Tasya membalut tangannya yang memar setelah memukuli wanita bermulut sampah yang datang ke Moon Cafe, tadi. Emosinya benar-benar meledak, saat mendengar kenyataan bahwa Devian telah kehilangan istrinya dan bahkan kehilangan calon anaknya, dalam kematian yang tidak wajar. Hatinya begitu sakit, saat tahu kalau sahabatnya berada di dalam kubangan duka dan luka yang mungkin takkan pernah sembuh.
Ia benar-benar hilang akal, ia benar-benar lepas kendali atas emosinya sendiri.
Tok..., tok..., tok...!!!
Suara ketukan pintu tak juga membuat Tasya ingin berbalik, dari posisinya saat itu. Ia tetap diam di tempatnya, seakan tak mau peduli dengan apapun lagi.
"Sya, ini berkas kasus kematian Istrinya, Dev," ujar Fian, sambil menyodorkan sebuah berkas ke hadapan Tasya, "dan juga..., berkas kasus kematian Kakak iparnya, yang meninggal di hari yang sama dengan istrinya, secara tidak wajar," tambahnya.
DEG!!!
Tubuh Tasya pun membeku seketika di tempatnya, usai mendengar apa yang Fian katakan. Ia menoleh perlahan-lahan, tepat ke arah Fian, Arga dan juga Lila yang ada di belakangnya.
"Apa? Kakak iparnya?" suara Tasya tak setinggi tadi.
"Iya, Sya. Kak Diden, yang selalu ada di Moon Cafe, tepatnya di belakang meja kasir, istrinya juga meninggal di hari yang sama dengan istrinya Dev. Hanya saja... ."
"Kenapa...," Tasya memotong kata-kata Fian, "kenapa nggak sejak awal kamu kasih tahu aku, mengenai hal ini, Fi?" tanyanya.
Fian dan Arga pun terdiam.
"Aku tadi marah besar sama perempuan itu, Fi! Aku di sana hanya membela Dev, tanpa tahu kalau Kakaknya juga mengalami hal yang sama! Kenapa nggak sejak awal kamu kasih tahu aku? Kenapa?" desak Tasya, yang hampir meneteskan airmatanya.
"Karena Dev nggak mau kamu terlibat, Sya. Dev nggak mau kamu kenapa-napa seperti yang terjadi sama istrinya. Almarhumah Iren mendesak Dev untuk cerita tentang masalah yang dia hadapi, dan Almarhumah Iren berakhir dengan mengenaskan, Sya. Kamu nggak tahu gimana rasanya jadi aku, yang harus mengolah TKP di rumah sahabatku sendiri! Arga sampai harus datang membantuku dari Polres, karena aku nggak sanggup melihat semuanya!" jelas Fian, yang kini juga ikut menjadi emosional.
Tasya pun terdiam, lalu kembali menekuri lantai di bawah kakinya. Hati dan perasaannya sangat terpukul saat itu, dan otaknya masih saja tidak bisa berpikir jernih untuk menemukan jalan terbaik bagi semuanya.
Tok..., tok..., tok...!!!
Suara ketukan pintu terdengar kembali, membuat mereka berempat serempak menoleh ke arah pintu.
"Kamu juga bisa menyalahkan saya kalau mau, Briptu Vienna," ujar Nina.
Tasya menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Saya telah begitu egois memilihmu dan Briptu Hanifa untuk berada di sini. Secara terselubung, saya menginginkan kamu untuk membuka kasus itu kembali dan menuntaskan segalanya. Tapi saya tidak pernah berpikir bahwa kamu akan menjadi sangat emosional, setelah mendengar kenyataannya. Jika kamu merasa ada yang patut di salahkan, maka silahkan kamu menyalahkan saya," jelas Nina.
Nina mendekat ke arah meja milik Tasya dan berdiri di sana dengan tegap.
"Namun yang perlu kamu tahu, bahwa marah atau tidaknya kamu terhadap saya, saya tetap akan menugaskan kamu untuk memecahkan kasus ini. Dengan jaminan, bahwa kamu akan mendapatkan semua sumber daya, semua perlindungan, dan bahkan akses pada apapun yang terkait dengan kasus ini. Jadi... ."
"Saya terima, Bu," potong Tasya.
Nina dan Tasya kini saling pandang, saat Tasya telah bangkit dari kursi yang didudukinya.
"Saya terima kasus ini, dan akan saya selesaikan!" tegas Tasya, tanpa ragu.
* * *
Veri membetulkan meja, yang bautnya terlepas akibat amukan Tasya siang tadi. Beberapa pelanggan yang datang, untuk sementara waktu hanya bisa membawa pulang pesanan mereka, tanpa bisa duduk-duduk di Cafe itu seperti biasanya.
Diden mendekat pada Veri, untuk membantu pekerjaan pria itu agar cepat selesai.
"Sudah, Kak, biar saja. Nanti aku yang selesaikan," ujar Veri, mencegah.
"Nggak apa-apa, Ver. Pekerjaanku juga udah selesai, kok," ujar Diden, pelan.
Veri pun tak bisa lagi mencegahnya. Ia membiarkan Diden membantunya, meskipun ia tak enak hati karena - mau tak mau - ia harus menyuruh-nyuruh pada orang yang lebih tua.
"Tasya...," Diden menyebut namanya, "apakah dia sering emosional seperti tadi?"
Veri tersenyum.
"Iya, Kak. Sangat sering. Apalagi kalau dia melihat sesuatu yang tidak adil di depan matanya. Dia akan maju paling depan untuk memperjuangkan keadilan itu, sampai tuntas," jawab Veri.
Diden mendengarkan dengan baik. Mia meletakkan dua gelas minuman untuk Veri dan Diden.
"Tasya juga pernah membuat babak belur seseorang yang mengganggu Kakaknya. Dia nggak terima, Kakaknya babak belur karena melindungi Kak Mia," tambah Veri.
Mia terdiam.
"Hah? Siapa maksud kamu?" tanya Mia.
Veri menatap Mia.
"Loh, Kak Mia nggak tahu? Tasya itu Adiknya Kak Zayn, dia putri ketiga dari Keluarga Reynaldi. Cuma, Tasya nggak suka pakai nama keluarga di belakang namanya, jadi semua orang nggak tahu kalau dia putri Keluarga Reynaldi," jelas Veri.
Mia ternganga di tempatnya, berusaha mencerna dan menerima hal yang baru saja diketahuinya. Diden juga terkejut, hanya saja wajahnya memang datar dan tidak memperlihatkan ekspresi apapun.
"Dulu, pas Kak Zayn pulang sekolah, tampang dia udah babak belur. Nah, diinterogasi deh sama Tasya. Pas Kak Zayn bilang siapa yang mukulin dia, dan apa alasannya, Tasya langsung pergi begitu aja dan nggak ngomong apa-apa lagi. Besoknya, kata Kak Zayn, orang yang mukulin dia datang minta maaf, dengan tampang yang jauh lebih mengerikan dari tampang Kak Zayn sebelumnya," Veri mengenang semuanya.
"Iya sih, memang gitu kejadiannya. Sumpah, mukanya itu orang ancur banget, nggak berbentuk. Cuma aku baru tahu, kalau Tasya itu Adiknya Zayn. Zayn nggak pernah cerita apa-apa soal keluarganya selama ini," ujar Mia.
"Ya sama, sih. Tasya juga nggak pernah tuh cerita apa-apa tentang keluarganya sama kami berenam. Cuma, kami memang dekat dengan keluarganya Tasya, karena dulu kami sering main ke rumahnya untuk belajar bersama," ujar Veri.
Diden mencerna semuanya. Dalam benaknya, ia sungguh ingin tahu mengapa Tasya tak pernah membahas tentang keluarganya pada siapapun. Padahal, jika gadis itu ingin menyombongkan diri, tentu dia bisa dengan mudah melakukannya seperti gadis-gadis lain pada umumnya. Namun lucunya, Tasya tidak melakukan itu.
Diden pun kembali menatap Veri, setelah tenggelam dalam pertanyaan di otaknya sendiri.
"Menurutmu, apakah Tasya akan benar-benar membuka kembali kasus keluarga, kami?" tanyanya.
Mia pun ikut menunggu jawaban dari Veri, atas pertanyaan yang Diden ajukan.
"Kemungkinan besar..., iya. Tasya pasti akan membuka kembali kasus itu. Tasya adalah orang yang paling tidak pernah memaksa pada Dev dan Key, karena dia tahu kalau dulu mereka anak manja. Tapi Tasya juga, adalah orang yang rela melakukan apa saja, untuk menjamin kenyamanan hidup Dev dan Key. Jadi, tunggu aja, nanti juga dia akan muncul dengan kasus itu, di tangannya," jawab Veri, penuh keyakinan.
* * *