BAGIAN 7

1066 Kata
 “Jadi, apa yang selanjutnya kamu lakukan dengan game-mu itu, Hana?” Hana yang sedang duduk di atas sofa sembari bermain game mengalihkan perhatiannya sekilas, lalu menatap Christian yang tiba-tiba ikutan nimbrung dengannya. Hana sedikit was-was, Christian sangat baik sehabis pulang dari tempat kerjanya itu. Tidak hanya membelikan apa yang Hana pesan tadi, tapi juga ikut dengan bakso dan kawan-kawannya. Sampah-sampah yang Hana serakkan di atas meja juga sudah dibersihkan oleh Christian, dia kembali menyapu rumah dan menyuci semua pakaian kotornya. Tanpa mengomel. Melihat itu, membuat Hana yakin bahwa abangnya itu pasti ada kemauan yang tidak tahu malu. “Jadi, apa lo inginkan dari cewek lemah lembut nan baik hati kek gue ini? Sorry, kalo mau minjam uang, gue gada ya bang. Gaji gue pas-pasan, kemarin juga gue baru beli PS5 keluaran terbaru, jadi gada minjam-minjam!” Christian yang sedang meminum es tehnya itu hampir saja tersendak dengan pemikiran Hana. Bisa-bisanya adiknya itu malah memikir niatnya adalah untuk meminjam duit? Sangat-sangat tidak berahlak sekali ya. “Jadi apa? Gue dah bilang gada uang, buat beli album Butter aja gak ada duit, ludes dipinjam sama Rita semua, ánjer!” “Yaampun, Hana! Kamu belum berubah sama-sekali ya, abang gada niat mau minjam-minjam duit gak halal kamu itu. Abang mau minta tolong!” “Gak halal gimana? Gue kerja loh bang, KERJA!”Seru Hana menekan di setiap katanya. Christian memutar bola mata malas, adiknya memang bilang dia punya pekerjaan. Namun, adiknya itu tidak pernah mau bilang tempat kerja dan pekerjaannya. Sejujurnya, Christian ingin sekali mencari tahu tempat kerja yang dimaksud oleh adiknya itu. Tapi pekerjaannya selalu membuatnya sibuk sendiri. Selain itu, dia juga tahu jika dia melakukan itu, Hana pasti akan marah besar dan tidak mau berbicara lagi padanya. Yang terpenting untuknya, Hana bekerja dengan Rita dan Serena. Sahabat adiknya itu. Itu sedikit membuat perasaan Christian sedikit aman. “Jadi gimana? Lo mau dengan tawaran minta tolong abang tadi, dek?” “GAK DONG, MASA IYA. SERAJIN APA GUE MAU JADI BÁBU LO!” Christian menatap Hana dengan mata menyipit, minta tolong saja dibilang jadi bábu sama Hana? Dasar adik tidak tahu diri, adik kurang ájar, bàjingan…. Seru Christian dalam hati, persis seperti sound-sound yang sedang tren itu. Tapi dalam hati saja, karena Christian tidak ingin kehilangan jalannya dan malah memperumit masalahnya. Ia tahu, jika dia tidak bisa mencari apa yang sedang Dhava inginkan, ujung-ujungnya dia akan keluar dari pekerjaannya. Zaman sekarang cari pekerjaan susah kata orang-orang, ya kata orang-orang, sebagian saja, tidak semua. Karena pada nyatanya lowongan pekerjaan bertebaran dimana-mana, hanya saja manusia zaman sekarang sudah kekurangan skill. “Na, abang bakal masak tiap hari, cuci piring tiap hari, bersihin kamar lo. Nyuci kolór juga abang mau, lo cuman hidup dan bernafas aja, sama bantuin gue. Gimana? Aman?” Hana menyipitkan matanya, dalam hati dia menjerit ingin menerima tawaran fantastis itu. Sebagai penganut prinsip kaum rebahan, tawaran tadi sudah amat lebih dari uang semiliar. Hana tidak bercanda, dia memang hanya mandi jika pergi bekerja. Jika tidak, dia hanya menjadi gèmbel di rumahnya. Tidak mandi, bangun pagi langsung menghidupkan komputernya dan langsung terjun di dalam game-gamenya itu. Jika lapar, ohhh, jangan harapkan seorang Hana akan memasak. Untuk apa diciptakan aplikasi Go-Food dan lainnya? Tentunya untuk membuat kemudahan bagi orang-orang yang tidak berminat hidup seperti Hana. Tapi…tapi Hana tidak akan tergiur dengan tawaran fantastis itu, ia perlu tahu jenis pekerjaan apa yang harus dia lakukan pada sosok makhluk hidup mirip mònyet di depannya saat ini. Hana tidak berbohong, kata temannya—Rita dan Serena—abangnya ini sangatlah tampan,pake amat. Mirip om-om yang sangat menguasai semuanya. Kata mereka, abangnya itu hot-able. “Kerjaan apa dulu? Kalo yang aneh-aneh, gue gak mau!” “Oke dulu dong, lo pas ngelamar kerja juga, oke dulu baru di kasih tahu mau kerja apa!” Hana terdiam, dia menatap Christian dengan tatapan mengintimidasi. Mengira-ngira pekerjaan yang akan diberikan Chris pasti tidak akan mudah. Tapi, jika Hana menolak, kesempatan itu akan hilang. Dan sebagai kaum rebahan yang magernya sudah tingkat langit, dia tidak bisa memiliki kesempatan untuk menolak. Sekalipun dia tidak tahu apa pekerjaannya. “Oke!” “Oke, fiks, deal. No debat, no penolakan lagi, intinya udah deal. Abang ambil dulu kertas-kertas tadi!” Bagai dapat jákpot Christian lekas memeluk Hana dengan amat girang, lalu lekas pergi menuju kamarnya. Hana menatap lurus ke depan, kenapa dia setuju saja ya? Padahal, padahal biasanya Hana sudah terbiasa hidup di dalam sumber kekotoran seperti ini. Tapi tidak ada lagi kata-kata untuk menyesal, Hana hanya bisa pasrah dengan wajah senang abangnya itu. Christian rela, dia rela menjadi bábu untuk Hana, adiknya yang tingkat kemalasannya itu sudah setinggi langit. Dia lekas mengambil berkas-berkasi dan segera kembali ke ruangan tamu, menatap adiknya yang sudah kembali lagi dengan game di ponselnya. Christian lekas merebut ponsel itu dari tangan Hana, “Eits, tidak ada kata-kata bermain game jika sedang bekerja. Lo sudah menyetujui kerja sama ini, dan tidak ada penolakan!” mengantisipasi jika Hana marah, Christian lebih dulu mengeluarkan suaranya. Dan terbukti, Hana yang tadi sudah memasang wajah garang karena ponselnya direbut, terlihat pasrah saja. Christ lekas menyerahkan berkasi itu pada Hana. “Email receh gini jadi kasus lo bang? Gak modal banget sih, aneh!” seru Hana menatap berkasi itu sekilas, dan kembali meletakkannya di atas meja. “Awalnya abang udah yakin itu jawaban lo, tapi, coba lihat lagi deh Han. Abang udah analisis juga sebagain tadi, ada beberapa klue yang abang dapet. Email pertama berkaitan dengan kasus pèmbunuhan yang ada di sebuah hotel. Dari apa yang abang dapat, sosok itu bertemu beberapa hari dengan penerima email ini. Jadi, abang sedikit curiga kalo….” “Pembunuhán?” seru Hana memotong Dia tahu, amat tahu kasus pembunuhan itu. Dia menatap Christian tidak berminat. “Kamu tahu kasus itu?” Hana menggeleng, “Gak sih, cuman gue lebih dulu baca artikel itu pas malam-malam. Gue pikir itu gada hubungannya. Jadi, sekarang apa?” “Abang mau kamu cariiin abang data-data dari korban itu Na. Kasusnya udah ditutup sama kepolisian, sepertinya sosok yang melakukan hal itu punya orang dalam juga.” Hana menarik nafas malas, di setiap masalah dan dalam keadaan apapun. Orang dalam pasti akan selalu diandalkan. Jika sudah begini, sepertinya Hana juga perlu menyambung kembali dirinya dengan semua teman-teman koneksinya yang sudah beberapa bulan tidak pernah ia hubungi lagi. Seperti biasanya, Hana juga butuh orang dalam untuk mempermudah dirinya sendiri dan juga Christian. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN