BAGIAN 5

1039 Kata
Sehabis pulang, Hana langsung tepar di lantai rumahnya. Dia bahkan tidak berbaring di atas sofa, tapi di lantai. Tidak peduli dengan baju putih yang masih melekat di tubuhnya. Kebiasaan Hana yang satu ini memang sudah mulai dari sejak dia SMA. Jika kepanasan dan tidak ada AC atau kipas angin, dan tidak menemukan tempat mangkir. Maka satu-satunya jalan ninja Hana untuk menghilangkan rasa panas yang membakar tubuhnya, adalah mangkir di lantai. Rasanya adem, seolah tidak ada yang kurang. Lantunan lagu Bruno Mars yang berkicau pelan-pelan membuat Hana membuka matanya yang sempat terpejam dan melirik darimana arah suara itu berasal. Dia menatap ke arah lorong menuju pintu kamarnya. Sepasang kaki berbulu yang basah ada di sana, naik ke atas, Hana membulatkan matanya begitu sadar bahwa itu adalah abangnya yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Masih tidak menyadari keberadaannya sepertinya. “YA ALLAH, ADA MBAK KUNTI!” Teriak Christian begitu dia menurunkan matanya dan menatap tubuh berbalut pakaian putih merangkak di lantai. Lelaki itu mencari saklar lampu. Ting—lampu seketika menerangi ruangan yang tidak terlalu besar itu. Seketika itu juga Christian menghela nafas legah, dia sudah mengira bahwa hidupnya akan berakhir di tangan mbak kunti. “Mbak kunti, enak ya. Kebanyakan nonton dasi gantung keknya lo bang!” Hana bangkit berdiri, dan mengoceh, namun mata Hana tidak bisa terlepas dari perut berotot abangnya yang minta di sentuh sepertinya. Hana lekas menggelengkan kepalanya, itu dosan Han, batinnya. Namun dia tidak bisa berbohong, perut kotak-kota abangnya itu mirip seperti punya oppa-oppa tampan. Bruk—handuk yang dipakai Christian untuk mengeringkan rambutnya melayang dan mengenai tepat ke wajah Hana. Abangnya itu sudah tahu tabiat Hana yang satu ini. “Masih suka ya mata itu nakal, lo pikir abangmu ini oppa-oppamu itu? Dasar!” klik—pintu kamar tertutup. Hana yang baru saja menurunkan handuk itu dari wajahnya kesal, setidaknya, jika dia tidak bisa melihat roti sobek oppanya karena terhalang materi. Dia masih punya punya abangnya, namun Christian pasti akan lebih dulu menceramahinya dengan sejuta kata-katanya. “Eh bang, ngapain sih lo pulang? Tiba-tiba aja, gada badai, gada topan, gada petir, lo tiba-tiba mau kerja di sini. Ngapain coba? Nyusahin hidup gue aja!” “Ya ampun adek, mandi dulu lo sana. Lagian lo pulang malam banget sih? Sekarang udah jam 9, baru pulang. Kerja atau nongkrong sama teman-teman sinting kamu itu!” seru Christian yang sudah mengenakan trainingnya, dia berdiri di ambang tembok, untuk melihat Hana yang kembali rebahan di atas lantai. Sama-sekali tidak peduli dengan bajunya yang akan kotor itu. “Dua-duanya!” kesal Hana, bangkit berdiri dan memasuki kamarnya “Cepetin mandi dek, abang masak dulu!” Hana hanya mangut-mangut saja dari dalam kamarnya, Christian lekas memasuki dapur dan menatap persedian bahan-bahan yang benar-benar kosong melompong. Hanya ada beberapa bungkus mie instan di kulkas. Mata Christian menatap ke arah keranjang sampah, banyak sampah mie instan juga. Seketika itu juga dia merasa bahwa keputusan dia bekerja di sini memang tidak sepenuhnya salah. Adiknya itu benar-benar hanya hidup dengan mie instan. Christian kembali berjalan, dan membuka pintu kamar Hana. Bukannya mandi dan lekas ganti baju, adiknya itu malah sedang bermain game. “HANA!” teriak Christian jengah dengan tingkah Hana Kamar Hana yang minim penerangan membuat Christian semakin jengkel. Di setiap sudut ada bungkus remahan sampah. Baju berserakan di lantai, dan yang paling membuat Christian merasa jengkel adalah ketika menatap piala-piala dan medali Hana dijadikan sebagai tumpuan komputer-komputer gadis itu. Christian menyalakan lampu, lalu menatap Hana yang sama-sekali tidak peduli dengan teriakannya. Gadis itu hanya meliriknya sekilas dan kembali bermain game di pc nya. “HANA!” teriak Chris, mencabut kabel pcnya. Membuat tatapan marah Hana tertuju pada Christian “Apa sih, ganggu aja lo!” “Ya Ampun Hana, kamu itu gadis loh dek. Masak baju kamu berserak dimana-mana, sampah ada dimana-mana, dan CD kamu itu loh Han. Berserak ya ampun, kenapa dengan adik hamba ini!” kesal Christian tidak bisa percaya dengan apa yang ada di matanya. Hana belum berubah, satu kesimpulan yang dia dapat. “Apa lo datang mau bersihin kamar gue bang? Oke, dengan senang hati!” seru Hana dengan tatapan tertuju pada sapu yang berada di atas lemari Christian menatap sapu itu, dan kembali menggelengkan kepalanya. Entah apa yang sedang dilakukan adik jeniusnya itu. “Oke, sekarang kamu mandi dulu. Abang bakal pesan makanan dulu, intinya mandi dan jangan banyak bantahan, oke?” Seru Christian dengan kesabaran ekstra. Ia tahu apa penyebab adik satu-satunya itu berubah menjadi wanita semalas ini yang kerjaannya tidak pernah bisa lepas dari oppa-oppa koreanya yang kata Hana, mereka itu sebagai obat untuknya. Hana bahkan berkata bahwa mereka itu seksi, padahal Christian tahu sepolos apa adiknya jika menyangkut hal intim. Hana yang berdiri di depan Christian lekas pergi dan mengambil handuknya. Christian langsung mengambil ponselnya dan memilih beberapa makanan yang bisa mengobati rasa kesalnya. Sebelum orderannya tiba, mata Christian tertuju pada ranjang adiknya. Sertifikat-sertifikat penghargaan Hana bahkan dijadikan sebagai selimut oleh gadis itu. Christian mulai merapikan tempat tidur yang berdebu itu, entah sudah berapa lama kasur itu tidak dibersihkan. Lelaki itu mengambil kursi, dan mengambil sapu yang bisa-bisanya berada di atas lemari pakaian Hana. Apa mungkin gadis itu melakukan gerakan freestyle dan membuat sapu itu melayang hingga ke atas lemari? Christian hampir selesai setengah, debu sangat banyak. Dia mulai membersihkan meja Hana yang sangat banyak sampah. Tatapannya tertuju pada sebuah gambar yang ada di atas meja. Satu-satunya bingkai foto yang ada, dan begitu dia melihat siapa gerangan yang ada di dalam foto itu, membuat perasaan Christian sedih. Itu adalah fotonya, Hana dan ayah almarhum ayah mereka yang meninggal dua tahun lalu. Sebagai anak piatu dan hanya dibesarkan oleh ayah mereka, membuat Hana dan Christian merasa sangat terpukul ketika kehilangan ayah mereka saat itu. “Bang!” Christian lekas meletakkan bingkai foto itu dan menatap Hana yang menatapnya datar, minim dengan ekspresi. “Udah mandinya?” “Udah, lo pesan ayam?” seru Hana dengan seringai yang membuat Christian mengangguk, “Udah datang, yok makan. Udah lapar banget gue!” seru Hana, sepertinya dia Hana tidak sadar apa yang sedang dilakukan oleh Christian. Lelaki itu menghela nafas, meletakkan kembali bingkai foto itu dan lekas keluar. Ia akan melanjutkan bersih-bersihnya nanti saja. Ia juga sudah kelaparan karena tidak makan sejak dia tiba di rumah kontrakan adiknya itu.                      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN