19. Menginjakkan Kaki Di Kota Metropolitan

1721 Kata
Malam itu Mita tengah duduk termenung di teras rumah Nyai Kosasih. Dia kembali teringat tentang masa lalunya sebagai Gendis Paramita. Tinggal di rumah mewah penuh kasih sayang dan tiba-tiba kondisinya jungkir balik berubah 180 derajat. Bahkan yang paling menyedihkan, dia harus merahasiakan identitas aslinya sebagai Gendis Paramita Adiwilaga. Putri seorang pengusaha sukses yang mewarisi semua kekayaan peninggalan ayahnya. Namun karena suatu konspirasi, membuat Mita harus hidup terlunta-lunta dan berjuang keras selama sembilan tahun belakangan ini. Gadis manis yang dikenal tertutup dan pendiam nyatanya memiliki rahasia yang luar biasa. Lamunannya buyar seketika mamanya menepuk bahu Mita dari belakang. “Mita? Hei? Kamu melamun?” Hapsari atau Ira duduk di sebelah putrinya. “Enggak kok, Ma. Hanya saja aku masih belum bisa melupakan masa laluku begitu saja! Nyatanya sampai detik ini, aku masih merindukan bagaimana suasana di rumah kita yang dulu. Masih tidak menyangka kalau ternyata kita akan jadi seperti ini. Tapi aku merasa bahagia di sini, Ma! Ambu sama Abah begitu baik sama kita. Rasanya ... walaupun hidup sederhana tapi hati ini bahagia. Mama merasa seperti itu juga?” Mita tersenyum sembari mempertanyakan hal itu kepada mamanya. “Benar, Nak! Tolak ukur kebahagiaan itu bukan dari seberapa banyak harta yang kita punya! Melainkan seberapa banyak kasih sayang yang tercurah di dalam keluarga kita. Percuma saja memiliki banyak harta tapi hati ini merasa kesepian, takut, dan hampa. Hidup sederhana tapi penuh perhatian dan kasih sayang itu lebih bermakna! Membuat hidup kita jadi lebih bersemangat, jadi memiliki tekad untuk bekerja keras demi membahagiakan orang-orang di sekitar kita. Iya, kan?” Hapsari membelai rambut putrinya. “Iya, Ma! memiliki banyak harta justru mengundang sifat buruk seseorang yang pada akhirnya justru mencelakakan kita! Lalu mau sampai kapan kita harus menyamar seperti ini, Ma?” Mita ingin mengetahui rencana mamanya. “Untuk sementara, lebih baik kita tetap menyamar. Mungkin dalam waktu dekat ini Mama akan mengunjungi makam Ayah kamu! Sekaligus ingin mencari perkembangan informasi tentang keluarga kita.” saat ini Hapsari masih diliputi dendam dan amarah. Bahkan dendam membuat Hapsari menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat. “Semoga Mama menemukan titik terang dan kita akan merencanakan langkah selanjutnya!” Mita juga penasaran mengenai dalang dari sabotase kecelakaan yang menimpa mereka. “Amin.” Hapsari kembali mengulas senyum kepada putrinya. “Oh, ya, Ma! Tiga hari lagi, aku mau pergi ke Jakarta.” Wajah Mita begitu berbinar. “Ke Jakarta mau apa, Sayang?” wanita itu mengernyitkan dahinya. “Coba Mama tebak!” Mita terlihat memberikan sinyal kabar bahagia. “Kamu dapat job di sana?” Hapsari menebak hal itu karena memang wajah Mita tidak memperlihatkan raut wajah sedih. Mita mengangguk, “Iya, Ma! Kali ini Mita dapat orderan besar! Ada pihak perusahaan yang menyewa jasa florist untuk mendekor sekalian peresmian kantor cabang baru perusahaan mereka. Aku baru kali ini, Ma ... dapat orderan sebesar ini. Aku juga sudah menyampaikan kepada Abah dan Ambu, bunga apa saja yang harus disiapkan. Abah sangat senang mendengar berita ini. Mita nggak akan sia-siakan kesempatan ini, Ma!” Mita akan berjuang memberikan yang terbaik sekaligus sebagai bahan promosi toko bunga kita di kota Jakarta. “Semoga sukses, ya! Mama ikut bangga! Kamu memiliki bakat berbisnis dan berkebun, seperti mendiang ayah kamu! Tapi membawa bunga sebanyak itu apa kamu sudah mendapat sewa transportasinya?” Hapsari bingung memikirkan hal itu karena memang mereka belum memiliki mobil pickup pribadi. Sedangkan pickup sewa pun mereka harus mencari dan tidak bisa mendadak. “Sudah, Ma! Jadi Mita itu kenalan sama sales baru PT Bio Lancar. Namanya Tama, aslinya dari Jakarta. Tapi dirolling pekerjaan di wilayah kita menggantikan Pak Wahyu. Kebetulan Mita sama Tama masih seumuran. Enggak beda jauh lah usia kita! Ya, Mita sering ketemu sama Tama jadi sering ngobrol. Kebetulan tadi siang Tama kunjungan ke toko. Nggak sengaja Tama dengar percakapan Mita di telepon, kalau Mita dapat orderan besar tapi bingung untuk menyewa pickup kalau mendadak. Eh ternyata Tama menawarkan kerja sama. Tama kan mengetahui lokasinya. Dia menawarkan Mita untuk menyewa pick up yang biasanya dia pakai. Kebetulan Tama sedang libur bekerja. Kalau menguntungkan satu sama lain Kenapa nggak? Iya kan, Ma?” Mita terlihat begitu bersemangat. “Iya memang sebaiknya seperti itu! Istilahnya simbiosis mutualisme! Kamu Untung Tama juga untung!” Hapsari mendukung apa yang diputuskan oleh putrinya. “Tapi, Ma ... mungkin Mita akan menginap di kantor itu! Peresmiannya kan pagi! Rasanya nggak mungkin kalau Mita bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu yang singkat. Paling tidak Mita berangkat dari sini sore harinya setelah Tama selesai bekerja. Lalu menginap semalam untuk mendekorasi ruangan dan Mita akan pulang setelah peresmian kantor cabang tersebut selesai. Karena Mita ingin mengambil beberapa foto dekorasi yang Mita buat di sana untuk bahan promosi. Kebetulan Sabtu dan Minggu Tama libur bekerja. Jadi Tama bisa sekalian pulang menjenguk keluarganya, sedangkan Mita sama Ujang mungkin bakal menginap di kantor itu. Soalnya acara peresmian kantornya Sabtu pagi” Mita meminta izin kepada Mamanya. “Ya sudah yang penting kamu bisa jaga diri! Hati-hati di sana! Seumpama sulit untuk tinggal di kantor cabang tersebut, kamu mencari penginapan untuk 1 malam!” Hapsari hanya bisa mendoakan dan mendukung Mita yang tengah berjuang demi kesuksesan toko bunga yang dia kelola. Semua itu tidak lain untuk membahagiakan Ambu dan Abah. Karena sampai kapan pun mereka tidak akan bisa membalas Budi kepada Abah dan Ambu atas kebaikan dan ketulusan mereka. Hanya bekerja keras yang bisa mereka lakukan untuk membahagiakan Abah dan Ambu. *** Mita meminta Ujang untuk membantu Abah, Ambu, dan mamanya yang sedang memanen bunga di kebun. Sedangkan Mita masih menjaga tokonya sendirian. Karena Mita sedang mempersiapkan semua bunga yang akan dibawa ke Jakarta. Mita juga memesan beberapa bunga yang memang tidak tersedia di kebunnya. Selain itu Mita meminta Ujang untuk membeli dan menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk mendekorasi ruangan kantor cabang tersebut. Semua bunga dan perlengkapan sudah disiapkan di toko bunga Mita sore itu. Tama datang tepat waktu karena dia tidak ingin mengecewakan Mita. “Nah, itu mobil pickup Tama.” Mita mengulas senyuman lega setelah melihat mobil pickup Tama terparkir di depan tokonya. Tama begitu terkejut karena bukan hanya Mita dan Ujang yang ada di sana. Melainkan semua keluarga Mita ikut membantu proses pengangkutan bunga dan perlengkapan lainnya ke dalam pick up sebelum Mita berangkat menuju Jakarta. ‘Gile! Deg-degan banget gue! Mana formasi lengkap! Nggak apa-apa sih biar mereka juga kenal sama gue!’ bisik Tama dalam hati. Dia mengulas senyum dan memberikan salam untuk menyapa mereka semua. Mita dan keluarganya juga menyambut Tama dengan hati yang lega. Karena Mita kagum ada orang sebaik Tama. “Sore, Om, Tante!” Tama menyapa mereka dengan sebutan itu, karena dia bingung panggilan apa yang biasanya disematkan kepada mereka. “Tama! Kenalin ini Mamaku namanya Ibu Ira. Ini Nenekku namanya Ambu Kosasih. Lalu yang ini Kakekku namanya Abah Engkus. Kalau yang ini ... tahu kan? asistenku Si Ujang!” Mita mengenalkan semua yang mengantarnya ke toko. “Oh, iya maaf! soalnya saya kurang paham.” Tama kembali mengulas senyum polosnya. “Perkenalkan, saya Tama, sales marketing PT Bio Lancar yang baru menggantikan Kang Wahyu. Tapi karena saya mendengar Mita dapat order besar dan kebetulan saya mau pulang menemui Mama saya di Jakarta, jadi sekalian saya tawari, Mita untuk ikut bareng ke Jakarta pakai pick up kantor.” Tama yang grogi berusaha menjelaskan kepada keluarga Mita. “Terima kasih, ya! Nak Tama! Tante mohon! tolong jaga Mita di sana! Soalnya ini baru pertama kali Mita akan menginap di Jakarta.” Hapsari meminta tolong kepada Tama. “Iya, Tante laksanakan! Keselamatan Mita saya yang tanggung jawab!” Tama kembali mengulas senyum dan dia merasa senang karena keluarga Mita mempercayakan semua itu kepada Tama. Sebenarnya Tama ingin mengenal Mita lebih jauh. Namun dia memiliki caranya sendiri dengan berteman dengan Mita. Setelah semuanya siap. Mita, Tama, dan Ujang berpamitan. Mereka semua menunggangi mobil pick up Tama menuju lokasi kantor yang dimaksud. *** Mita merasa benar-benar keluar dari zona nyamannya. Setelah sekian purnama Mita hidup di sebuah desa terpencil dan membatasi dirinya untuk berinteraksi keluar kota. Hari itu menjadi hari pertama Mita pergi jauh Setelah sekian lama dirinya menutup diri demi merahasiakan identitasnya. Mata Mita berbinar seiring perjalanan mereka yang sudah memasuki kota Jakarta. Hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang diiringi suara klakson kendaraan seakan-akan menjadi pemandangan yang lumrah di sana. Namun bagi Mita itu semua sangat istimewa. Ditambah lagi gedung-gedung yang menjulang tinggi, jembatan penyeberangan yang baru dia lihat membuatnya terkagum-kagum berada di ibukota. Kebetulan mereka sampai di Jakarta sudah malam. Sehingga gemerlap lampu jalanan dan gedung-gedung bertingkat itu membuat Mita seakan-akan berada di belahan Bumi lain. Karena biasanya dia hanya melihat suasana perkebunan yang sunyi, suasana pedesaan yang sejuk, situasi yang damai, tidak bising seperti di kota Jakarta. Namun bagi Mita, pengalaman itu adalah sesuatu hal yang luar biasa setelah sembilan tahun lamanya Mita mengurung diri dan membatasi perjalanannya. Tama melajukan kendaraannya menuju sebuah gedung lokasi kantor cabang yang memesan jasa dekorasi bunga Mita. Kantor cabang tersebut bernama Santuy tour and travel. Perusahaan yang bergerak di bidang pemesanan tiket dan paket liburan beserta transportasinya. Mita sangat antusias setelah dia menginjakkan kaki untuk pertama kali di kantor itu. Mita berjalan menemui Satpam yang tengah berjaga, sebelum dia menemui pihak humas kantor yang waktu itu menghubungi Mita. Pak satpam yang tengah berjaga, mengantar Mita menuju ruang Ibu Sherly yang sudah menghubungi toko bunga Mita. Saat itu Mita disambut dengan hangat oleh Ibu Sherly. Beliau pun mengantarkan Mytha menuju ruangan aula dan lobi Kantor yang akan di dekorasi. Setelah itu Mita meminta Ujang dan Tama membantunya untuk memasukkan semua bunga dan perlengkapan ke dalam kantor. Ibu Sherly kembali memanggil Mita dan dua orang yang datang bersamanya. Mereka diminta untuk menyantap jamuan yang sudah disiapkan di sebuah ruangan, sebelum mereka memulai pekerjaan. Lantaran pihak kantor mengetahui bahwa Mita dan geng baru saja tiba setelah menempuh perjalanan jauh. Mereka pun berjalan mengikuti arahan Ibu Sherly. Hingga sampai pada sebuah ruangan yang khusus di desain untuk menjamu para tamu yang datang ke kantor itu. Suasana yang nyaman dan bisa melihat pemandangan Ibu kota Jakarta saat malam hari membuat Mita kembali teringat masa lalunya. Namun ingatan itu langsung Mita kondisikan. Supaya dia tidak terlarut dalam luka di masa lalunya. Mereka diminta untuk makan malam bersama. Sembari menunggu Bos mereka datang ke sana. “Dengar-dengar sih Bos mereka masih muda, tapi disiplin tingkat dewa. Jadi penasaran seperti apa?” bisik Mita sembari terkekeh dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN