Amara's First Dream

2014 Kata
Amara sudah rapih dengan setelan kerja nya yang simpel tetapi terkesan elegant. Yaitu kemeja putih yang pas ditubuhnya dan juga rok se dengkul nya bewarna Grey gelap. Saat ini ia sedang mengikat rambutnya butut kuda. Entah mengapa Amara menyukai rambut nya yang terikat seperti ini dibandingkan tergerai. Sebelum itu juga ia sudah memoles kan make up tipis pada wajahnya agar tidak terlihat pucat dan lebih terkesan segar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin full body miliknya. Semua sudah siap, ia sekarang harus segera keluar dan menyiapkan seluruh keperluan ibunya lagi. Saat ini Bella terlihat sedang menonton TV dikamar nya, wanita itu ternyata sudah bangun. Amara tersenyum melihatnya, keadaan ibunya itu sudah sangat membaik. Setelah semalam kembali ke rumah. Amara ternyata sudah menyaksikan Bella yang tertidur lelap. Ingin membangunkannya pun Amara merasa tidak tega. Tetapi syukurlah, Amara menjadi tidak merasa bersalah. "Ibu sudah makan bubur yang Mara buatkan??" Tanya Amara dari dapur. Tangannya sibuk menyiapkan beberapa obat milik Bella yang harus di minumnya 3 kali sehari dan juga air putih. "Sudah nak, ibu juga sudah meminum obat yang kau siapkan semalam. Jadi kau tidak perlu khawatir. Sekarang segeralah berangkat ke kantormu. Jika kau terus menerus mengurusi semua keperluan ku, maka kau akan terlambat, " Ucap Bella memberitahu. Amara berjalan menuju kamar ibunya itu dengan nampak yang sudah berisikan segelas air putih, roti dengan isi selain dan obat obatan. "Tidak apa ibu, aku tidak ingin kau berjalan jalan untuk mengambil makan juga minumnya, aku tidak akan telat bu, percayalah padaku, " Balas Amara meyakinkan dengan senyum manis wanita itu. Bella tersenyum melihatnya. "Kau memang keras kepala ya. " "Ayah menurunkannya padaku, " Jawab Amara membuat Bella terkekeh. "Yaaah memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." "Yaa sama seperti wajahku yang cantik ini. Kau juga menurunkannya padaku kan?" Bella tertawa mendengarnya. Tangannya terangkat mengelus pipi Amara lembut. "Kau jauh lebih cantik Anakku, " Amara tersenyum. Hatinya menghangat. Ia meraih tangan Bella dan menciumnya tulus. "Kalau begitu aku berangkat ibu, " Pamit Amara. Bella mengangguk cepat. "Iya sayang. Segeralah, hati hati di perjalanan dan jangan lupa juga untuk sarapan!!" "Iya ibu, " Amara tersenyum, kemudian bangkit berdiri dan meraih tas miliknya yang berada di sofa kecil kamar Bella. "Semoga harimu menyenangkan Amara!" Ucap Bella pada Amara yang saat ini sudah menjauh menuju pintu. Amara menoleh dan tersenyum. °°°°°°°° Amara berjalan melewati trotoar menuju halte bus dimana ia akan menaikinya menuju kantor. Tetapi belum sempat menyebrang ke halte. Amara memekik terkejut saat seseorang menariknya cepat. Amara terkejut bukan main, hampir saja tubuhnya oleng. Tetapi lengan besar itu sudah menahan tubuh kecilnya lebih dahulu. Saat matanya menangkap sosok yang menariknya ini. Amara menjadi memasang wajah kesal. "Astaga, Mycle??" Ucapnya bingung. "Sedang apa kau disini??! Pagi pagi seperti ini??" Tanya Amara penasaran. Alih alih menjawab pertanyaannya Mycle justru menatap Amara kesal. "Mengapa lama sekali kau bersiap siap, huh?? Apa kau ingin tampil cantik didepan pria pria lain??! " Ucap pria itu. Amara mengernyit bingung. "Apa maksudmu??" Tanya Amara sambil berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Mycle. Tetapi percuma lah, itu sia sia. Mycle masih tidak ingin menjawab pertanyaan Almira. Dasar menyebalkan!! Mengapa untuk menjawab pertanyaan nya dalam satu kalimat saja susah sekali! Kemudian dengan tiba tiba Mycle menarik lengannya berjalan mengikutinya. Amara memprotes kesal. Mycle selalu melakukannya tiba tiba, pria ini bersikap seenaknya! "Astaga Mycle, 25 menit lagi meeting ku dengan beberapa anggota manager interior akan dimulai! Kau ingin membawaku kemana??! " Ucap Amara membuat Mycle menghentikan langkahnya. Kemudian menoleh kearah Amara yang sudah memasang wajah kesalnya. "Kau ingat?? Akulah CEO nya, jika para manager itu berani menghukum atau memarahi mu karena tidak menghadiri meeting. Maka aku yang akan memecat mereka semua!" Jawab Mycle membuat Amara melongo tidak percaya. Ya Tuhan, dasar pia ini dengan sifat seenaknya. Lagi. Mycle menarik Amara kali ini lebih lembut, entah mengapa. Dan Amara hanya bisa menurutinya saja. Ia benar benar sudah lelah berdebat dengan pria ini pagi pagi. Mycle ternyata membawanya menuju mobil Aston Martin One-77. Oke baik ganti lagi, ada berapa Aston Martin yang pria ini milikku, huh??! Mobil itu sedih terparkir anteng tepat di tempat semalam Mycle mengantar nya. Setelah mempersilakan Amara masuk ke kursi penumpang di bagian depan dia segera berjalan memutar dan masuk ke kursi pengemudi. Sebelum menyalakan mesin mobilnya, dia mencondongkan tubuhnya kearah ku. Aku reflek bergerak mundur, khawatir kejadian semalam akan terulang. Dan ternyata pria itu hanya ingin memasangkan seatbelt milikku. Oke, baiklah. Aku sudah percaya diri duluan. Memalukan. Oh benarkah??! Aku baru saja melihat wajah tampan itu yang tersenyum geli. Dia pasti meledek wajahmu yang memalukan ini! "Apa kau berfikir aku akan menciumi lagi Mrs.Amara??" Tanya Mycle setelah selesai memasangkan seatbelt nya erat. Amara terdiam, tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya ke jendela. Mycle yang melihat itu terkekeh. °°°°°°°°° Mycle Pov. "Bodoh kau Mike, kenapa kau tidak bungkam saja bibirnya!!" Aku mendesah kesal. Wolf menyebalkan milikku ini kembali muncul. Dia benar benar tidak tahu waktu kapan dia akan diperlukan dan tidak. Menyebalkan! "Jangan mengantaiku bodoh lagi! Kau yang bodoh! Jika aku menciumnya lagi maka dia akan berfikir aku ini m***m, kau tahu?! Dan itu akan membuatnya tidak nyaman." "Tetapi dia ini sudah menjadi mate mu. Kau berhak untuk itu!" "Oh Alex! Tidak bisah kah kau sekali ini saja mengerti? Aku yakin akan ada waktunya kita memburu bibir s*****l itu. Apa kau pikir aku tidak menginginkannya??!" "Ya ya baiklah. Aku mengerti. Kalau begitu aku akan kembali, " Aku mengucap syukur dalam hati. Terkadang ketika wolf milikku itu muncul justru akan membuatku kesal sendiri. Setelah mindlink Alex. Aku dengan cepat menyalakan mesin mobilku dan langsung tancap gas nya. Perkataan Ku kepada ibu dan ayah semalam benar benar akan aku wujudkan hari ini. Yaitu membawa hadiah mereka ke istana. Aku menoleh kearah Amara yang sedang menatap serius jalanan Calgary pagi ini dari jendela. Aku tersenyum melihatnya, ia benar benar cantik pagi ini. Aku tidak menyesal telah menunggunya sangat lama sekali pagi tadi. Karena itu akulah pria pertama yang menyaksikan penampilan cantiknya hari ini. Ah, benar benar menyenangkan. Sepanjang perjalanan wanitaku ini tidak berhenti bertanya tanya akan dibawa kemana dirinya. Aku tidak perduli, aku hanya fokus menyetir ke depan, ingin sekali aku melumat bibirnya yang sama sekali tidak menyerah bertanya padaku. Tetapi aku masih menahannya untuk tidak melakukan itu, masih sama. Aku tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman denganku. Dan sampailah mobilku dikawasan jalanan yang menampilkan panorama hutan yang sangat indah dengan pohon pohon yang menjulang tinggi. Cahaya matahari yang menembus dibalik ranting ranting pohon itu membuat pantulan nya di kaca mobilku. Keadaan seperti ini benar benar menenangkan. Terlebih ketika aku lihat burung yang berterbangan di sana. Suaranya dapat aku dengar di keheningan dalam mobilku ini. Saat aku menoleh ke sampingku, aku melihat Amara sedang terlelap dengan kepala yang menyender di kaca jendela mobilku. Aku menghentikan mobilku sesaat, dan melepas jas ku kemudian aku melipatnya rapih. Setelah itu kuletakkan dibawah kepalanya untuk dijadikan bantal. Aku tidak ingin kepala miliknya menjadi sakit saat ia terbangun nanti. Setelah itu aku kembali menjalankan mobilku, perjalananya cukup jauh memang, karena istanaku ini berada tepat di pengunjung hutan dan sangat tertutup. Tapi istanaku ini adalah istana terbesar dari pack pack lain dan terkenal wolf yang sangat kuat. Para rakyat dan juga suku ku adalah yang paling berkuasa disini. Setelah menempuh 1 jam perjalanan dengan membawa mobilku dengan kecepatan penuh, akhirnya mobil ku kini sudah memasuki pekarangan istana yang luas. Melewati pagar yang sudah terbuka lebar menjulang tinggi itu. Aku memasuki istanaku menuju pintu utama lorong istana ini. Setelah mobilku berhenti tepat di depan undakan istana. Aku segera mematikan mesinnya, aku menoleh kembali kearah Amara yang ternyata masih tertidur. Ya Tuhan, ternyata wanita ini benar benar mengantuk. Untuk membangunkannya pun aku tidak tega. Aku memutuskan untuk keluar mobil lebih dulu. Ada warrior yang menyambut ku ramah dan menunduk hormat padaku. Aku memutari mobilku menuju pintu penumpang milik Amara. Aku membuka pintu itu perlahan, saat tubuh Amara hendak terjatuh dengan sigap aku menangkap kepalanya lebih dulu. Aku membuka seatbelt miliknya kemudian mulai menggendong tubuh kecil itu ala bridal style. Aku berjalan melewati lorong istana menuju kamarku yang berada dilantai tiga, untuk lebih dulu mengantarkan Amara. Dia membutuhkan tempat yang lebih nyaman untuk tertidur. Aku melihat didalam istana ini sangat sepi, pada kemana orang orang ini? Tiga orang maid berjalan menyambut ku. Aku masih melangkahkan kaki menaiki anak tangga, mereka mengikuti di belakang. "Kemana ayah dan ibuku?" Tanya ku datar. "Mereka sedang pergi pagi tadi Alpha. Mereka berkata mereka akan menemui Alpha Malik, " Jawab maid itu. Aku mengangguk kecil. Kini aku sudah sampai tepat di depan pintu kamarku. Aku kembali menoleh pada 3 maid itu. "Tetap berjaga tepat di depan kamarku. Perhatikan wanitaku ini dengan baik. Jika dia sudah bangun maka siapkanlah apa yang dia butuhkan. Perlakukan dia dengan baik, " Perintahku yang langsung dijawab anggukan patuh oleh mereka. "Baik Alpha." Setelah itu aku mulai melangkah membuka pintu dan masuk kedalam kamarku. Aku meletakan tubuh kecil ini keatas kasur king size milikku dan memposisikan tubuh itu senyaman mungkin. Aku tersenyum melihat tubuhnya yang mengulet, wajahnya terlihat tersenyum seperti sudah menemukan posisi yang nyaman dengan tidurnya. Benar benar menggemaskan. °°°°°°°° Ssriiingggg... Tiba tiba cahaya menyilaukan itu muncul di depanku. "Siapa dia??" Dengan hati hati aku melangkahkan kakiku menuju cahaya putih yang berkedip diujung sana. Tanpa kusadari, kakiku ini bergerak dengan sendirinya melangkah kemana saja yang dia inginkan. Sssrrriiinggg.. Cahayanya hilang. Astaga benar benar membingungkan. "Kemana cahaya itu?" Tanyaku sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi yang aku rasakan hanyalah hembusan angin menerpa kulit wajahmu dan juga rambutku. Kemudian disusul dengan suara air yang menetes. Dimana sebenarnya aku ini?? Apa aku sedang bermimpi?? "Amara," Aku mendengar ada suara yang memanggil namaku. Aku tidak mengenali suara itu dengan jelas. Dia begitu jauh. "Siapa yang memanggilku??" "Amara.." Lagi, dia kembali memanggil namaku. Kali ini sedikit lebih mendekat. Aku terus menoleh ke sekitar ku. Dan nihil, aku tidak menemukan siapapun. Tidak ada seorangpun disini. Benar benar membingungkan! Semuanya hanya gelap. Tiba tiba saja cahaya itu kembali datang tepat di depanku kemudian dia berubah menjadi cahaya biru yang sangat indah. Aku menutup mataku dengan telapak tangan, guna menghalangi cahaya biru yang benar benar silau menusuk mataku. Setelah cahaya itu meredup, aku kembali membuka mataku. Aku mengernyit saat melihat sosok seorang wanita. Bergaun putih terang, berambut putih dan panjang menjuntai kebawah, bercahaya. Dan benar benar berkilau. Wajah wanita itu samar sama dapat aku lihat, dan benar benar cantik. Ini benar benar terasa sangat nyata. Wanita itu tersenyum kearahku. "Siapa kau??" "Selamat datang Amara, " Dia membuka suaranya. Dan oh Tuhan, suaranya sangat lembut bagaikan kapas. "Apa maksudmu selamat datang?? Aku dimana?? Apa kau tahu tempat ini??" Dia masih tersenyum. Wajah cantiknya itu terlihat menenangkan, walaupun aku sama sekali tidak melihat begitu jelas. "Aku sengaja membawaku kemari. Aku ingin kau tahu tempat ini lebih dulu. Setelah itu kau akan mengerti nanti, " Jawabnya. Kening mu mengkerut bingung. "Tetapi dimana aku sekarang??" "Kau tidak perlu tahu dimana kau berada Amara, yang ingin ku sampaikan sekarang adalah, kau harus bersiap siap. Kau adalah gadis yang ku pilih, dan aku yakin, pilihan ku tidak salah." "Kau harus melakukan tugasmu dari sekarang Amara, hanya kaulah yang bisa merubah semuanya. Wanita seperti mu benar benar membuatku sangat yakin. Percayalah, kau pasti bisa melakukan ini, " Ucapnya lembut. Demi Tuhan, aku tidak mengerti apapun yang dia bicarakan. "Menjadi seorang Mate dari pack ini kau harus bisa melakukannya. Aku ingin aku percaya, bahwa semua akan bisa kau kendalikan nanti." "Siapa?? Mate? Pack??Apa maksudmu?? Sebenarnya apa yang kau katakan, dan mengapa harus aku?? Kenapa aku yang kau pilih?? Aku tidak mengerti dengan ucapan mu barusan Miss." "Kau pasti akan mengerti Amara, aku percaya kepadamu". Jawabnya lagi tersenyum. Astaga, ini benar benar menyulitkan "Sebenarnya siapa kau??" Dia tidak menjawab, cahayanya meredup. Aku sedikit takut melihatnya. Dan masih tetap sama, wajahnya masih tersenyum padaku. Sampai tiba tiba suaranya kembali terdengar. "Aku Moongoddes, sayang. " Dan yang terjadi setelahnya ia menghilang. Cahaya biru itu perlahan pergi keatas, seperti menyatu dengan langit malam ini. Aku terkejut saat tiba tiba sesuatu terasa jatuh tepat dari atas kepalaku dan menabrak kening ku. "Kalung?". °°°°°°°° TBC!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN