"Ram hentikan, aku hanya bercanda tadi!" Kata Sinta
"Bercanda kamu bilang, kamu sudah membuat juniorku sesak dari tadi saat kamu duduk dipangkuan ku dan sekarang kamu bilang bercanda." Tutur laki-laki tersenyum penuh maksud.
"Rama!"
**
Pukul enam pagi dini hari pesawat jet pribadi yang dinaiki Varrel, Rama dan Sinta akhirnya tiba bandar internasional Indonesia. Semua orang terlihat datang menjemput, memeluk Sinta, prioritas utama mereka, apalagi Zahra, Ibu Selina. Bahkan wanita paruh baya itu sudah menagis terlebih dahulu sebelum benar-benar memeluk Sinta. Bagi Ibunda varrel Sinta juga merupakan anaknya, karena sadari dulu mereka sudah sangat akrab, walaupun kadang hal tidak melibatkan Sinta dalam masalah mereka.
"Sinta, hikkk, akhirnya kamu kembali juga. Kamu enggak apa-apa kan sayang, kamu baik-baik saja kan. Tidak ada yang luka pada dirimu kan?" tanya Ibu Mirna dengan tampang paniknya melirik Sinta dari bawah hingga atas. Memeriksa dengan jelas.
"Sinta tidak apa-apa kok nyonya. Sinta baik baik aja, sungguh!" Jawab Sinta sekaligus terharu dengan ibunda Virrel. Walaupun dia bukan Mama kandungnya tapi kasi sayang yang ia dapatkan melebihi siapapun. Beruntung Sinta memiliki sahabat yang sudah menganggapnya seperti keluarga, kalau saja dia memiliki sahabat jahat mungkin kasih sayang ini tidak akan pernah ia dapatkan.
"Hikkk, Ibu enggak bisa tidur memikirkan kamu Sinta. Pas dengar kamu diculik, Ibu sangat takut kalau Alexander akan menyakitimu!" Kata ibu Mirna lagi. Dan sekali lagi dia memeluk Sinta erat.
"Selamat kembali Sinta, aku senang kamu bisa kembali dengan selamat," ucap Zahra setelah sesaat Sinta dan Ibu Mirna merenggangkan pelukannya.
"Iya, makasih ya. Untuk semuanya, atas kebaikan kalian." Balas Sinta yang langsung memeluk Zahra singkat.
"Bunda, bunda gak kangen sama varrel?" Tanya Varrel, yang secara spontan saja mendapatkan lirikan tajam dari Ibu Mirna.
"Kamu itu sudah besar dan tidak lama lagi kamu akan menjadi seorang ayah. Apa tidak malu dengan yang lain. Lihat Rama dia tidak pernah merengek seperti kamu!" Bukanya mendapat pelukan malah ketusan dari ibunya sendiri yang ia dapatkan.
"Bunda!"
"Bhahaha ...." Sabar Bos. "Bos harus lakikkkk!"
"Ram!"
"Hahaha .... Aku hanya bercanda bos!"
"Tapi candamu tidak asik!"
"Varrel, Rama kemarilah," Panggil pak Romi, yang awalnya dia kini bersuara memanggil putra semata wayangnya.
"Iya Pah, Papa pasti khawatir sama Varrel kan!" Sahut Kenzo.
"Tidak, Papa hanya ingin memberitahumu kalau tuan Alek sudah papa masukkan kedalam penjara!" Jawab pria paruh baya itu santai.
Sementara anaknya harus menelan kekecewaan, teryata kedua orang taunya tidak mengkhawatirkannya sama sekali.
"Bhahaha .... Sabar Bos Varrel, aku juga tidak ada yang mengkhawatirkanku. Kita sama bos!" Kata Rama masih tertawa namun kali ini tidak hanya pria itu sendiri melainkan Sinta, zahra dan Ibu Mirna juga ikut tertawa.
"Bunda, anak Bunda sangat lucu!" bisik Zahra pada Ibu Mirna.
"Iya sayang, dia selalu seperti itu kalau kami pura-pura tidak memperdulikannya!" Balas Ibu Mirna masih terkekeh kecil..
"Sudah kenapa kalian pada tertawa ayo kita pulang!" Ajak pak Romi. Mulai memimpin jalan didepan lalu selanjutnya disusul oleh yang lainnya.
"Aaagggrrr ...." Sinta mengigit bibir bawahnya kasar merasa sakit diarea selangkangannya karena barusan ia melangkah cukup lebar.
"Sinta, kamu kenapa?" Tanya Ibu Mirna seketika berhasil membuat pak Romi, Varrel dan Zahra menoleh secara bersamaan.
"Ahh, A-Aku tidak apa-apa kok nyonya!" jawab Sinta sedikit kikuk. Namun bukan Ibu Mirna namanya kalau tidak jeli melihat situasi.
"Jangan panggil nyonya panggil bunda saja,"
"Sinta, sepertinya Bunda paham sekarang kenapa kamu melangkah pelan!" Kata Ibu Mirna sembari menatap kearah Varrel dan Rama dengan tatapan yang begitu mematikan.
"Bukan aku Bunda, noh, dia!" Tunjuk Varrel pada Rama yang terkesiap.
Rama yang ditatap seperti itu segera menarik pandangannya kearah lain.
"Rama, apa yang kamu lakukan dengan anakku,!" ucap Ibu Mirna.
"Mah sudah. Tidak enak didengar orang lain. Ini bandara mah. Lagian bukankah bagus jadi kita nanti akan memiliki cucu baru lagi, dua cucu, benarkan Rama!" Sela Pak Romi menaik turunkan alisnya menatap Rama.
"Om memang terbaik!" sahut Rama senang.
"Papa selalu membelanya!" Ketus ibu Mirna.
***
Mansion keluarga besar.
Setelah kepulangan Rama, Sinta dan varrel dari Kanada. Rama langsung memutuskan untuk meminang Sinta sekaligus sahabatnya sendiri.
Bahkan itu bahkan kini mempersiapkan pernikahannya. Dan selama itu Sinta di suruh tinggal bersama keluarga Rama.
Apalagi Ibunda Rama yang begitu senang, mengetahui anaknya akan segera menikah dan tidak lama lagi mereka Pasti akan memiliki cucu.
Tiga hari sebelum pernikahan diadakan, hanya rencana pernikahan diluar negeri saja dibatalkan, karena sempat berpikir akan mengadakannya diluar negeri, namun rencana itu terurung karena Sinta hanya ingat pernikahannya didalam negeri saja.
Pernikahan tetap berlangsung di dan diadakan di mansion keluarga besar Rama. Beberapa jam setelah Sinta dikabarkan menghilang dan culik Alek, Ibunda Rama sangat khawatir, jujur wanita itu sadari dulu sangat berharga kalau Sinta akan menjadi menantunya. Dan benar saja, sekarang menjadi kenyataan.
*
"Pah, bagaimana bisa Papa memasukkan tuan Alek kedalam penjara. Apa Papa sudah mempunyai bukti yang akurat untuk menjebaknya.
"Sebenarnya bukan Papa rel!" jawab Papa Varrel menggantungkan kalimatnya. Berhasil membuat pria itu menaikkan sebelah alisnya keatas menatap tak percaya.
"Maksud Papa?"
"Papa juga terkejut Son, Papa mendengar kabar dari internasional bisnis tadi pagi. Kalau tuan Alek di tunding mengelapkan saham perusahaan introl di Italia. Dan kamu tau Son, teryata yang membocorkan itu adalah keluarga Justin, kakaknya. Valentino Timberlake!" Jelas Papa Varrel yang spontan membulatkan matanya tak terpercaya.
Valentino, rasanya pria itu tidak asing mendengar nama Valentino, namun untuk beberapa saat kemudia pria itu pun langsung teringat, seingatnya dia pernah menjalankan bisnis dengan sangat baik dengan pria bernama Valentino saat di Amerika. Tidak di sangka ternyata Valentino adalah kerabat Justin.
"Valentino, Papa yakin?" Rama masih belum mempercayainya rasanya.
"Tapi itu adalah kenyataannya son. Kalau memang Valentino-lah yang membocorkannya. Papa rasa mereka bertengkar sebelum Alek menculik Sinta, jadi karena sakit hati mungkin Valentino melakukan itu. Yang jelas itu bukan urusan kita sekarang. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi, dia tidak akan bisa lagi menyakiti Sinta,"
"Tidak Pah, Varrel akan tetap memberikan pelajaran yang tidak akan mereka lupakan Pah, karena mereka telah berani menganggu sahabatku. Nyaris saja mereka membunuh Sinta. Beruntung Justin menolongnya!"
"Tapi Pah, bagaimana Papa tau keluarga Justin, dan yang membuat Varrel binggun adalah Papa mengenal pria itu. Apa Papa pernah bertemu dengannya?" Sambung Varrel bertanya pada Papanya.
"Tentu son, siapa yang tidak mengenal Justin Timberlake. Anak yang paling dibanggakan di keluarga Timberlake, dalam usianya yang muda berhasil membangun bisnis internasional deposit terbesar yang pernah ada. Jadi jelas Papa kamu itu, bukankah kamu juga tau itu!"
"Kalau keluarga Timberlake Varrel pernah mendengarnya tapi tentang Justin Varrel hanya tau sekilas Pah."
"Papa yakin sekali, saat kamu memberitahu Papa kalau yang menolong Sinta adalah Justin Timberlake, Papa sudah merasa lega. Karena Papa yakin keluarga Timberlake tidak bakal dia jika sesuatu menyakiti putra kebanggaan mereka. Dan Alek, salah besar mengusik keluarga itu!"
"Hm, Varrel juga hampir salah paham dengan Justin. Beruntung Sinta segera menyadarkan Varrel dan Rama kalau tidak mungkin Rama akan menjadi incaran keluarga Timberlake."
"Hati-hatilah son, keluarga Timberlake kuat dan sangat berpengaruh. Kita bisa saja menghancurkan mereka tapi tetap ada konsekwensinya."
"jadi kalian harus benar-benar berhati-hati, Kita tidak bisa berbuat masalah dengan mereka, mereka itu pintar dan berkuasa," lanjut pak Romi.
"Iya, Varrel paham. Varrel juga ingin menikah di sini saja. Demi keamanan bersama, anak buah tuan Alek bisa saja bergerak kapan saja. Jadi Varrel akan mengetatkan keamanan!"
"Bagus! Papa akan membantumu!"
"Terimakasih Pah!"
Bersambung ....