Rara. Seorang gadis lugu dan manis dari kota kecil di jawa timur itu sempat membuatnya kagum akan kecerdasan dan prestasi yang telah ia miliki. “Iya, Pak. Terima kasih,“ jawab Rara. Merasa ditusuk dari belakang, hal ini lah yang dirasakan oleh Rara. Sembilan tahun menjalani hubungan dengan Nanda, seakan tidak ada artinya bagi pria itu. Setelah Gunawan dan Tara berpamitan ke kantor, Rara kembali mendapatkan sebuah kenyataan pahit lagi. Secara tidak sengaja, ia melihat status media sosial milik Prita yang memberitahukan kepada semuanya bahwa ia hamil. “Sabar ya, Mbak. Udah, gak usah dipikirkan. Memang kalian gak jodoh,“ ucap Chika menenangkan Rara. “Ini artinya, pas resepsi, Prita udah hamil, dek,“ ucap Rara terbata. Matanya kembali berkaca-kaca. “Iya, udah ya Mbak. Lebih baik nomornya dihapus, biar Mbak juga cepat move on. Tidak dibayangi masa lalu terus,“ ucap Chika memberi saran. “Kamu betul juga, lebih baik seperti ini. Makasih ya, dek,“ jawab Rara sambil mengusap pipinya yang basah. “Makan dulu, kata dokter harus banyak makan,“ kata Chika yang dengan telaten menyuapi kakaknya. “Kayaknya kamu lebih bawel dari dokternya,“ ucap Rara. “Mbak memang harus dibawelin. Tegas bukan berarti jahat, Mbak. Sepertinya memang Mbak terlalu baik sama mereka, jadi ngelunjak,“ kata Chika. “Kamu bener, disaat mbak sibuk kerja mereka berdua sibuk pacaran,“ kata Rara terkekeh. Ia menertawakan nasibnya “Mbak gak peka, Chika yakin mereka sudah lama. Kelihatan kok, jadi kalau Mas Nanda bilang terpaksa karena perjodohan, aku gak percaya,“ ucap Chika mencoba menganalisa sejak kapan Nanda dan Prita menjalin hubungan. “Ya, Mbak akui itu, namanya manusia dek. Tempatnya salah dan dosa,“ jawab Rara bijak. Mereka membicarakan banyak hal, termasuk soal makan kedua orang tuanya yang terpisah. “Ya kalau ke makam ayah, lebih dekat. Kalau ke ibu, kamu tunggu Mbak cuti kalau mau balik Malang,“ ucap Rara kepada adiknya. “Sayangnya gak bisa disatuin ya, Mbak.“ Chika dan Rara menatap sendu foto-foto saat mereka masih bersama. “Kita harus hargai Tante Viona, dia jus udah baik ngasih tahu kita. Setelah Mbak sembuh, mau ke makam Ayah?“ tawar Rara kepada adiknya. “Iya, nanti aja. Mbak urusannya masih banyak. Tapi yang penting, sekarang sembuh dulu,“ jawab Chika. Ia meletakkan bekas makan kakaknya di meja. Mengambilkan air putih untuk Rara minum, Chika terlihat telaten dan lebih luwes. “Tiduran lagi ya, dek. Kepalaku masih pusing,“ kata Rara sambil memegang kepalanya. “Obatnya dulu, baru tiduran, Mbak.“ Chika menyiapkan obat-obatan yang harus diminum oleh kakaknya. “Sebenarnya banyak vitaminnya daripada obat, Mbak tadi kesel juga, minta pulang gak dikasih sama dokternya,“ keluh Rara. “Jangan dulu, Mbak. Istirahat disini dulu, biar dokter juga bisa pantau. Baru juga sehari,“ jawab Chika. “Bosan dek, rebahan terus kayak pengangguran,“ jawan Rara. Terbiasa bekerja dan banyak kegiatan membuatnya cepat bosan berada di ruangan itu. Walaupun dengan fasilitas premium, Rara lebih memilih kembali ke apartemennya. “Semua orang juga sama, Mbak. Mana ada yang mau sakit,“ jawab Chika terkekeh. Ia sudah selesai mengupas apel untuk kakaknya. “Semua yang ditakutkan ibu terjadi satu per satu, Mbak sedih dek, tapi diantara semua ilmu yang kita pelajari memang paling susah ilmu ikhlas,“ ucap Rara sambil mengunyah buah yang disodorkan adiknya. “Sabar dan tawakal, Mbak,“ jawab Chika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN