Bab 9
Jam sudah menunjukkan pukul Sembilan malam, kini Endrew pamit untuk pulang, memang dia masih merasa malu karena keceplosan mengatakan itu tapi tak apa kedua orang tua Bella juga memaklumi dengan apa yang dia lakukan, mungkin dia memang sudah tidak sabar untuk memiliki Bella.
“Bell aku pulang dulu, jangan lupa besok datang ke opening restaurant aku bareng om sama tante” ujar Endrew mengingatkan.
“Dresscode warna apa?” Tanya Bella dia hanya takut salah dresscode jika tidak menanyakan hal itu, pastinya akan malu karena menjadi pusat perhatian.
“Putih ya” ucap Endrew.
“Oke, hati-hati di jalan” ucap Bella.
“Makasih, aku balik” ujar Endrew di melambaikan tangannya lalu segera masuk kedalam mobilnya.
Endrew seger melajukan mobilnya bukan menuju arah rumah tapi menuju ke restaurant miliknya itu, Marchello masih di sana dan dia juga harus kesana untuk melihat semua persiapan sebelum acara dilaksanakan. Dia tidak perduli membayar mahal karena semua serba mendadak dia rela mengeluarkan uang banyak demi orang yang di sayanginya itu.
***
Bella masuk kedalam rumah, dia langsung menemui orang tuanya dia mengatakan jika dresscode besok adalah warna putih. Endrew memang tadi mengatakan kepada dia dan kedua orang tuanya mengundangnya ke opening restaurant miliknya besok.
Hal itu di katakana ketika suasana hening karena salahnya Endrew sendiri yang bahkan keceplosan apa yang ada di dalam hatinya itu, Bella malu dan kesal tapi juga yang namanya udah kejadian mana mungkin dia marah marah, lagi pula itu bukan kesalahan yang fatal jadinya masih bisa di maafkan.
“Besok ya? kamu dah punya gaun?” Tanya Eeilen.
“Pakai gaun yang dulu juga bisa mah, santai aja lah aku” jawab Bella.
“Pasti disana ada orang tua Endrew kamu nggak ingin berpenampilan wow di depan mereka?” taanya Eeilen.
“Emangnya harus ya? Bellaa kan udah cantik mah” ucap Bella percaya diri.
“Iya sangat cantik sayang, kan anak papah dan mamah kamu mah tampil apa adanya udah sangat cantik” puji Anderson.
“AAA betul kan, makasih papah” ujar Bella.
“anak papah satu satunyaa yang paling cantik” ujar Anderson.
“pokoknya kalau papah punya anak lagi juga tetep Bella yang paling cantik” ucap Bella.
“Ngawur ya, mana mungkin kamu punya adek orang mamah dah umur segini juga sangat beresiko” ucap Eeilen.
“Hahaa bercanda mah” ujar Bella.
Bella tertawa melihat mamahnya yang memerah dia langsung pamit untuk masuk kedalam kamarnya itu, dia juga mengantuk dan ingin istirahat lebih awal besok pagi dia ingin olahraga agar tubuhnya tetap sehat dan bentuk tubuhnya tetap aduhai.
***
Endrew sudah sampai di restaurant miliknya di sini masih sangat ramai para piñata dekorasi masih kesana kemari menata ruangan ini. pertama kali di sana Endrew langsung menemui Marchello untuk menanyakan bagaimana hal yang bisa di katakana masalah ketika dia tidak ada.
“eh taadi udah dikirim makanannya?” Tanya Endrew.
“udah malahan udah sampai disana” ucap Marchello.
“ya udah, tadi mereka sudah makan semua kan?” Tanya Endrew memastikan.
“Sudah, baru aja. Emang lo kemana tadi? Lagi ketemu bu bos?” Tanya Marchello.
“Lagi makan malam, sama Bella dan keluarganya” jawab Endrew.
Marchello yang mendengarnya pun turut bahgia, memang dia tau tentang hal ini karena setiap apa yang terjadi pada Endrew dia langsung menanyakan pendapat kepada Marchello, bissa diktakan bahwa Marchello kerjanya rangkap jadi asisten jadi temen jadi tempat curhat tapi Marchello senang bertahun tahun dia bekerja bersama Andrew memang semuanya tidak pernh mengecewakan.
“Bos ada beberapa dokumen yang hrus di tanda tangani, itu yang kesepakatan kerja sama dengan perusahaan yang kita bicarakan kemarin, ini coba baca lagi” ucap Marchello.
Mereka kini langsung membahas masalah kantor yang memang jarang Endrew kunjungi karena sangat sibuk dengan hal ini, dia langsung bergegas membca semua berkas dengan teliti setelah dirasa sesui sepertii kesepakatan sebelumnya dia akan menandatanganinya. Semuanya bisa dilakukan walau harus mengorbankan banyak waktunya itu. dia sadar nanti setelah diaa menikah dia hanya ingin hidup santai menghabiskan waktu bersama keluarganya, dia tidak mau waktu dengan keluarganya terbuang sia sia karena dia harus bekerja. Dia lebih memilih bekerja lebih dulu dan menikmati semua kerja kerasnya kemudian.
“Lu mau tidur sini apa pulang?” Tanya Endrew.
“Nanti lah, apa nginep yo? Udah jam tiga pula” jawab Marchello.
Semua dekorasi sudah tertata rapi semua orang pun sudah pulang disini hanya ada Marchello, Endrew dan Oki serta petugas keamanan yang sedang berjaga di depan. Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk menginap dan pulang besok pagi.
Walaupun hari yang sangat melelahkan tapi dia sangat senang, setidaaknya besok orang tuanya akan senang mendapatkan kejutan darinya dan kedua saudaranya itu. dia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana senangnya mereka ketika mendapatkan kejutan dari anak-anaknya.
“Si bos lagi bucin mulu bang” ujar Oki pada Marchello.
Umur oki dan Marchello selisih dua tahun hal inilah yang membuatnya memanggil Marchello dengan panggilan “Bang” sedangkan dengan Endrew dia lebih senang memilih dengan memanggil “Bos”
“Biarin umur udah 36 tahun lo” ucap Endrew.
“Bang Marchell juga udah 30 tahun masih jomblo ya” goda Oki.
“Weh godain orang jomblo situ juga jomblo diam aja deh” sewot Marchello.
Mereka tertawa mendengarnya, kadang jika berkumpul bertiga seperti ini mereka bagaikan keluarga karena lebih dekat dari sekedar sahabat, teman kerja dan lain lain. Mereka selalu bersama dan ikut serta memperjuangkan kesuksesan Endrew, karena hal inilah Endrew tidak akan melupakan mereka.
Di baalik kesuksesannya ada banyak orang yang selalu mendukungnya dalam meraih segala hal yang dia punya saat ini, keluarga dan orang terdekat yang selalu mensupportnya dan selalu ada untuknya ketika dia merasa terpuruk karena gagal dalam melakukan sesuatu. Semua proses menyakitkan sudah dia lalui untuk menuju ke tempat tempatnya berdiri saat ini. banyak air mata dan keringat yang menetes dan semuanya terbayar ketika melihat semua yang dimilikinya.
“Nanti setelah ini berhasil, kita liburan sekalian riset untuk restaurant barat yang akan next lounching” ujar Endrew.
“We eropa, siap dong udah kangen nih huhuy” uJar oki heboh, dua orng ini hnya menggelengkan kepalaanya melihat tingkah Oki seperti ini.
***
Pagi ini Bella sudah berada di samping kolam renang dan mulai melakukan senam yang biasa dia lakukan, memang terkadang dia merasa tidak nyaman jika berat badannya naik walaupun hany beberpa ons saja. Dia yang suka olahraga pun lebih memilih melakukan kegiatan lebih untuk mengontrol berat badannya. Terkadang dia juga akan berenang jika malas senam, tapi entah kenapa hari ini dia memutusskan untuk senam sesuai dengan yang sudah di rencanakan semalam.
Dia melakukan senam dengan durasi tiga puluh menit setelah itu dia memutuskan untuk duduk di pinggir kolam renang, memang masih snagat pagi karena ini baru pukul setengah tujuh. Udara pun masih sangat sejuk di pagi hari ini.
Setelah hampir lima belas menit duduk kini Bella memutuskan untuk berdiri dan merecoki dapur mamahnya itu, mamahnya pasti sudah mulai memasak dan ini merupakan waktu yang tepat karena perutnya sudah keroncongan setelah selesai olahraga.
“Masak apa mah?” Tanya Bella.
“Tumis sih, yang lain belum mateng sayang udah sana mandi nanti habis mandi pasti makanannya sudah siap” ujar Eeilen pada anaknya.
Bella pun menganggukkan kepalanya dia langsung menuju kamarnya, pagi ini dia ingin relaksasi dan berendam di bathubnya itu. mumpung dia memiliki banyak waktu berendam dan mendengarkan music di sana ah rasanya bahkan dia sudah tidak sabar untuk itu semua. Apalagi di tambah dengan aroma terapi ah pasti rasanya sangat mantap sekali.
“Yess mumpung ada banyak waktu” teriak Bella senang.
Wanita itu segera masuk ke dalam kamar mandinya yang mewah itu dia melakukan sesukaya mengatur aroma terapi, memilih sabun yang akan di gunakannya untuk merendam bahkan kini bukannya dia mendengarkan music malahan memilih untu memutar drama korea yang di sambungkan dengan proyektor mini itu.
Rasanya seperti surge dunia bisa menikmati me time seperti ini, memang Bella tergolong orang yang sibuk dulu. Karena dia pulang ke Indonesia dia menikmati waktuny beberapa hari sebelum dia mulai bekerja lagi.
“Omooo tampan sekali kau, makin tuaa kenapa makin meresahkan ya ahjusi?” monolog Bella.
Dia suka heboh jika menonton drama korea, makanya terkadang dia memilih untuk menonton drama korea sendiri karena menurutnya lebih asik dan dia bisa menikmati ketampanan oppa korea yang nggak ada tandingan itu. bodo amat ya suka drama itu dari semua kalangan bodo amat sama mereka yang suka ngatain artis korea modal oplas, gila aja kali ya kenapa ga bisa menghargai kesukaan orang lain? Padahal kita sendiri tidak pernah mengusik apa yang jadi kesukaan mereka kok banyak cakap.
Suka emosi sendiri jika Bella mengingat hal itu, memangnya semua orang di pukul sama rata suka dengan apa yang dia suka? Mana bisa kayak gitu orang Indonesia dari sabang sampai merauke dan semua berbeda mana mungkin bisa di samakan dalam hal seperti itu? mereka akan di persatukan untuk membela tanah air. Tapi jika menyangkut hobi dan kesukaan itu merupakan hak asasi manusia dan orang lain bahkan tidak boleh untuk mengganggu gugatnya.
Bella mengenyahkan pikirannya dia segera kembali menonton drama korea yang membuatnya baper sendiri itu, mana mau dia mikirin orang yang berpikiran sempit seperti itu lebih baik dia menikmati waktunya yang snagat berharga untuk menyenangkan diri sendiri.
***
Derdi dan keluarganya sudah sampai di restaurant milik Endrew, sedangkan Andrew kini dia masih di rumah karena harus menunggu istrinya bersiap dan kedua orang tuanya juga. Mereka akan berangkat bersama dalam satu mobil, yang pastinya tetap akan di kawal oleh orang kepercayaan mereka, mana mungkin Abelano tidak melakukan itu demi kebaikan mereka semua.
“Ayo sayang, udah di tunggu mamah papah” ujar Andrew memanggil istrinya.
“Bentar mas, ih aku mual terus” ujar Aruna lemas.
“Kenapa kamu nggak bilang sayang” ujar Andrew khawatir dan langsung masuk kedalam kamar mandi menyusul istrinya.
Andrew langsung membantu istrinya, dia merasa bersalah krena sedari tdi memint istrinya agar segera menyelesaikan urusannya di kamar mandi tanpa dia tau apa yang sedang dialami istrinya itu. dia sangat merasa bersalah dengan sikapnya, padahal aruna bahkan merasa biasa saja seperti ini.
“Udah mas, ayo keluar udah di tunggu mamah” ucap Aruna.
“Kalau kamu sakit ngga usah sayang kita di rumah saja” ujar Andrew khawatir.
“Nggak mas, pokoknya kita harus kesana ini kan hari bahagia mamah papah dan ya aku juga mau makan yang banyak disana” ujar Aruna.
“Ya sudah nanti kamu banyak duduk aja disana” ujar Andrew dan langsung diangguki oleh istrinya.
Mereka menghampiri Abelano dan Diandra yang sudah siap, Aruna meminta maaf karena membuat dua orang tuanya menunggu lama. Andrew mengatakan hal yang sebenarnya karena Aruna habis muntah muntah dan sedikit lemas, Diaandra bahkan menyarankan agar Aruna di rumah saja bersmaa Andrew tapi Aruna dengan tegas menolak.
Setelah mendengar apa yang di ucapkan Aruna mau tidak mau akhirny mereka berangkat menuju restaurant milik Endrew, sebenarnya Aruna juga sangat penasaran dengan kejutan apa yang akan di berikan kepada kedua mertua mereka. Bahkan Angkasa dan istrinya pun diundang disana, mana suaminya sangat resek sekali nggak mau ngasih tau apa yang terjadi katanya di suruh liat nanti saja. Mana mungkin dia membatalkan datang jika sudah di liputi dengan rasa penasaran yang sangat tinggi seperti ini.
Aruna berbisik kepada suaminya dia bahkan bertanya tentang kejutan itu, tapi Andrew kekeh dan bahkan menutup mulut istrinya itu. dia tidak mau sampai istrinya membocorkan rencana ini kepada kedua orang tuanya.
“Ih Mas, lipstick Una berantakan ih” ujar Aruna kesal.
Diandra langsung menengok ke belakang dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh anaknya kepada istrinya itu yang sedang hamil muda. Andrew memang kadang kadang suka membuat mamahnya pusing karena apa yang dilakukannya itu.
“Andrew, istrimu lagi hamil jangan bercandain terus” peringat Diandra.
“Tau nih mah, lipstick Unaa jadi berantakan gara gara mas Andrew. Masa mulut una di bungkam mah kan ngeselin, nggak mau tau Una kesel” adu Aruna pada mamahnya.
“Andrew, udah tau istri hamil masih aja begitu” peringt Abelano.
Akhirnya Andrew hanya bisa diam ketika dua orng tuanyaa sudah ikut serta mengomel, mereka memang satu mobil. Ad sopir yang mengendarai mobil dan satu bodyguard di sini umur Abelano yang sudah berumur tidak pantas lagi untuk menyetir demi keselamatan. Sedangkan Andrew dia tidak mau meninggalkan istrinya jika dia harus menyetr seperti ini, palagi Aruna dalam mode yang sensitive dia bahkan kdang mersa kesal dengan emosi istrinya itu tapi lagi lagi dia harus sabar.
Andrew akhirnya meminta maaf agar masalah tidak I perpanjang lagi, kini dia mau fokus memikirkan puisinya nanti yang akan dia bacakan untuk kedua orang tuanya. Puisi kejutan yang mungkin membuat semua tamu akan ikut terharu ketika mendengarnya.
bersambung