"Kamu itu hilang dua hari. Gak usah pulang sekalian, kayak gak punya rumah."
Mas Reno membalikkan tubuh. Dia langsung terdiam melihatku menggendong bayi. Di belakangku ada Mama dan Papa.
"Loh, bayi kita udah lahir? Ya ampun, kamu kenapa gak bilang sama aku?"
"Gak nanya."
Aku melewatinya begitu saja, meletakkan tas di atas sofa.
Mama dan Papa mengusap kepalaku. Kemudian pamit. Kemarin, kedua orang tuaku sempat bertanya kemana Mas Reno, tapi tidak aku jawab. Mereka tidak perlu tahu di mana Mas Reno.
Atau semua rencanaku berantakan. Dua tahun pernikahan kaki, aku tidak mau harta ku musnah begitu saja.
"Siapa namanya?" Mas Reno meminta menggendong bayi kami.
Tentu saja aku mengabaikannya. Mama dan Papa tidak bisa menginap, ada sesuatu yang harus mereka urus. Aku membawa Raja—bayiku ke kamar.
"Kok diam aja, sih? Mas nanya sama kamu, loh."
"Nanya dari tadi?" tanyaku dingin.
"Kamu kenapa, sih? Berubah banget. Aneh, deh."
Bodo amat. Aku tidak peduli sama sekali. Kesabaranku sudah habis. Selama ini, aku dipermainkan Mas Reno.
Semua aset kami sepakati atas namanya, karena ada sebuah perjanjian dulu. Aku menatap foto kami. Sekarang, foto itu justru membuatku malas melihatnya.
"Nin, kamu kenapa? Bilang, dong. Jangan diam kayak gini. Pusing aku ngeliatnya. Bayi kita gak boleh aku gendong. Semuanya aja gak boleh."
Belum sempat aku menjawab, pintu rumah diketuk. Aku menatap Mas Reno, dia langsung melangkah ke pintu.
Dengan langkah pelan, aku menyusul Mas Reno. Ketika pintu terbuka, keluarga tidak tahu diri tampak. Ah, kehancuran.
Kenapa mereka bisa sampai di sini? Ya ampun, ini benar-benar masalah besar.
"Mama, Rini! Kok gak bilang-bilang mau kesini? Aku bisa nyiapin makanan yang banyak."
"Emang gak ada makanan?" tanya Mama sinis, dia melirikku tajam. "Terus tugas istri kamu di rumah ngapain? Cuma tiduran gitu? Kayak bukan istri aja."
Mama Mas Reno langsung duduk di sofa. Aku menatap koper yang dia bawa. Begitu juga adik iparku. Dia tidak peduli dengan kopernya.
"Mama mau ngapain di sini? Bawa koper lagi." Mas Reno mulai menanyakan kedatangan Mama dan adiknyaitu. Aku hanya diam berdiri di dekat pintu, belum mengatakan apa pun.
Sudah jelas dia mau menjadi benalu lagi. Seolah tidak ingat anaknya hanya menumpang hidup di rumahku.
"Mau nginap lah. Mau santai-santai di sini. Mama pengen jadi orang kaya sebentar aja masa gak boleh."
Ya, terserah saja. Sudah sering begitu. Kali ini, aku tidak mau melakukan apa yang mereka suruh.
Sudah cukup aku yang tidak pintar dulu. Tidak lagi sekarang. Semuanya sudah berubah.
Aku melangkah meninggalkan ruang tamu. Biarkan saja mereka menikmati ini, sebentar lagi, semuanya akan aku rebut.
"Heh, Nina."
Langkahku terhenti. Aku tidak menoleh, menunggu mertuaku mengatakan sesuatu.
"Bawa koper saya. Kamu itu menantu gak ada gunanya apa, ya? Lewat begitu saja."
"Iya. Sekalian koper Rini. Berat tau bawanya tadi."
"Angkat sendiri. Saya bukan pembantu," kataku dingin.
***
"Kamu kok kurang ajar banget sama Mama, Nina. Aku tau, kamu habis melahirkan, tapi kenapa jadi kayak gini? Aneh banget. Lama-lama, gak betah aku sama kamu."
Mulut Mas Reno memang minta disumpal. Aku hanya meliriknya, kemudian kembali memasang posisi tidur yang enak.
Pikir saja sendiri kesalahannya apa. Lagi lupa, sering sekali Mama dan adik iparnya itu datang ke rumah kami. Menganggapku seolah-olah sebagai pembantu.
Ah, itu ada alasannya. Aku tidak mungkin melakukan begitu saja.
"Pusing aku ngomong sama kamu, Nin."
Setelah Mas Reno pergi, ponselku berdering. Dari seseorang, aku tersenyum, menggeser tombol berwarna hijau.
"Halo."
"Halo, Nina. Aku udah baca pesan kamu."
"Bagus." Aku menganggukkan kepala. "Bagaimana tanggapan kamu?"
"Gak masalah. Bakalan aku laksanain."
"Ah, menarik. Hancurkan secara perlahan, tapi menyakitkan," gumamku.
"Aman. Tenang aja, pasti bakalan beres bersih. Kamu bakalan dapat apa yang kamu mau."
"Lakukan semua yang kamu bisa."
Aku mematikan telepon. Kedua sudut bibirku tertarik. Mataku menatap Raja yang tertidur.
"Kita akan menghancurkan Papamu secara perlahan, Nak. Perlahan, tapi lebih menyakitkan."
***