Nasehat Roger

1083 Kata
"Bella, bagaimana kabarmu?" Suara Ralph yang familier menyapa Bella di malam hari. "Tidak baik. Tampaknya berada di tempat ini adalah suatu kesalahan, Ralph!" Bella menekan keningnya berulang kali, merasakan ketidaknyamanan yang ia rasakan hari demi hari berada di tempat ini. Dua hari ini Bella hanya bisa makan makanan cepat saji dan makanan kalengan, ditambah telur jika itu masuk hitungan. Selain itu, rumor yang mengikuti Mic semakin membebaninya. Bella diserang dalam dua hal. Gaya hidup dasar dan tekanan mental berulang. Mendengar ini, Ralph hanya bisa mendesah panjang. "Situasi sedang tidak baik di sini. Si L masih dalam buronan dan dicurigai melakukan tindak kriminal berulang terkait pembunuhan." Dari penjelasan ini, Ralph memberikan petunjuk pada Bella betapa tidak aman jika ia kembali ke Washington D.C. sekarang. "Kau tidak tahu rumor apa yang Mic miliki di sini. Dia dikatakan sebagai pembunuh mantan istrinya." Bella pernah mengatakan pada Ralph, sebagai orang kepercayaannya, terkait Mic sebagai orang yang melindunginya di tempat ini. Ralph adalah orang dengan moralitas tinggi. Bella percaya orang itu layak untuk dipercayai. Tidak ada salahnya menceritakan sesuatu terkait tempat ini dan orang-orang yang terlibat dengan Bella. "Itu hanya rumor, Sayang!" Ralph membujuk dengan sabar. "Kau tampaknya tak terlalu terkejut dengan berita ini!" Bella menggertakkan gigi-giginya, meragukan apakah sebenarnya Ralph berada di pihaknya atau tidak. "Aku mengenal Steve dengan cukup baik. Dengan karakternya, dia tak mungkin menitipkanmu pada orang yang tidak dipercayai. Sayang, situasi sedang tidak kondusif. Bertahanlah di situ, oke? Jangan mempersulit semuanya!" Bella diam. Dia menatap langit malam tanpa bintang, merasa ketakutan yang ada di dalam d**a tak bisa tersalurkan dengan mudah. Beban yang menggayuti hatinya tak berhasil diuraikan. "Kau berkata seperti itu seolah-olah kau memperlakukan aku seperti wanita manja!" Bella menarik napas panjang, menekan dahinya ke kaca jendela besar yang terasa dingin. "Tentu saja tidak. Kau wanita dewasa, mandiri, dan satu-satunya yang aku cintai!" Ralph membujuk Bella dengan cara yang lembut. "Lupakan itu! Bagaimana kabarmu selama ini?" "Baik. Semuanya berjalan seperti biasanya. Baik-baiklah kau di sana, Bella!" "Ya. Tentu!" Selama ia tidak jatuh dalam teror Mic yang bisa jadi menjadi kenyataan suatu hari nanti. "Ada makan malam yang harus aku datangi. Aku akan melanjutkan perbincangan kita di waktu lain. I love you, Honey!" Panggilan berakhir tak lama kemudian. Bella berdiri lama di balik jendela, menatap langit malam yang semakin lama semakin kelabu, tanpa cahaya. … Di sebuah pondok kayu di pinggiran peternakan perbatasan Ousphilled, duduk dua orang laki-laki di teras dengan sebatang rokok di antara jari-jemari mereka. Yang satu berusia empat puluhan dengan tekstur wajah latin, yang satu berusia tiga puluhan dengan penutup mata di salah satu matanya. "Kudengar kau mengijinkan seorang wanita tinggal di kediamanmu! Wanita kota. Benarkah itu?" Roger bertanya dengan kekehan pelan pada Mic yang kini menatap malam kusam di langit. Asap rokok membumbung tinggi di udara, naik terus hingga akhirnya semakin samar, menyatu bersama awan yang gelap. "Hm." Mic mengerucutkan bibirnya, tampak tak nyaman setiap kali ada yang membahas Bella. Tadi pagi Clive, sekarang Roger. Kenapa semua orang berubah menjadi penggosip setiap kali bertemu dengan topik Bella? "Bukankah kau masih memiliki kebencian pada wanita kota?" Roger tertawa kecil, sengaja menggoda Mic yang kini memiliki ekspresi gelap di wajahnya. "Ini keadaan khusus!" Mic menjelaskan dengan singkat. Dia kini mulai menyesali keputusannya menerima Bella saat Steve memintanya bantuan terhadap adiknya. Bella bukan seseorang yang bisa Mic kendalikan dengan mudah. "Mic, sudah saatnya kau bersikap dewasa. Apa pun latar belakang seseorang, tidak selayaknya kau membencinya tanpa alasan. Ada juga wanita kota yang memiliki karakter baik dan lugas. Tidak semua orang seperti dia." Roger mengungkapkan pikirannya. Mereka sama-sama tahu "dia" yang Roger katakan berkaitan dengan Sevana. "Mungkin. Tapi wanita yang berada di kediamanku tampaknya tak berbeda jauh dengan wanita yang kubenci dalam pikiranku!" Meskipun apa yang dikatakan Roger benar, tetapi sayangnya Bella tak berbeda jauh dengan kriteria wanita yang Mic benci. Roger menghela napas panjang. Bertahun-tahun telah berlalu, tragedi yang Mic alami seharusnya menjadi kisah kelam yang terkubur dalam. Namun, tampaknya tidak seperti itu. Mic masih menggunakan tragedi itu sebagai tenaga untuk membenci kehidupan. Kapan lelaki itu akan bangkit dan mulai memaafkan semuanya? Kehidupan tidak selamanya pahit dan menyedihkan seperti yang Mic duga. "Setiap orang memiliki jejak masa lalu yang mungkin kelam. Tapi, Mic, ada saatnya saat seseorang menempatkan masa lalunya sebagai suatu pembelajaran hidup untuk bangkit dan kembali menjalani hari-hari dengan layak!" Roger mengingatkan. Dia mengetuk-ngetuk ujung jarinya di lengan kursi secara berkala, menghasilkan bunyi ketukan berirama. Suara angin malam dan dedaunan yang bergemerisik membuat Mic sedikit damai. Meskipun langit malam tak berbintang, tapi suasana malam tak kehilangan aura keindahannya. Alam masih menjadi sesuatu yang Mic cintai tanpa syarat. "Berhentilah memberi nasehat padaku, Roger! Aku bukan kau yang bisa memaafkan masa lalu dengan mudah. Aku bukan kau yang bisa melupakan banyak hal tanpa syarat! Kau lupa bagaimana tiga tahun yang lalu kau terpuruk jatuh karena istrimu meninggalkanmu begitu saja dan memilih pergi dengan kekasih gelapnya yang ada di kota? Membuang semua kehidupan yang kauberikan padanya, memperlakukanmu seperti serangga yang perlu disingkirkan!" Kalimat Mic memukul persis di titik sakit Roger. Semua orang masih ingat apa yang terjadi tiga tahun yang lalu. Jessie, wanita yang berasal dari LA yang diperistri Roger selama sebelas tahun, memutuskan pergi dengan kekasihnya yang merupakan teman dekat masa kecilnya, kembali ke LA dan meningggalkan Roger begitu saja. Bahkan Jeff, satu-satunya putra mereka, ikut dibawa Jessie. Selain pergi meninggalkan Roger, Jessie juga menggadaikan hampir semua sertifikat penting yang Roger miliki dan membiarkan Roger dalam kesulitan berlarut-larut. Semua tagihan beralih menuju Roger. Jessie berlepas tangan dan meninggalkan banyak kesulitan. Roger sempat mencari keberadaan Jessie untuk mengatasi semua kesulitan yang wanita itu ciptakan, tetapi mereka tak memiliki hasil apa pun selain pertengkaran hebat. Sempat terbesit keinginan menggugat Jessie terkait penipuan aset yang ia lakukan, tapi setelah dipikir panjang, akhirnya Roger memilih melepaskan wanita itu. Mic tidak tahu apakah dia harus mengutuk Roger karena kebodohannya melepaskan kejahatan wanita itu, atau harus kagum pada Roger karena kebaikan hatinya yang tanpa syarat. Jika situasi itu jatuh pada Mic, satu-satunya hal yang akan Mic lakukan adalah memburu wanita j*****m itu habis-habisan dan memberinya pelajaran yang tak akan pernah bisa wanita itu lupakan sepanjang hidupnya. "Mic, setiap orang memiliki masa-masa terendah dalam hidupnya. Aku pernah dalam situasi itu, begitu juga kau. Tapi yang terpenting adalah, bagaimana kita bangkit lagi setelah semua tragedi itu terjadi. Tidak mudah memang memaafkan orang yang menghancurkan hidup kita, tapi pada akhirnya, kita butuh kedamaian, Mic. Itulah kenapa aku dan kau berbeda. Aku memilih untuk berdamai dengan hidup, sementara kau memilih melawan kehidupan itu sendiri!" Roger mendesah panjang. "Kapan kau akan dewasa, Mic?" …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN