Bella mengalami dilema untuk sementara waktu. Bisakah ia tetap menutup pintu? Atau haruskah ia melompat dari jendela? Menyadari ini adalah lantai dua di mana letak jendela tiga meter dari tanah, Bella merasa kritis. Dia tak terlalu berani mengambil resiko. Baiklah, mau tak mau Bella mengakui ia sedikit pengecut.
Saat ketukan kedua datang, Bella terpaksa menyadari kenyataan. Jika dia tak mau memancing kemarahan Mic, mungkin ada baiknya ia membuka pintu dan … membujuk? Bisakah lelaki seperti itu dibujuk?
Tak ingin memancing kemurkaan Mic lebih jauh lagi, dengan enggan Bella menyingkirkan kursi, meja kayu, baru kemudian membuka pintu dengan celah kecil. Celah ini hanya sepuluh centi, memungkinkan wajah Bella yang pucat mengintip ke luar ruangan.
"Ada sesuatu?" Ketakutan adalah ketakutan. Sekuat apa pun Bella menguatkan hati, dia tak bisa memalsukan getaran was-was dalam suaranya.
"Aku akan pergi satu hari ini! Jangan berkeliaran terlalu jauh!" Mic berkata dengan nada dingin seperti saat pertama kali mereka bertemu, tidak membahas apa pun terkait kejadian tadi malam.
Pergi? Oh itu kabar bagus. Meskipun Mic ada untuk menjamin keselamatan Bella, tapi nyatanya Bella akan lebih merasa terjamin aman saat Mic pergi jauh. Semakin jauh semakin baik. Semakin lama semakin sempurna.
"Ya." Bella tak tahu alasan apa yang mendasari Mic berpamitan padanya. Sebenarnya, jika Mic langsung pergi tanpa berkata apa pun pada Bella, itu masih baik-baik saja.
"Ada nomor darurat di buku telepon di ruang tengah. Jika kau menemukan sesuatu yang mencurigakan, hubungi saja nomor itu!" Mic menggertakkan giginya, menahan kebencian saat mengatakan ini. Dia terpaksa meninggalkan nomor sheriff pada wanita itu.
Meskipun Mic seharusnya bisa melacak keberadaan orang asing yang datang ke kota kecil ini melalui perbatasan, tetap saja ia harus berjaga-jaga agar Bella waspada pada segala sesuatu. Tidak ada salahnya untuk mengantisipasi hal-hal buruk.
Menjaga seseorang ternyata cukup merepotkan. Mic mengutuk dalam hati. Seandainya saja ia tak terlalu berhutang budi pada Steve, dia lebih suka melihat wanita seperti Bella hilang tanpa jejak.
"Ya." Bella merasa lega mendengar kata-kata Mic. Setidaknya tak ada aura pembunuhan lagi dari lelaki itu sekarang. Sesuatu yang sebelumnya sangat mengganggu Bella.
"Jangan membuat masalah! Jika pikiran dangkalmu masih bisa menerima saran, lebih baik berada di rumah dan bersikap tenang!" Mic berbalik pergi, tak ingin lagi memberikan banyak peringatan yang berguna pada Bella. Jika wanita itu sedikit saja memiliki kecerdasan, dia pasti tahu kedatangannya ke sini untuk berlindung, bukan tamasya. Lebih baik tidak berkeliaran ke sembarang tempat.
Bella yang ditinggalkan Mic, langsung menutup kembali pintu kamar dengan suara keras, seolah-olah merayakan sesuatu. Bagus orang itu pergi. Tapi sekarang, ada satu hal lagi yang mendesak. Bagaimana nasib sarapannya? Haruskah Bella makan telur gosong tanpa garam lagi?
Mengerikan. Hidup Bella mengalami kemerosotan.
…
"Aku ingin kau membantuku mengawasi wanita itu!" Mic berdiri di dekat Clive Burke, lelaki n***o tinggi besar yang telah menjabat sebagai sherif wilayah selama dua periode.
"Bella Shancez? Wanita yang dititipkan padamu oleh temanmu?" tanya Clive, tatapan mata tajamnya menyapu seluruh penampilan temannya.
"Hm!" Mic mengangguk. Meskipun Mic tahu kota ini cukup aman dan memantau pendatang baru dengan baik, tetapi tak ada salahnya ia berjaga-jaga lebih dan meminta Clive untuk mengawasi Bella. Wanita itu terlalu merepotkan. Mic yakin Bella cukup liar dan pasti bertindak semaunya sendiri.
"Kau gila, Mic!" Clive bersandar di pintu mobil polisi yang dibiarkan terparkir di depan rumah adik iparnya, menopang dagunya dengan sebelah tangan.
"Aku tahu betapa kau benci wanita kota! Bagaimana kau bisa menerima Bella di rumahmu? Jika kau mau, kau bisa mengirimkannya padaku. Setidaknya Anne akan menerima Bella dengan baik!" Anne adalah pasangan Clive. Meskipun mereka belum menikah, tapi mereka telah hidup bersama selama dua tahun belakangan ini.
Hubungan Anne dan Clive cukup stabil. Anne adalah dokter hewan yang membuka praktek mandiri, sering kali membantu peternakn lokal saat salah satu hewan ternaknya mengalami masalah. Kepribadiannya juga ceria dan menyenangkan.
"Aku sudah berjanji pada temanku!" Mic membenarkan topi cowboy yang ia kenakan, memastikan nyaman dipakai, kemudian menggulung lengan kemejanya hingga siku.
Janji adalah sesuatu yang selalu dipegang oleh sebagian besar laki-laki, termasuk Mic. Terlebih lagi, di masa lalu, Mic berhutang budi terhadap Steve. Mungkin ini adalah kesempatannya membayar kembali budi yang dulu ia terima. Meskipun pada kenyataannya, untuk membayarnya, Mic harus mengutuk Steve delapan belas generasi karena menyerahkan Bella padanya.
Jika bisa memilih, Mic lebih suka menjaga sepasang singa liar daripada satu wanita kota yang sikapnya tak bisa ditebak.
"Baiklah, Mic. Aku mengerti!" Sadar tak bisa membujuk teman dekatnya, akhirnya Clive hanya bisa menyetujui apa pun keinginan Mic.
"Sampaikan salamku pada Anne!"
"Akan lebih baik jika sesekali kau datang ke rumah kami untuk makan malam!" Clive mengundang dengan tulus.
"Kau tahu itu tak mungkin!" Mic menggeleng lemah, teringat akan Anne. Senyuman Anne, tawanya, caranya berkelakar, semua itu membuat Mic merasa nyeri.
"Anne sudah menjadi milikku. Dia bisa melupakan masa lalu!"
"Tapi akan lebih baik bagi kami tidak bertemu sama sekali!" Mic berargumen.
"Dasar keras kepala! Kau selalu menciptakan batas yang menyakitkan untukmu sendiri! Jika kami menikah, apakah kau akan datang memberkahi kami?"
"Memberkahi? Tentu saja! Aku akan mengirin hadiah untuk kalian!"
"Hadiah tak terlalu penting. Datanglah, Mic! Tolong sudahi jarakmu dengan Anne!"
"Berhentilah mengeluh seperti wanita tua, Clive! Jaga Anne dengan baik! Hanya itu permintaanku padamu!"
"Baiklah baiklah! Pergilah kau sesukamu! Aku harap suatu hari nanti akan ada wanita yang pantas mendampingimu dan membuat sikap paranoidmu pergi perlahan-lahan!" Clive mendesah panjang, tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi kekeraskepalaan Mic yang tak masuk akal.
"Wanita, selain Anne, hanya akan menjadi lambang kesengsaraan!" Mic berbalik pergi, meninggalkan Clive yang termenung seorang diri.
Dalam beberapa hal, Clive kagum pada Mic.Tapi dalam beberapa hal lainnya, Clive dibuat kesal oleh sikapnya.
Setelah beberapa saat berlalu, Clive masuk ke dalam mobil, bersiap memutar kunci kontak, tetapi berhenti saat ia mendapat panggilan dari Anne.
"Clive, di mana kau? George mencarimu barusan!" George adalah undersheriff, orang kedua yang bertanggung jawab atas kantor sheriff setelah Clive.
"Aku baru saja bertemu dengan Mic. Kami berbincang sebentar! Katakan pada George untuk langsung pergi ke kantor! Aku akan menemuinya di sana!"
"Baiklah, aku akan menyampaikannya! Kau bertemu dengan Mic?" Nada suara Anne berubah menjadi lebih lembut dan hati-hati. "Apa yang sedang dia lakukan? Apakah dia baik-baik saja?"
"Dia akan pergi ke suatu tempat untuk mengurus sesuatu! Seharusnya dia baik-baik saja!" Clive memahami nada kerinduan yang Anne suarakan, mencoba menenangkan fluktuasi batinnya yang sedikit guncang.
"Aku mencoba mengundangnya makan malam ke rumah kita!" Clive menyampaikan.
"Hasilnya?" Anne penuh harap.
"Dia menolak!"
"Sudah kuduga!" Anne terkekeh ringan, tetapi ada nada getir yang ditujukan pada dirinya sendiri.
"Sudahlah, Anne! Biarkan dia bertindak semaunya! Aku tak ingin segalanya menjadi rumit!"
"Baiklah-baiklah, aku mendengarkanmu, Clive!"
Clive memutuskan sambungan dan menatap langit pagi yang berarak mempesona. Anne dan Mic. Masa lalu yang seharusnya sudah berlalu. Atau bahkan mungkin, suatu masa yang tidak pernah tercipta kebersamaan sama sekali, tapi langsung berakhir.
…