Bab 7

2057 Kata
Bab 7   Endrew kini sudah berada di restaurant, memang masih ada sedikit yang harus di bereskan dan dia masih melihat dan membimbing pekerja yang memperbaiki tempat usahanya itu. dia banyak memberikan saran dan dimana yang harus di tempatkan.  Tak lupa dia memanggil jasa dekorasi yang biasa bekerja sama dengannya itu, nanti dia akan membicarakan masalah itu pas tepat jam makan siang. “Bos, besok memang benar diubah planning?” Tanya salah satu chef yang bekerja disini. “Iya, Ki besok mau bikin kejutan ala ala pesta pernikahan gitu nanti aku kasih dekorasi disini” jawab Endrew. “Menu makanannya tetap sama?” Tanya Oki. “Iya sama, nanti ada beberapa kolega yang aku undang dan ya mungkin kamu perlu menghubungi toko kue mbak Fiona untuk memesan cake pernikahan. Tolong ya sekalian masih banyak yang harus aku kerjakan soalnya” ujar Endrew. “Baik, nanti aku langsung hubungi tokonya aja” ujar oki langsung pamit untuk kembali ke dapur. Dia memang chef yang sudah lama bersama Endrew dan dia yang bertugas mengajari beberapa chef baru dengan menu yang akan di jual di sini. Endrew sangat percaya dengan kemampuan Oki maka dari itu dia selalu membayar harga yang tinggi untuk kemampuannya. Di sela kesibukannya kini dia terkejut karena getaran dari ponselnya itu, Bella menelponnya dan ya dia bingung entah apa yang akan diucapkan wanita itu kepadanya. Memang sedari tadi malam dia tidak sempat mengirim pesan dan pagi ini dia sangat sibuk hingga lupa member ucapan selamat pagi pada pujaan hatinya itu. Hallo Satu kata yang terdengar di telinga Endrew, dia bahkan berasa mimpi mendengar Bella yang menelponnya duluan seperti ini. biasanya kan gadis itu sok cuek dan nggak akan chat kalau nggak dia duluan yang mengirim pesan. Hallo, kenapa Bell? Tanya Endrew. Itu, diundang papah buat makan malam pokoknya nggak boleh telat setengah tujuh harus sampai sini, kalau telat ga usah datang. Bye Bella seperti menahan malu berbicara seperti ini, bahkan dia langsung menutup telponnya bahkan belum sempat mendengar balasan dari Endrew. Endrew senang jantungnya berdegub kencang rupanya keluarga Bella benar benar sudah memberikan ijin untuk bersama Bella. *** Bella berada di dalam kamarnya, sedari tadi dia bimbang dan gelisah dengan apa yang harus dilakukannya itu. dia malu jika harus menghubungi Endrew dan sedari tadi yang dia lakukan adalah mengetik dan ketika ingin mengirim dia kembali menghapus pesan tersebut. Tetapi jika dipikir-pikir dari pada papahnya ngomel karena dia nggak mengabari Endrew pada akhirnya dia memberanikan diri untuk langsung menelpon laki laki itu. Hallo Itu yang diucapkan oleh Bella, bahkan kini Bella deg deg an dia takut Endrew merasa terganggu dengan telponnya itu. tapi kini semua yang ada dipikirannya sirna setelah dia mendengar jawaban dari Endrew. Hallo, kenapa Bell? Bella gugup ingin menjelaskan karena sebenarnya dia malu mengatakan hal ini, dia yang sok sok an cuek dan jual mahal kini menghubungi laki-laki ini terlebih dahulu dan bahkan mengundangnya untuk makan malam di rumahnya. Itu, diundang papah buat makan malam pokoknya nggak boleh telat setengah tujuh harus sampai sini, kalau telat ga usah datang. Bye Setelah Bella mengatakan itu semua kini dia langsung menutup telponnya itu dia bahkan takut mendengar jawaban dari Endrew. Entah yang penting dia sudah mengatakan hal itu pada Endrew, dikira aneh atau gila pun dia bodo amat, mana mungkin dia menghubungi laki-laki lain yang bahkan tidak ada hubungan kerja dengannya, dia sangat tabu melakukan hal ini sebelumnya. “Sayang” panggil Eeilen. “Iya mah” jawab Bella. “Kamu udah siap kan? ayo berangkat belanja sekarang papah udah siap juga” ucap Eeilen. “Udah mah, bentar Bella susul” jawab Bella. Seperginya Eeilen Bella langsung memakai lipstiknya dan mengambil ponsel beserta dompetnya itu, dia tidak mau membuat orang tuanya menunggu lama dia juga sudah lama tidak berpergian bertiga bersama mamah dan papahnya itu. bodo amat dengan kata orang yang penting Bella bahagia bersama orang tuanya. Memang hal ini sangat jarang terjadi, karena biasanya seumuran Bella pergi bersama teman atau pasangan tapi entah kenapa Bella lebih nyaman berangkat bersama dengan orang tuanya itu. dia bagaikan anak anak yang bahkan tidak bisa lepas dari induknya, hal ini sangat berubah 180 derajat ketika dia harus mandiri di negeri orang untuk menempuh pendidikannya itu. “Ayo pah Bella siap” ucap Bella langsung masuk kedalam mobil. Mereka sudah berada di dalam mobil, seperti yang Bella duga pasti papahnya menanyakan tentang Endrew untung saja Bella sudah mengabarinya. Tapi dia tidak tau akankah Endrew datang atau tidak tapi dengan percaya dirinya dia mengatakan jika Endrew akan datang nanti malam. “Endrew mau datang kan?” Tanya Anderson. “Mau kok pah” jawab Bella. Padahal tadi jelas jelas bella tidak tau jawaban Endrew tapi dia mengancamnya, mana mungkin Endrew tidak datang di saat dia mengatakan ingin lebih dekat dengan Bella? Endrew tidak akan mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang bahkan tidak akan datang dua kali seperti ini. “Syukurlah” ujar Anderson. *** Endrew yang bengong pun dikejutkan dengan pekerja design interior yang menanyakan saran kepada Endrew tentang peletakan interior yang mereka pasang itu. Endrew bengong dengan senyuman yang bahkan tidak pernah luntur seperti itu, hal ini sungguh sangat jarang terjadi dan ketika Endrew melakukan hal itu membuat sekitarnya merasa Endrew ada yang beda. “Weh kesurupan ya Lu” ujar Hendrik menabok punggung Endrew. Mereka memang sudah berteman akrab hal ini pun tidak akan membuat Endrew marah hanya karena tabokan kecil yang menyadarkannya dari halusinasi tentang bella itu. Endrew yang tersadar pun langsung menanyakan apa yang diucapkan oleh Hendrik sebelumnya dia sama sekali tidak memperhatikan karena sibuk melamun memikirkan Bella yang tiada angin tiada hujan mau menelponnya terlebih dahulu itu, bagaikan mukjizat Tuhan. “eh map, kenapa tadi?” Tanya Endrew. “Ini lampunya, beneran mau diginiin apa konsep yang ini?” Tanya Hendrik kembali mengulangi pertanyaannya. “Tapi ini dah cocok sih, ya udah biarin begini saja” ujar Endrew. Hendrik meminta anak buahnya untuk ganti di tempat yang selanjutnya sedangkan Hendrik kini sibuk menggoda Endrew yang sepertinya sedang jatuh cinta hingga tidak fokus dengan segalanya. Mana mungkin Endrew yang selalu fokus jadi tidak fokus ketika bekerja jika bukan karena masalah cinta? Yang benar saja Hahaha. “Lagi jatuh cinta ya lo? tumben aja kek gini emang baru dapat telpon dari siapa?” Tanya Hendrik penasaran. Masalahnya setelah mengangkat telpon Endrew berubah menjadi tersenyum lalu melamun, hal itulah yang membuat Hendrik tau jika temannya kini sedang jatuh cinta hingga membuat efeknya sedahsyat itu. “Penasaran amat sih, ya ada lah” ujar Endrew. “Hahaha, pelit ya bos” ujar Hendrik. “Udah ayo ke selanjutnya” ucap Endrew. Memang di tahap finishing semuanya harus sesuai dengan yang diinginkan oleh Endrew, ibaratnya semuanya harus sesuai dengan apa yang diinginkannya itu dia tidak mungkin membuat restaurant yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya, dia akan membuat tempat makan yang nyaman, estetik dan pastinya dengan cita rasa makanan yang pastinya tidak diragukan lagi rasanya. “Iya bener, agak ke kanan dikit” ucap Endrew. “Lu juga pinter design kenapa nggak mau nyoba?” Tanya Hendrik. “Kalau bisnis ini juga bakalan nyaingin lu, emang mau disaingin?” Tanya Endrew balik. “Sialan lu ya” kesal Hendrik. Bukannya marah Endrew malahan tertawa terbahak bahak mendengar u*****n dari temannya itu, memang benar jika sudah bersama teman u*****n pun terdengar sebagai nada pujian kepada sesame teman itu. “semuanya dah oke kok, ayo makan siang sekalian udah di siapkan oleh oki tadi. Tapi mungkin aku tinggal sebentar drik, nanti semua rekapannya kirim ke Marchello ya” pesan Endrew. “Lu nggak makan siang?” Tanya Hendrik. “Lagi mau bahas dekorasi sama tuh dia si Jeno” ujar Endrew. “Oalah orang sibuk mah beda ya bos” ujar Hendrik. “sa ae lu, ya udah gue kesana dulu” ucap Endrew dan diangguki oleh Hendrik. Memang Endrew ingin segera menyelesaikan kerjaannya, dia ingin segera bersiap karena mendapat undangan makan malam di rumah Bella. Jika biasanya dia selalu lembur sebelum opening kini dia tidak bisa, mungkin nanti dia akan meminta Marchello untuk mengawasi disini selama dia nanti makan malam di rumah Bella. Banyak hal yang memang harus di siapkan sebelum opening, walaupun dia yang punya dia juga harus terus berada di sini ya ibaratnya dia tidak ingin hanya diam di tempat ketika semua pekerjanya sibuk untuk menyiapkan segalanya. Endrew tipe orang yang pekerja keras, mana mungkin dia betah untuk diam saja ketika ada banyak hal yang harus dikerjakannya? Dia tidak mungkin tahan jika harus berdiam diri kecuali memang bersama Bella disisinya itu. Tapi hal ini juga disiapkannya untuk memberikan kejutan kepada kedua orang tuanya itu, dia nanti akan mengundang Bella beserta keluarganya agar sekalian bisa berkenalan dengan kedua orang tuanya, bukankan ini hal yang baik? Menyelam sambil minum air bukan. Endrew tersenyum memikirkan hal ini, dia berharap semua rencana baik ini akan segera mendapatkan hasil yang baik sesuai dengan apa yang diinginkannya. Banyak hal yang Endrew bicarakan kepada Jeno, dia memberikan konsep yang sederhana tapi terlihat sangat elegan. Memang ini semua terbilang mendadak tapi Endrew percaya Jeno akan melakukan yang terbaik untuk projectnya kali ini, lagi pula Endrew berani bayar mahal karena jika mendadak Jeno harus mengerahkan banyak pekerjanya untuk bekerja di satu tempat ini. “Putih kan? temanya? Tambah gold bagus sih” saran Jeno. “Bagus juga, semua bunganya asli ya oh ya tolong sekalian pesankan buket bunga yang cantik. Ulang tahun pernikahan orang tuaku kali ini harus seperti pernikahan mereka walaupun yang kali ini lebih sederhana, tapi aku ingin mereka akan mengingat ini semua persembahan dari anak anak mereka” ucap Endrew. “Iya ndrew, aku paham kamu percayakan ini semua padaku kita juga udah lama kerja sama, mana mungkin aku mengecewakan untuk acara yang penting ini. ini semua kan sudah selesai pekerjaku mungkin akan mulai bekerja pukul tiga sore ya, karena kami juga harus menyiapkan segalanya” ujar Jeno. “Iya, kamu makan dulu sana aku mau cek bagian dapur” ujar Endrew pamit. Marchello yang merangkap sebagai asisten dan sekretarisnya itu memang sedang tidak ada di sini, dia sedang mengawasi persediaan daging yang baru di impor dari luar negeri itu. memang semua bahan yang akan di jadikan pasokan bahan persediaan di seluruh restaurant Endrew adalah kualitas terbaik satu tempat dan tempat lain kualitas bahan nya sama mereka sama sama berkualitas. “Gimana ki? Apakah masih ada kesulitan?” Tanya Endrew. “Ya semuanya sudah paham kok, tapi ya kadang masih butuh pengarahan mungkin nanti aku disini sebulan ya? sebelum kamu menunjuk satu orang  yang paling kamu percaya disini” ujar Oki. Semua yang bekerja disini memang chef dan nanti setelah sebulan siapa yang paling berpengaruh dan memiliki kinerja paling bagus dan bertanggung jawablah yang akan dijadikan ketua cheff dan wakil sini. “Iya, kalian harus bekerja keras tunjukkan keahlian yang terbaik, tetap bekerja dengan hati, jujur dan bertanggung jawab orang yang seperti itulah yang nantinya akan memimpin dapur ini” pesan Endrew. Oki dia adalah chef pertama yang di bagi resep oleh Endrew, laki-laki itu memang jarang memasak tapi terkadang dia meminta Oki yang masak dan dia yang mengarahkan hingga jadilah banyak macam masakan seperti ini. Oki yang selalu ikut ketika Endrew riset beberapa makanan yang mungkin akan diadopsi dan dimasukkan kedalam menu restorannya itu, dia sangat percaya kepada Oki bahwa dia tidak akan membeberkan resep dan berhianat padanya. Bahkan sudah 8 tahun mereka bekerja sama dan semuanya tidak ada hal yang mengecewakan dari Oki. “Siap bos” ujar semua chef yang bekerja disini. “aku percaya kalian akan menampilkan yang terbaik, semangat untuk besok dan seterusnya” ucap Endrew. Tidak hanya internal restaurant bahkan kini Endrew mengecek tempat parkir dan keamanan, memang sengaja Endrew membuat parkiran di bawah tanah karena dia hanya mengirit lahan sebab lokasinya saat ini tepat di pinggir jalan raya yang bahkan tidak memiliki cukup lahan. Dia selalu mempertimbangkan semuanya dengan matang matang, bahkan perencaan pembangunan restaurant ini sudah di pikirkan sejak setahun yang lalu. Endrew selalu membuat planning di tahun sebelumnya dan harus di laksanakan di tahun berikutnya, semuanya memang bekerja dengan baik sesuai dengan apa yang sudah di rencanakannya itu. dia memag selalu menulis apa yang akan dilakukannya karena kesibukan yang dia miliki dia takut jika melupakan sesuatu yang penting dan harus dilakukan. Tapi jika kalian menanyakan tentang Bella mana mungkin  Endrew akan lupa? Dia tidak akan melupakan wanita itu karena hati yang terus mengingatnya dan pikiran yang terus menguasainya, seluruh jiw raganya kini terjebak dengaan virus bucin yang teru menguasaainya. bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN