Dokter Niken memantau terus kesehatan Hapsari dan Gendis. Begitu juga dengan Nyai Kosasih yang sangat senang semenjak kehadiran Gendis dan Hapsari di rumahnya. Sejak saat itu kehidupan mereka menjadi lebih berwarna dan hangat. Nyai Kosasih memperlakukan Hapsari seperti putrinya sendiri dan memperlakukan Gendis seperti cucunya sendiri.
Kesehatan Hapsari semakin membaik. Walau saat dokter Niken mempertanyakan kronologis kejadian yang menimpa Hapsari dan Gendis sampai hanyut di sungai, Hapsari selalu mengatakan lupa dan berpura-pura sakit kepala. Begitu juga dengan Gendis yang selalu beralasan tidak mengingat apa pun. Sebelumnya Hapsari sudah mengatakan kepada Gendis kalau dia dan Hapsari harus berpura-pura trauma dan tidak bisa mengingat apa pun di depan dokter Niken.
Mendapati kenyataan seperti itu membuat dokter Niken berinisiatif untuk pergi ke kota. Dia ingin melaporkan tentang penemuan orang di tepi sungai kepada pihak berwajib. Dokter Niken menyampaikan hal itu kepada Nyai Kosasih sebelum dia meninggalkan rumah Nyai Kosasih. Terang saja Nyai Kosasih terlihat murung. Beliau tidak mau kehilangan Hapsari dan juga Gendis yang sudah hampir satu bulan ini mewarnai hari-harinya.
Hapsari yang mendengar percakapan antara dokter Niken dengan Nyai Kosasih berinisiatif untuk mencegah hal itu. Diam-diam Hapsari menyelinap untuk menemui dokter Niken di sebuah jalanan sepi yang tidak jauh dari rumah Nyai Kosasih.
“Bu dokter!” panggil Hapsari sembari keluar dari balik celah pepohonan.
Dokter Niken sempat terkejut. Namun setelah dia melihat Hapsari yang keluar dari balik pohon itu. Maka dokter Niken dengan ramah menyapa Hapsari.
“Bu Hapsari? Sedang apa?” Dokter Niken merasa heran karena tidak biasanya Hapsari ada di sana.
“Maaf, Bu dokter, apakah kita bisa berbicara empat mata?” Hapsari terlihat begitu serius dengan wajahnya yang dingin dan pucat.
“Oh, tentu saja! Apakah mau berbicara empat mata di rumah saya?” dokter Niken menawarkan hal itu karena di tempatnya lebih privasi.
“Tidak, Dok! Di tepi sungai saja! Itu pun kalau dokter Niken tidak keberatan.” Hapsari tidak mau ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka.
“Baiklah!” dokter Niken mengulas senyuman ramah kepada Hapsari. Dia menduga kalau Hapsari memiliki masalah yang serius. Karena peran dokter Niken diperlukan untuk menenangkan kondisi pasien.
***
Hapsari mengajak dokter Niken berbicara empat mata sembari duduk di atas bebatuan besar yang ada di tepi sungai. Udara sejuk ditambah gemercik air dari sungai membuat suasana itu lebih sendu.
Hapsari menyiapkan mentalnya dan berusaha untuk menceritakan apa yang terjadi dengannya agar dokter Niken tidak melaporkan keberadaannya pada pihak berwajib.
“Bu dokter, sebelumnya saya minta maaf kalau sikap saya kurang sopan dengan mengajak Bu dokter berbicara empat mata di tepi sungai. Saya hanya ingin pembicaraan kita tidak ada yang mendengar selain kita berdua. Ada sesuatu hal yang ingin saya ceritakan kepada Dokter Niken. Tapi saya mohon apa yang saya ceritakan cukup menjadi rahasia antara kita berdua!” Hapsari menatap Dokter Niken dengan serius. Wajah Hapsari yang cantik masih dipenuhi luka goresan yang sudah mengering dan ada yang sedikit mengelupas.
“Baik, Bu Hapsari! Bu Hapsari bisa mempercayakan hal itu kepada saya! Semua pembicaraan kita menjadi sebuah rahasia!” dokter Niken menyetujuinya.
“Sebenarnya Saya tidak hilang ingatan dan juga tidak lupa dengan apa yang sebenarnya menimpa saya dan putri saya. Hanya saja, saya tidak mau ada orang lain yang mengetahui hal itu. Karena kecelakaan yang menimpa saya mengandung konspirasi. Saya yakin ada pihak yang ingin mencelakai saya. Kemungkinan besar dia adalah orang terdekat saya. Tapi Dok, Saya tidak tahu siapa yang sebenarnya berniat untuk melenyapkan saya dan juga putri saya. Tidak ada yang saya percayai di dalam keluarga saya.” Hapsari kembali menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam.
“Astaga ....” dokter Niken sangat terkejut dan dia yang mendengarkan itu merasa menyesak di d**a.
“Dahulu sepuluh tahun yang lalu, saya menikah dengan seorang pengusaha muda pemilik perkebunan teh di Jawa tengah. Namun musibah menimpa suami saya sehingga akhirnya dia meninggalkan saya dan putrinya untuk selamanya.” Hapsari berusaha untuk menceritakan semuanya.
“Saya turut prihatin, Bu!” dokter Niken menggenggam telapak tangan Hapsari untuk menguatkannya di saat-saat yang sangat sulit untuk ia lalui.
“Mendiang suami saya meninggalkan sebuah warisan untuk putrinya semua aset perusahaan, rumah, dan harta benda lainnya untuk putri saya. Namun sesaat setelah saya kehilangan suami saya kondisinya benar-benar di luar dugaan. Istri dari adik ipar saya cemburu terhadap saya yang dekat dengan adik ipar saya. Ibu mertua saya pun begitu menyayangi saya melebihi menyayangi anak kandungnya sendiri. Hal itu membuat istri dari adik ipar saya cemburu. Pertengkaran mereka gara-gara saya membuat saya cemas dan tidak bisa berpikir jernih. Kebetulan waktu itu Gendis masih berusia tiga tahun. Akhirnya saya mengalami depresi berat. Kembali membaik setelah sepuluh tahun ini.” Hapsari mulai menitikkan air mata yang sudah tidak dapat lagi dibendung.
Raut wajah dokter Niken terlihat terhanyut dalam kisah Hapsari yang baru saja dia ungkapkan. Dokter Niken tidak menyangka kalau Hapsari memiliki masalah besar.
“Kemudian saya kembali menjalankan usaha mendiang suami saya itu. Hingga akhirnya saya bertemu dengan mantan kekasih yang juga bekerja di sana. Kedekatan kami dan status kami yang sama-sama sudah berpisah dengan pasangan kami sebelumnya membuat Cinta lama bersemi kembali. Akhirnya kami menikah. Saya memiliki seorang putri begitu juga dengan dia. Dia mengajak kami berlibur ke Puncak. Lalu sopir pribadi saya kebetulan tidak bisa mengantar kami. Sampai akhirnya, sopir lain kenalan suami saya itu yang mengantar kami. Kecelakaan itu terjadi sesaat sebelum kami kembali ke rumah. Saat saya berniat membelikan oleh-oleh untuk keluarga saya. Awalnya saya meminta diantar Gendis dan suami saya pun bersedia untuk mengantar kami. Ternyata anak tiri saya demam. Suami saya tidak jadi mengantar dan kami pergi hanya dengan sopir itu.” Hapsari kembali menghirup napas panjang untuk menceritakannya.
“Hujan lebat yang mengguyur wilayah Puncak kala itu membuat saya dan putri saya benar-benar takut. Kami hanya bisa berdoa dan pasrah. Lalu entah bagaimana tiba-tiba mobil itu terpelanting. Saya hanya bisa memeluk Gendis dan berdoa untuk keselamatan kami. Lalu entah bagaimana caranya, sopir mobil itu bisa keluar tanpa menolong kami yang masih terjebak di jok belakang. Kemudian mobil itu meluncur ke bawah. Hingga akhirnya masuk ke dalam sungai yang sedang banjir. Saya meminta Gendis untuk tetap memegang tangan saya apa pun yang terjadi. Saya berusaha meraih gagang pintu dan pintu itu sempat macet. Mungkin karena tekanan air yang begitu tinggi. Saya berusaha membukanya dengan mendobrak pintu itu. Akhirnya kami berhasil keluar mungkin saat itu tangan Gendis terbentur. Akhirnya seperti sekarang ini. Saat itu kami tergulung bersama derasnya air sungai, yang saya ingat hanya satu hal, saya harus selamat demi menyelamatkan anak saya. Lalu tiba-tiba saya tidak mengingat apa pun lagi. Hingga malam itu kami merasa hangat dan sudah berada di rumah Nyai Kosasih.” Hapsari bisa berani menghadapi semuanya demi Gendis. Seorang wanita bisa menjadi sangat kuat demi melindungi anaknya.
“Saya mohon, Bu dokter! Jangan beritahu pihak berwajib mengenai keberadaan saya. Karena saya merasa ada konspirasi di dalam keluarga saya. Mungkin setelah keadaan Gendis kembali normal. Saya akan kembali ke rumah saya. Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Semoga Bu dokter mengerti apa yang sedang saya alami dan saya juga berharap Nyai Kosasih mau menerima saya dan dititipi Gendis. Ketika saya kembali ke rumah.” Hapsari juga mencurahkan isi hatinya tentang rencananya itu.
“Bagaimana kondisi Ibu Hapsari saat ini? Saya tidak akan memberitahu pihak berwajib tentang keberadaan ibu Hapsari dan juga Gendis. Saya akan tetap merawat semua pasien saya sampai sembuh, termasuk Bu Hapsari dan Gendis. Saya rasa Nyai Kosasih akan menerima kalian dengan senang hati.” dokter Niken memberikan motivasi dan dukungan kepada Hapsari.
“Terima kasih, Dok! Karena sudah mengerti bagaimana posisi saya saat ini. Mungkin saya juga akan menceritakan hal ini kepada Nyai Kosasih dan Abah Engkus sebelum saya kembali ke rumah saya. Hanya saja butuh waktu untuk mendamaikan hati dan jiwa ini.” Hapsari merasa lega Setelah dia menceritakan semuanya kepada dokter Niken.
Kisah masa lalu Hapsari dan Gendis akhirnya menjadi rahasia antara Hapsari, Gendis, dokter Niken, Nyai Kosasih, dan Abah Engkus. Mereka sepakat untuk merahasiakan semuanya. Hingga setelah kondisi mereka kembali normal. Hapsari menitipkan Gendis kepada Nyai Kosasih dan Abah Engkus selama dia kembali kerumahnya.