Keluhan Bella

1063 Kata
"Aku selalu bertanya-tanya pada dunia seperti apa wajah iblis sesungguhnya. Sekarang setelah melihat dia, aku tahu bagaimana perwujudan iblis. Ini mungkin tidak persis sama, tapi pasti mendekati." Bella menulis di sebuah buku diary dengan bolpoin merah, melingkari kata-kata "iblis" di dalamnya, dan mendesah puas saat ia selesai mengungkapkan uneg-unegnya. Bella adalah wanita yang mudah mengikuti perkembangan jaman, fleksibel dalam beradaptasi di segala situasi, dan tak pernah membiarkan dirinya tertinggal pada semua hal yang berhubungan dengan perkembangan teknologi. Namun, ada sesuatu yang tak berubah dari dirinya. Sesuatu yang telah berlangsung sejak kanak-kanak, terus hingga saat ini. Sesuatu itu adalah menulis buku harian. Bella baru saja mendefinisikan pendapatnya tentang Michael Navaro. Seseorang yang ia anggap sebagai "iblis". Sebenarnya, bukan hanya dari penampilan fisik lelaki itu menakutkan. Karakternya lebih buruk lagi. Siapa di dunia ini yang masih sanggup bersikap buruk pada tamu yang merupakan adik dari teman baiknya sendiri jika bukan Mic? Lelaki itu benar-benar … bagaimana Bella harus menjelaskannya? Dia sendiri belum menemukan kata yang cocok untuk mendefinisikannya. Bella menutup buku diary, menyimpannya di rak kayu yang tergantung di atas meja, dan bersiap untuk makan malam. Baiklah, Bella. Makan siang tepat pukul delapan. Jika kau tak ingin memasak sendiri, kau harus tepat waktu! Bella bermonolog sendiri di dalam hati, mengingatkan dirinya sendiri. Tanpa berganti baju, Bella turun ke lantai satu. Kali ini dia mengenakan kemeja kotak-kotak dengan celana denim yang membalut kaki indahnya. Sosoknya yang luwes terlihat menawan. Di ruang makan, Mic baru saja selesai menyiapkan makan malam. Kali ini ia membuat meatloaf dan macaroni and cheese. Aromanya cukup menggoda selera Bella. Dia mengambil kursi yang terjauh dari Mic, mencoba menciptakan jarak sejauh mungkin. Bella adalah orang yang selalu berpikir semakin jauh jarak seseorang, semakin sedikit masalah yang akan terjadi. Tak ada yang bersuara saat makan malam. Baik Bella dan Mic sibuk dengan diri sendiri. Bella takut dan merasa tak nyaman untuk membuka percakapan, sementara Mic terlalu malas untuk bercakap-cakap. Setelah makan malam selesai, Mic mengumpulkan piring kotor dengan gesit, seolah ia terbiasa melakukannya dengan terstuktru.⁶ Didasari oleh rasa tak nyaman, Bella dengan ragu-ragu menawarkan dirinya sendiri. "Biarkan aku yang mencuci piring!" kata Bella, mengusap dagunya dengan ringan. Mic tidak menoleh sama sekali. Dia membawa piring kotor ke bak cuci piring, membasuh piring dengan air, dan mulai memberinya cairan pembersih secara manual. Tidak ada mesin cuci piring di sini. Tampaknya tempat ini masih cukup jauh dari standar yang Bella miliki. Semuanya harus dilakukan dengan manual. "Mic?" Bella menatap laki-laki yang masih sibuk mencuci piring, takut dia tak sengaja membuat tuan besar itu tersinggung. Sialan kau, Mic. Bella merutuk dalam hati. Sejak ia datang ke tempat ini, Bella selalu memiliki perasaan waspada tingkat tinggi pada Michael Navaro. Orang itu terlalu kuat menciptakan aura permusuhan dan d******i. "Pergi! Aku tak butuh bantuanmu!" Mic mengusir Bella dengan suara dingin. "Jika kau memiliki kemampuan, urus saja dirimu sendiri!" Mendengar ini, Bella berbalik tanpa ragu. Dia sudah berinisiatif melakukan hal baik dan menciptakan kedamaian. Jika Mic tak berkenan, dia tak bisa berbuat apa-apa lagi, bukan? Siapa yang mengira seorang Michael Navaro ternyata orang yang sulit disenangkan. Bella masuk ke dalam kamarnya, menutup semua tirai jendela, dan duduk di atas ranjang dengan laptop di pangkuan. Selain menulis diary, Bella memiliki hobi lain yang ia kembangkan dari sejak sekolah menengah. Menulis cerita. Ya. Dia sudah tertarik dengan literasi sejak kecil. Sejak ia bisa membaca dengan baik, Mum selalu membelikannya setumpuk novel "Lima Sekawan" karangan Enyd Blyton. Sejak itu, Bella menyukai cerita fiksi dan kesukaan ini mulai berkembang seiring berjalannya waktu. Dia masih ingat saat kecil, Steve, kakak sekaligus pengganggu paling menjengkelkan, selalu menggoda Bella, mengambil dan menyembunyikan novel-novel miliknya ke gudang belakang yang kosong dan menakutkan. Di sanalah Bella terpaksa mencari dan berakhir dengan menangis. Mum selalu menghukum Steve setelah itu. Sementara Dad, dia lebih suka menjadi penonton dan hanya terkekeh kecil. Di mata Dad, anak-anak laki-laki sudah sepantasnya nakal dan berulah. Kadang Bella sempat berpikir ayahnya terlalu berat sebelah dalam mencintai putra-putranya dibandingkan dirinya. Baru saja Bella mulai menyusun plot dalam kerangka cerita yang akan ia buat, panggilan dari Steve mengalihkan perhatiannya. "Bocah nakal, bagaimana kabarmu di sana?" tanya Steve. Suaranya ringan dan terkesan acuh tak acuh, tetapi Bella tahu ini mengandung perhatian yang kuat. "Aku menderita, Steve! Tahukah kau? Orang yang kausebut teman ini lebih mirip disebut iblis. Dia memiliki ekspresi seseram monster seperti buku yang k****a selama ini. Kau ingat bukan, novel horor yang aku bagi denganmu saat aku berusia dua belas tahun di musim panas waktu itu? Itu seperti Mic yang aku temui!" Bella merajuk kepada kakaknya. Entah Steve punya dendam apa pada Bella sehingga dia tega mengirim Bella ke tempat terpencil seperti ini dengan tuan rumah semengerikan Mic. Jika Bella tidak ditemukan keberadaannya dan menjadi daging cincang di bawah ranjang, seharusnya Steve sudah bisa menebak siapa pelakunya. "Aku lupa. Sepertinya aku telah membakar novel itu di perkemahan musim semi!" Steve menjawab dengan santai. "Sialan, kau, Steve! Hampir semua koleksi novel best sellerku kau jadikan bahan bakar! Steve, aku tak yakin bisa tetap harmonis dengan temanmu. Mic itu! Jadi jika tiba-tiba kau tak bisa menghubungiku, ada baiknya kau curiga mungkin temanmu telah menghabisiku diam-diam dan menyembunyikan jasadku di lemari pendingin bersama daging yang ia awetkan!" Membayangkan wajah Mic yang suram, membawa aura pembunuhan, mudah bagi Bella membayangkan tentang hal-hal buruk yang terjadi di masa depan. "Dia tak mungkin menyimpan jasadmu di lemari pendingin. Percayalah padaku!" Steve sama sekali tak tertekan saat mendengar keluhan adiknya. "Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Bella. "Jika dia ingin membunuhmu, bisa kupastikan itu pasti akan dilakukan di luar rumah, bukan menyimpannya di tempat yang mudah dijangkau. Dia bisa membunuhmu, kemudian menyeretmu ke tempat yang jauh dari kediamannya, menimbunmu di antara semak-semak, atau menghanyutkan jasadmu di sungai besar saat arus naik. Dengan begitu, tak akan ada bukti yang tersisa." Steve mengungkapkan pikirannya secara terbuka, membuat Bella bergidik ngeri. "Steve, apakah aku ini adikmu?" Bella terdengar marah dan tak terima. "Bagaimana kau bisa mengatakan semua itu padaku?" "Karena itu diamlah, Bella! Kau sekarang wanita dewasa yang bisa berpikir jernih. Jangan biarkan otakmu penuh dengan omong kosong! Rumah Mic adalah salah satu tempat yang paling aman untukmu saat ini. Bekerjasamalah dengan dia dan jangan buat masalah. Dia temanku. Aku tahu dengan baik bagaimana karakter Mic yang sebenarnya! Percayalah, kau akan aman!" Mendengar ini, Bella hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat. Steve bilang ia akan aman. Tapi entah kenapa, dia beranggapan mungkin ini tak sesederhana yang Steve pikirkan. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN