"Ck-ck-ck! Berasa nonton pensi, ya," ujar Axel. "Hmm, zaman mana tuh masih ada pensi? Zaman now mah udah nggak ada," ujar Ardi. Diden mendekat, lalu ikut melihat apa yang tengah Axel lihat. Keningnya mengerenyit dan berusaha memperjelas penglihatannya saat itu. "Itu...," kata-kata Diden menggantung. "Tasya, sama Dev. Itu lagunya mereka waktu masih SMP, kata Key," ujar Axel. Diden pun merebut ponsel itu dari tangan Axel dan membawanya kabur ke kamar. "Woy! Diden! Nggak usah berlagak kaya anak remaja, deh! Balikin ponselku!" teriak Axel. Diden tak mendengarkan teriakan itu. Ia mengunci pintu kamarnya, demi menikmati apa yang sedang dilihat dan didengarnya. Sebuah senyuman kembali merekah di wajahnya yang selalu datar. Ia senang melihat wajah itu, dan ia senang mendengar suaranya. Terk

